Senin, 10 Maret 2014

KESEMPATAN HIDUP KEDUA

Terpaku aku menatap bangunan megah di depanku di siang terik itu, Senin 28 Februari 2005. Aku berjalan memasuki ruangan lapang mirip aula hotel. Di depanku berjajar resepsionis cantik berjilbab di balik meja tinggi melingkar. Seperti akan booking hotel saja rasanya. Setelah bertemu dengan orang yang kucari , aku,teman kantor dan dua kakak lelakiku berjalan perlahan menuju ruangan yang tertata rapi. Tak pernah kuduga bahwa ruangan yang kumasuki saat itu adalah ruang tunggu periksa dokter. Seperti halnya aku juga tak menduga bahwa aula megah yang tadi kumasuki adalah ruang front office rumah sakit. Aku datang kesana bukan untuk booking kamar hotel dalam rangka berlibur, tapi booking kamar perawatan untuk memperbaiki kondisi fisikku di RS Holistik Purwakarta.


Selepas bertemu Dr Husein, berbicara panjang lebar dengan lelaki berwajah lembut yang merupakan direktur sekaligus pemilik rumah sakit itu, aku langsung menjalani beberapa terapi. Dari mulai akupuntur, refleksi, sauna, bio energi, dan berbagai terapi lain yang baru kukenal saat itu. Selepas itu aku masuk ke kamar bookinganku, kamar kelas melati berukuran 3x4 m dengan kamar mandi di dalam. Di kamar seharga 150 rbu semalam itu terdapat sebuah ranjang pasien dengan sebuah TV 14 inchi bergantung di depannya.Tanpa tiang infusan. Itu yang aku suka dari RS ini


Dua hari pertama aku begitu menikmati kehadiranku di sana, seolah terlupa dengan vonis cuci darah yang kuterima berhari-hari sebelumya. Berbeda dengan rumah sakit lain, di sini aku terhindar dari hiruk pikuk kepanikan, suasananya tenang dan nyaman. Aku sendiri biasa berjalan-jalan di sepanjang lorong, kadang berkunjung ke kamar lain. Aku kerap dikira penunggu pasien karena kondisiku yang masih cukup fit saat itu.Tiap pagi aku ikut senam pagi dan latihan yoga di taman belakang kamarku. Kuhirup udara sejuk sambil sesekali mataku melirik bagunan megah di seberang kamarku. Bangunan itu katanya adalah bangunan VIP yang bertarif 1-1,5 juta semalam. Konon ada beberapa artis yang menginap disana sekedar untuk membersihkan wajahnya yang berjerawat. Hi hi hi aku kerap mengintip berharap suatu saat aku bisa bertemu salah satu artis itu.


Tanpa infus, sekali lagi itu yang kusuka dari RS ini. Tidak ada satupun pasien yang berkeliaran dengan infus. Kecuali pasien-pasien dalam kondisi kritis. RS ini memang menggunakan pengobatan alternatif herbal berbasis medis. Kendati obatnya menggunakan herbal dan diet makanan tapi di sana tetap disediakan perlengkapan medis untuk menghadapi kondisi darurat.


Hal lain yang kusukadari RS ini adalah adalah seminar kesehatan yang dihadiri oleh sebagian besar pasien. Seminar ini berlangsung pada malam-malam tertentu. Pembicaranya adalah DR Husein dan beberapa dokter yang lain. Secara kebetulan seminar yang kuhadiri malam itu adalah seminar ginjal. Dari sanalah pendidikan ginjal pertamaku bermula. Di seminar itu pula aku bertemu dengan berapa pasien yang sama kondisinya denganku. Memperpanjang waktu untuk menghindar dari cuci darah.


Memasuki hari ke 3, tensiku semakin meninggi. Dietku semakin diperketat oleh tim gizi. Makan pagiku tetap sayuran wortel dan labu rebus. Menjelang dzuhur aku yang biasanya mendapat nasi dan tumis jamur gurih tiba-tiba harus mendapati tumis jamur tanpa garam. Ya Allah, rasanya tercium semua bau jamur dan nasi yang tiba-tiba membuat enek lambungku itu. Selama beberapa hari mulutku pahit tak masuk makanan. Semua makanan cuma hanya tercium baunya saja. Mual mulai menderaku. Sesendok makanan yang masuk ke mulutku hampir dapat dipastikan kumuntahkan lagi. Begitu pula obat obatan herbal tak ada yang bertahan di lambungku.


Hari ke-5 tubuhku lunglai. Berdiri agak lama lututku bergetar hebat, jantungku berdebar kencang, nafasku tersengal. Aku harus membawa kursi ke kamar mandi karena tak lagi kuat mandi sambil berdiri. Besoknya hasil pemerikaan darah menunjukkan Hb ku sekitar 5gr/dl. Di hari ke 6 akupun menjalani transfusi darah pertamaku dengan hidung berselang oksigen. Ah masih terbayang hari itu teman-teman alumni Statistika Unpad 98 menengokku. Mereka memintaku berfoto bersama. Akupun berfoto dengan melepas selang oksigenku terlebih dahulu. Masih kusimpan foto bergaya senyum lebar itu. Hi hi dalam kondisi darurat masih terselip keceriaan kurasakan.


Selepas transfusi jantungku tak lagi berdebar, tubuhku tak lunglai, tapi mulai berganti keluhan lain. Nafasku semakin berat, rasanya seperti kiloan lendir menumpuk di dadaku. Beberapa kali aku diterapi dengan nebulizer, terasa sedikit nyaman, namun itu tak berlangsung lama. Nafasku semakin berat saja dari hari ke hari. Aku sudah tidak nyaman lagi tidur sambil berbaring. Aku kerap tidur dengen posisi sujud setiap malam. Hanya diposisi itulah aku merasa nyaman.


Hingga puncaknya Jumat, 11 maret 2005 atau hari ke 11 aku di RS Holistik Purwakarta, aku dinyatakan harus cuci darah hari itu juga. Kadar racunku, sudah menjulang tinggi dan tak ada lagi toleransi. Dr. Dhadi salah satu dokter di RS Holistik yang juga suami sahabatku, Diana, membujuk mimih agar mengizinkanku cuci darah. Akhirnya setelah segala jurus dikeluarkan, mimih menyerah dengan kalimat pendeknya “Boleh, tapi kali ini aja” .


Dan dengan berkendara kursi roda, kumasuki ruangan itu. Ruangan berukuran 5x8 dengan dua mesin kokoh dan dua ranjang di dalamnya. Akhirnya aku berkenalan dengan ruangan bertitel ruang hemodialisa itu. Itulah cuci darah pertamaku. Di sanalah pertama kali aku merasakan jarum besar bersarang selama 5 jam di bawah permukaan kulitku. Alhamdulillah tak ada kesakitan berarti yang kurasakan di momen hemodialisa pertama dalam hidupku. Cuci darah ternyata tak seseram yang kubayangkan.


Keluar dari ruang hemodialisa atau ruangan cuci darah aku disambut isak tangis keluargaku. Semua kakak kakakku sudah berkumpul, juga sepupu dari Depok. Setelah hampir dua minggu aku hanya bersama mimih, akhirnya hari itu aku bertemua dengan orang-orang yang mencintaiku. Semuanya bermata sembab, akhirnya ketakutan mereka harus terjadi juga. Cuci darah yang selama dua minggu kuhindari mati-matiin akhirnya harus kujalani juga.


Sementara semua orang tergugu dalam diam yang kelabu, aku malah tesenyum manis Jumat siang itu. Setelah keluar dari ruang hemodialisa nafasku kembali ringan. Tak ada lagi sesak di dada dan kesakitan di hampir semua sendiku. Ditambah dengan ceplok telor istimewa yang tersaji dipiring. Ahhhh akhirnya setelah hampir dua minggu aku bergaul dengan tumis jamur tanpa rasa, hari itu aku mencumbu telor ceplok favoritku. Nikmaaattttt


Ada rasa lain yang kurasakan sekembalinya aku ke ruangan melatiku. Haus...hmm superhaus tepatnya. Rasanya tenggorokanku yang sebelum cuci darah basah oleh lendir, setelah cuci darah justru terasa kering kerontang. Maka tanpa rasa bersalah kuhabiskan teguk demi teguk air di tupperware hijauku. Saat itu aku belum tahu bahwa pasien GGK yang menjalani cuci darah sepertiku harus menjaga minum. Maka selama hari itu kupuaskan rasa dahagaku dengan air putih yang selalu tersedia di samping tempat tidurku.


Esoknya karena merasa kondisi lebih fit, kami meminta izin pulang. Setelah melalui lobi yang lumayan alot akhir dokter mengizinkan pulang besok harinya, hari Minggu 13 Maret 2005. Aku tersenyum riang, Mimih langsung semangat membereskan baju-bajuku. Sepupuku di Bandung sudah siap menjemput esok paginya. Bagai pesta kebahagiaan sepanjang hari itu aku kembali memuaskan dahagaku dengan teguk demi teguk air putih. Menjelang tidur sekejap aku merasa panik, napas beratku kembali datang menghampiri. Aku terdiam, berharap itu hanya perasaanku saja. Malam itu aku tidur sambil duduk karena tak cukup nyaman berbaring.


Minggu pagi, diantara kebahagiaan yang membucah terselip kekhawatiran di pikirku. Nafas beratku semakin terasa. Ditambah gerah luar biasa yang tak terkira. Rasa panas bagai terbakar menjalari seluruh permukaan tubuhku. Sementara di kamarku, seluruh baju sudah rapi tersusun di tas ransel coklatku. Mimih sudah hampir rapi, dan aku baru selesai mandi dan siap mengenakan baju putihku. Entah kenapa mendadak kerah baju superlonggar itu terasa mencekik leherku. Keringat dingin bercucuran. Panas yang sedari tadi menjalar semakin menyengat, bagai bara api menjalari kulit tubuhku. Aku menjerit, sesak makin menekan dadaku. Perawat berlarian mencari oksigen. Sejenak suasana gaduh.


Tak lama instruktur yoga yang biasanya mampu menenangkan pasien datang. Ia memintaku untuk tak panik. Sejenak aku bisa tenang. Tapi kemudian leherku semakin tersekat, bagai ada ikatan kuat yang mencekiknya. Aku kembali panik. Dokter datang, memeriksaku, menekan punggungku. Tak lama Ia berdiskusi dengan sejawatnya dan pernyataannya mengagetkankuku dan keluarga. Jantungku bengkak, paru paru terendam air. Satu-satunya jalan adalah cuci darah, aku menangis, semakin ingin pulang.


Beberapa saat dokter meninggalkanku memastikan langkah yang tepat untukku. Sementara nafasku semakin sesak. Tiba-tiba aku merasa tak ada lagi udara yang masuk ke hidungku.


“Mana udara-mana udara...gak bisa nafas” jeritku sambil berurai air mata.


Mimih mengusap usap punggungku diiringi suara bacaan tilawah qur’an dari ibu ibu pengantar pasien sebelah kamarku.


Kamarku dikerubungi banyak orang.


Trainer yoga tetap sabar mengajariku cara bernafas


“Tarik lewat hidung, keluarkan lewat mulut “ begitu ujarnya .


“Gak ada udaranyaaaaa” aku menjerit, tangisku makin pecah.


Mendadak aku merasa itulah akhir usiaku. Kutatap orang-orang di sekitarku, betapa mudahnya udara keluar masuk hidung mereka. Kenapa sulit sekali bagiku menghirup udara itu? Inikah akhir hidupku? Kutatap jam di dinding depan ranjangku, jam 5 sore. Aku berujar dalam hatiku


“ saya siap Robb jika ini memang waktunya.” Aku pun terkulai, mataku menutup.


Mimih menjerit, suara tilawah Qur’an makin kencang.


Tak lama, antara sadar dan tidak kudengar suara orang berlarian. Seseorang membuka kerudungku, aku sudah tak berdaya untuk melawan. Kurasakan ranjangku bergerak maju. Kubuka mata perlahan, aku didorong diatas ranjangku oleh sekitar 4 atau 5 orang berbaju putih. Sementara di sampingku berjajar orang-orang berwajah panik menatap iba kepadaku. Aku terkulai, entah kemana aku dibawa, pasrah, tanpa daya.


Dan ruang hemodialisa itu kembali menjadi saksi hadirnya udara di hidungku. Beberapa menit setelah dua jarum berada di permukaan kulitku dan darah keluar masuk tubuhku dari selang selang yang bergantung itu, aku kembali sadar dan bisa bernafas lega. Seluruh orang disekitarku sumringah. Melalui tangan mereka, Allah kembali izinkan aku menghirup udara dunia. Allah memberiku kesempatan hidup kedua.


Kalau sekarang aku ditanya apa motivasiku bertahan sampai 9 tahun setelah itu? Salah satu jawabannya adalah mencari alasan kenapa Allah masih memberi kesempatan hidup padaku. Ada sesuatu yang masih harus aku lakukan di alam fana ini, entah apa. Karena jika tidak mungkin Allah sudah mengajakku pulang sejak Minggu, 13 Maret 2005, jam 5 sore itu.