Senin, 21 Juni 2010

Ibu muda dan bintik hitam di ubin kamarnya


Ibu muda berkulit putih itu resah, ia tak lagi merasa betah di kamarnya sendiri. Entah kenapa rasanya tak menyenangkan berada tempat yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman dalam hidupnya. Maka mulailah ia memperhatikan seluruh isi kamarnya, adakah yang salah hingga tak lagi membuatnya nyaman? Ah tdak, semuanya sudah tampak rapih , tak ada yang salah dengan interior kamarnya. Tapi tunggu, sejenak ia tertegun saat mulai menunduk, terlihat olehnya bintik-bintik hitam di ubin kamarnya. Ubin yang dipasang di kamarnya adalah ubin yang terbaik dan termahal. Maka tak heran jika selama ini ia selalu berusaha menjaga kebersihanannya setiap saat. Tapi kenapa sekarang begitu banyak kotoran dan bintik hitam yang menutup keindahan ubin mahal itu ?

Dan akhirnya tersadarlah ibu muda itu, betapa selama ini ia terlalu sibuk mengurusi urusan yang lain, hingga sudah cukup lama ia tak lagi telaten menjaga kebersihan ubin kamarnya. Tak lagi sempat ia menyapu dan mengepel ubinnya. Tak lagi ada waktu untuk mencampur cairan pembersih terbaik pada air bilasan pelnya, agar ubin kamarnya selalu tampak kinclong.

Menyaadari itu segera ia mengambil sapu dan menyapu ubinnya, namun bintik hitam itu tak kunjung hilang. Tak putus asa, ia ambil kain pelnya, dipelnya ubin kesayangannya dengan sungguh-sungguh, namun bintik hitam itu tetap saja tak mau lepas . Hingga akhirnya ia mengambil pisau dari dapurnya, ia lepaskan bintik hitam yang menempel d ubin kamarnya itu dengan pisau. Ada bintik yang dengan mudah terlepas dari ubinnya namun ada beberapa yang butuh energi lebih kuat untuk melepaskannya.

Beberapa saat kemudan setelah dirasakannya ubinnya kembali bersih, ibu muda itu tersenyum puas, ia kini merasa kembali nyaman berada di kamarnya. Setengah berbisik ia berujar “alhamdulllah, masih bisa dibershkan bintik hitam di ubin ini, kalau tidak mungkin aku harus menganti ubin kamarku “.

Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang resah, Ibnu Mashud ra berkata :
" Dengarkan bacaan Al Qur'an atau datanglah ke majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi berkhalwat (berduaan) dengan Allah. Jika belum terobati juga mintalah kepada Allah hati yang lain karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu"

Wallahua'lam bi showab

Rabu, 09 Juni 2010

DUA LELAKI KECIL DAN MOBIL-MOBILAN KULIT JERUK BALI


Lelaki kecil bertubuh tambun itu, rambutnya berponi pinggir, bajunya rapi dan wangi. Ia tampak asyik mengintip dari pagar rumahnya yang kokoh, matanya menatap tajam lelaki kecil kurus sebayanya yang sedang asyik bemain di pekarangan rumah bilik bambu sederhana. Hmmm rasanya tak ada yang istimewa dari lelaki kecil kurus itu, tapi mengapa ia menatapnya dengan penuh binar?

Tak lama kemudian, lelaki kecil berponi pinggir itu menghampiri rumah bilik yang tepat berada di depan rumah megahnya.

“Berikan mobil-mobilan itu untukku, aku menyukainya “ ujarnya setengah berteriak

“Ini milikku, aku tak akan memberiknnya padamu“ lelaki kecil kurus menjawab dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi. Tangannya memeluk erat mobil-mobilan kulit jeruk bali yang sedari tadi tak lepas dari tatap binar lelaki kecil berponi pinggir

“Tapi aku menginginkannya “ ia kembali berteriak

“Ini milikku, aku punya hak untuk mempertahankannya” lelaki kecil kurus bersikukuh

“Kalau begitu, aku pinjam”

“Boleh, tapi kembalkan sebelum magrib, pastikan tidak ada kerusakan sedkitpun”

Lelaki kecil berponi pinggir tersenyum puas menerima mobil-mobilan kulit jeruk bali yang begitu diinginkannya. Ia memainkannya dengan sukacita sepanjang sore itu. Hingga waktu magrib menjelang. Dan lelaki kecil kurus sudah menungu di luar pagar rumah mewahnya…

“Kembalikan mobil-mobilanku…”

“Tidak aku masih menginginkannya “ kali ini giliran lelaki kecil berponi pinggir yang memeluk erat mobil-mobilan kulit jeruk bali itu.

“Tapi itu milikku” lelaki kecil kurus mulai menangis

“ Aku akan membelinya darimu, atau aku gantkan dengan mobil-mobilan yang lebih mahal, aku punya uang banyak untuk menggantikannya yang lebih baik untukmu”

“Tidak, aku tak akan menjualnya, lagi pula tak akan ada yang bisa menggantkan mobil-mobilan itu semahal apapun” lelaki kecil kurus mulai histeris

“ Kenapa?”

“Karena mobil-mobilan kulit jeruk bali itu dibuatkan oleh almarhum ayahku dan aku akan menyimpannya sampai akhir usiaku“ suara lelaki kecil kurus semakin lama semakin menghilang…

Lelaki kecil berponi pinggir terdiam agak lama, pelahan ia menyerahkan mobil-mobilan kulit jeruk balinya pada lelaki kecil kurus yang sedang terisak di depannya

“Ambillah, ini milikmu, maaf, aku tak tahu kalau kamu jauh lebh membutuhkannya daripada aku, terima kasih sudah meminjamkannya untukku”

Setelah itu, lelaki kecil berponi pinggir membalikkan badannya, perlahan ia memasuki rumah megahnya, di depan pintu sekeranjang besar mobil-mobilan mahal melambai-lambai mengajaknya bermain…

"Jangan memaksa untuk memiliki apa yang kita cintai, tapi belajarlah mencintai apa yang kita miliki"

Wallahu a’alam bi showab…

Kuningan, 9 Juni 2010