Aku terdiam menatap serombongan murid taman kanak-kanak yang bermain bersama di lapangan bola. Tanpa dikomando para lelaki dan gadis kecil itu berkumpul melingkar di tengah lapangan. Ada yang duduk diam, ada yang berdiri sambil menengadah, ada yang sujud tersungkur, ada yang memohon ,ada yang meraung dan yang acuh tak acuh seperti tak peduli pada lingkungan sekitar. Beberapa saat kemudian dari atas tampak turun balon-balon indah berwarna-warni beterbangan menuju arah anak-anak itu. Suasana menjadi riuh rendah, Semua berebut. ada yang berlari mengejar dan memeperoleh balon indah itu. Ada yang meloncat menggapai balon itu. Ada yang tanpa bergerak mampu meraih balon itu. Bahkan ada yang acuh tak acuh dihampiri begitu saja oleh balon itu. Semua nampak bahagia mendapatkan balonnya masing-masing.
Tapi, hey ada anak yang belum kebagian balon. Masih ada 3 balon yang melayang-layang tak jua mendekat. Dan tentu saja ada 3 anak yang terdiam tak kebagian. Anak pertama tetap ceria dan tak peduli pada balonnya yang belum tergapai itu. Ia nampak bergabung dengan teman-temannya yang sudah memiliki balon masing-masing. Anak kedua awalnya terlihatk bersedih, namun kemudian ia tersenyum sambil mengeluarkan mainan lain dari dalam tasnya dan mulai asyik bermain bersama teman-temannya. Sementara anak ketiga terus menangis….menatap balonnya yang yang masih melayang. Ah tak tega rasanya melihat gadis kecil itu menangis memohon sambil kadang meloncat berusaha menggapai balon yang tak jua mendekatinya.
Kudekati gadis kecil yang terus menangis itu, kutanya perlahan
“Kenapa nak? Kok menangis terus?”
“Aku mau balon itu, Allah tak adil padaku, semua teman-temanku diberinya balon, tapi aku tidak”
“Tapi ada teman-temanmu yang belum dapat mereka tetap ceria” ujarku
“Aku tak peduli, pokoknya aku mau balon itu” ujar gadis kecil itu merengek menunjuk balon warna kuning yang masih melayang
Aku tersenyum sambil mengucap rambutnya yang dikuncir dua
“Kenapa harus yang kuning ? Tuh liat kan ada balon yang lebih mudah untuk dijangkau”
“Tidak, aku mau yang kuning” gadis kecil itu masih terus menangis
Hingga kemudian mendekatlah teman-temannya yang lain, ada yang mengajak bermain petak umpet, ada yang mengajak bermain kejar-kejaran, ada yang mengajak maen congklak, bekel sampai ada yang mengajak corat-coret tembok pinggir lapang. Namun gadis itu kemudian memilih untuk mengikuti temannya yang yang mengajaknya bersimpuh di di tengah lapang, kembali menengadah, sujud tersungkur dan berbicara sambil menatap langit, sesaat ia nampak membuka tasnya dan tersenyum.
Beberapa saat kemudian gadis kecil itu kembali ke arahku, sebuah senyuman terus menyungging di bibir mungilnya. Air mukanya sudah berubah lebih cerah. Aku senang melihatnya . Ia duduk di depanku. Mengeluarkan mainan dari dalam tasnya . Hey, ternyata ia punya banyak mainan lain yang tak dimiliki teman-temannya. Tiba-tiba gadis itu berbicara padaku tanpa kutanya…
“Aku tadi mengadu pada Allah. Kubilang kenapa IA tak adil padaku.Aku belum juga kebagian balon itu sampai sekarang. Kenapa Allah memberikannya pada orang lain dan tidak padaku? tak ada jawaban apapun dari Allah, kecuali kurasakan tasku terasa berat dan semakin berat. Lalu saat kubuka kulihat begitu banyak mainan di sana. Mainan-mainan ini sebenarnya sudah kubawa dari rumah, tapi aku tak pernah menyadari betapa berartinya mainan ini untukku. Aku tak pernah mau merawatnya. Padahal ini adalah mainan-mainan bagus yang tak dimiliki teman-temanku”
“ Mulai sekarang aku akan rawat baik-baik mainan-mainanku ini, aku hanya ingin berterima kasih pada Allah yang telah memberiku banyak mainan, tapi aku juga masih menginginkan balon itu. Biar Allah yang mengatur kapan akan mendekatkan balon itu padaku. Bukankah Allah selalu tahu yang terbaik untukku? karena Allah sayang padaku dan semua mahluk-Nya.”
Aku hanya bisa tersenyum melihat gadis kecil yang tak lagi menangis itu. Aku berbalik meninggalkan gadis kecil itu perlahan
“Tunggu, boleh aku menyampaikan sesuatu?” Gadis kecil itu menahanku
Aku mengangguk
“Apa yang ingin kau sampaikan nak?”
Gadis itu terdiam menatapku, wajah mungilnya dihiasi senyuman terindah yang pernah kulihat. Matanya menerawang dan berbinar , sebuah kalimat pendek mengalir dari bibir merahnya
“Allah baik banget sama aku….”
Hmmmmmm, syukurlah akhirnya kau menyadari itu, nak……
Kamis, 17 Desember 2009
Rabu, 09 Desember 2009
Belajar Mencinta dari Aki Uja
Lelaki itu, namanya Uja. Aku biasa memanggilnya aki Uja. Usianya hampir 70 tahun. Pekerjaannya penjaga gedung bale desa di kampungku.Pembawaan cerianya selalu membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum. Ia seorang pekerja keras ,tak pernah kulihat ia duduk termangu, selalu ada yang dikerjakan setiap kali bertandang ke rumahku, bahkan sekedar membersihkan rumput di halaman rumahku. Jika ada rizki, lelaki tua itu selalu berujar "Alhamdulillah, ada uang buat Ma" ....Ah rasanya tak ada yang memungkiri betapa besar cintanya pada Ma Anti, sang istri, dan itulah yang membuatnya istimewa...
"Aki mah sagalana oge jang Ma nya?" begitu komentar orang-orang di kampungku tentang pasangan ini. Tak terpisahkan bahkan sampai usia senja mereka. Kehidupan mereka bahkan jauh lebih romantis dari kehidupan anak-anaknya. Meski hidup sederhana Aki Uja selalu tampak ceria karena merasa punya Ma Anti. Bahkan setelah mata Ma Anti tak lagi bisa melihat karena sakit diabetes, aki tetap mencintainya dengan tulus. Ia selalu memastikan Ma Anti dalam keadaan baik setiap kali mau bertugas menjaga bale desa. Setiap pulang ia mampir ke warung mimihku untuk sekedar membeli makanan buat Ma Anti. Segalanya buat Ma Anti. Ah rasanya tak bisa kulupa bagaimana saat pemilihan umum yang lalu, mereka berjalan berdua melewati warungku. Ma Anti berjalan dengan tongkatnya, aki Uja menuntunnya sambil menunjukkan arah jalan...
Dan yang paling membuatku tertegun adalah dua buah gundukan tanah merah baru di kompleks kuburan di kampungku yang kulihat Idul Fitri yang lalu. Saat kutanyakan pada keluargaku ternyata kuburan itu disiapkan Aki Uja untuk dia dan istrinya jika suatu saat meninggal. Aki Uja bilang "ini buat kuburan aki, nah sebelahnya buat kuburan Ma, biar selalu bersama" oh so sweet he he
Dan beberapa hari yang lalu kudengar dari mimihku, Ma Anti meninggal dunia. Dan yang langsung terpikir di benak aku dan keluargaku saat itu adalah perasaan kehilangannya aki Uja, maka kami menemui dan menghiburnya. Si Aki menemui kami dengan senyum tipisnya, entah apa yang berkecamuk di dadanya....namun terlepas dari itu semua tahukah Aki Uja bahwa kami belajar banyak dari caranya mencinta?....
Wallahu a'lam bi showab...
"Aki mah sagalana oge jang Ma nya?" begitu komentar orang-orang di kampungku tentang pasangan ini. Tak terpisahkan bahkan sampai usia senja mereka. Kehidupan mereka bahkan jauh lebih romantis dari kehidupan anak-anaknya. Meski hidup sederhana Aki Uja selalu tampak ceria karena merasa punya Ma Anti. Bahkan setelah mata Ma Anti tak lagi bisa melihat karena sakit diabetes, aki tetap mencintainya dengan tulus. Ia selalu memastikan Ma Anti dalam keadaan baik setiap kali mau bertugas menjaga bale desa. Setiap pulang ia mampir ke warung mimihku untuk sekedar membeli makanan buat Ma Anti. Segalanya buat Ma Anti. Ah rasanya tak bisa kulupa bagaimana saat pemilihan umum yang lalu, mereka berjalan berdua melewati warungku. Ma Anti berjalan dengan tongkatnya, aki Uja menuntunnya sambil menunjukkan arah jalan...
Dan yang paling membuatku tertegun adalah dua buah gundukan tanah merah baru di kompleks kuburan di kampungku yang kulihat Idul Fitri yang lalu. Saat kutanyakan pada keluargaku ternyata kuburan itu disiapkan Aki Uja untuk dia dan istrinya jika suatu saat meninggal. Aki Uja bilang "ini buat kuburan aki, nah sebelahnya buat kuburan Ma, biar selalu bersama" oh so sweet he he
Dan beberapa hari yang lalu kudengar dari mimihku, Ma Anti meninggal dunia. Dan yang langsung terpikir di benak aku dan keluargaku saat itu adalah perasaan kehilangannya aki Uja, maka kami menemui dan menghiburnya. Si Aki menemui kami dengan senyum tipisnya, entah apa yang berkecamuk di dadanya....namun terlepas dari itu semua tahukah Aki Uja bahwa kami belajar banyak dari caranya mencinta?....
Wallahu a'lam bi showab...
Langganan:
Postingan (Atom)