Terpaku aku menatap bangunan megah di depanku di siang terik itu, Senin 28 Februari 2005. Aku berjalan memasuki ruangan lapang mirip aula hotel. Di depanku berjajar resepsionis cantik berjilbab di balik meja tinggi melingkar. Seperti akan booking hotel saja rasanya. Setelah bertemu dengan orang yang kucari , aku,teman kantor dan dua kakak lelakiku berjalan perlahan menuju ruangan yang tertata rapi. Tak pernah kuduga bahwa ruangan yang kumasuki saat itu adalah ruang tunggu periksa dokter. Seperti halnya aku juga tak menduga bahwa aula megah yang tadi kumasuki adalah ruang front office rumah sakit. Aku datang kesana bukan untuk booking kamar hotel dalam rangka berlibur, tapi booking kamar perawatan untuk memperbaiki kondisi fisikku di RS Holistik Purwakarta.
Selepas bertemu Dr Husein, berbicara panjang lebar dengan lelaki berwajah lembut yang merupakan direktur sekaligus pemilik rumah sakit itu, aku langsung menjalani beberapa terapi. Dari mulai akupuntur, refleksi, sauna, bio energi, dan berbagai terapi lain yang baru kukenal saat itu. Selepas itu aku masuk ke kamar bookinganku, kamar kelas melati berukuran 3x4 m dengan kamar mandi di dalam. Di kamar seharga 150 rbu semalam itu terdapat sebuah ranjang pasien dengan sebuah TV 14 inchi bergantung di depannya.Tanpa tiang infusan. Itu yang aku suka dari RS ini
Dua hari pertama aku begitu menikmati kehadiranku di sana, seolah terlupa dengan vonis cuci darah yang kuterima berhari-hari sebelumya. Berbeda dengan rumah sakit lain, di sini aku terhindar dari hiruk pikuk kepanikan, suasananya tenang dan nyaman. Aku sendiri biasa berjalan-jalan di sepanjang lorong, kadang berkunjung ke kamar lain. Aku kerap dikira penunggu pasien karena kondisiku yang masih cukup fit saat itu.Tiap pagi aku ikut senam pagi dan latihan yoga di taman belakang kamarku. Kuhirup udara sejuk sambil sesekali mataku melirik bagunan megah di seberang kamarku. Bangunan itu katanya adalah bangunan VIP yang bertarif 1-1,5 juta semalam. Konon ada beberapa artis yang menginap disana sekedar untuk membersihkan wajahnya yang berjerawat. Hi hi hi aku kerap mengintip berharap suatu saat aku bisa bertemu salah satu artis itu.
Tanpa infus, sekali lagi itu yang kusuka dari RS ini. Tidak ada satupun pasien yang berkeliaran dengan infus. Kecuali pasien-pasien dalam kondisi kritis. RS ini memang menggunakan pengobatan alternatif herbal berbasis medis. Kendati obatnya menggunakan herbal dan diet makanan tapi di sana tetap disediakan perlengkapan medis untuk menghadapi kondisi darurat.
Hal lain yang kusukadari RS ini adalah adalah seminar kesehatan yang dihadiri oleh sebagian besar pasien. Seminar ini berlangsung pada malam-malam tertentu. Pembicaranya adalah DR Husein dan beberapa dokter yang lain. Secara kebetulan seminar yang kuhadiri malam itu adalah seminar ginjal. Dari sanalah pendidikan ginjal pertamaku bermula. Di seminar itu pula aku bertemu dengan berapa pasien yang sama kondisinya denganku. Memperpanjang waktu untuk menghindar dari cuci darah.
Memasuki hari ke 3, tensiku semakin meninggi. Dietku semakin diperketat oleh tim gizi. Makan pagiku tetap sayuran wortel dan labu rebus. Menjelang dzuhur aku yang biasanya mendapat nasi dan tumis jamur gurih tiba-tiba harus mendapati tumis jamur tanpa garam. Ya Allah, rasanya tercium semua bau jamur dan nasi yang tiba-tiba membuat enek lambungku itu. Selama beberapa hari mulutku pahit tak masuk makanan. Semua makanan cuma hanya tercium baunya saja. Mual mulai menderaku. Sesendok makanan yang masuk ke mulutku hampir dapat dipastikan kumuntahkan lagi. Begitu pula obat obatan herbal tak ada yang bertahan di lambungku.
Hari ke-5 tubuhku lunglai. Berdiri agak lama lututku bergetar hebat, jantungku berdebar kencang, nafasku tersengal. Aku harus membawa kursi ke kamar mandi karena tak lagi kuat mandi sambil berdiri. Besoknya hasil pemerikaan darah menunjukkan Hb ku sekitar 5gr/dl. Di hari ke 6 akupun menjalani transfusi darah pertamaku dengan hidung berselang oksigen. Ah masih terbayang hari itu teman-teman alumni Statistika Unpad 98 menengokku. Mereka memintaku berfoto bersama. Akupun berfoto dengan melepas selang oksigenku terlebih dahulu. Masih kusimpan foto bergaya senyum lebar itu. Hi hi dalam kondisi darurat masih terselip keceriaan kurasakan.
Selepas transfusi jantungku tak lagi berdebar, tubuhku tak lunglai, tapi mulai berganti keluhan lain. Nafasku semakin berat, rasanya seperti kiloan lendir menumpuk di dadaku. Beberapa kali aku diterapi dengan nebulizer, terasa sedikit nyaman, namun itu tak berlangsung lama. Nafasku semakin berat saja dari hari ke hari. Aku sudah tidak nyaman lagi tidur sambil berbaring. Aku kerap tidur dengen posisi sujud setiap malam. Hanya diposisi itulah aku merasa nyaman.
Hingga puncaknya Jumat, 11 maret 2005 atau hari ke 11 aku di RS Holistik Purwakarta, aku dinyatakan harus cuci darah hari itu juga. Kadar racunku, sudah menjulang tinggi dan tak ada lagi toleransi. Dr. Dhadi salah satu dokter di RS Holistik yang juga suami sahabatku, Diana, membujuk mimih agar mengizinkanku cuci darah. Akhirnya setelah segala jurus dikeluarkan, mimih menyerah dengan kalimat pendeknya “Boleh, tapi kali ini aja” .
Dan dengan berkendara kursi roda, kumasuki ruangan itu. Ruangan berukuran 5x8 dengan dua mesin kokoh dan dua ranjang di dalamnya. Akhirnya aku berkenalan dengan ruangan bertitel ruang hemodialisa itu. Itulah cuci darah pertamaku. Di sanalah pertama kali aku merasakan jarum besar bersarang selama 5 jam di bawah permukaan kulitku. Alhamdulillah tak ada kesakitan berarti yang kurasakan di momen hemodialisa pertama dalam hidupku. Cuci darah ternyata tak seseram yang kubayangkan.
Keluar dari ruang hemodialisa atau ruangan cuci darah aku disambut isak tangis keluargaku. Semua kakak kakakku sudah berkumpul, juga sepupu dari Depok. Setelah hampir dua minggu aku hanya bersama mimih, akhirnya hari itu aku bertemua dengan orang-orang yang mencintaiku. Semuanya bermata sembab, akhirnya ketakutan mereka harus terjadi juga. Cuci darah yang selama dua minggu kuhindari mati-matiin akhirnya harus kujalani juga.
Sementara semua orang tergugu dalam diam yang kelabu, aku malah tesenyum manis Jumat siang itu. Setelah keluar dari ruang hemodialisa nafasku kembali ringan. Tak ada lagi sesak di dada dan kesakitan di hampir semua sendiku. Ditambah dengan ceplok telor istimewa yang tersaji dipiring. Ahhhh akhirnya setelah hampir dua minggu aku bergaul dengan tumis jamur tanpa rasa, hari itu aku mencumbu telor ceplok favoritku. Nikmaaattttt
Ada rasa lain yang kurasakan sekembalinya aku ke ruangan melatiku. Haus...hmm superhaus tepatnya. Rasanya tenggorokanku yang sebelum cuci darah basah oleh lendir, setelah cuci darah justru terasa kering kerontang. Maka tanpa rasa bersalah kuhabiskan teguk demi teguk air di tupperware hijauku. Saat itu aku belum tahu bahwa pasien GGK yang menjalani cuci darah sepertiku harus menjaga minum. Maka selama hari itu kupuaskan rasa dahagaku dengan air putih yang selalu tersedia di samping tempat tidurku.
Esoknya karena merasa kondisi lebih fit, kami meminta izin pulang. Setelah melalui lobi yang lumayan alot akhir dokter mengizinkan pulang besok harinya, hari Minggu 13 Maret 2005. Aku tersenyum riang, Mimih langsung semangat membereskan baju-bajuku. Sepupuku di Bandung sudah siap menjemput esok paginya. Bagai pesta kebahagiaan sepanjang hari itu aku kembali memuaskan dahagaku dengan teguk demi teguk air putih.
Menjelang tidur sekejap aku merasa panik, napas beratku kembali datang menghampiri. Aku terdiam, berharap itu hanya perasaanku saja. Malam itu aku tidur sambil duduk karena tak cukup nyaman berbaring.
Minggu pagi, diantara kebahagiaan yang membucah terselip kekhawatiran di pikirku. Nafas beratku semakin terasa. Ditambah gerah luar biasa yang tak terkira. Rasa panas bagai terbakar menjalari seluruh permukaan tubuhku. Sementara di kamarku, seluruh baju sudah rapi tersusun di tas ransel coklatku. Mimih sudah hampir rapi, dan aku baru selesai mandi dan siap mengenakan baju putihku. Entah kenapa mendadak kerah baju superlonggar itu terasa mencekik leherku. Keringat dingin bercucuran. Panas yang sedari tadi menjalar semakin menyengat, bagai bara api menjalari kulit tubuhku. Aku menjerit, sesak makin menekan dadaku. Perawat berlarian mencari oksigen. Sejenak suasana gaduh.
Tak lama instruktur yoga yang biasanya mampu menenangkan pasien datang. Ia memintaku untuk tak panik. Sejenak aku bisa tenang. Tapi kemudian leherku semakin tersekat, bagai ada ikatan kuat yang mencekiknya. Aku kembali panik. Dokter datang, memeriksaku, menekan punggungku. Tak lama Ia berdiskusi dengan sejawatnya dan pernyataannya mengagetkankuku dan keluarga. Jantungku bengkak, paru paru terendam air. Satu-satunya jalan adalah cuci darah, aku menangis, semakin ingin pulang.
Beberapa saat dokter meninggalkanku memastikan langkah yang tepat untukku. Sementara nafasku semakin sesak. Tiba-tiba aku merasa tak ada lagi udara yang masuk ke hidungku.
“Mana udara-mana udara...gak bisa nafas” jeritku sambil berurai air mata.
Mimih mengusap usap punggungku diiringi suara bacaan tilawah qur’an dari ibu ibu pengantar pasien sebelah kamarku.
Kamarku dikerubungi banyak orang.
Trainer yoga tetap sabar mengajariku cara bernafas
“Tarik lewat hidung, keluarkan lewat mulut “ begitu ujarnya .
“Gak ada udaranyaaaaa” aku menjerit, tangisku makin pecah.
Mendadak aku merasa itulah akhir usiaku. Kutatap orang-orang di sekitarku, betapa mudahnya udara keluar masuk hidung mereka. Kenapa sulit sekali bagiku menghirup udara itu? Inikah akhir hidupku? Kutatap jam di dinding depan ranjangku, jam 5 sore. Aku berujar dalam hatiku
“ saya siap Robb jika ini memang waktunya.” Aku pun terkulai, mataku menutup.
Mimih menjerit, suara tilawah Qur’an makin kencang.
Tak lama, antara sadar dan tidak kudengar suara orang berlarian. Seseorang membuka kerudungku, aku sudah tak berdaya untuk melawan. Kurasakan ranjangku bergerak maju. Kubuka mata perlahan, aku didorong diatas ranjangku oleh sekitar 4 atau 5 orang berbaju putih. Sementara di sampingku berjajar orang-orang berwajah panik menatap iba kepadaku. Aku terkulai, entah kemana aku dibawa, pasrah, tanpa daya.
Dan ruang hemodialisa itu kembali menjadi saksi hadirnya udara di hidungku. Beberapa menit setelah dua jarum berada di permukaan kulitku dan darah keluar masuk tubuhku dari selang selang yang bergantung itu, aku kembali sadar dan bisa bernafas lega. Seluruh orang disekitarku sumringah. Melalui tangan mereka, Allah kembali izinkan aku menghirup udara dunia. Allah memberiku kesempatan hidup kedua.
Kalau sekarang aku ditanya apa motivasiku bertahan sampai 9 tahun setelah itu? Salah satu jawabannya adalah mencari alasan kenapa Allah masih memberi kesempatan hidup padaku. Ada sesuatu yang masih harus aku lakukan di alam fana ini, entah apa. Karena jika tidak mungkin Allah sudah mengajakku pulang sejak Minggu, 13 Maret 2005, jam 5 sore itu.
Selamat Datang di Sekolah Kehidupan
Belajar hidup dari Yang Maha Menghidupkan
Senin, 10 Maret 2014
Kamis, 24 November 2011
TAHU GEJROT DAN PERNIKAHAN

Ada satu baskom besar tahu ciledug di atas meja makanku malam itu. Tahu kecil kering bertekstur kasar. Aromanya tak cukup sedap. Bagi yang tak terbiasa, wajar saja jika menutup hidung saat menciumnya.
Di sebelahnya ada semangkuk cairan berwarna coklat tua. Cairan hasil perpaduan gula merah, kecap bawang merah dan cabe rawit yang ditumbuk. Juga beraroma menyengat. Tak ada yang istimewa dengan rasanya.
Tahu ataupun cairan berbumbu itu, dua-duanya bisa kita nikmati. Tapi jangan coba-coba menikmati salah satunya saja. Kalau nekat, kita hanya akan mendapati satu kemungkinan. Kapok. Bagaimana tidak? Jika yang kita nikmati hanyalah sepahan tahu berongga yang tawar dan berbau khas. Atau bumbu sepet manis pedas yang hanya membuat produksi air liur dan asam lambung melimpah tapi tak cukup mengenyangkan.
Jika kita ingin menikmati keistimewaannya, gabungkan keduanya dalam satu tempat. Potong tahu menjadi dua bagian. Simpan beberapa potong tahu dalam mangkuk. Siram dengan beberapa sendok cairan berbumbu hingga terendam. Dan rasakan sensasinya .
Sensasi itulah yang dicari oleh pecinta makanan khas Cirebon yang terkenal dengan nama tahu gejrot itu.
Bagi saya, perpaduan rasa pada tahu gejrot tak ubahnya seperti konsep pernikahan. Tahu gejrot menggabungkan dua jenis makanan yang “biasa” menjadi begitu “istimewa” dalam rasa. Menggabungkan dua jenis unsur yang “berbeda” menjadi “satu” dalam wadah yang sama. Menjadikan sepahan tahu berongga itu menjadi begitu menggoda . Dan menjadikan cairan coklat tua beraroma menyengat itu menjadi begitu memikat. Kualitas sensasi tahu gejrot ditentukan oleh kualitas tahu, kualitas bumbu dan cara meraciknya.
Bukankah begitu seharusnya sebuah pernikahan, teman ? Menyatukan dua orang yang biasa menjadi begitu istimewa. Menyatukan dua orang yang berbeda dalam wadah yang sama. Menjadikan perempuan seorang istri dengan berjuta pahala jika bisa menjaga dan menata . Dan menjadikan lelaki memiliki berjuta keutamaan jika mampu menjadi imam bagi kekasih hatinya. Kualitas pernikahan pun didukung oleh tiga hal utama yaitu perbaikan diri istri, perbaikan diri suami dan cara keduanya saling mengisi.
Maka jika tahu gejrot itu ibarat pernikahan, tahu gejrot seperti apakah yang kita inginkan?
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." ( Q.S. Ar-Rum:21)
Wallahu alam bi showab.
Minggu, 13 November 2011
Ada Cinta di Hucap Darurat

Minggu pagi, matahari masih malu-malu menampakkan diri di langit Kuningan yang biru. Aku dan seorang sahabat duduk manis di bangku panjang di pekarangan sebuah rumah sederhana dekat Pasar Darurat. Di atas meja yang tepat berada di depan dada kami, telah terhidang sepiring makanan beraroma memikat. Potongan ketupat kenyal bercampur dengan dengan potongan tahu panas yang masih mengepul. Siraman bumbu kacang yang dimasak dengan santan dan aneka rempah semakin membuat produksi air liurku membucah. Di atasnya tampak taburan bawang goreng kualitas super yang membuat penampilannya semakin memikat. Ada pilihan kerupuk putih atau emping melinjo untuk menghasilkan sensasi kriuk saat kami menikmatinya.
Pada suapan pertama kami merasakan rasa gurih dari campuran bumbu kacang dan bawang goreng yang membuat melayang. Perpaduan ketupat kenyal dan tahu yang garing di luar tapi lembut di dalam membuat gigitan pertama kami terasa begitu menggoda. Pun suapan berikutnya.
Jika anda orang Kuningan atau pernah ke Kuningan atau berada di sekitar daerah Kuningan pasti sudah tak lagi asing dengan makanan ini. Ya, hucap namanya. Yang sedang kami nikmati hari itu terkenal dengan nama hucap darurat.
Sementara kami menikmati suapan demi suapan hucap darurat, di depan meja kami, ibu penjual hucap yang berusia lewat setengah abad nampak sedang sibuk melayani pembeli lain. Tubuh gemuknya tak menghalangi kecekatannya dalam meracik hucap pesanan. Ia memotong kupat, mengiris tahu, menyiram bumbu dan bawang goreng dengan begitu lihai. Pengalaman puluhan tahun melayani pembeli membuat pelayanannya terlihat optimal. Sementara di belakangnya, sang suami sibuk menggoreng tahu. Tak kalah cekatan dari istrinya.
Ada yang membuat kami terpesona dari suami istri itu. Bukan cara mereka bekerja tapi pembagian tugas diantara mereka. Sang istri mendapat tugas meracik hucap dan melayani pembeli. Bukankah itu adalah tugas yang sifatnya mengabdi dan melayani? Resiko terbesar si istri hanya kemungkinani teriris pisau atau kepanasan memegang tahu. Sementara sang suami bertugas menggoreng tahu. Ia mengambil resiko besar untuk itu. Kemungkinan terciprat minyak panas hampir setiap saat.
Bapak berusia 60 tahunan itu juga melingkupi wajan tempatnya menggoreng dengan seng tinggi di bagian samping dan depan wajan. Menjaga agar minyak tak menyiprati tubuh istrinya yang sedang melayani pembeli. Sepertinya si bapak hendak berkata pada dunia, biarkan aku yang berkorban asal istriku aman. Indah bukan? Sang suami melindungi dengan sempurna, istri meracik dan melayani dengan sempurna. Begitulah cara mereka membuktikan cintanya. Dan begitulah seharusnya cinta.
Pagi itu aku dan sahabatku sepakat ada cinta di hucap darurat. Cinta sepasang suami istri yang tak lagi muda. Maka tak perlu heran jika hucap darurat menjadi hucap favorit bagi sebagian besar masyarakat Kuningan. Bahkan terkadang kita harus mengantri untuk bisa menikmatinya. Karena hucap darurat dibuat dengan cinta. Dan cinta berasal dari hati. Bukankah sesuatu yang berasal dari hati akan sampai kepada hati ?
Wallahu alam bi showab
** Hatur nuhun untuk teh Maimon Herawati atas diskusi dan foto-fotonya :)
Jumat, 04 November 2011
Mimih, Ketangguhanmu Mengajariku untuk Bertahan

Pagi itu, 11 Maret 2005, seorang perempuan berusia lebih dari setengah abad duduk bersimpuh di mesjid sebuah rumah sakit swasta di kota Bandung. Matanya sembab. Mukena putihnya basah. Air mukanya keruh. Dunianya sedang hilang. Gadis bungsunya terbaring lemah di ranjang ruang hemodialisa rumah sakit itu. Menjalani cuci darah ketiganya.
“Allah kenapa cuci darah harus seumur hidup? Kenapa harus gadis bungsuku? Kenapa bukan aku saja?” Perempuan berkulit putih itu meraung semakin kencang, melepas sesak yang menekan dalam dadanya. Seharian ia habiskan waktunya bersama Pemilik Jiwanya. Tak cukup sanggup ia memasuki ruangan tempat gadis 25 tahunnya berjuang mempertahankan hidup. Ia rapuh. Tak lagi sanggup menanggung beban itu, sendiri.
Itulah kali pertama kudengar kisah kerapuhannya, setelah 25 tahun aku mengenalnya sebagai perempuan tangguh tanpa cela. Aku tak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri karena saat itu aku sedang terbaring tak berdaya. Di tubuhku sedang tertusuk dua jarum super besar berselang bening yang dialiri cairan merah dari tubuhku. Ya, akulah gadis bungsu 25 tahunnya. Dan perempuan itu adalah Mimih, ibuku.
Mimih, perempuan yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk nafas pertamaku di dunia. Perempuan yang doa-doanya senantiasa mengiringi hidupku. Perempuan yang telah membuatku merasa jadi orang paling layak untuk dicintai. Entah bagaimana harus kuungkapkan rasaku padanya.
Sejak kepergian bapak menghadap Robbnya di tahun 2000, Mimih berjuang mencukupi kebutuhan sehari-hari dari hasil usaha warung kecil yang dirintisnya sejak tahun 1960. Di desa kecil kami di Kabupaten Kuningan Jawa Barat Mimih berjuang. Ia bahkan tak mau melepas usahanya kendati keempat anaknya saat itu semuanya sudah mandiri. Ketiga kakakku sudah menikah, dan aku sudah bekerja dan membiayai diri sendiri. Saat kami memintanya untuk berhenti berjualan, Mimih menolak dengan alasan tak ingin membebani anak-anaknya. Dengan usaha warung ini pulalah Mimih mengumpulkan keping demi keping rupiah untuk mewujudkan mimpinya pergi haji. Hingga akhirnya di akhir tahun 2004 Mimih menjadi tamu Allah di Baitullah. Sebuah rizki yang tak terduga dan pencapaian yang begitu besar untuk Mimih yang memulai segalanya dari nol. Alhamdulillah.
Selama 13 tahun mimih mendirikan warungnya di atas tanah orang lain, hingga di tahun 1973 Allah memberi kami rizki tak terduga. Sepetak tanah di samping bale desa. Mimih memindahkan warungnya ke sana. Atas izin Allah pulalah, warung kecil kami kini berkembang menjadi warung paling besar di desa kami.
Tentu bukan dengan diam mimih mendapat semua itu. Ia mengelola warung dengan sepenuh jiwanya. Ia memastikan warungnya sudah buka sebelum matahari terbit dan baru tutup setelah matahari terbenam. Ia baru akan tidur setelah jam 10 malam untuk kemudian bangun jam 3 pagi dan pergi ke pasar selepas subuh. Ia memperlakukan warungnya seperti bayi mungil yang tak bisa ditinggal terlalu lama. Bahkan di masa-masa kecilku Mimih dan Bapak mebuat ruangan diatas warung untuk tempat tinggal. Ah mana mungkin kulupa saat aku tertidur diantara tumpukan karung beras atau barang-barang kelontongan yang Mimih jual. Atau saat Mimih harus beranjak dari makan siangnya karena ada yang membeli minyak tanah. Mimih menjalaninya tanpa keluh. Demi mewujudkan kebaikan untuk anak-anaknya, ia tak lagi peduli dengan kelelahan raganya. Ia ajari kami cinta yang sederhana. Sesederhana Mimih yang lulusan SR dan tak cukup lancar berbahasa Indonesia.
Dan vonis cuci darahku seolah menghancurkan itu semua. Mimih menemaniku keluar masuk dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Ia selalu ada di dekatku, kecuali saat jadwal cuci darahku. Aku mengerti, tak mudah baginya menatap jarum-jarum itu tertanam di tubuhku.
Perlahan uang tabungan mimih habis untuk membiayai cuci darahku yang mencapai 1,5 juta seminggu. Aku yang masih menjalani pengobatan di Bandung terpaksa harus melepas mimih pulang untuk sekedar mencari tambahan biaya cuci darahku. Cahaya terang bagi keluargaku mulai terlihat ketika kakakku mengabari bahwa aku sudah bisa menggunakan program bantuan pemerintah bernama Gakin sekitar bulan Mei 2005. Tapi dengan syarat aku harus cuci darah di rumah sakit terdekat dari kotaku, Kuningan Jawa Barat. Maka dengan segala kemudahan yang Allah berikan, akhirnya aku bisa cuci darah di Rumah Sakit Gunung Djati Cirebon dengan menggunakan program Gakin yang kemudian berubah nama menjadi Askeskin dan sekarang Jamkesmas. Dengan program itu aku bisa menjalani cuci darah dengan biaya ditanggung pemerintah. Kami hanya perlu menambah untuk membeli obat, biaya periksa lab dan keperluan lain selama cuci darah berlangsung. Tak ada kata yang layak terucap selain ucapan syukur atas semua nikmat dan kemudahan yang Allah berikan.
Namun di perjalanan hidupku kemudian, kondisi psikologisku mulai labil. Aku yang dulu terbiasa mandiri dan bekerja penuh tiba-tiba harus berada di rumah 24 jam tanpa melakukan apapun. Hanya menunggu kematian. Hampir setahun kutangisi hidupku tanpa henti. Aku menyalahkan diriku, menyalahkan nasibku dan menyalahkan Robbku. Ya, aku menyalahkan Robbku. Aku tak pernah mau berdoa setelah sholat. Kupikir saat itu, buat apa berdoa, Bukankah Allah tak pernah mendengar doaku?
Mimih mengingatkan kekeliruanku. Aku marah padanya. Hingga suatu malam dalam tidurku yang tak lelap kudengar tangisan mimih. Ia mengadu pada Robbnya memohon kesembuhanku. Aku menangis dalam tidurku menyadari betapa angkuhnya aku selama ini.
Setelah itu duniaku menjadi lebih indah bersama doa dan harapan. Mimih memotivasiku setiap saat. Ia bahkan mencoba semua terapi yang bisa kulakukan berapapun biayanya. “Jangan pikirkan uang, Allah memberi rizki lewat warung ini”. Diusianya yang sudah lebih dari 60 Mimih masih berjuang menjaga warungnya. Ia begitu mandiri, tak pernah mau bergantung pada anak-anaknya.
Menyadari kemandirian mimih tiba-tiba aku merasa malu. Sejak sakit, aku menjadi sangat bergantung kepada orang-orang di sekitarku dan mesin cuci darah itu. Maka perlahan, sedikit demi sedikit aku mulai mencari penghasilan sendiri. Dari mulai menjadi konsultan statistik sebagai bidang ilmu yang kukuasai sampai bekerja freelance di biro psikologi. Dan kemudian Allah membukakan jalanku untuk menulis. Buku pertama yang kutulis adalah buku memoarku tentang cuci darah. Tujuan awalku menulis hanyalah untuk berbagi dengan orang-orang yang senasib denganku. Tanpa diduga buku itu membuka jalan bagiku untuk terus menulis dan berkeliling ke beberapa kota, sendirian. Sesuatu yang tak pernah terpikirkan saat vonis cuci darah menghampiriku di tahun 2005. Begitulah, skenario Allah memang selalu indah.
Dan hari ini, tanpa terasa sudah hampir 7 tahun Mimih menemaniku cuci darah. Ia menghapus air mataku. Menggosok punggungku saat nafasku sesak. Memijit kakiku meski aku tak memintanya. Berat badan Mimih berkurang seiring berkurangnya berat badanku. Dan mata mimih cekung seiring cekungnya mataku. Hanya satu yang tak pernah hilang darinya : semangat.
Ya, semangat Mimih untuk terus mengupayakan kesembuhanku tak pernah berhenti. Bahkan sampai hari ini, ia memotivasiku untuk terus bangkit. Ia mengajariku untuk sabar dan pantang menyerah. Bukan dengan ucapan Mimih mengajariku tapi dengan sikapnya. Mimih mengajariku untuk terus semangat mengejar cita-cita. Bahwa menjadi pribadi mandiri itu jauh lebih baik. Tidak dengan perkataan tapi dengan perbuatannya. Dan aku berusaha meneladaninya.
Aku bangkit perlahan-lahan dari titik nadhir kehidupanku. Merangkak sedikit demi sedikit, menyusun kembali puing-puing hidupku yang sudah berserakan. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa hidup bukanlah untuk menunggu kematian, tapi hidup adalah untuk melakukan yang terbaik untuk kehidupan sesudah mati. Dari Mimih aku belajar kesabaran, kemandirian dan. ketangguhan. Ah, perempuan 66 tahun itu selalu membuatku bangga.
Jika ada yang bertanya bagaimana caraku bertahan menjalani hampir 7 tahun cuci darahku, tanyalah pada Mimih. Karena dialah guruku. Ketangguhannya telah mengajariku untuk bertahan.
Allah, aku mencintai mimihku, sangat.
Minggu, 04 September 2011
Perempuan 32
Menjadi 32 dua adalah keajaiban
Bagi seorang perempuan 25 yang cuma kenal satu kata dalam hidupnya : mati
Menjadi 32 dua adalah mimpi, saat itu
Seperti angan yang segera harus terabai
Ia mendapati kematian lalu lalang di hadapannya
Sungguh batas hidup dan mati itu teramat tipis dirasakannya
Allah mengajarinya untuk tak lagi menunggu datangnya mati
Hingga ia tak lagi diam
Dalam rapuh yang mendera Ia tertatih mengumpulkan bekal
Untuk kehidupan sesudah kematiannya
Hari ini, Allah menjadikan mimpi itu tunai untuknya
Hari ini begitu banyak cinta hadir untuknya
Tiba-tiba ia merasa cuma punya dua ingin dalam hidupnya
Sisa usia yang berkah, seperti doa sahabat dan kerabatnya
Dan kematian yang indah , seperti kematian para kekasih Robbnya
Hari ini 4 September 2011
Setelah 32 tahun ia menghirup jutaan gallon oksigen gratis dari Robbnya
Setelah tangis dan tawa hilir mudik dalam hidupnya
Setelah sabar dan syukur selalu terbukti jadi obat ampuh luka hatinya
Perempuan 32 itu semakin menyadari betapa Allah begitu baik padanya
Dan tahukah teman, hari ini aku juga berujar kalimat yang sama
“Allah baik banget sama aku”
Karena perempuan 32 itu dititipkan Allah pada ragaku
Ya, perempuan 32 itu adalah diriku
Segala Puji Hanya Milik Allah, Sang kuasa Penggenggam Jiwaku.
*) Sebuah persembahan kecil untuk kerabat dan sahabat yang tak henti memberi doa dan cinta, Jazakumullah khairan katsir
Bagi seorang perempuan 25 yang cuma kenal satu kata dalam hidupnya : mati
Menjadi 32 dua adalah mimpi, saat itu
Seperti angan yang segera harus terabai
Ia mendapati kematian lalu lalang di hadapannya
Sungguh batas hidup dan mati itu teramat tipis dirasakannya
Allah mengajarinya untuk tak lagi menunggu datangnya mati
Hingga ia tak lagi diam
Dalam rapuh yang mendera Ia tertatih mengumpulkan bekal
Untuk kehidupan sesudah kematiannya
Hari ini, Allah menjadikan mimpi itu tunai untuknya
Hari ini begitu banyak cinta hadir untuknya
Tiba-tiba ia merasa cuma punya dua ingin dalam hidupnya
Sisa usia yang berkah, seperti doa sahabat dan kerabatnya
Dan kematian yang indah , seperti kematian para kekasih Robbnya
Hari ini 4 September 2011
Setelah 32 tahun ia menghirup jutaan gallon oksigen gratis dari Robbnya
Setelah tangis dan tawa hilir mudik dalam hidupnya
Setelah sabar dan syukur selalu terbukti jadi obat ampuh luka hatinya
Perempuan 32 itu semakin menyadari betapa Allah begitu baik padanya
Dan tahukah teman, hari ini aku juga berujar kalimat yang sama
“Allah baik banget sama aku”
Karena perempuan 32 itu dititipkan Allah pada ragaku
Ya, perempuan 32 itu adalah diriku
Segala Puji Hanya Milik Allah, Sang kuasa Penggenggam Jiwaku.
*) Sebuah persembahan kecil untuk kerabat dan sahabat yang tak henti memberi doa dan cinta, Jazakumullah khairan katsir
Kamis, 21 Juli 2011
Siang dan Malam
Teman, pernahkah engkau terbangun di malam hari dan mendengar detak jarum jam yang begitu kencang?
Mengapa detak jam terdengar kegitu jelas di malam hari padahal kita tak memperbesar volumenya?
Karena saat siang kita terbuai dalam pikuknya kehidupan dunia.
Karena saat siang kita terlena dalam ramainya alam raya
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa Allah menciptakan malam
Untuk mengenalkan suatu masa bernama sunyi dan gelap pada kita
Masa yang membuat detak jarum jam terdengar begitu nyata di telinga kita
Masa yang membuat kita belajar untuk melihat bagian terdalam diri kita
Masa yang membuat kita merasa begitu dekat dengan Sang Pemilik Jiwa Raga kita
Dari pergantian siang dan malam lah kita belajar
Untuk menghargai suatu masa sebelum kita kehilangannya
Agar kita tak mengeluh lelah saat pagi merekah
Agar kita tak merengek sibuk saat petang menjelang
Bukankah pergantian masa adalah keniscayaan yang nyata?
Dari pergantian siang dan malam lah kita belajar
Untuk menikmati kehidupan di masa manapun kita ditempatkan
Jangan menangis karena berharap malam segera berganti
Jangan mengeluh ketika siang mesti berurai peluh
Bukankah setiap masa memiliki peruntukannya sendiri-sendiri ?
Dari pergantian siang dan malam lah kita belajar
Untuk mensyukuri siang dan bersabar di waktu malam
Mensyukuri muda dan bersabar di masa tua
Mensyukuri sehat dan bersabar di saat sakit
Mensyukuri kaya dan bersabar di saat miskin
Mesyukuri luang dan bersabar di saat sempit
Mensyukuri nyaman dan bersabar di saat tak nyaman
Dan mensyukuri lebih dan bersabar di saat kurang
Bukankah hidup itu hanyalah sebuah persinggahan untuk mencari bekal , teman?
“Sungguh luar biasa urusan seorang mukmin. Semua urusan baik baginya.
Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya.
Jika ia mendapat musibah , ia bersabar dan itu baik pula baginya
(Diriwayatkan Muslim)
Mengapa detak jam terdengar kegitu jelas di malam hari padahal kita tak memperbesar volumenya?
Karena saat siang kita terbuai dalam pikuknya kehidupan dunia.
Karena saat siang kita terlena dalam ramainya alam raya
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa Allah menciptakan malam
Untuk mengenalkan suatu masa bernama sunyi dan gelap pada kita
Masa yang membuat detak jarum jam terdengar begitu nyata di telinga kita
Masa yang membuat kita belajar untuk melihat bagian terdalam diri kita
Masa yang membuat kita merasa begitu dekat dengan Sang Pemilik Jiwa Raga kita
Dari pergantian siang dan malam lah kita belajar
Untuk menghargai suatu masa sebelum kita kehilangannya
Agar kita tak mengeluh lelah saat pagi merekah
Agar kita tak merengek sibuk saat petang menjelang
Bukankah pergantian masa adalah keniscayaan yang nyata?
Dari pergantian siang dan malam lah kita belajar
Untuk menikmati kehidupan di masa manapun kita ditempatkan
Jangan menangis karena berharap malam segera berganti
Jangan mengeluh ketika siang mesti berurai peluh
Bukankah setiap masa memiliki peruntukannya sendiri-sendiri ?
Dari pergantian siang dan malam lah kita belajar
Untuk mensyukuri siang dan bersabar di waktu malam
Mensyukuri muda dan bersabar di masa tua
Mensyukuri sehat dan bersabar di saat sakit
Mensyukuri kaya dan bersabar di saat miskin
Mesyukuri luang dan bersabar di saat sempit
Mensyukuri nyaman dan bersabar di saat tak nyaman
Dan mensyukuri lebih dan bersabar di saat kurang
Bukankah hidup itu hanyalah sebuah persinggahan untuk mencari bekal , teman?
“Sungguh luar biasa urusan seorang mukmin. Semua urusan baik baginya.
Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya.
Jika ia mendapat musibah , ia bersabar dan itu baik pula baginya
(Diriwayatkan Muslim)
Sabtu, 11 Juni 2011
Menjadi Pembelajar Tangguh
Lihatlah lelaki kecil itu . Ia tertegun menatap sepedanya. Sepeda roda empat miliknya kini telah berubah menjadi roda dua. Dua roda samping baru saja dicopot oleh ayahnya. Kini tak ada lagi dua roda pelindung yang sebelumnya membantu menyeimbangkan tubuh lelaki kecil 4 tahun itu saat mengendarai sepedanya Kini ia harus belajar menyeimbangkan tubuhnya sendiri diatas dua roda tanpa bantuan apapun dan tanpa bantuan siapapun. Awalnya sang kakak memegangi bagian belakang sepedanya, lama kelamaan dia dilepas dibiarkan berjuang sendiri, dibiarkan belajar sendiri…
Lihatlah lelaki kecil itu berjuang dan terus berjuang. Tanpa kenal lelah , dua hari hampir tanpa henti ia terus berusaha melatih keseimbangan tubuhnya di atas sepeda roda duanya. Entah sudah berapa puluh kali dia terjatuh, bahkan beberapa kali tubuhnya terseret sepedanya sendiri. Namun tak sekalipun kudengan suara tangisan dari arahnya. Tak ada setetes pun air mata yang mengalir. Cuma suara “aduh” disertai senyum dan usapan di bagian tubuhnya yang “mungkin” terasa sakit. Setelah itu ia kembali berjuang diatas sepedanya. Awalnya di lapangan depan rumah, beranjak ke jalan dan lihatlah sekarang dia sudah biasa mengendarai sepedanya dengan lancar di jalanan walaupun masih sesekali terseok-seok. Cukup dua hari saja baginya untuk belajar sesuatu yang baru, dengan perjuangan yang lebih keras dari orang lain tentunya…Semua luka akibat terjatuh, seolah terbayar lunas oleh keberhasilannya belajar
Begitulah terkadang kehidupan menuntut kita menjadi pembelajar tangguh. Pembelajar yang tak pernah takut jatuh. Pembelajar yang tak mudah menyerah , tak mudah rapuh dan tak mudah berputus asa atas rahmat Sang Pemilik Kehidupan. Karena itulah kenapa dalam kehidupan terkadang kita seolah dibuat kecewa saat sedang berharap banyak, dibuat tak berdaya saat begitu banyak kesempatan yang datang, dan dibuat terkapar setelah sebelumnya mampu berlari kencang. Begitulah cara Allah mengajari kita untuk menjadi tangguh.
Menjadi pembelajar tangguh seperti lelaki kecil itu. Yang tak pernah takut terluka, yang selalu berusaha bangkit setelah terjatuh. Yang tak pernah takut belajar seuatu yang baru. Ia seolah tahu bahwa hidup adalah sebuah proses pembelajaran dan bahwa dunia ini adalah sekolah kehidupan. Maka jika kita termasuk orang-orang yang takut menghadapi hidup, belajarlah menjadi pembelajar tangguh dari lelaki kecil 4 tahun itu. Bukankah semestinya kita jauh lebih berani dan jauh lebih tangguh dari lelaki kecil itu?
Wallahu alam bi showab…
Lihatlah lelaki kecil itu berjuang dan terus berjuang. Tanpa kenal lelah , dua hari hampir tanpa henti ia terus berusaha melatih keseimbangan tubuhnya di atas sepeda roda duanya. Entah sudah berapa puluh kali dia terjatuh, bahkan beberapa kali tubuhnya terseret sepedanya sendiri. Namun tak sekalipun kudengan suara tangisan dari arahnya. Tak ada setetes pun air mata yang mengalir. Cuma suara “aduh” disertai senyum dan usapan di bagian tubuhnya yang “mungkin” terasa sakit. Setelah itu ia kembali berjuang diatas sepedanya. Awalnya di lapangan depan rumah, beranjak ke jalan dan lihatlah sekarang dia sudah biasa mengendarai sepedanya dengan lancar di jalanan walaupun masih sesekali terseok-seok. Cukup dua hari saja baginya untuk belajar sesuatu yang baru, dengan perjuangan yang lebih keras dari orang lain tentunya…Semua luka akibat terjatuh, seolah terbayar lunas oleh keberhasilannya belajar
Begitulah terkadang kehidupan menuntut kita menjadi pembelajar tangguh. Pembelajar yang tak pernah takut jatuh. Pembelajar yang tak mudah menyerah , tak mudah rapuh dan tak mudah berputus asa atas rahmat Sang Pemilik Kehidupan. Karena itulah kenapa dalam kehidupan terkadang kita seolah dibuat kecewa saat sedang berharap banyak, dibuat tak berdaya saat begitu banyak kesempatan yang datang, dan dibuat terkapar setelah sebelumnya mampu berlari kencang. Begitulah cara Allah mengajari kita untuk menjadi tangguh.
Menjadi pembelajar tangguh seperti lelaki kecil itu. Yang tak pernah takut terluka, yang selalu berusaha bangkit setelah terjatuh. Yang tak pernah takut belajar seuatu yang baru. Ia seolah tahu bahwa hidup adalah sebuah proses pembelajaran dan bahwa dunia ini adalah sekolah kehidupan. Maka jika kita termasuk orang-orang yang takut menghadapi hidup, belajarlah menjadi pembelajar tangguh dari lelaki kecil 4 tahun itu. Bukankah semestinya kita jauh lebih berani dan jauh lebih tangguh dari lelaki kecil itu?
Wallahu alam bi showab…
Langganan:
Postingan (Atom)