Jumat, 28 Mei 2010

GADIS BERKEPANG DUA DAN BONEKA BERUANG ABU


Suatu hari di sebuah rumah kecil yang sederhana, nampak seorang gadis kecil berkepang dua sedang duduk bermain rumah-rumahan bersama 5 orang teman-temannya. Mereka begitu ceria menikmati permainannya. Gelak tawa dan senyum lepas mewarnai kebersamaan mereka. Tanpa terasa sore menjelang. Gadis-gadis kecil itu harus segera pulang. Sebelum pamit, salah satu dari mereka berujar “Teman-teman, besok kita bermain di taman kota ya, gimana kalau kita main boneka? Setiap orang harus membawa bonekanya masing-masing. Setuju?” . Kontan gadis-gadis kecil itu melompat kegirangan sambil menyatakan kesetujuannya. Hanya satu yang terdiam dan menunduk, gadis berkepang dua, si pemilik rumah.

Malam menjelang, gadis kecil berkepang dua, masih terpekur dalam diam, tak berani ia bicara pada orangtuanya. Boneka mana yang akan dia bawa pada besok sore ke taman kota. Di rumahnya yang sederhana itu tak ada satupun boneka yang bisa dibawanya. Kalaupun mau, mungkin ia harus meminjam pada salah seorang temannya. Tapi sepertinya itu bukan pilihan yang baik. Menjelang tidur akhirnya gadis kecil itu memutuskan untuk datang ke tamn kota tanpa boneka.

Esok harinya, tanpa diduga, seorang petugas pengantar paket datang ke rumah kecil sederhana itu. Mengirimkan paket besar beralamatkan gadis kecil berkepang dua. Betapa senangnya gadis kecil itu. Ia tak lagi peduli, siapa yang mengirimkan boneka itu untuknya. Yang penting, sore harinya ia bisa membawa boneka beruang abu itu ke taman kota, bersama teman-temannya.

Begitulah, kehadiran boneka beruang abu itu membawa keceriaan baru dalam hidup gadis kecil berkepang dua. Dengan bangga ia tunjukkan di depan teman-temannya bahwa ia kini punya boneka. Mesti ia tahu bonekanya tidaklah seindah boneka teman-temannya yang mungkin jauh lebih mahal. Boneka beruang abunya lusuh, ada robek di bagian kepalanya. Sementara boneka teman-temannya begitu cemerlang, berbulu indah dan lembut.

Si gadis berkepang dua merawat bonekanya dengan penuh cinta. Ia cuci boneka itu dengan deterjen bagus, diberinya pewangi, disisir bulunya hingga begitu lembut. Dijahitnya robekan di kepala hingga terlihat rapi. Semakin hari semakin cinta gadis kecil itu pada bonekanya. Hidupnya seperti hanya berkisah tentang ia dan bonekanya. Tak ada orang lain disana, Tak ada hal lain yang dipedulikan kecuali bonekanya. Sudah direndamkan, sudah dijemurkah, sudah diberi pewangikah, sudah disisirkah. Ia bahkan tak peduli pada dirinya sendiri.

Hingga suatu hari, sepulang sekolah, gadis kecil itu mendapati boneka tercintanya tak ada di kamar. Ia panik. Membongkar semua sudut rumahnya, berharap ia menemukan beruang abu kesayangannya. Tak ada. Sementara sang ibu menatapnya tak tega dari balik pintu dapur, perlahan wanita paruh baya itu menghampiri putri kesayangannya sambil berujar

“Tadi saat kau sekolah, petugas pengantar paket yang dulu mengantarkan bonekamu datang kemari. Ia membawa surat dari Pemilik boneka itu. Ia bermaksud mengambil bonekanya kembali. Maaf ibu tidak bisa menahannya untukmu”

Gadis itu terdiam, lama, ia menunduk menahan sesak di dadanya yang hampir membucah. Seperti ada paku yang menusuk-nusuk. Perih. Beberapa saat kemudian ia menangis, meratap, meraung , menjerit

“Kenapa harus punyaku yang diambil, kenapa bukan boneka orang lain yang sudah dimiliki lebih lama? Kenapa bukan boneka teman-temanku yang dibiarkan tergeletak? Kenapa harus bonekaku?”

Berhari-hari gadis itu terkurung dalam duka. Segala ceria hilang dari hidupnya. Tak ada yang bisa menghiburnya. Tidak juga keluarga dan teman-temannya. Wajahnya lebih sering dihiasi muram.

Perih semakin kuat menekan, saat kerinduan pada bonekanya semakin tak tertahan. Perlahan gadis kecil itu membongkar kolong tempat tidurnya, mencari dus tempat boneka itu dulu ia terima. Berharap ada alamat Sang Pemilik di sana. Namun yang ia temukan hanyalah sepucuk surat , di kertas yang masih begitu putih dan menebarkan aroma yang sangat wangi :

“Boneka ini Aku titipkan padamu. Tolong rawat baik-baik. Kau boleh memainkannya sesuka hatimu. Tapi ingat, suatu hari Aku akan mengambilnya kembali jika Aku menginginkannya. Pastikan boneka itu kembali dalam keadaan utuh. Aku akan sangat senang kalau kau membuatnya jadi lebih baik dari saat ini. Jika Aku mengambilnya suatu saat, jangan menahan, jangan meraung, jangan menyesali keadaan. Karena kalau kau ikhlas melepaskannya, aku akan menitipkan boneka yang jauh lebih baik padamu suatu saat nanti. Tunggulah dengan sabar…..”

Gadis kecil berkepang dua itu kembali terdiam, ia mengambil pensil dari dalam tasnya, perlahan ia menjawab surat Sang Pemilik boneka

“Maafkan aku, aku terlalu dalam mencintai boneka itu hingga tak lagi mampu melihat keindahan hidupku tanpanya. Aku rindu kecerianku yang dulu, keceriaan bersama teman-temanku, meski tanpa boneka itu. Terima kasih telah menitipkan boneka beruang abu itu untukku, aku menunggu titipan-Mu berikutnya. Terima kasih ….”

Wallahu a'lam bi showab

Kuningan, 28 Mei 2010

Senin, 17 Mei 2010

Mensyukuri Ketiadaan

Perempuan muda itu tertegun menatap rintikan air yang membasahi pekarangan rumahnya. Langit masih teramat pekat. Ada 3 hal yang harus dipilihnya dengan cepat pagi itu, pergi ke pasar, melanjutkan memasak dengan bahan seadanya atau berdiam diri meratapi keadaan yang tidak sesuai keinginan. Terbayang olehnya, semalam menjelang tidur, dalam lelah yang sangat, ia masih sempat memeriksa persediaan bahan masakan di lemari esnya. Ada daging sapi yang sudah direbus, telur, tempe, wortel, dan kol. Dengan cepat iapun merencanakan untuk memasak 3 menu untuk sarapan keluarganya, sup daging sapi, telur dadar dan tempe goreng tepung.

Dan pagi tadi selepas sholat subuh, ia bergegas menuju dapur menyiapkan semua keperluan memasaknya. Tanpa harus kepasar, ia bisa memasak menu yang sudah direncanakannya. Sudah terbayang pagi ini keluarganya akan sarapan dengan sup segar, telur dadar gurih dan tempe goreng tepung yang renyah. Pertama ia menyiapkan bahan untuk telur dadar. Telur, irisan bawang merah, dan irisan tipis bawang daun. Tanpa pikir panjang ia mengiris tipis semua daun bawang yang ada.

Selesai bikin dadar telur, ia mulai menyiapkan bahan sup. Daging sapi, wortel,kol dan setelah itu ia tertegun beberapa saat. Kemudian matanya mulai menjelajahi pinggiran dapur. Ada sesuatu yang dicarinya. “perasaan kemarin masih ada kentang..” ujarnya pelan. Lelah mencari, ia memutuskan melanjutkan memasak supnya tanpa kentang. Meskipun, baginya kentang adalah pelengkap penampilan supnya. Baginya sup yang sempurna adalah sup yang segar dan tidak berlemak, dengan perpaduan warna yang indah. Putihnya kol, merahnya wortel dan tomat, kuningnya kentang dan hijaunya daun bawang. Sebentar….rasanya ada dua bahan yang tadi disebut tak ada di depannya. Tomat dan bawang daun. Tak ada sebiji tomatpun disana dan irisan bawang daun semuanya sudah dipakai untuk dadar telur. Ia kembali terdiam. Bibir bawahnya maju beberapa centi. “Hhhhhh tak sempurna deh sup ku pagi ini”.

Untuk mengobati kekecewaannya, ia beralih berkonsentrasi ke bahan tempe goreng tepung. Ada tepung yang sudah dibumbui dengan bawang putih dan ketumbar. Ada juga tempe yang masih terbungkus plastik. Dengan semangat ia meracik tepung dan mulai mempersiapkan tempe yang nampak akan diirisnya tipis-tipis. Namun baru saja sebagian kecil plastiknya terbuka, ia mulai mencium bau tak enak dari tempe yang telah disimpannya di lemari es itu. Tempe itu sudah tak layak di makan. Maka untuk yang ketiga kalinya ia terdiam. Kali ini bukan hanya bibir bawahnya yang maju beberapa centi tapi juga bibir atas. Aroma kekecewaan kembali terbaca.

Perlahan ia menuju pintu depan rumah, berpikir untuk pergi ke pasar. Namun hujan rintik menghalanginya beranjak. Hmmm ada tiga pilihan yang harus segera diputuskannya. Segera pergi ke pasar, melanjutkan masak walaupun tak sesempurna yang direncanakannya atau mending berdiam diri saja meratapi keadaan yang tidak sesuai keinginan?

Beberapa saat kemudian, dengan senyum tipis, ia kembali ke dapur. Dengan sigap ia menyiapkan masakannya. Tak beberapa lama, ia nampak tersenyum puas menyaksikan anggota keluarganya sarapan begitu lahap. Di meja makan sudah tersedia sup daging sapi dengan paduan warna yang lumayan cantik. Merah, putih, kuning meski tak ada hijaunya daun bawang. Sebentar…kuning? Dari mana warna kuning itu berasal, bukankanh tadi tak ada kentang di dapurnya? Kenapa mendadak sekarang ada potongan kotak berwarna kuning muda di sup itu? Darimana kah kentang itu di dapatnya? Dan satu lagi ada gorengan kulihat di meja. Apa yang digorengnya? bukankah tempe beraroma tak sedap itu sudah dibuangnya?

Perempuan itu tersenyum semakin lebar, ia bahagia dengan pilihannya pagi itu. Melanjutkan memasak meski tak sesempurna yang dibayangkannya. Dan ketiadaan sesuatu yang seharusnya ada ternyata menjadikannya berfikir kreatif. Ketiadaan kentang dan tomat membuatnya berpikir untuk memanfaatkan sebiji apel yang masih tersisa di lemari esnya. Bukankah potongan apel bisa menggantikan kuningnya warna kentang dan segarnya rasa tomat? Ketiadaan tempe mentah untuk bahan tempe goreng tepung membuatnya melirik oreg tempe basah sisa nasi uduknya tadi malam. Maka jadilah tempe goreng tepung yang sama renyahnya.

Begitulah dalam kehidupan. Terkadang kita mengharapkan suatu rencana berjalan sempurna, sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Saat ada suatu kendala, rintangan, masalah atau kejadian tidak terduga, sejenak kita akan terdiam. Dan setelah itu kita akan dihadapkan pada 3 pilihan. Mengganti rencana dengan rencana baru, melanjutkan rencana yang ada meski tak harus sempurna atau berhenti berharap dan meratapi masalah yang ada. Dan lihatlah apa yang terjadi dengan perempuan tadi, saat ia memutuskan memilih melanjutkan masaknya meskipun dengan bahan seadanya yang dia punya. Jadilah 3 menu seperti yang direncanakannya , meskipun memang tak sesempurna dalam bayangannya.

Ya, ketiadaan sesuatu yang seharusnya ada memang melatih kita untuk selalu berfikir kritis dan kreatif. Karena jika semua yang kita inginkan selalu tersedia di depan mata dengan segera, lantas kapan kita akan belajar beranjak? Jika kita memiliki semua yang seharusnya kita kita miliki, Lantas apa lagi yang kita cari dalam hidup?
Jadi bersyukurlah atas ketiadaan, bersyukurlah atas apa yang tidak kita miliki dan bersyukurlah atas kekurangan dalam hidup kita. Karena hidup tak pernah menuntut kita untuk selalu sempurna....

Wallahu a'lam bi showab