Andai saja kau dan aku masih berdua
Takkan lagi rasa rindu menggoda
Awan biru merentangkan harap cinta
Satu asa kau dan aku berdua
Andai aku dapat
Melayangkan rindu yang tak bertobat
Pasti sudah engkau akan kudekap
Hanya kau yang buatku genap
Andai aku dapat
menyentuh hatimu untuk bersumpah
Tunggu aku jangan putus asa
Karena kau kucinta
Suatu pagi tiba-tiba aku begitu ingin bersenandung lagu diatas, judulnya Kau dan Aku, sebuah soundrtrack sinetron di akhir tahun 90-an semasa aku berseragam biru-abu. Sedang asyiknya bersenandung, tiba-tiba terpikir untuk mencoret semua kata andai dalam lirik lagu diatas. Lebih tepatnya : dengan berandai aku ingin menghapus andai-andai itu. Dalam pikiranku saat itu, andai saja kata andai terhapus dari lirik lagu itu maka sepertinya mendung yang menggelayut di wajah sang penyanyi akan berubah menjadi senyum ceria beraroma bahagia.
Bukan sesuatu yang sulit mencoret kata andai dalam lirik lagu itu, tapi memastikan wajah si penyanyi langsung ceria tentu bukan sesuatu yang mudah. Sekarang jika kita anggap diri kita adalah penyanyi. Lantas kita diminta untuk menyanyikan lagu beraroma sunyi sepi ini menjadi ceria. Mampukah kita? Seorang pencipta lagu mungkin dengan mudah tinggal mencoret kata andai dan selesailah urusan . Tapi sebagai penyanyi semudah itukah mengubah bahasa tubuh kita? Semudah itukah mengembangkan mulut kita yang sebelumnya maju beberapa senti? Semudah itukah menghapus air mata kita? Dan semudah itukah menceriakan aroma wajah kita yang terlanjur muram?
Jika lagu itu adalah kehidupan, benarkah kehidupan memberi kita fasilitas begitu mudah untuk menghapus setiap andai dan menggantinya dengan kata tentu atau pasti misalnya? Benarkah kenyataan memberi kita kelonggaran untuk mengubah tetesan air mata menjadi senyum mengembang hanya dengan menjentikkan jari tangan?
Sulit rasanyai jika kenyataan tak mendukung untuk itu, misal jika kita sebagai penyanyi sedang dalam keadaan sepi , haruskah kita menanti sampai kondisi berubah ceria untuk bisa menyanyikan lirik lagu diatas (tanpa andai) menjadi ceria? Lantas bagaimana jika kondisi tak kunjung berubah? Haruskah kita menolak tawaran menyanyi itu? Kalau kita bijak seharusnya tidak. Bukankah kita tinggal berusaha mengubah suasana hati kita menjadi ceria, karena dari hati yang cerialah akan terpancar keceriaan yang sesungguhnya. Tapi dengan apa mengubah suasana hati secepat itu?
Tunggu, jika kita perhatikan kata “kau” dalam lirik lagu diatas bermakna pasangan atau orang-orang yang kita cintai. Ketiadaan “kau” dalam kisah tersebut menjadikan lirik lagu menjadi sunyi dan sendu. Apabila kata andai dihapus itu artinya sosok “kau” harus selalu hadir bersama sosok “aku”. Maka jika kita adalah penyanyi lagu ini dan ingin suasana hati kita selalu ceria setiap kali menyanyikan lagu ini, satu-satunya cara adalah memastikan bahwa sosok “kau” dalam kisah lagu ini selalu dekat dengan sosok “aku”. Bagaimana caranya? Mari kita coba dengan menghilangkan kata “andai” dan menuliskan kata kau dengan huruf kapital : KAU
Tentu saja saja KAU dan aku selalu berdua
Meski rindu tetap saja menggoda
Awan biru merentangkan harap cinta
Satu asa KAU dan aku berdua
Tentu aku dapat
Melayangkan rindu yang tak bertobat
Sudah pasti ENGKAU akan kudekap
Hanya KAU yang buatku genap
Tentu aku dapat
menyentuh hati-MU untuk bersumpah
Tunggu aku akan menemui-MU
Karena KAU kucinta
Jika kau adalah pasangan atau orang-orang yang kita cintai maka yakinkan diri kita bahwa KAU adalah Allah, Robb kita semua. Hanya dengan mengubah kau menjadi KAU lah hati kita akan ceria selamanya. Jika sumber keceriaan adalah keinginan untuk berdua, maka bukankah aku dan KAU selalu berdua selamanya? Jika sumber keceriaan adalah kedekatan maka bukankah KAU lebih dekat dari urat leherku? Jika sumber keceriaan adalah menjadi genap , bukankah KAU akan selamanya menggenapkan aku? Dan jika sumber keceriaan adalah terbebas dari kehilangan, maka bukankah KAU yang tak akan pernah hilang dari hidupku, meskipun kadang aku berpaling ?
Ya, aku yakin KAU yang membuatku genap. karena KAU adalah Robbku, Sang Kuasa Pemilik Jiwa.
Wallahu alam bi showab
Senin, 22 November 2010
Kamis, 18 November 2010
Kekuatan Cinta Suami Istri
Lelaki 1 : Pusing sayah mah ku pamajikan teh….saeutik-saeutik duit, saeutik-saeutik duit, kurang kumaha atuh usaha teh?
Lelaki 2 : Heeh sarua, makana sakali-kali urang mah sok kapikiran hayang ngadoa kieu : gustiiiii mun bisa mah ulah anak nu maot ti heula the…kajeun pamajikani mah ngarah bisa neangan deui ha ha ha “
Aku terdiam mendengar pembicaraan itu, suapanku terhenti. Sesendok kupat tahu yang sudah masuk mulutku hampir saja tak tertelan. Perlahan kutoleh kedua bapak itu…oh bukan dua ternyata ada sekitar 6 orang bapak-bapak di dalam warung nasi di terminal bis antar kota , dan aku satu-satunya perempuan di sana. Salah seorang dari mereka melihat ke arahku, aku pura-pura asyik melanjutkan makanku, meski ada yang tersekat di tenggorokanku. Cuma satu kalimat pendek kubisikkan dalam hatiku “Allah ijinkan aku belajar dari mereka”. Pembicaraan merekapun berlanjut :
Lelaki 3 : Makana mun keur dibonceng teh sakali-kali gibegkeun geura ngarah ngabubrag tah pamajikan teh. Pan kecelakaan lain eta mah ngaranna ?
Lelaki 4 : Ah kumaha mun aya nu nulungan?
Lelaki 3 : Nya gibegkeunna sisi jurang atuh, pan moal salamet tah, tapi kade budak mah ulah sampe miluan ragrag ha ha ha
Lelaki 4 : Komo urang mah asa miara gajah bengkak euy…rek dipirak heula sugan nya…ke mun geus langsing dikawin deui…bener teu? Ha ha ha
Dua lelaki lain cuma ikut tertawa
Tenggorokanku semakin tersekat dan entah kenapa perutku tiba-tiba merasa penuh. Perasaan campur aduk antara enek, miris dan bingung membuatku tak lagi cukup nyaman berada di dalam warung sempit itu. Segera kulangkahkan kakiku meninggalkan para bapak itu, entahlah…rasanya aku sudah tak lagi mampu mendengar pembicaraan mereka.
Di luar, sambil menunggu bis yang tak kunjung datang , pikiranku berputar…mencoba mencari memori tersembunyi di otakku, pernahkah aku menemui pembicaraan serupa itu dikalangan ibu-ibu? Pernahkah kudengar ibu-ibu bersenda gurau tentang kematian suaminya? Rasanya tidak pernah. Yang terpikir olehku saat itu justru adalah tentang ibu-ibu arisan yang begitu senang membangga-banggakan suaminya di depan orang lain, yang terlintas di otakku adalah seorang istri yang bertahan untuk tak lagi menikah setelah suaminya tiada. Yang terbayang olehku justru bagaimana seorang perempuan mengoptimalkan kekuatan cinta hanya dengan satu modal : mengenang indahnya kebersamaan. Lantas bapak-bapak tadi, seperti itukah bukti cinta mereka pada istrinya? Seperti itukah wujud kasih seorang lelaki pada perempuan yang dulu diperjuangkannya?
Dan menjelang naik bis, pertanyaanku mengerucut menjadi satu : adakah hubungan antara gender dan kekutan cinta?
Di perjalanan, Allah mulai member jawabannya. Dari atas bis, tanpa sengaja pandanganku mengarah pada pada beberapa bapak yang sedang menjajakan jasa “tukang pacul” di sekitar jalan Ujungberung, atau seorang bapak yang begitu semangat menjadi pencuci motor pinggir jalanan Cileunyi, para pedagang tahu yang tetap gigih menawarkan dagangannya di dalam bis meski para penumpang baru saja turun di tempat peristirahatan atau seorang bapak yang badannya basah bersimbah keringat dan ditutupi putihnya batu kapur di daerah Jatiwangi Majalengka. Untuk apa mereka melakukan semua itu? Tentu demi cinta bagi istri dan anak-anaknya
Kemudian sejenak Allah menggiring pikiranku pada kisah para Nabi. Bagaimana sabarnya nabi Nuh terhadap istrinya yang tak manut, bagaimana sabarnya Nabi Ibrahim saat harus terpisah 12 tahun dengan istrinya, hingga bagaimana kesabaran Rosulullah saw yang selalu patut dijadikan teladan.
Maka diujung perjalanan sore itu, dalam penat yang sangat, aku mengambil kesimpulan atas pertanyaanku sebelumnya : tak ada hubungan antara gender dan kekuatan cinta. Kekuatan cinta suami tidak selalu lebih besar dari kekuatan cinta istri, dan kekuatan cinta istri juga tidak selalu lebih besar dari kekuatan cinta istri. Lantas bagaimana mempertahankan kekuatan cinta suami istri ? Jangan tanya aku, aku belum berpengalaman he he. Tapi kalau boleh sekedar berteori, menurutku kekuatan cinta suami istri dipengaruhi oleh 3 kemampuan individu, yaitu :
1. Kemampuan mencintai apa yang dimiliki
2. Kemampuan menjalani peran dengan baik
3. Kemampuan memahami dan mengerti perasaan pasangan
Dan ketiganya tentu pada akhirnya tetap bersumber pada 2 hal , yaitu : sabar dan syukur. Hmmmm, jika suatu saat aku menjalaninya, mampukah aku? Semoga, semoga dan semoga.
Setelah menemukan jawabannya, barulah aku bisa sedikit terlelap, meski keringat membanjiri tubuhku karena AC bis yang tak berfungsi baik. Dalam lelap yang tak lepas sayup-sayup kudengar sebuah lagu mengalun di dalam bis yang pengap :
“Susis ow wow wow susis…suami sieun istri….susis ow wow wow susis …suami takut istri...”
Sejenak aku tersenyum saat menyadari ada pertanyaan baru muncul di benakku : kira-kira bapak-bapak yang tadi di warung nasi itu di rumahnya termasuk susis enggak ya ? he he he
Lelaki 2 : Heeh sarua, makana sakali-kali urang mah sok kapikiran hayang ngadoa kieu : gustiiiii mun bisa mah ulah anak nu maot ti heula the…kajeun pamajikani mah ngarah bisa neangan deui ha ha ha “
Aku terdiam mendengar pembicaraan itu, suapanku terhenti. Sesendok kupat tahu yang sudah masuk mulutku hampir saja tak tertelan. Perlahan kutoleh kedua bapak itu…oh bukan dua ternyata ada sekitar 6 orang bapak-bapak di dalam warung nasi di terminal bis antar kota , dan aku satu-satunya perempuan di sana. Salah seorang dari mereka melihat ke arahku, aku pura-pura asyik melanjutkan makanku, meski ada yang tersekat di tenggorokanku. Cuma satu kalimat pendek kubisikkan dalam hatiku “Allah ijinkan aku belajar dari mereka”. Pembicaraan merekapun berlanjut :
Lelaki 3 : Makana mun keur dibonceng teh sakali-kali gibegkeun geura ngarah ngabubrag tah pamajikan teh. Pan kecelakaan lain eta mah ngaranna ?
Lelaki 4 : Ah kumaha mun aya nu nulungan?
Lelaki 3 : Nya gibegkeunna sisi jurang atuh, pan moal salamet tah, tapi kade budak mah ulah sampe miluan ragrag ha ha ha
Lelaki 4 : Komo urang mah asa miara gajah bengkak euy…rek dipirak heula sugan nya…ke mun geus langsing dikawin deui…bener teu? Ha ha ha
Dua lelaki lain cuma ikut tertawa
Tenggorokanku semakin tersekat dan entah kenapa perutku tiba-tiba merasa penuh. Perasaan campur aduk antara enek, miris dan bingung membuatku tak lagi cukup nyaman berada di dalam warung sempit itu. Segera kulangkahkan kakiku meninggalkan para bapak itu, entahlah…rasanya aku sudah tak lagi mampu mendengar pembicaraan mereka.
Di luar, sambil menunggu bis yang tak kunjung datang , pikiranku berputar…mencoba mencari memori tersembunyi di otakku, pernahkah aku menemui pembicaraan serupa itu dikalangan ibu-ibu? Pernahkah kudengar ibu-ibu bersenda gurau tentang kematian suaminya? Rasanya tidak pernah. Yang terpikir olehku saat itu justru adalah tentang ibu-ibu arisan yang begitu senang membangga-banggakan suaminya di depan orang lain, yang terlintas di otakku adalah seorang istri yang bertahan untuk tak lagi menikah setelah suaminya tiada. Yang terbayang olehku justru bagaimana seorang perempuan mengoptimalkan kekuatan cinta hanya dengan satu modal : mengenang indahnya kebersamaan. Lantas bapak-bapak tadi, seperti itukah bukti cinta mereka pada istrinya? Seperti itukah wujud kasih seorang lelaki pada perempuan yang dulu diperjuangkannya?
Dan menjelang naik bis, pertanyaanku mengerucut menjadi satu : adakah hubungan antara gender dan kekutan cinta?
Di perjalanan, Allah mulai member jawabannya. Dari atas bis, tanpa sengaja pandanganku mengarah pada pada beberapa bapak yang sedang menjajakan jasa “tukang pacul” di sekitar jalan Ujungberung, atau seorang bapak yang begitu semangat menjadi pencuci motor pinggir jalanan Cileunyi, para pedagang tahu yang tetap gigih menawarkan dagangannya di dalam bis meski para penumpang baru saja turun di tempat peristirahatan atau seorang bapak yang badannya basah bersimbah keringat dan ditutupi putihnya batu kapur di daerah Jatiwangi Majalengka. Untuk apa mereka melakukan semua itu? Tentu demi cinta bagi istri dan anak-anaknya
Kemudian sejenak Allah menggiring pikiranku pada kisah para Nabi. Bagaimana sabarnya nabi Nuh terhadap istrinya yang tak manut, bagaimana sabarnya Nabi Ibrahim saat harus terpisah 12 tahun dengan istrinya, hingga bagaimana kesabaran Rosulullah saw yang selalu patut dijadikan teladan.
Maka diujung perjalanan sore itu, dalam penat yang sangat, aku mengambil kesimpulan atas pertanyaanku sebelumnya : tak ada hubungan antara gender dan kekuatan cinta. Kekuatan cinta suami tidak selalu lebih besar dari kekuatan cinta istri, dan kekuatan cinta istri juga tidak selalu lebih besar dari kekuatan cinta istri. Lantas bagaimana mempertahankan kekuatan cinta suami istri ? Jangan tanya aku, aku belum berpengalaman he he. Tapi kalau boleh sekedar berteori, menurutku kekuatan cinta suami istri dipengaruhi oleh 3 kemampuan individu, yaitu :
1. Kemampuan mencintai apa yang dimiliki
2. Kemampuan menjalani peran dengan baik
3. Kemampuan memahami dan mengerti perasaan pasangan
Dan ketiganya tentu pada akhirnya tetap bersumber pada 2 hal , yaitu : sabar dan syukur. Hmmmm, jika suatu saat aku menjalaninya, mampukah aku? Semoga, semoga dan semoga.
Setelah menemukan jawabannya, barulah aku bisa sedikit terlelap, meski keringat membanjiri tubuhku karena AC bis yang tak berfungsi baik. Dalam lelap yang tak lepas sayup-sayup kudengar sebuah lagu mengalun di dalam bis yang pengap :
“Susis ow wow wow susis…suami sieun istri….susis ow wow wow susis …suami takut istri...”
Sejenak aku tersenyum saat menyadari ada pertanyaan baru muncul di benakku : kira-kira bapak-bapak yang tadi di warung nasi itu di rumahnya termasuk susis enggak ya ? he he he
Sabtu, 09 Oktober 2010
TRIO HD
Selasa siang itu aku memasuki ruang HD dengan lunglai. Sesak menderaku sejak malam. Sepertinya kelebihan cairan. Setelah menimbang berat badan yang naik lebih dari 3 kg, aku segera menuju ranjang dengan map bertuliskan namaku. Tiba-tiba, seorang perawat berujar :
“ Istirahat dulu ya, tidak akan langsung ditusuk, soalnya tidak ada air”
Deg, jantungku berdetak kencang. Ya Allah jangan sampai kami disuruh pulang lagi karena tak ada air seperti dulu, tak sanggup rasanya harus membawa kembali 3 kg cairan di tubuhku ini kembali ke rumah dan menikmati kembali sesak yang terus mendera.
Sepuluh menit kemudian, 14 pasien di ruangan putih itu sudah berada di ranjangnya masing-masing. Air belum juga menyala. Dan pada akhirnya kami harus memilih.
“ Airnya masih sedang ditampung, mungkin 1 atau 2 jam lagi baru penuh, silahkan mau memilih yang mana : pulang dan besok kesini lagi atau menunggu sampai ada kepastian air cukup untuk HD siang ini?”
Aku dan sebagian besar pasien memilih opsi kedua, kondisi fisik yang sudah lemah dan jauhnya jarak rumahku yang hampir 1,5 jam perjalanan menjadi alasan utama. Meski resikonya kami harus sabar menunggu sampai airnya penuh.
Beberapa pasien menunggu sambil tertidur pulas di ranjangnya, ada yang memutuskan duduk di lantai karena merasa kegerahan, ada yang main ke luar ruangan , ada yang makan dan ada pula yang ngerumpi. Ngerumpi? Yah itulah pilihanku bersama 2 pasien lain : Teh Uum dan Bu Iim. Usia kami yang tidak terpaut jauh akhirnya menyatukan kami dalam sebuah rumpian seru siang itu. Sesuatu yang sangat jarang terjadi bisa ngobrol bertiga seseru itu. Karena kalau sedang HD, meskipun ngobrol tapi tak bisa sebebas itu karena jarak antar ranjang yang agak berjauhan, harus bersuara kencangk kalau mau bercerita.
Rumpian bermula dari acara TV
“Lien kalau kita ikut acara t*** m* out , kayaknya yang milihnya juga pasien hd lagi ya? he he” teh Uum berujar sambil tertawa
“He he, teh kalau kita bikin trio kayaknya seru ya” jawabku
“Hah trio, buat apa de?” bu Iim dengan suaranya yang lembut menimpali
“ Ya apa aja, ikut acara apa gitu, mungkin ada ide?”
“Nyanyi?” serempak dua lawan bicaraku bertanya
“Penontonnya pasti langsung pada kabur ha ha ha” hampir serempak kami tertawa
“Ssssttttttt pada ribut aja nih bertiga” seorang perawat menegur sambil tersenyum
“ Hmmm kalau ikut kuis gimana?” tanyaku
“he he kayak cerdas cermat ya, nanti nama trionya apa?” Tanya Bu Iim , dahinya berkerut
“ Trio HD”
“ Ha ha trio HD boleh juga tuh”
Satu jam berlalu, kami masih hanyut dalam rumpian kami
“Airnya sudah penuh, silahkan menempati ranjang masing-masing, saatnya ditusuk...” seorang perawat memberi kabar gembira
“Alhamdulillah” ujar kami serempak
Dan siang itu aku mengawali HD dengan senyum lebar, membayangkan trio HD beraksi. Hmmm boleh juga ya, trio HD ikutan acara kuis yang mengasah otak. Tenang, meskipun darah kami kadang penuh racun tapi otak kami dijamin 100% bebas racun he he he :D
“ Istirahat dulu ya, tidak akan langsung ditusuk, soalnya tidak ada air”
Deg, jantungku berdetak kencang. Ya Allah jangan sampai kami disuruh pulang lagi karena tak ada air seperti dulu, tak sanggup rasanya harus membawa kembali 3 kg cairan di tubuhku ini kembali ke rumah dan menikmati kembali sesak yang terus mendera.
Sepuluh menit kemudian, 14 pasien di ruangan putih itu sudah berada di ranjangnya masing-masing. Air belum juga menyala. Dan pada akhirnya kami harus memilih.
“ Airnya masih sedang ditampung, mungkin 1 atau 2 jam lagi baru penuh, silahkan mau memilih yang mana : pulang dan besok kesini lagi atau menunggu sampai ada kepastian air cukup untuk HD siang ini?”
Aku dan sebagian besar pasien memilih opsi kedua, kondisi fisik yang sudah lemah dan jauhnya jarak rumahku yang hampir 1,5 jam perjalanan menjadi alasan utama. Meski resikonya kami harus sabar menunggu sampai airnya penuh.
Beberapa pasien menunggu sambil tertidur pulas di ranjangnya, ada yang memutuskan duduk di lantai karena merasa kegerahan, ada yang main ke luar ruangan , ada yang makan dan ada pula yang ngerumpi. Ngerumpi? Yah itulah pilihanku bersama 2 pasien lain : Teh Uum dan Bu Iim. Usia kami yang tidak terpaut jauh akhirnya menyatukan kami dalam sebuah rumpian seru siang itu. Sesuatu yang sangat jarang terjadi bisa ngobrol bertiga seseru itu. Karena kalau sedang HD, meskipun ngobrol tapi tak bisa sebebas itu karena jarak antar ranjang yang agak berjauhan, harus bersuara kencangk kalau mau bercerita.
Rumpian bermula dari acara TV
“Lien kalau kita ikut acara t*** m* out , kayaknya yang milihnya juga pasien hd lagi ya? he he” teh Uum berujar sambil tertawa
“He he, teh kalau kita bikin trio kayaknya seru ya” jawabku
“Hah trio, buat apa de?” bu Iim dengan suaranya yang lembut menimpali
“ Ya apa aja, ikut acara apa gitu, mungkin ada ide?”
“Nyanyi?” serempak dua lawan bicaraku bertanya
“Penontonnya pasti langsung pada kabur ha ha ha” hampir serempak kami tertawa
“Ssssttttttt pada ribut aja nih bertiga” seorang perawat menegur sambil tersenyum
“ Hmmm kalau ikut kuis gimana?” tanyaku
“he he kayak cerdas cermat ya, nanti nama trionya apa?” Tanya Bu Iim , dahinya berkerut
“ Trio HD”
“ Ha ha trio HD boleh juga tuh”
Satu jam berlalu, kami masih hanyut dalam rumpian kami
“Airnya sudah penuh, silahkan menempati ranjang masing-masing, saatnya ditusuk...” seorang perawat memberi kabar gembira
“Alhamdulillah” ujar kami serempak
Dan siang itu aku mengawali HD dengan senyum lebar, membayangkan trio HD beraksi. Hmmm boleh juga ya, trio HD ikutan acara kuis yang mengasah otak. Tenang, meskipun darah kami kadang penuh racun tapi otak kami dijamin 100% bebas racun he he he :D
Rabu, 22 September 2010
TEMPAT PALiNG NYATA UNTUK PEMBUKTIAN CINTA
Sesekali cobalah berkunjung ke tempat ini. Tempat yang dipenuhi ratusan orang tak berdaya, dipenuhi luka yang menganga, dipenuhi literan ar mata, dipenuhi jerit kesakitan dan isak kepiluan. Lhatlah tempat ini, tempat dimana tangisan menjadi hal yang wajar, jeritan, teriakan dan makian menjadi sesuatu yang ditoleransi. Lihatlah tempat ini
Sadarkah kita bahwa tempat itu adalah tempat paling nyata untuk pembuktian cinta? Lihatlah anak-anak yang mengantar orang tuanya, lihatlah ayah yang memeluk anaknya, lihatlah lelaki muda yang menggandeng mesra istrinya yang terlihat begitu lemah, lhatlah pasangan suami istri berusia 70 tahunan yang saling menemani, kakak yang mengantar adiknya, cucu yang menuntun neneknya. Lihatlah tatapan teduh mereka, lihatlah pelukan mereka, lihatlah belaian lembut mereka, linangan air mata dan isak tangis mereka, tak cukupkah itu untuk membuktikan cinta?
Hari ini, aku duduk di sini, di bangku panjang ruang tunggu tempat ini. Menatap bukti-bukti cinta yang bertebaran begitu nyata. Mencium aroma kasih yang menelusup setiap sudut tanpa sisa. Tempat ini adalah rumah sakit , tempat ratusan orang terluka terbaring tak berdaya. Hari ini sedikit demi sedikit kupahami kenapa Allah menciptakan luka. Karena tempat ini, rumah sakit, adalah tempat palng nyata pembuktan cinta. Bukankah luka adalah cinta?
*sebuah persembahan kecil untuk orang-orang yang mengabdikan hidupnya di rumah sakit....semoga Allah megganti kelelahannya dengan kebaikan...
Sadarkah kita bahwa tempat itu adalah tempat paling nyata untuk pembuktian cinta? Lihatlah anak-anak yang mengantar orang tuanya, lihatlah ayah yang memeluk anaknya, lihatlah lelaki muda yang menggandeng mesra istrinya yang terlihat begitu lemah, lhatlah pasangan suami istri berusia 70 tahunan yang saling menemani, kakak yang mengantar adiknya, cucu yang menuntun neneknya. Lihatlah tatapan teduh mereka, lihatlah pelukan mereka, lihatlah belaian lembut mereka, linangan air mata dan isak tangis mereka, tak cukupkah itu untuk membuktikan cinta?
Hari ini, aku duduk di sini, di bangku panjang ruang tunggu tempat ini. Menatap bukti-bukti cinta yang bertebaran begitu nyata. Mencium aroma kasih yang menelusup setiap sudut tanpa sisa. Tempat ini adalah rumah sakit , tempat ratusan orang terluka terbaring tak berdaya. Hari ini sedikit demi sedikit kupahami kenapa Allah menciptakan luka. Karena tempat ini, rumah sakit, adalah tempat palng nyata pembuktan cinta. Bukankah luka adalah cinta?
*sebuah persembahan kecil untuk orang-orang yang mengabdikan hidupnya di rumah sakit....semoga Allah megganti kelelahannya dengan kebaikan...
Rabu, 01 September 2010
Kuningan Membaca Kuningan Menulis
Mengenang pembicaraan singkat dengan seorang sahabat di penghujung tahun 2002, dalam kepenatan siang di jalanan Bandung yang padat.
Aku : Setelah lulus kulah mau tinggal dimana?
Sahabatku : Jakarta sepertinya lebih dinamis, aku tak ingin bertahan di Bandung , ritme hidupnya santai , kamu?
Aku : Aku justru akan bertahan di Bandung, tak akan kembali ke Kuningan , bagiku Bandung jauh lebih dinamis daripada Kuningan yang sepi dan stagnan.
Ya, Kunngan yang sepi dan stagnan. Begitu dulu pikiranku berbicara tentang kota tempat aku dilahirkan, kota yang juga tempat kelahran ibu dan bapakku. Kuningan hanya cocok dijadikan tempat istrahat bagi para pegawai yang pensiun atau sedang cuti kerja . Udara dinginnya hanya pas untuk orang-orang yang ingin berleha-leha seharian dalam kemalasannya. Kesepiannya hanya membuat kita betah untuk diam dan terlelap. Kuningan hanya nyaman untuk para pegawai dengan ritme kerja yang santai bukan para pekerja prduktif dan kreatif yang berkejaran dengan waktu.
Dan 3 tahun kemudian kenyataan berkata lain, skenario Allah selalu berjalan untuk membuat kita belajar. Sahabatku menjalani karir dinamisnya di Bandung , kota yang dulu paling dihindarinya. Sementara aku ‘terpaksa’ harus kembali dan menetap di Kuningan, kota yang juga paling tak kuharapkan saat itu. Dalam diam kutanya pada diriku, kemana hidupku akan kuarahkan?
Sejak saat itu aku berjuang untuk belajar menakluan pikiranku sendiri tentang hilangnya harapan seiring kembalinya aku ke kampung halamanku. Dan kemudian perlahan tapi pasti, allah mengarahkanku untuk mulai menulis. Waktu luang yang panjang, udara digin dan kesepian menjadi modal pentng bagi seorang penulis. Dan aku mendapatkannya di sini, di kota yang dulu kupikir tak akan mendukung warganya untuk prduktif. Di sini aku bisa menulis kapanpun dan dimanapun aku mau,. Angkutan kota dengan penumpang yang tak terlalu padat, memungkinkanku untuk menulis dan membaca di dalamnya dengan nyaman. Atau delman, aku selalu menikmati perjalananku mengelilingi kota dengan delman, ah, entah sudah berapa banyak tulisanku yang terinsprasi dari alat transportasi khas di kota Kuda ini.
Keyakinanku semakin kuat saat seorang teman penulis dari Jakarta, yang baru pertama kali menjejakan kakinya di Kunngan berujar pendek “Seharusnya banyak penulis besar lahir di kota ini” Ya, seharusnya banyak penuls besar bisa lahr di kota ini. Allah telah membuat Kuningan nyaman dan teramat nyaman untuk kegiatan produktif seperti menulis dan membaca. Allah sudah memberi begitu banyak modal penting untuk itu : alam yang indah, udara dingin, kenyamanan, air dan oksigen yang berlmpah, lingkungan yang bersih dan cuaca bersahabat, Apa lagi yang kurang? Masih pantaskah Kuningan dikenal sebagai kota dengan minat baca yang rendah?
Ah, mau tak mau harus kuakui minat baca Kuningan yang sangat rendah. Teramat miris mendengar kalimat itu bertahun-tahun yang lalu, namun ternyata keadaan tak kunjung membaik sampai saat ini. Minat baca Kuningan masih cukup rendah, butuh satu keinginan dan usaha besar untuk menumbuhkan minat baca generasi muda di kota kita tercinta ini. Bukanah penulis dan ilmuwan besar bermula dari pembaca yang kuat ? dan bukankah orang-orang produktif juga banyak mendapatkan ilmu dari buku bacaan mereka? Maka rasanya tak ada salahnya jika mulai saat ini mari syukuri Kemurah Hati-an Allah atas kota kita tercinta, Mari hidupkan simpul-simpul syaraf produktif generasi muda kita Mari galakkan Kuningan membaca dan Kuningan menulis. Agar Kuningan semakin pintar , agar Kuningan semakin bersinar.
Hari ini, 1 September 2010, tepat 512 tahun Hari Jadi Kota Kuningan tercinta, terbersit satu doa kecil di benaku, semoga dengan Kuningan membaca dan Kuningan menulis akan lahir pemimpin, pengusaha, penulis, pegawai, ulama dan ilmuwan besar dari kota kita yang asri ini di tahun-tahun mendatang. Selamat Ulang Tahun Kuningan, dari lubuk hatiku terdalam dengan jujur kukatakan bahwa saat ini aku mencintaimu semakin dalam.
Wallahu a'lam bi showab
Aku : Setelah lulus kulah mau tinggal dimana?
Sahabatku : Jakarta sepertinya lebih dinamis, aku tak ingin bertahan di Bandung , ritme hidupnya santai , kamu?
Aku : Aku justru akan bertahan di Bandung, tak akan kembali ke Kuningan , bagiku Bandung jauh lebih dinamis daripada Kuningan yang sepi dan stagnan.
Ya, Kunngan yang sepi dan stagnan. Begitu dulu pikiranku berbicara tentang kota tempat aku dilahirkan, kota yang juga tempat kelahran ibu dan bapakku. Kuningan hanya cocok dijadikan tempat istrahat bagi para pegawai yang pensiun atau sedang cuti kerja . Udara dinginnya hanya pas untuk orang-orang yang ingin berleha-leha seharian dalam kemalasannya. Kesepiannya hanya membuat kita betah untuk diam dan terlelap. Kuningan hanya nyaman untuk para pegawai dengan ritme kerja yang santai bukan para pekerja prduktif dan kreatif yang berkejaran dengan waktu.
Dan 3 tahun kemudian kenyataan berkata lain, skenario Allah selalu berjalan untuk membuat kita belajar. Sahabatku menjalani karir dinamisnya di Bandung , kota yang dulu paling dihindarinya. Sementara aku ‘terpaksa’ harus kembali dan menetap di Kuningan, kota yang juga paling tak kuharapkan saat itu. Dalam diam kutanya pada diriku, kemana hidupku akan kuarahkan?
Sejak saat itu aku berjuang untuk belajar menakluan pikiranku sendiri tentang hilangnya harapan seiring kembalinya aku ke kampung halamanku. Dan kemudian perlahan tapi pasti, allah mengarahkanku untuk mulai menulis. Waktu luang yang panjang, udara digin dan kesepian menjadi modal pentng bagi seorang penulis. Dan aku mendapatkannya di sini, di kota yang dulu kupikir tak akan mendukung warganya untuk prduktif. Di sini aku bisa menulis kapanpun dan dimanapun aku mau,. Angkutan kota dengan penumpang yang tak terlalu padat, memungkinkanku untuk menulis dan membaca di dalamnya dengan nyaman. Atau delman, aku selalu menikmati perjalananku mengelilingi kota dengan delman, ah, entah sudah berapa banyak tulisanku yang terinsprasi dari alat transportasi khas di kota Kuda ini.
Keyakinanku semakin kuat saat seorang teman penulis dari Jakarta, yang baru pertama kali menjejakan kakinya di Kunngan berujar pendek “Seharusnya banyak penulis besar lahir di kota ini” Ya, seharusnya banyak penuls besar bisa lahr di kota ini. Allah telah membuat Kuningan nyaman dan teramat nyaman untuk kegiatan produktif seperti menulis dan membaca. Allah sudah memberi begitu banyak modal penting untuk itu : alam yang indah, udara dingin, kenyamanan, air dan oksigen yang berlmpah, lingkungan yang bersih dan cuaca bersahabat, Apa lagi yang kurang? Masih pantaskah Kuningan dikenal sebagai kota dengan minat baca yang rendah?
Ah, mau tak mau harus kuakui minat baca Kuningan yang sangat rendah. Teramat miris mendengar kalimat itu bertahun-tahun yang lalu, namun ternyata keadaan tak kunjung membaik sampai saat ini. Minat baca Kuningan masih cukup rendah, butuh satu keinginan dan usaha besar untuk menumbuhkan minat baca generasi muda di kota kita tercinta ini. Bukanah penulis dan ilmuwan besar bermula dari pembaca yang kuat ? dan bukankah orang-orang produktif juga banyak mendapatkan ilmu dari buku bacaan mereka? Maka rasanya tak ada salahnya jika mulai saat ini mari syukuri Kemurah Hati-an Allah atas kota kita tercinta, Mari hidupkan simpul-simpul syaraf produktif generasi muda kita Mari galakkan Kuningan membaca dan Kuningan menulis. Agar Kuningan semakin pintar , agar Kuningan semakin bersinar.
Hari ini, 1 September 2010, tepat 512 tahun Hari Jadi Kota Kuningan tercinta, terbersit satu doa kecil di benaku, semoga dengan Kuningan membaca dan Kuningan menulis akan lahir pemimpin, pengusaha, penulis, pegawai, ulama dan ilmuwan besar dari kota kita yang asri ini di tahun-tahun mendatang. Selamat Ulang Tahun Kuningan, dari lubuk hatiku terdalam dengan jujur kukatakan bahwa saat ini aku mencintaimu semakin dalam.
Wallahu a'lam bi showab
Senin, 19 Juli 2010
Antibiotik Hati

Gadis kecil itu menggigil, suhu tubuhnya tinggi. Beberapa saat kemudian sang ibu memberinya obat analgesik antipiretik . Tak berapa lama demamnya reda. Namun esok paginya, suhu tubuh gadis kecil itu makin meninggi. Sang ibu masih berpikir bisa mengobati demam anaknya dengan obat analgesik antipiretik. Namun sang ayah berfikir lebih bijak dan memutuskan membawa gadis kecilnya ke dokter. Dari pemeriksaan dokter diketahui ada infeksi di tubuh gadis kecil itu dan harus diobati dengan antibiotik. “Butuh kesabaran untuk mengobati infeksi dengan antibiotik bu, karena antibiotik mengobati sampai tuntas. Tidak seperti obat analgesik antipiretik yang hanya mengurangi rasa sakit dan menurunkan demam sementara , memang efeknya cepat terasa, tapi tak akan menyembuhkan infeksinya.” Ujar sang dokter.
Begitulah, sebagian dari kita cenderung lebih memilih untuk mengobati luka kehidupan dengan obat analgesik antipiretik. Obat yang “seolah” mengobati luka dan membuat kita bahagia dalam waktu cepat. Tapi beberapa saat kemudian saat efek obatnya habis maka kita akan kembali merasakan perihnya luka itu, yang ternyata tak kunjung membaik. Saat kita merasakan luka karena kehilangan seseorang misalnya, kita merasa bahwa bertemu dengan orang yang kita rindukan adalah satu-satunya obat yang bisa mengobati luka hati kita. Atau saat kita terluka karena tidak terpenuhinya keinginan kita, maka kita menduga bahwa terpenuhinya keinginan itu adalah satu-satunya penyembuh sakitnya hati kita. Sadarkah kita bahwa bertemu orang yang kita rindukan, tepenuhinya keinginan kita, terpuaskannya nafsu kita, tercapainya harapan kita hanyalah akan menjadi sebuah obat penurun resah hati kita untuk sementara jika kita tak pernah berusaha mengobati luka kehidupan kita dengan antibiotik hati.
Apa itu antibiotik hati? Itulah obat sesungguhnya untuk luka kehidupan kita. Obat yang akan memastikan bahwa luka kita akan sembuh meskipun perlahan. Perlu kesabaran ekstra untuk menggunakan antibiotik hati. Tak sembarang orang kuat meminumnya sampai habis. Padahal pengobatan dengan antibiotik hati harus tuntas. Maka tak jarang orang yang memutuskan menggunakan antibiotik hati pada akhirnya berguguran dan lebih memilih obat penurun resah sesaat.
Dengan antibiotik hati pula terkadang Allah mengobati luka-luka kita. Lihatlah bagaimana saat kita menangis memohonkan keinginan kita dan kita bertanya kenapa Allah tak jua mengabulkan doa-doa kita? Maka Allah selalu punya jawabannya. Mungkin saat itu luka kita sudah terlalu menganga, mungkin jika hanya diobati dengan obat penurun resah, luka kita akan semakin menganga. Hingga Allah akhirnya memberi kita resep antibiotik hati yang mungkin harus kita minum bukan hanya untuk sehari atau seminggu atau sebulan. Mungkin kita harus menunggu luka itu mengering hingga tahunan.
Sekali lagi butuh kesabaran ekstra untuk mengobati luka kehidupan dengan antibiotik hati. Tapi tetaplah yakin bahwa suatu saat kita akan tersenyum bahagia mendapati luka kehidupan kita sembuh sedkit demi sedikit. Tersenyum karena kebahagiaan sesungguhnya, bukan kebahagiaan sesaat akibat obat penurun resah sesaat. Karena Allah tak pernah salah memilih dengan apa IA mengobati luka kita. Semoga kita termasuk orang yang bersyukur saat Allah swt meresepkan obat antibiotik hati untuk luka kehidupan kita. Hingga kesyukuran itu akan menguatkan dan memberi kita kesabaran untuk menuntaskan butir demi butir antibiotik hati hingga kita dapati luka kehidupan kita menutup sempurna. Semoga….
Wallahu alam bi showab
Senin, 21 Juni 2010
Ibu muda dan bintik hitam di ubin kamarnya

Ibu muda berkulit putih itu resah, ia tak lagi merasa betah di kamarnya sendiri. Entah kenapa rasanya tak menyenangkan berada tempat yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman dalam hidupnya. Maka mulailah ia memperhatikan seluruh isi kamarnya, adakah yang salah hingga tak lagi membuatnya nyaman? Ah tdak, semuanya sudah tampak rapih , tak ada yang salah dengan interior kamarnya. Tapi tunggu, sejenak ia tertegun saat mulai menunduk, terlihat olehnya bintik-bintik hitam di ubin kamarnya. Ubin yang dipasang di kamarnya adalah ubin yang terbaik dan termahal. Maka tak heran jika selama ini ia selalu berusaha menjaga kebersihanannya setiap saat. Tapi kenapa sekarang begitu banyak kotoran dan bintik hitam yang menutup keindahan ubin mahal itu ?
Dan akhirnya tersadarlah ibu muda itu, betapa selama ini ia terlalu sibuk mengurusi urusan yang lain, hingga sudah cukup lama ia tak lagi telaten menjaga kebersihan ubin kamarnya. Tak lagi sempat ia menyapu dan mengepel ubinnya. Tak lagi ada waktu untuk mencampur cairan pembersih terbaik pada air bilasan pelnya, agar ubin kamarnya selalu tampak kinclong.
Menyaadari itu segera ia mengambil sapu dan menyapu ubinnya, namun bintik hitam itu tak kunjung hilang. Tak putus asa, ia ambil kain pelnya, dipelnya ubin kesayangannya dengan sungguh-sungguh, namun bintik hitam itu tetap saja tak mau lepas . Hingga akhirnya ia mengambil pisau dari dapurnya, ia lepaskan bintik hitam yang menempel d ubin kamarnya itu dengan pisau. Ada bintik yang dengan mudah terlepas dari ubinnya namun ada beberapa yang butuh energi lebih kuat untuk melepaskannya.
Beberapa saat kemudan setelah dirasakannya ubinnya kembali bersih, ibu muda itu tersenyum puas, ia kini merasa kembali nyaman berada di kamarnya. Setengah berbisik ia berujar “alhamdulllah, masih bisa dibershkan bintik hitam di ubin ini, kalau tidak mungkin aku harus menganti ubin kamarku “.
Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang resah, Ibnu Mashud ra berkata :
" Dengarkan bacaan Al Qur'an atau datanglah ke majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi berkhalwat (berduaan) dengan Allah. Jika belum terobati juga mintalah kepada Allah hati yang lain karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu"
Wallahua'lam bi showab
Rabu, 09 Juni 2010
DUA LELAKI KECIL DAN MOBIL-MOBILAN KULIT JERUK BALI

Lelaki kecil bertubuh tambun itu, rambutnya berponi pinggir, bajunya rapi dan wangi. Ia tampak asyik mengintip dari pagar rumahnya yang kokoh, matanya menatap tajam lelaki kecil kurus sebayanya yang sedang asyik bemain di pekarangan rumah bilik bambu sederhana. Hmmm rasanya tak ada yang istimewa dari lelaki kecil kurus itu, tapi mengapa ia menatapnya dengan penuh binar?
Tak lama kemudian, lelaki kecil berponi pinggir itu menghampiri rumah bilik yang tepat berada di depan rumah megahnya.
“Berikan mobil-mobilan itu untukku, aku menyukainya “ ujarnya setengah berteriak
“Ini milikku, aku tak akan memberiknnya padamu“ lelaki kecil kurus menjawab dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi. Tangannya memeluk erat mobil-mobilan kulit jeruk bali yang sedari tadi tak lepas dari tatap binar lelaki kecil berponi pinggir
“Tapi aku menginginkannya “ ia kembali berteriak
“Ini milikku, aku punya hak untuk mempertahankannya” lelaki kecil kurus bersikukuh
“Kalau begitu, aku pinjam”
“Boleh, tapi kembalkan sebelum magrib, pastikan tidak ada kerusakan sedkitpun”
Lelaki kecil berponi pinggir tersenyum puas menerima mobil-mobilan kulit jeruk bali yang begitu diinginkannya. Ia memainkannya dengan sukacita sepanjang sore itu. Hingga waktu magrib menjelang. Dan lelaki kecil kurus sudah menungu di luar pagar rumah mewahnya…
“Kembalikan mobil-mobilanku…”
“Tidak aku masih menginginkannya “ kali ini giliran lelaki kecil berponi pinggir yang memeluk erat mobil-mobilan kulit jeruk bali itu.
“Tapi itu milikku” lelaki kecil kurus mulai menangis
“ Aku akan membelinya darimu, atau aku gantkan dengan mobil-mobilan yang lebih mahal, aku punya uang banyak untuk menggantikannya yang lebih baik untukmu”
“Tidak, aku tak akan menjualnya, lagi pula tak akan ada yang bisa menggantkan mobil-mobilan itu semahal apapun” lelaki kecil kurus mulai histeris
“ Kenapa?”
“Karena mobil-mobilan kulit jeruk bali itu dibuatkan oleh almarhum ayahku dan aku akan menyimpannya sampai akhir usiaku“ suara lelaki kecil kurus semakin lama semakin menghilang…
Lelaki kecil berponi pinggir terdiam agak lama, pelahan ia menyerahkan mobil-mobilan kulit jeruk balinya pada lelaki kecil kurus yang sedang terisak di depannya
“Ambillah, ini milikmu, maaf, aku tak tahu kalau kamu jauh lebh membutuhkannya daripada aku, terima kasih sudah meminjamkannya untukku”
Setelah itu, lelaki kecil berponi pinggir membalikkan badannya, perlahan ia memasuki rumah megahnya, di depan pintu sekeranjang besar mobil-mobilan mahal melambai-lambai mengajaknya bermain…
"Jangan memaksa untuk memiliki apa yang kita cintai, tapi belajarlah mencintai apa yang kita miliki"
Wallahu a’alam bi showab…
Kuningan, 9 Juni 2010
Jumat, 28 Mei 2010
GADIS BERKEPANG DUA DAN BONEKA BERUANG ABU

Suatu hari di sebuah rumah kecil yang sederhana, nampak seorang gadis kecil berkepang dua sedang duduk bermain rumah-rumahan bersama 5 orang teman-temannya. Mereka begitu ceria menikmati permainannya. Gelak tawa dan senyum lepas mewarnai kebersamaan mereka. Tanpa terasa sore menjelang. Gadis-gadis kecil itu harus segera pulang. Sebelum pamit, salah satu dari mereka berujar “Teman-teman, besok kita bermain di taman kota ya, gimana kalau kita main boneka? Setiap orang harus membawa bonekanya masing-masing. Setuju?” . Kontan gadis-gadis kecil itu melompat kegirangan sambil menyatakan kesetujuannya. Hanya satu yang terdiam dan menunduk, gadis berkepang dua, si pemilik rumah.
Malam menjelang, gadis kecil berkepang dua, masih terpekur dalam diam, tak berani ia bicara pada orangtuanya. Boneka mana yang akan dia bawa pada besok sore ke taman kota. Di rumahnya yang sederhana itu tak ada satupun boneka yang bisa dibawanya. Kalaupun mau, mungkin ia harus meminjam pada salah seorang temannya. Tapi sepertinya itu bukan pilihan yang baik. Menjelang tidur akhirnya gadis kecil itu memutuskan untuk datang ke tamn kota tanpa boneka.
Esok harinya, tanpa diduga, seorang petugas pengantar paket datang ke rumah kecil sederhana itu. Mengirimkan paket besar beralamatkan gadis kecil berkepang dua. Betapa senangnya gadis kecil itu. Ia tak lagi peduli, siapa yang mengirimkan boneka itu untuknya. Yang penting, sore harinya ia bisa membawa boneka beruang abu itu ke taman kota, bersama teman-temannya.
Begitulah, kehadiran boneka beruang abu itu membawa keceriaan baru dalam hidup gadis kecil berkepang dua. Dengan bangga ia tunjukkan di depan teman-temannya bahwa ia kini punya boneka. Mesti ia tahu bonekanya tidaklah seindah boneka teman-temannya yang mungkin jauh lebih mahal. Boneka beruang abunya lusuh, ada robek di bagian kepalanya. Sementara boneka teman-temannya begitu cemerlang, berbulu indah dan lembut.
Si gadis berkepang dua merawat bonekanya dengan penuh cinta. Ia cuci boneka itu dengan deterjen bagus, diberinya pewangi, disisir bulunya hingga begitu lembut. Dijahitnya robekan di kepala hingga terlihat rapi. Semakin hari semakin cinta gadis kecil itu pada bonekanya. Hidupnya seperti hanya berkisah tentang ia dan bonekanya. Tak ada orang lain disana, Tak ada hal lain yang dipedulikan kecuali bonekanya. Sudah direndamkan, sudah dijemurkah, sudah diberi pewangikah, sudah disisirkah. Ia bahkan tak peduli pada dirinya sendiri.
Hingga suatu hari, sepulang sekolah, gadis kecil itu mendapati boneka tercintanya tak ada di kamar. Ia panik. Membongkar semua sudut rumahnya, berharap ia menemukan beruang abu kesayangannya. Tak ada. Sementara sang ibu menatapnya tak tega dari balik pintu dapur, perlahan wanita paruh baya itu menghampiri putri kesayangannya sambil berujar
“Tadi saat kau sekolah, petugas pengantar paket yang dulu mengantarkan bonekamu datang kemari. Ia membawa surat dari Pemilik boneka itu. Ia bermaksud mengambil bonekanya kembali. Maaf ibu tidak bisa menahannya untukmu”
Gadis itu terdiam, lama, ia menunduk menahan sesak di dadanya yang hampir membucah. Seperti ada paku yang menusuk-nusuk. Perih. Beberapa saat kemudian ia menangis, meratap, meraung , menjerit
“Kenapa harus punyaku yang diambil, kenapa bukan boneka orang lain yang sudah dimiliki lebih lama? Kenapa bukan boneka teman-temanku yang dibiarkan tergeletak? Kenapa harus bonekaku?”
Berhari-hari gadis itu terkurung dalam duka. Segala ceria hilang dari hidupnya. Tak ada yang bisa menghiburnya. Tidak juga keluarga dan teman-temannya. Wajahnya lebih sering dihiasi muram.
Perih semakin kuat menekan, saat kerinduan pada bonekanya semakin tak tertahan. Perlahan gadis kecil itu membongkar kolong tempat tidurnya, mencari dus tempat boneka itu dulu ia terima. Berharap ada alamat Sang Pemilik di sana. Namun yang ia temukan hanyalah sepucuk surat , di kertas yang masih begitu putih dan menebarkan aroma yang sangat wangi :
“Boneka ini Aku titipkan padamu. Tolong rawat baik-baik. Kau boleh memainkannya sesuka hatimu. Tapi ingat, suatu hari Aku akan mengambilnya kembali jika Aku menginginkannya. Pastikan boneka itu kembali dalam keadaan utuh. Aku akan sangat senang kalau kau membuatnya jadi lebih baik dari saat ini. Jika Aku mengambilnya suatu saat, jangan menahan, jangan meraung, jangan menyesali keadaan. Karena kalau kau ikhlas melepaskannya, aku akan menitipkan boneka yang jauh lebih baik padamu suatu saat nanti. Tunggulah dengan sabar…..”
Gadis kecil berkepang dua itu kembali terdiam, ia mengambil pensil dari dalam tasnya, perlahan ia menjawab surat Sang Pemilik boneka
“Maafkan aku, aku terlalu dalam mencintai boneka itu hingga tak lagi mampu melihat keindahan hidupku tanpanya. Aku rindu kecerianku yang dulu, keceriaan bersama teman-temanku, meski tanpa boneka itu. Terima kasih telah menitipkan boneka beruang abu itu untukku, aku menunggu titipan-Mu berikutnya. Terima kasih ….”
Wallahu a'lam bi showab
Kuningan, 28 Mei 2010
Senin, 17 Mei 2010
Mensyukuri Ketiadaan
Perempuan muda itu tertegun menatap rintikan air yang membasahi pekarangan rumahnya. Langit masih teramat pekat. Ada 3 hal yang harus dipilihnya dengan cepat pagi itu, pergi ke pasar, melanjutkan memasak dengan bahan seadanya atau berdiam diri meratapi keadaan yang tidak sesuai keinginan. Terbayang olehnya, semalam menjelang tidur, dalam lelah yang sangat, ia masih sempat memeriksa persediaan bahan masakan di lemari esnya. Ada daging sapi yang sudah direbus, telur, tempe, wortel, dan kol. Dengan cepat iapun merencanakan untuk memasak 3 menu untuk sarapan keluarganya, sup daging sapi, telur dadar dan tempe goreng tepung.
Dan pagi tadi selepas sholat subuh, ia bergegas menuju dapur menyiapkan semua keperluan memasaknya. Tanpa harus kepasar, ia bisa memasak menu yang sudah direncanakannya. Sudah terbayang pagi ini keluarganya akan sarapan dengan sup segar, telur dadar gurih dan tempe goreng tepung yang renyah. Pertama ia menyiapkan bahan untuk telur dadar. Telur, irisan bawang merah, dan irisan tipis bawang daun. Tanpa pikir panjang ia mengiris tipis semua daun bawang yang ada.
Selesai bikin dadar telur, ia mulai menyiapkan bahan sup. Daging sapi, wortel,kol dan setelah itu ia tertegun beberapa saat. Kemudian matanya mulai menjelajahi pinggiran dapur. Ada sesuatu yang dicarinya. “perasaan kemarin masih ada kentang..” ujarnya pelan. Lelah mencari, ia memutuskan melanjutkan memasak supnya tanpa kentang. Meskipun, baginya kentang adalah pelengkap penampilan supnya. Baginya sup yang sempurna adalah sup yang segar dan tidak berlemak, dengan perpaduan warna yang indah. Putihnya kol, merahnya wortel dan tomat, kuningnya kentang dan hijaunya daun bawang. Sebentar….rasanya ada dua bahan yang tadi disebut tak ada di depannya. Tomat dan bawang daun. Tak ada sebiji tomatpun disana dan irisan bawang daun semuanya sudah dipakai untuk dadar telur. Ia kembali terdiam. Bibir bawahnya maju beberapa centi. “Hhhhhh tak sempurna deh sup ku pagi ini”.
Untuk mengobati kekecewaannya, ia beralih berkonsentrasi ke bahan tempe goreng tepung. Ada tepung yang sudah dibumbui dengan bawang putih dan ketumbar. Ada juga tempe yang masih terbungkus plastik. Dengan semangat ia meracik tepung dan mulai mempersiapkan tempe yang nampak akan diirisnya tipis-tipis. Namun baru saja sebagian kecil plastiknya terbuka, ia mulai mencium bau tak enak dari tempe yang telah disimpannya di lemari es itu. Tempe itu sudah tak layak di makan. Maka untuk yang ketiga kalinya ia terdiam. Kali ini bukan hanya bibir bawahnya yang maju beberapa centi tapi juga bibir atas. Aroma kekecewaan kembali terbaca.
Perlahan ia menuju pintu depan rumah, berpikir untuk pergi ke pasar. Namun hujan rintik menghalanginya beranjak. Hmmm ada tiga pilihan yang harus segera diputuskannya. Segera pergi ke pasar, melanjutkan masak walaupun tak sesempurna yang direncanakannya atau mending berdiam diri saja meratapi keadaan yang tidak sesuai keinginan?
Beberapa saat kemudian, dengan senyum tipis, ia kembali ke dapur. Dengan sigap ia menyiapkan masakannya. Tak beberapa lama, ia nampak tersenyum puas menyaksikan anggota keluarganya sarapan begitu lahap. Di meja makan sudah tersedia sup daging sapi dengan paduan warna yang lumayan cantik. Merah, putih, kuning meski tak ada hijaunya daun bawang. Sebentar…kuning? Dari mana warna kuning itu berasal, bukankanh tadi tak ada kentang di dapurnya? Kenapa mendadak sekarang ada potongan kotak berwarna kuning muda di sup itu? Darimana kah kentang itu di dapatnya? Dan satu lagi ada gorengan kulihat di meja. Apa yang digorengnya? bukankah tempe beraroma tak sedap itu sudah dibuangnya?
Perempuan itu tersenyum semakin lebar, ia bahagia dengan pilihannya pagi itu. Melanjutkan memasak meski tak sesempurna yang dibayangkannya. Dan ketiadaan sesuatu yang seharusnya ada ternyata menjadikannya berfikir kreatif. Ketiadaan kentang dan tomat membuatnya berpikir untuk memanfaatkan sebiji apel yang masih tersisa di lemari esnya. Bukankah potongan apel bisa menggantikan kuningnya warna kentang dan segarnya rasa tomat? Ketiadaan tempe mentah untuk bahan tempe goreng tepung membuatnya melirik oreg tempe basah sisa nasi uduknya tadi malam. Maka jadilah tempe goreng tepung yang sama renyahnya.
Begitulah dalam kehidupan. Terkadang kita mengharapkan suatu rencana berjalan sempurna, sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Saat ada suatu kendala, rintangan, masalah atau kejadian tidak terduga, sejenak kita akan terdiam. Dan setelah itu kita akan dihadapkan pada 3 pilihan. Mengganti rencana dengan rencana baru, melanjutkan rencana yang ada meski tak harus sempurna atau berhenti berharap dan meratapi masalah yang ada. Dan lihatlah apa yang terjadi dengan perempuan tadi, saat ia memutuskan memilih melanjutkan masaknya meskipun dengan bahan seadanya yang dia punya. Jadilah 3 menu seperti yang direncanakannya , meskipun memang tak sesempurna dalam bayangannya.
Ya, ketiadaan sesuatu yang seharusnya ada memang melatih kita untuk selalu berfikir kritis dan kreatif. Karena jika semua yang kita inginkan selalu tersedia di depan mata dengan segera, lantas kapan kita akan belajar beranjak? Jika kita memiliki semua yang seharusnya kita kita miliki, Lantas apa lagi yang kita cari dalam hidup?
Jadi bersyukurlah atas ketiadaan, bersyukurlah atas apa yang tidak kita miliki dan bersyukurlah atas kekurangan dalam hidup kita. Karena hidup tak pernah menuntut kita untuk selalu sempurna....
Wallahu a'lam bi showab
Dan pagi tadi selepas sholat subuh, ia bergegas menuju dapur menyiapkan semua keperluan memasaknya. Tanpa harus kepasar, ia bisa memasak menu yang sudah direncanakannya. Sudah terbayang pagi ini keluarganya akan sarapan dengan sup segar, telur dadar gurih dan tempe goreng tepung yang renyah. Pertama ia menyiapkan bahan untuk telur dadar. Telur, irisan bawang merah, dan irisan tipis bawang daun. Tanpa pikir panjang ia mengiris tipis semua daun bawang yang ada.
Selesai bikin dadar telur, ia mulai menyiapkan bahan sup. Daging sapi, wortel,kol dan setelah itu ia tertegun beberapa saat. Kemudian matanya mulai menjelajahi pinggiran dapur. Ada sesuatu yang dicarinya. “perasaan kemarin masih ada kentang..” ujarnya pelan. Lelah mencari, ia memutuskan melanjutkan memasak supnya tanpa kentang. Meskipun, baginya kentang adalah pelengkap penampilan supnya. Baginya sup yang sempurna adalah sup yang segar dan tidak berlemak, dengan perpaduan warna yang indah. Putihnya kol, merahnya wortel dan tomat, kuningnya kentang dan hijaunya daun bawang. Sebentar….rasanya ada dua bahan yang tadi disebut tak ada di depannya. Tomat dan bawang daun. Tak ada sebiji tomatpun disana dan irisan bawang daun semuanya sudah dipakai untuk dadar telur. Ia kembali terdiam. Bibir bawahnya maju beberapa centi. “Hhhhhh tak sempurna deh sup ku pagi ini”.
Untuk mengobati kekecewaannya, ia beralih berkonsentrasi ke bahan tempe goreng tepung. Ada tepung yang sudah dibumbui dengan bawang putih dan ketumbar. Ada juga tempe yang masih terbungkus plastik. Dengan semangat ia meracik tepung dan mulai mempersiapkan tempe yang nampak akan diirisnya tipis-tipis. Namun baru saja sebagian kecil plastiknya terbuka, ia mulai mencium bau tak enak dari tempe yang telah disimpannya di lemari es itu. Tempe itu sudah tak layak di makan. Maka untuk yang ketiga kalinya ia terdiam. Kali ini bukan hanya bibir bawahnya yang maju beberapa centi tapi juga bibir atas. Aroma kekecewaan kembali terbaca.
Perlahan ia menuju pintu depan rumah, berpikir untuk pergi ke pasar. Namun hujan rintik menghalanginya beranjak. Hmmm ada tiga pilihan yang harus segera diputuskannya. Segera pergi ke pasar, melanjutkan masak walaupun tak sesempurna yang direncanakannya atau mending berdiam diri saja meratapi keadaan yang tidak sesuai keinginan?
Beberapa saat kemudian, dengan senyum tipis, ia kembali ke dapur. Dengan sigap ia menyiapkan masakannya. Tak beberapa lama, ia nampak tersenyum puas menyaksikan anggota keluarganya sarapan begitu lahap. Di meja makan sudah tersedia sup daging sapi dengan paduan warna yang lumayan cantik. Merah, putih, kuning meski tak ada hijaunya daun bawang. Sebentar…kuning? Dari mana warna kuning itu berasal, bukankanh tadi tak ada kentang di dapurnya? Kenapa mendadak sekarang ada potongan kotak berwarna kuning muda di sup itu? Darimana kah kentang itu di dapatnya? Dan satu lagi ada gorengan kulihat di meja. Apa yang digorengnya? bukankah tempe beraroma tak sedap itu sudah dibuangnya?
Perempuan itu tersenyum semakin lebar, ia bahagia dengan pilihannya pagi itu. Melanjutkan memasak meski tak sesempurna yang dibayangkannya. Dan ketiadaan sesuatu yang seharusnya ada ternyata menjadikannya berfikir kreatif. Ketiadaan kentang dan tomat membuatnya berpikir untuk memanfaatkan sebiji apel yang masih tersisa di lemari esnya. Bukankah potongan apel bisa menggantikan kuningnya warna kentang dan segarnya rasa tomat? Ketiadaan tempe mentah untuk bahan tempe goreng tepung membuatnya melirik oreg tempe basah sisa nasi uduknya tadi malam. Maka jadilah tempe goreng tepung yang sama renyahnya.
Begitulah dalam kehidupan. Terkadang kita mengharapkan suatu rencana berjalan sempurna, sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Saat ada suatu kendala, rintangan, masalah atau kejadian tidak terduga, sejenak kita akan terdiam. Dan setelah itu kita akan dihadapkan pada 3 pilihan. Mengganti rencana dengan rencana baru, melanjutkan rencana yang ada meski tak harus sempurna atau berhenti berharap dan meratapi masalah yang ada. Dan lihatlah apa yang terjadi dengan perempuan tadi, saat ia memutuskan memilih melanjutkan masaknya meskipun dengan bahan seadanya yang dia punya. Jadilah 3 menu seperti yang direncanakannya , meskipun memang tak sesempurna dalam bayangannya.
Ya, ketiadaan sesuatu yang seharusnya ada memang melatih kita untuk selalu berfikir kritis dan kreatif. Karena jika semua yang kita inginkan selalu tersedia di depan mata dengan segera, lantas kapan kita akan belajar beranjak? Jika kita memiliki semua yang seharusnya kita kita miliki, Lantas apa lagi yang kita cari dalam hidup?
Jadi bersyukurlah atas ketiadaan, bersyukurlah atas apa yang tidak kita miliki dan bersyukurlah atas kekurangan dalam hidup kita. Karena hidup tak pernah menuntut kita untuk selalu sempurna....
Wallahu a'lam bi showab
Kamis, 08 April 2010
Korelasi Cinta
Dalam ilmu statistika , korelasi dapat diartikan sebagai hubungan (asosiasi). Analisis korelasi bertujuan untuk mengetahui pola dan keeratan hubungan antara dua variabel atau lebih.
Ada banyak hal dalam kehidupan yang dapat dihitung keeratannya dengan korelasi. Namun ada satu hal yang sedang menggelitik saya sekarang. Cinta, dapatkah cinta diukur korelasinya? Formulasi korelasi yang mana yang bisa dipakai untuk mengukur kadar cinta dan keeratan hubungan antar dua orang atau lebih. Korelasi Pearson, Spearman, Kendall, Cramer, Gamma, Sommers atau mungkin parsial? Dengan skala pengukuran apa cinta bisa didefinisikan? Nominal, ordinal, interval atau rasio kah? Hal apakah yang paling penting untuk dipelajari dari sebuah korelasi cinta.
Barangkali sebagian akan menjawab bahwa cinta bisa didefinisikan dengan bentuk skala sikap , seperti halnya motivasi, kecemburuan, persepsi atau kesukaan. Sehingga kadar cinta akan bisa ditingkatkan sekuat apa kita berusaha meningkatkannya. Semakin tinggi usaha kita maka akan semakin kuat kadar cinta kita. Tetapi ternyata kenyataannya tidak semudah itu. Karena korelasi berbicara tentang dua variabel. Dan korelasi cinta berbicara tentang dua individu. Oleh karena itu menurut saya selain besarnya korelasi cinta yang menjadi bagian penting untuk dipelajari, perlu juga dipelajari arah korelasinya.
Berdasarkan arah hubungannya korelasi terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
1. Korelasi positif atau Direct correlation yaitu apabila perubahan pada satu variabel akan diikuti oleh perubahan pada variabel yang lainnya dengan arah yang sama
2. Korelasi Negatif atau Inverse correlation , yaitu apabila perubahan pada satu variabel akan diikuti oleh perubahan pada variabel yang lainnya dengan arah yang berlawanan
Dalam korelasi cinta, sebuah hubungan akan berjalan harmonis dan selaras saat kedua pasangan mampu mempertahankan korelasi cinta positif antar keduanya. Artinya arahnya juga harus sejalan, bukan hanya besarnya kadar cinta. Karena tak akan berjalan baik sebuah hubungan dengan kadar cinta yang tinggi tapi arahnya tidak sejalan. Dengan apa menyelaraskan arah itu? Tentu saja dengan komitmen. Dalam hal ini, yang sesuai dengan sunah Rosul, yaitu pernikahan.
Lantas mengapa meskipun sudah ada komitmen tak jarang sebuah korelasi cinta pada akhirnya harus menjadi negatif. Kenapa cinta yang tadinya begitu indah tiba-tiba menyesakkan dan mengecewakan. Itu karena, sekali lagi, korelasi cinta melibatkan dua hati. Dan hanya Allah yang memiliki Kuasa Penuh atas hati-hati itu. Dan tak dapat kita pungkiri bahwa ada kalanya hati berjalan di luar kendali kita.
Namun perlu diingat, ada satu korelasi cinta yang bisa terus dipertahankan bernilai positif. Satu-satunya cinta yang tak akan pernah menyakitkan dan mengecewakan. Cinta antara hamba dengan Robb-nya. Cinta antara kita dengan Robb kita. Cinta jenis ini akan selalu bernilai positif selama kita mau mengusahakannya. Kenapa? karena cinta Allah kepada hamba-Nya selalu meningkat dan tak pernah berkurang. Kalaupun terkadang kita merasa berkurang, itu karena kita yang menjauh. Jika kita bisa mengusahakan cinta kita kepada-Nya semakin besar , maka akan selalu positiflah korelasi cinta itu. Dan itulah tujuan hidup kita.
Jadi bagaimanakah mempertahankan korelasi cinta kita tetap positif? Bermohonlah selalu pada Robb yang Maha Membolak-balikan Hati. Memintalah pada Allah, Sang Kuasa Pemilik Cinta.
Wallahu alam bi showab
Ada banyak hal dalam kehidupan yang dapat dihitung keeratannya dengan korelasi. Namun ada satu hal yang sedang menggelitik saya sekarang. Cinta, dapatkah cinta diukur korelasinya? Formulasi korelasi yang mana yang bisa dipakai untuk mengukur kadar cinta dan keeratan hubungan antar dua orang atau lebih. Korelasi Pearson, Spearman, Kendall, Cramer, Gamma, Sommers atau mungkin parsial? Dengan skala pengukuran apa cinta bisa didefinisikan? Nominal, ordinal, interval atau rasio kah? Hal apakah yang paling penting untuk dipelajari dari sebuah korelasi cinta.
Barangkali sebagian akan menjawab bahwa cinta bisa didefinisikan dengan bentuk skala sikap , seperti halnya motivasi, kecemburuan, persepsi atau kesukaan. Sehingga kadar cinta akan bisa ditingkatkan sekuat apa kita berusaha meningkatkannya. Semakin tinggi usaha kita maka akan semakin kuat kadar cinta kita. Tetapi ternyata kenyataannya tidak semudah itu. Karena korelasi berbicara tentang dua variabel. Dan korelasi cinta berbicara tentang dua individu. Oleh karena itu menurut saya selain besarnya korelasi cinta yang menjadi bagian penting untuk dipelajari, perlu juga dipelajari arah korelasinya.
Berdasarkan arah hubungannya korelasi terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
1. Korelasi positif atau Direct correlation yaitu apabila perubahan pada satu variabel akan diikuti oleh perubahan pada variabel yang lainnya dengan arah yang sama
2. Korelasi Negatif atau Inverse correlation , yaitu apabila perubahan pada satu variabel akan diikuti oleh perubahan pada variabel yang lainnya dengan arah yang berlawanan
Dalam korelasi cinta, sebuah hubungan akan berjalan harmonis dan selaras saat kedua pasangan mampu mempertahankan korelasi cinta positif antar keduanya. Artinya arahnya juga harus sejalan, bukan hanya besarnya kadar cinta. Karena tak akan berjalan baik sebuah hubungan dengan kadar cinta yang tinggi tapi arahnya tidak sejalan. Dengan apa menyelaraskan arah itu? Tentu saja dengan komitmen. Dalam hal ini, yang sesuai dengan sunah Rosul, yaitu pernikahan.
Lantas mengapa meskipun sudah ada komitmen tak jarang sebuah korelasi cinta pada akhirnya harus menjadi negatif. Kenapa cinta yang tadinya begitu indah tiba-tiba menyesakkan dan mengecewakan. Itu karena, sekali lagi, korelasi cinta melibatkan dua hati. Dan hanya Allah yang memiliki Kuasa Penuh atas hati-hati itu. Dan tak dapat kita pungkiri bahwa ada kalanya hati berjalan di luar kendali kita.
Namun perlu diingat, ada satu korelasi cinta yang bisa terus dipertahankan bernilai positif. Satu-satunya cinta yang tak akan pernah menyakitkan dan mengecewakan. Cinta antara hamba dengan Robb-nya. Cinta antara kita dengan Robb kita. Cinta jenis ini akan selalu bernilai positif selama kita mau mengusahakannya. Kenapa? karena cinta Allah kepada hamba-Nya selalu meningkat dan tak pernah berkurang. Kalaupun terkadang kita merasa berkurang, itu karena kita yang menjauh. Jika kita bisa mengusahakan cinta kita kepada-Nya semakin besar , maka akan selalu positiflah korelasi cinta itu. Dan itulah tujuan hidup kita.
Jadi bagaimanakah mempertahankan korelasi cinta kita tetap positif? Bermohonlah selalu pada Robb yang Maha Membolak-balikan Hati. Memintalah pada Allah, Sang Kuasa Pemilik Cinta.
Wallahu alam bi showab
Minggu, 14 Maret 2010
Belajar Hidup dari Abah Ali
Lelaki itu, namanya Muhammad Ali Akbar, aku biasa memanggilnya abah Ali. Dia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengajari aku pinsip-prinsip kebaikan dalam hidup sejak aku kecil. Sudah sangat lama ingin menulis tentangnya, dan baru hari ini terlaksana….
Suatu hari di tahun 1994, abah Ali bertanya padaku
“ Neng , cita-citanya mau jadi apa?”
aku jawab dengan tegas “akuntan bah”.
Lantas, ia tersenyum bijak “ abah doakan semoga kamu menjadi akuntan yang jujur, tapi kalau kamu tidak sanggup untuk jujur, mending ganti cita-citamu dari sekarang”
Aku tercenung heran “emangnya kenapa bah?”
“Akuntan itu gajinya besar, tapi ujiannya juga besar, apalagi yang namanya akuntan publik, kadang tergoda menerima sogokan yang menggiurkan, kalau ga cukup kuat kejujurannya. Tapi kalau yang kuat kejujurannya kadang harus bersiap dengan todongan pistol, neng siap ga menghadapi hal-hal seperti itu?”
Aku tersenyum
Abah Ali kembali berujar “ Soklah, jadi apapun nanti, yang penting jagalah kejujuran “
“ Insya Allah bah, akan terus saya ingat pesan abah”.
Di hari yang lain, di suatu pagi yang dingin kulihat abah Ali sudah hadir di depan rumah, wajahnya terlihat begitu segar dan ceria
“Rajin bah” sapaku
“Iya atuh, habis jalan-jalan sambil silaturahmi keliling sodara, sering-sering silaturahmi ya neng, silaturahmi itu salah satu jalan pembuka pintu rizki” ujarnya
Ah, kejujuran dan silaturahmi adalah dua dari sekian banyak nilai kebaikan yang ditanamkan abah Ali kepadaku. Dan dua-duanya saat ini seperti sudah menjadi barang yang langka. Begitu banyak orang yang menggadaikan kejujurannya , begitu banyak anak-anak yang sudah tak lagi faham indahnya silaturahmi.
Abah, terima kasih sudah menanamkan dua kata itu di benakku. Meski sekarang Abah telah tiada, namun aku yakin kebaikan dan kenangan nya masih melekat begitu dalam di hati kami, keluarganya. Selamat jalan Abah Ali tercinta, semoga Allah menempatkan abah di tempat yang mulia di sisi-Nya. Amiin…..
Oh iya, ada satu lagi yang tak akan kulupa dari Abah Ali……hobinya mengisi TTS. Dimana ada abah Ali di situ ada TTS. Saking hobinya, ia akan memastikan setiap TTS yang ditemukannya akan terisi penuh
Dulu, setiap kali bertemu dengannya, selalu kuajak beliau bercanda
“Bah, nama pohon , tiga huruf…”
Maka abah Ali akan segera menjawab “ pasti A R A dong“
He he he…:-)
Suatu hari di tahun 1994, abah Ali bertanya padaku
“ Neng , cita-citanya mau jadi apa?”
aku jawab dengan tegas “akuntan bah”.
Lantas, ia tersenyum bijak “ abah doakan semoga kamu menjadi akuntan yang jujur, tapi kalau kamu tidak sanggup untuk jujur, mending ganti cita-citamu dari sekarang”
Aku tercenung heran “emangnya kenapa bah?”
“Akuntan itu gajinya besar, tapi ujiannya juga besar, apalagi yang namanya akuntan publik, kadang tergoda menerima sogokan yang menggiurkan, kalau ga cukup kuat kejujurannya. Tapi kalau yang kuat kejujurannya kadang harus bersiap dengan todongan pistol, neng siap ga menghadapi hal-hal seperti itu?”
Aku tersenyum
Abah Ali kembali berujar “ Soklah, jadi apapun nanti, yang penting jagalah kejujuran “
“ Insya Allah bah, akan terus saya ingat pesan abah”.
Di hari yang lain, di suatu pagi yang dingin kulihat abah Ali sudah hadir di depan rumah, wajahnya terlihat begitu segar dan ceria
“Rajin bah” sapaku
“Iya atuh, habis jalan-jalan sambil silaturahmi keliling sodara, sering-sering silaturahmi ya neng, silaturahmi itu salah satu jalan pembuka pintu rizki” ujarnya
Ah, kejujuran dan silaturahmi adalah dua dari sekian banyak nilai kebaikan yang ditanamkan abah Ali kepadaku. Dan dua-duanya saat ini seperti sudah menjadi barang yang langka. Begitu banyak orang yang menggadaikan kejujurannya , begitu banyak anak-anak yang sudah tak lagi faham indahnya silaturahmi.
Abah, terima kasih sudah menanamkan dua kata itu di benakku. Meski sekarang Abah telah tiada, namun aku yakin kebaikan dan kenangan nya masih melekat begitu dalam di hati kami, keluarganya. Selamat jalan Abah Ali tercinta, semoga Allah menempatkan abah di tempat yang mulia di sisi-Nya. Amiin…..
Oh iya, ada satu lagi yang tak akan kulupa dari Abah Ali……hobinya mengisi TTS. Dimana ada abah Ali di situ ada TTS. Saking hobinya, ia akan memastikan setiap TTS yang ditemukannya akan terisi penuh
Dulu, setiap kali bertemu dengannya, selalu kuajak beliau bercanda
“Bah, nama pohon , tiga huruf…”
Maka abah Ali akan segera menjawab “ pasti A R A dong“
He he he…:-)
CUCI DARAH + SABAR = CUCI DOSA
Menjalani cuci darah selama 1 kali, 2 kali, 1 tahun, 2 tahun, 10 tahun bahkan 21 tahun adalah pengalaman yang sangat berharga bagi siapapun. Tak akan tergantikan oleh apapun. Saat kita terbaring dan menyadari bahwa ada dua jarum besar di bawah permukaan kulit kita. Dan kemudian dengan jelas kita bisa melihat darah kita keluar masuk selang-selang besar yang tergantung pada sebuah mesin yang berdiri kokoh di samping pembaringan kita selama lebih dari 4 jam x 2 x 4 minggux 12 bulan x seumur hidup kita. Apa yang bisa kita lakukan jika dalam keadaan seperti itu tiba-tiba berbagai kekhawatiran dan ketakutan muncul? Bagaimana jika mesinnya rusak? Bagaimana jika jarumnya lepas? Bagaimana jika listrik mati? Bagaimana jika tak punya ongkos untuk pergi ke rumah sakit? Bagaimana jika banjir ? Bagaimana jika kita bosan, malas dan capek ?
Lantas dengan apa kita menghalau semua khawatir itu? Dengan apa kita mengkalkulasi semua biaya yang dikeluarkan selama proses cuci darah itu ? Dengan apa kita mengobati semua kesakitan, kejenuhan dan kelelahan itu ? Dan dengan apa kita menghapus air mata yang tak terbendung itu?
Tentu setiap orang memiliki jawaannya masing-masing. Dengan keyakinan bahwa Allah telah membuat ketentuan atas segala sesuatu (Q.S.At Thalaq:3), maka kita sermua berusaha meyakini bahwa bencana itu memiliki batas waktu dan musibah itu memiliki batas masa, sehingga kita senantisa berpasrah dan bertawakal sambil terus memohon “ Ya Allah, jangan bebankan kepada kami beban yang tak sanggup kami menanggungnya .....”, Lantas, jika sebagai manusia biasa kita merasa sudah tidak sanggup menanggung semua beban itu, dengan apa kita mampu bertahan? Tentu dengan doa dan harapan, semoga Allah swt akan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang sabar
Sabar? sampai kapan kita harus sabar? Kurang sabar apalagi? sabar juga ada batasnya! Gimana bisa sabar kalau tahu harus menjalaninya seumur hidup? Berbagai reaksi muncul saat kata sabar disampaikan. Karena menjalani kesabaran tentu tak semudah mengucapkannya di depan orang. Menjalani kesabaran butuh banyak dukungan, menjalani kesabaran akan menguras air mata dan menjalani kesabaran butuh banyak cinta dan pengorbanan. Sabar memang tak pernah bisa diukur oleh lamanya waktu atau tuanya usia, hanya Allah yang tahu batas kesabaran kita.
Menjalani kesabaran tentu bukanlah sesuatu yang mudah bagi siapapun. Bagi pasien cuci darah, kondisi psikologis yang tidak stabil akibat beban ekonomi, komplikasi proses cuci darah, ketergantungan terhadap mesin, aturan diet ketat & pengurangan asupan cairan, mobilitas yang terbatas, kehilangan pekerjaan, penghasilan, status finansial, efek samping obat, perasaan kelelahan, perubahan suasana hati, sulit menemukan teman yang mengerti penyakitnya, kekacauan suasana keluarga, dan hubungan sosial yang kurang baik dapat mengakibatkan kecemasan, depresi atau stress jika tidak mendapat dukungan dan perhatian orang-orang sekitarnya. Pasien yang mendapat dukungan dan perhatian penuh dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya akan memiliki kondisi psikologis yang relatif lebih baik sehingga diharapkan dapat berdampak baik dalam mempercepat pemulihan kondisi fisiknya.
Kesabaran dalam proses cuci darah tentu bukan hanya harus dimiliki oleh pasien tapi juga harus dimiliki oleh keluarga pasien, perawat dan dokter di ruangan HD. Pernahkah kita bayangkan jika keluarga pasien, perawat dan dokter di ruangan HD tidak memiliki kesabaran yang minimal sama dengan pasien cuci darah? sementara mereka adalah orang-orang yang menjadi tempat bergantung pasien cuci darah saat proses cuci darah berlangsung. Tentu pasien akan merasa sendirian dan dapat berdampak negatif pada kondisi psikologisnya. Kesabaran dalam menemani dan merawat pasien tidaklah semudah yang dibayangkan, perubahan suasana hati pasien yang sangat cepat kadang membuat emosi pasien menjadi tidak tekontrol dan tentu hal ini menjadi ujian berat bagi kesabaran orang-orang di sekitarnya. Maka tidaklah heran jika butuh kesabaran ekstra untuk bisa menjadi teman yang baik bagi seorang pasien cuci darah.
Kesabaran yang tak berbatas adalah milik semua orang yang terlibat dalam proses cuci darah, walau kesabaran itu berat dan butuh banyak pengorbanan , tapi dengan keyakinan bahwa kesabaran akan mampu menjadikan proses cuci darah lebih bermakna dan hidup lebih berarti, mudah-mudahan kesabaran akan menjadi lebih ringan untuk dijalani. Dan dengan sejumput doa....semoga dan semoga cuci darah yang kita jalani 1 kali, 2 kali, 1 tahun, 2 tahun , 10 tahun , 21 tahun atau lebih itu, bisa menjadi sarana untuk mencuci dosa-dosa kita. Dengan demikian tentu kita juga selalu berharap , semoga rumusan :
CUCI DARAH + SABAR = CUCI DOSA
akan menjadi sumber motivasi bagi pasien, keluarga pasien, perawat, dokter dan semua orang yang berukhuwah di ruangan cuci darah untuk berusaha menjalani kesabaran dalam hidupnya seberat apapun itu. Karena sabar itu tak pernah berbatas.......
Wallahu a’lam bi showab
Lantas dengan apa kita menghalau semua khawatir itu? Dengan apa kita mengkalkulasi semua biaya yang dikeluarkan selama proses cuci darah itu ? Dengan apa kita mengobati semua kesakitan, kejenuhan dan kelelahan itu ? Dan dengan apa kita menghapus air mata yang tak terbendung itu?
Tentu setiap orang memiliki jawaannya masing-masing. Dengan keyakinan bahwa Allah telah membuat ketentuan atas segala sesuatu (Q.S.At Thalaq:3), maka kita sermua berusaha meyakini bahwa bencana itu memiliki batas waktu dan musibah itu memiliki batas masa, sehingga kita senantisa berpasrah dan bertawakal sambil terus memohon “ Ya Allah, jangan bebankan kepada kami beban yang tak sanggup kami menanggungnya .....”, Lantas, jika sebagai manusia biasa kita merasa sudah tidak sanggup menanggung semua beban itu, dengan apa kita mampu bertahan? Tentu dengan doa dan harapan, semoga Allah swt akan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang sabar
Sabar? sampai kapan kita harus sabar? Kurang sabar apalagi? sabar juga ada batasnya! Gimana bisa sabar kalau tahu harus menjalaninya seumur hidup? Berbagai reaksi muncul saat kata sabar disampaikan. Karena menjalani kesabaran tentu tak semudah mengucapkannya di depan orang. Menjalani kesabaran butuh banyak dukungan, menjalani kesabaran akan menguras air mata dan menjalani kesabaran butuh banyak cinta dan pengorbanan. Sabar memang tak pernah bisa diukur oleh lamanya waktu atau tuanya usia, hanya Allah yang tahu batas kesabaran kita.
Menjalani kesabaran tentu bukanlah sesuatu yang mudah bagi siapapun. Bagi pasien cuci darah, kondisi psikologis yang tidak stabil akibat beban ekonomi, komplikasi proses cuci darah, ketergantungan terhadap mesin, aturan diet ketat & pengurangan asupan cairan, mobilitas yang terbatas, kehilangan pekerjaan, penghasilan, status finansial, efek samping obat, perasaan kelelahan, perubahan suasana hati, sulit menemukan teman yang mengerti penyakitnya, kekacauan suasana keluarga, dan hubungan sosial yang kurang baik dapat mengakibatkan kecemasan, depresi atau stress jika tidak mendapat dukungan dan perhatian orang-orang sekitarnya. Pasien yang mendapat dukungan dan perhatian penuh dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya akan memiliki kondisi psikologis yang relatif lebih baik sehingga diharapkan dapat berdampak baik dalam mempercepat pemulihan kondisi fisiknya.
Kesabaran dalam proses cuci darah tentu bukan hanya harus dimiliki oleh pasien tapi juga harus dimiliki oleh keluarga pasien, perawat dan dokter di ruangan HD. Pernahkah kita bayangkan jika keluarga pasien, perawat dan dokter di ruangan HD tidak memiliki kesabaran yang minimal sama dengan pasien cuci darah? sementara mereka adalah orang-orang yang menjadi tempat bergantung pasien cuci darah saat proses cuci darah berlangsung. Tentu pasien akan merasa sendirian dan dapat berdampak negatif pada kondisi psikologisnya. Kesabaran dalam menemani dan merawat pasien tidaklah semudah yang dibayangkan, perubahan suasana hati pasien yang sangat cepat kadang membuat emosi pasien menjadi tidak tekontrol dan tentu hal ini menjadi ujian berat bagi kesabaran orang-orang di sekitarnya. Maka tidaklah heran jika butuh kesabaran ekstra untuk bisa menjadi teman yang baik bagi seorang pasien cuci darah.
Kesabaran yang tak berbatas adalah milik semua orang yang terlibat dalam proses cuci darah, walau kesabaran itu berat dan butuh banyak pengorbanan , tapi dengan keyakinan bahwa kesabaran akan mampu menjadikan proses cuci darah lebih bermakna dan hidup lebih berarti, mudah-mudahan kesabaran akan menjadi lebih ringan untuk dijalani. Dan dengan sejumput doa....semoga dan semoga cuci darah yang kita jalani 1 kali, 2 kali, 1 tahun, 2 tahun , 10 tahun , 21 tahun atau lebih itu, bisa menjadi sarana untuk mencuci dosa-dosa kita. Dengan demikian tentu kita juga selalu berharap , semoga rumusan :
CUCI DARAH + SABAR = CUCI DOSA
akan menjadi sumber motivasi bagi pasien, keluarga pasien, perawat, dokter dan semua orang yang berukhuwah di ruangan cuci darah untuk berusaha menjalani kesabaran dalam hidupnya seberat apapun itu. Karena sabar itu tak pernah berbatas.......
Wallahu a’lam bi showab
Kamis, 11 Maret 2010
Ginjal Oh Ginjal
Hari itu, Jumat 11 Maret 2005 aku terbaring lemah di sebuah ruangan kecil di RS Holistik Purwakarta. Di samping tempat tidurku berdiri kokoh sebuah mesin besar, yang padanya bergantung selang-selang bening yang sudah berubah warna menjadi merah. Sebuah tabung besar yang juga berwarna merah berisi cairan terpenting dalam hidupku terpasang di mesin itu. Cairan merah itu beredar di sepanjang selang keluar masuk tubuhku melalui dua jarum besar yang tertanam di permukaan kulitku. Saat itu aku sadar untuk pertama kalinya seumur hidup aku menjalani terapi medis bernama hemodialisa atau lebih dikenal dengan istilah cuci darah.
Dan hari ini, kamis 11 Maret 2010, tepat 5 tahun mesin besar itu menjadi sahabat setia hidupku. 5 tahun sudah kujalani cuci darahku. Dan tanpa kuduga ternyata 11 Maret bertepatan pula dengan hari Ginjal Sedunia. Ginjal adalah salah sati organ vital dalam tubuh kita yang memiliki fungsi begitu kompleks. Kegagalan fungsi Ginjal membuat tubuh kita tak mampu menjalankan fungsi-fungsi vitalnya. Dan hemodialis atau cuci darah adalah salah satu terapi medis untuk menggantikan ginjal yang tak lagi mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Selain cuci darah ada dua terapi pengganti ginjal lain yaitu CAPD (Continuius Ambulatory Peritoneal Dialysis) atau cuci darah mandiri dan Transplantasi Ginjal.
Berikut fungsi vital ginjal yang sangat berpengaruh terhadap keseimbangan tubuh kita :
1. Sebagai penyaring darah adalah membersihkan darah dari kotoran yang dibuang melalui air seni.
2. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.
3. Memproduksi tiga hormon penting dalam tubuh yaitu :
- Erythropoetin yang berguna untuk merangsang sel-sel tulang belakang dalam membentuk sel-sel darah merah,
- Renin yang berfungsi untuk mengatur tekanana darah dan
- Vitamin D aktif yang berfungsi mempertahankan kalsium dalam tulang.
Apabila ginjal tidak berfungsi dengan baik akan terjadi penumpukan zat racun seperti ureum dan kreatinin dalam darah yang menimbulkan keracunan dan merusak sel-sel tubuh, elektrolit seperti kalium dan fosfat tidak dapat dikeluarkan tubuh, berkurangnya sintesa vitamin D yang berakibat rendahnya kadar kalsium dalam tubuh, gangguan metabolisme protein dan lemak, kekurangan erythropoetin dan keluarnya protein melalui urin. Permasalahan-permasalahan tersebut akan menimbulkan gangguan gangguan tubuh seperti mual muntah, uremik, sakit maag, kulit gatal, pucat akibat anemia, kaki pegal, rasa seperti terbakar, lemah, tidak bisa tidur, tekanan darah yang berubah-ubah dalam waktu cepat, nyeri dada, sesak nafas dan bengkak pada beberapa bagian tubuh seperti mata, wajah, perut dan kaki.
Ada beberapa penyakit yang menyebabkan menurunnya fungsi ginjal yang bisa berakibat gagal ginjal terminal apabila tidak diobati dengan baik, antara lain adalah Glomerulonefritis1) kronik, Infeksi saluran kencing , Diabetes Melitus/ Kencing manis, Lupus Eritematosus, dan Hipertensi. Khusus tentang hipertensi, penyakit ini sekaligus bisa menjadi penyebab dan akibat dari gagal ginjal.
Penyakit gagal ginjal terminal umumnya diakibatkan oleh kelalaian penderitanya dalam melakukan medical check up rutin, terlalu berlebihan dalam beraktivitas dalam jangka waktu lama sehingga kurang istirahat , kurang minum air putih , suka menahan kencing, tidak memperhatikan asupan makanan dan konsumsi obat-obatan yang tidak sesuai aturan.
Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan ginjal yang begitu kecil dengan fungsi yang begitu kompleks. Mari sayangi ginjal kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa mensyukuri nikmat sehat, senantiasa....
Semoga bermanfaat
Dan hari ini, kamis 11 Maret 2010, tepat 5 tahun mesin besar itu menjadi sahabat setia hidupku. 5 tahun sudah kujalani cuci darahku. Dan tanpa kuduga ternyata 11 Maret bertepatan pula dengan hari Ginjal Sedunia. Ginjal adalah salah sati organ vital dalam tubuh kita yang memiliki fungsi begitu kompleks. Kegagalan fungsi Ginjal membuat tubuh kita tak mampu menjalankan fungsi-fungsi vitalnya. Dan hemodialis atau cuci darah adalah salah satu terapi medis untuk menggantikan ginjal yang tak lagi mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Selain cuci darah ada dua terapi pengganti ginjal lain yaitu CAPD (Continuius Ambulatory Peritoneal Dialysis) atau cuci darah mandiri dan Transplantasi Ginjal.
Berikut fungsi vital ginjal yang sangat berpengaruh terhadap keseimbangan tubuh kita :
1. Sebagai penyaring darah adalah membersihkan darah dari kotoran yang dibuang melalui air seni.
2. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.
3. Memproduksi tiga hormon penting dalam tubuh yaitu :
- Erythropoetin yang berguna untuk merangsang sel-sel tulang belakang dalam membentuk sel-sel darah merah,
- Renin yang berfungsi untuk mengatur tekanana darah dan
- Vitamin D aktif yang berfungsi mempertahankan kalsium dalam tulang.
Apabila ginjal tidak berfungsi dengan baik akan terjadi penumpukan zat racun seperti ureum dan kreatinin dalam darah yang menimbulkan keracunan dan merusak sel-sel tubuh, elektrolit seperti kalium dan fosfat tidak dapat dikeluarkan tubuh, berkurangnya sintesa vitamin D yang berakibat rendahnya kadar kalsium dalam tubuh, gangguan metabolisme protein dan lemak, kekurangan erythropoetin dan keluarnya protein melalui urin. Permasalahan-permasalahan tersebut akan menimbulkan gangguan gangguan tubuh seperti mual muntah, uremik, sakit maag, kulit gatal, pucat akibat anemia, kaki pegal, rasa seperti terbakar, lemah, tidak bisa tidur, tekanan darah yang berubah-ubah dalam waktu cepat, nyeri dada, sesak nafas dan bengkak pada beberapa bagian tubuh seperti mata, wajah, perut dan kaki.
Ada beberapa penyakit yang menyebabkan menurunnya fungsi ginjal yang bisa berakibat gagal ginjal terminal apabila tidak diobati dengan baik, antara lain adalah Glomerulonefritis1) kronik, Infeksi saluran kencing , Diabetes Melitus/ Kencing manis, Lupus Eritematosus, dan Hipertensi. Khusus tentang hipertensi, penyakit ini sekaligus bisa menjadi penyebab dan akibat dari gagal ginjal.
Penyakit gagal ginjal terminal umumnya diakibatkan oleh kelalaian penderitanya dalam melakukan medical check up rutin, terlalu berlebihan dalam beraktivitas dalam jangka waktu lama sehingga kurang istirahat , kurang minum air putih , suka menahan kencing, tidak memperhatikan asupan makanan dan konsumsi obat-obatan yang tidak sesuai aturan.
Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan ginjal yang begitu kecil dengan fungsi yang begitu kompleks. Mari sayangi ginjal kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa mensyukuri nikmat sehat, senantiasa....
Semoga bermanfaat
Jumat, 26 Februari 2010
Menjadi Aktor yang Baik
Terkadang kita lupa bahwa kita hanyalah pemeran drama serial yang tayang setiap hari. Kita sudah menandatangani kontrak kehidupan dengan Sang Sutradara untuk siap menjalani alur kehidupan yang sudah ditentukan-Nya sejak kita dinyatakan sebagai aktor pemeran utama naskah kehidupan kita sendiri. Seorang aktor harus siap diatur oleh Sang Sutradara, episode mana yang akan dijalaninya hari ini, bukan hak kita untuk menentukan bahwa kita ingin syuting episode 10 dulu, sementara episode 1 sudah menunggu untuk ditayangkan. Seorang aktor hanya berkewajiban untuk merencanakan agendanya sendiri, mempersiapkan diri untuk memerankan karakter tokoh utama yang akan dijalankannya untuk syuting hari itu. Saat situasi syuting di drama kita sedang tidak menyenangkan jangan pernah merasa iri dengan orang lain yang suasana syutingnya terlihat menyenangkan , karena setiap orang menjalani serial dramanya masing-masing, dengan konflik masing-masing dan tantangan masing-masing. Tugas kita hanyalah menjadikan suasana syuting drama serial kehidupan kita selalu indah untuk kita jalani.
Ada pemeran pembantu yang akan menemani kita menjalani drama ini. Pemeran pembantu yang akan selalu berada di samping kita untuk mendukung drama ini berjalan sempurna. Namun ingat bahwa sang pemeran pembantu juga punya peran utama dalam drama serial kehidupannya sendiri, yang harus juga kita fahami. Hmmm bisa kita bayangkan betapa Maha Kuasanya Sang Sutradara Kehidupan yang mengatur alur kehidupan bermilyar-milyar aktor di jagat ini. Itu alasannya kenapa kita harus mengikuti Keinginan Sang Sutradara tentang episode mana yang harus kita jalani hari itui, karena itu berkaitan dengan bisa tidaknya pemeran pembantu bermain dalam drama kehidupan kita hari itu.
Dan ada juga bintang tamu. Sang Sutradara yang menentukan kapan seorang bintang tamu hadir dalam episode kehidupan kita. Kenapa harus dia, kenapa bukan orang lain? Karena semuanya sudah disesuaikan dengan alur kehidupan actor-aktor lain. Sang Sutradara selalu punya alasan menjadikan seseorang menjadi bintang tamu dalam kehidupan kita, seperti halnya Sang Sutradara selalu punya alasan menjadikan kita bintang tamu dalam drama kehidupan aktor lain. Seperti layaknya bintang tamu, sambutlah ia dengan baik, berkenalanlah, jalani peran yang harus dimainkan pada episode itu sesuai kemampuan kita. Tapi ingat jika kita sudah merasa dekat dengan sang bintang tamu, tetaplah bersiap jika suatu saat sang bintang tamu itu harus selesai bermain di drama kehidupan kita. Jangan memaksa Sang Sutradara untuk terus mempertahankannya selama kita mau. Karena sang bintang tamu punya drama kehidupan sendiri yang juga harus Ia jalani. Tugas kita hanyalah menjaga sebaik-baiknya kerjasama yang sudah disepakati, kalau pada akhirnya sang bintang tamu harus pergi, jangan merengek, jangan rapuh, jangan merasa tak mampu hidup sendiri, karena kita adalah aktor utama kehidupan kita sendiri yang tak boleh bergantung dari bintang tamu dan pemeran pembantu yang lain. Kita hanya boleh bergantung pada Kehendak Sang Sutradara yang selalu mengatur skenario drama kehidupan itu dengan sangat indah.
Marilah menjadi aktor yang baik dalam drama kehidupan kita. Jadikan setiap episode kehidupan itu indah untuk kita jalani. Perankan episode itu sesuai dengan kehendak Sang Sutradara. Karena Sang Sutradara Kehidupan selalu punya skenario terbaik bagi setiap drama kehidupan setiap aktornya. Bermohonlah pada Sang Sutradara agar diberikan peran dan episode yang baik tapi jangan menuntut untut memainkan episode tertentu yang kita anggap akan menyenangkan untuk kita jalani. Karena Sang Sutradara Kehidupan Maha Tahu kapan sebuah episode kehidupan harus berjalan dan kapan episode kehidupan lain harus berakhir…
Wallahu a’lam bi showab
Ada pemeran pembantu yang akan menemani kita menjalani drama ini. Pemeran pembantu yang akan selalu berada di samping kita untuk mendukung drama ini berjalan sempurna. Namun ingat bahwa sang pemeran pembantu juga punya peran utama dalam drama serial kehidupannya sendiri, yang harus juga kita fahami. Hmmm bisa kita bayangkan betapa Maha Kuasanya Sang Sutradara Kehidupan yang mengatur alur kehidupan bermilyar-milyar aktor di jagat ini. Itu alasannya kenapa kita harus mengikuti Keinginan Sang Sutradara tentang episode mana yang harus kita jalani hari itui, karena itu berkaitan dengan bisa tidaknya pemeran pembantu bermain dalam drama kehidupan kita hari itu.
Dan ada juga bintang tamu. Sang Sutradara yang menentukan kapan seorang bintang tamu hadir dalam episode kehidupan kita. Kenapa harus dia, kenapa bukan orang lain? Karena semuanya sudah disesuaikan dengan alur kehidupan actor-aktor lain. Sang Sutradara selalu punya alasan menjadikan seseorang menjadi bintang tamu dalam kehidupan kita, seperti halnya Sang Sutradara selalu punya alasan menjadikan kita bintang tamu dalam drama kehidupan aktor lain. Seperti layaknya bintang tamu, sambutlah ia dengan baik, berkenalanlah, jalani peran yang harus dimainkan pada episode itu sesuai kemampuan kita. Tapi ingat jika kita sudah merasa dekat dengan sang bintang tamu, tetaplah bersiap jika suatu saat sang bintang tamu itu harus selesai bermain di drama kehidupan kita. Jangan memaksa Sang Sutradara untuk terus mempertahankannya selama kita mau. Karena sang bintang tamu punya drama kehidupan sendiri yang juga harus Ia jalani. Tugas kita hanyalah menjaga sebaik-baiknya kerjasama yang sudah disepakati, kalau pada akhirnya sang bintang tamu harus pergi, jangan merengek, jangan rapuh, jangan merasa tak mampu hidup sendiri, karena kita adalah aktor utama kehidupan kita sendiri yang tak boleh bergantung dari bintang tamu dan pemeran pembantu yang lain. Kita hanya boleh bergantung pada Kehendak Sang Sutradara yang selalu mengatur skenario drama kehidupan itu dengan sangat indah.
Marilah menjadi aktor yang baik dalam drama kehidupan kita. Jadikan setiap episode kehidupan itu indah untuk kita jalani. Perankan episode itu sesuai dengan kehendak Sang Sutradara. Karena Sang Sutradara Kehidupan selalu punya skenario terbaik bagi setiap drama kehidupan setiap aktornya. Bermohonlah pada Sang Sutradara agar diberikan peran dan episode yang baik tapi jangan menuntut untut memainkan episode tertentu yang kita anggap akan menyenangkan untuk kita jalani. Karena Sang Sutradara Kehidupan Maha Tahu kapan sebuah episode kehidupan harus berjalan dan kapan episode kehidupan lain harus berakhir…
Wallahu a’lam bi showab
Senin, 15 Februari 2010
Belajar Merantau dari Bapak Kusir Delman
Hari ini, langit Kuningan bersinar begitu cerah. Tak ada alasan bagiku untuk menunda semua urusan luar rumahku pagi ini, setelah kemarin Kuningan diguyur hujan tanpa henti. Tujuan pertamaku bank, dengan maksud transfer uang buku, bayangan antrian panjang sempat menghalangiku untuk beranjak. Tapi ternyata alhamdulillah Allah memudahkan semua urusanku pagi ini, tanpa antrian di bank dan proses nge faks di wartel yang sangat cepat. Selepasnya aku masih harus ke toko oleh-oleh, membeli dua ember besar tape ketan pesanan seorang teman yang harus kupaketkan ke Jakarta.
Dan persinggahan terakhirku adalah kantor paket pengiriman antar kota. Aku membawa dua ember besar tape ketan dari toko oleh-oleh, kali ini aku memutuskan naik delman. Tanpa perlu mencari, si mang kusir delman yang kebetulan lewat menawariku untuk naik ke delmannya. Aku mengiyakan dan langsung naik. Udara Kuningan yang semakin panas membuatku diam membisu. Biasanya aku cukup cerewet nanya macam-macam ke kusir delman. Kupikir banyak ilmu baru yang bisa kuperoleh dari mereka. Itulah salah satu kelebihan naik delman dibanding angkot. Kali ini aku agak malas berbicara, ingin segera sampai rumah dan melepaskan penatku...
Memasuki wilayah pasar kepuh dengan tanjakan yang cukup tajam, kusiapkan diriku. Aku tahu kuda akan berlari sekencang mungkin, aku harus berpegangan dan mengamankan barang-barangku, kalau tidak , kemungkinan besar ada barang yang akan terjatuh, mengingat begitu tajamnya tanjakan itu. Konsentrasiku berpusat di peganganku, aku tak lagi peduli apa yang terjadi di sekitarku, termasuk musik apa yang sedang diputar oleh tukang kaset di bawah tanjakan. Namun rupanya si mang kusir delman tak demikian, meski ia juga terlihat tegang, mengantisipasi tanjakan tajam itu, ia masih sempat mendengar musik pencak silat yang sayup-sayup mulai hilang dari pendengaranku saat jalan sudah kembali rata dan delman beranjak menjauh dari pasar Kepuh. Pelan, setengah berbisik, si mang bercerita tentang sesuatu padaku, kenangannya akan suara musik pencak silat, dengan bahasa sunda, ia bercerita kira-kira seperti ini kisahnya :
"Neng, saya mah kalau mendengar musik pencak silat teh suka ingat jaman-jaman saya merantau ke Lampung, Palembang dan madura,berkesan banget"
"Oh gitu ya pa " ujarku sedikit tak peduli, sungguh aku sedang tak ingin banyak bicara tapi si bapak kusir delman semakin lantang bercerita tentang perjalanan hidupnya. Kubiarkan ia terus menyampaikan semua kisahnya, aku hanya berusaha jadi pendengar yang baik. Sampai kemudian memasuki jalan Aruji, jalanan macet karena bubaran sekolah. Sii bapak semakin semangat berbagi, kali ini saking semangatnya ia sudah mulai menoleh ke arahku sesekali, aku tahu ini pertanda aku tak boleh terlihat cuek, kalau tak ingin ia tersinggung.
Maka mulai kukatakan pada diriku, pedulillah, siapa tahu akan jadi jalan ilmu dan hikmah baru bagiku hari ini. Dan aku pun mulai menimpali pembicaraan si bapak hingga berlangsunglah pembicaraan seru berjudul : merantau :-)
Dan terbukalah ilmu baru itu di hadapanku sekarang : merantau itu menyenangkan, tips-tips pendatang menghadapi tuan rumah, merantau itu bisa kenal dengan banyak orang, saat merantau kita bisa mendapat banyak ilmu baru dan yang paling berkesan adalah saat di bapak bilang
" saat merantau mah rejeki teh asa lancar neng, banyak rejeki tak terduga, bisa makan enak pokoknya menyenangkan deh"
Sayangnya aku tak sempat bertanya pada si bapak kusir delman, kenapa memutuskan berhenti merantau dan kembali ke kampung halaman?
Meski demikian ilmu baru dari si bapak, mengingatkanku akan salah satu hikmah yang kubaca dari sebuah buku :
" Pergilah merantau untuk mencari kemuliaan karena dalam perjalanan itu ada lima kegunaan, yaitu : menghilangkan kesedihan, mendapatkan penghidupan, mendapatkan ilmu, mengagungkan jiwa dan dapat bergaul dengan banyak orang " ( Imam Syafi'i)
Hmmm nampaknya perjalananku keluar rumah pagi ini mengajariku untuk belajar tentang ilmu merantau dari bapak kusir delman. hatur nuhun bapak... :-)
* Sebuah persembahan kecil untuk teman-teman yang sedang merantau dan ditinggal merantau, semoga tetap semangat dan terus bersabar:-) *
Dan persinggahan terakhirku adalah kantor paket pengiriman antar kota. Aku membawa dua ember besar tape ketan dari toko oleh-oleh, kali ini aku memutuskan naik delman. Tanpa perlu mencari, si mang kusir delman yang kebetulan lewat menawariku untuk naik ke delmannya. Aku mengiyakan dan langsung naik. Udara Kuningan yang semakin panas membuatku diam membisu. Biasanya aku cukup cerewet nanya macam-macam ke kusir delman. Kupikir banyak ilmu baru yang bisa kuperoleh dari mereka. Itulah salah satu kelebihan naik delman dibanding angkot. Kali ini aku agak malas berbicara, ingin segera sampai rumah dan melepaskan penatku...
Memasuki wilayah pasar kepuh dengan tanjakan yang cukup tajam, kusiapkan diriku. Aku tahu kuda akan berlari sekencang mungkin, aku harus berpegangan dan mengamankan barang-barangku, kalau tidak , kemungkinan besar ada barang yang akan terjatuh, mengingat begitu tajamnya tanjakan itu. Konsentrasiku berpusat di peganganku, aku tak lagi peduli apa yang terjadi di sekitarku, termasuk musik apa yang sedang diputar oleh tukang kaset di bawah tanjakan. Namun rupanya si mang kusir delman tak demikian, meski ia juga terlihat tegang, mengantisipasi tanjakan tajam itu, ia masih sempat mendengar musik pencak silat yang sayup-sayup mulai hilang dari pendengaranku saat jalan sudah kembali rata dan delman beranjak menjauh dari pasar Kepuh. Pelan, setengah berbisik, si mang bercerita tentang sesuatu padaku, kenangannya akan suara musik pencak silat, dengan bahasa sunda, ia bercerita kira-kira seperti ini kisahnya :
"Neng, saya mah kalau mendengar musik pencak silat teh suka ingat jaman-jaman saya merantau ke Lampung, Palembang dan madura,berkesan banget"
"Oh gitu ya pa " ujarku sedikit tak peduli, sungguh aku sedang tak ingin banyak bicara tapi si bapak kusir delman semakin lantang bercerita tentang perjalanan hidupnya. Kubiarkan ia terus menyampaikan semua kisahnya, aku hanya berusaha jadi pendengar yang baik. Sampai kemudian memasuki jalan Aruji, jalanan macet karena bubaran sekolah. Sii bapak semakin semangat berbagi, kali ini saking semangatnya ia sudah mulai menoleh ke arahku sesekali, aku tahu ini pertanda aku tak boleh terlihat cuek, kalau tak ingin ia tersinggung.
Maka mulai kukatakan pada diriku, pedulillah, siapa tahu akan jadi jalan ilmu dan hikmah baru bagiku hari ini. Dan aku pun mulai menimpali pembicaraan si bapak hingga berlangsunglah pembicaraan seru berjudul : merantau :-)
Dan terbukalah ilmu baru itu di hadapanku sekarang : merantau itu menyenangkan, tips-tips pendatang menghadapi tuan rumah, merantau itu bisa kenal dengan banyak orang, saat merantau kita bisa mendapat banyak ilmu baru dan yang paling berkesan adalah saat di bapak bilang
" saat merantau mah rejeki teh asa lancar neng, banyak rejeki tak terduga, bisa makan enak pokoknya menyenangkan deh"
Sayangnya aku tak sempat bertanya pada si bapak kusir delman, kenapa memutuskan berhenti merantau dan kembali ke kampung halaman?
Meski demikian ilmu baru dari si bapak, mengingatkanku akan salah satu hikmah yang kubaca dari sebuah buku :
" Pergilah merantau untuk mencari kemuliaan karena dalam perjalanan itu ada lima kegunaan, yaitu : menghilangkan kesedihan, mendapatkan penghidupan, mendapatkan ilmu, mengagungkan jiwa dan dapat bergaul dengan banyak orang " ( Imam Syafi'i)
Hmmm nampaknya perjalananku keluar rumah pagi ini mengajariku untuk belajar tentang ilmu merantau dari bapak kusir delman. hatur nuhun bapak... :-)
* Sebuah persembahan kecil untuk teman-teman yang sedang merantau dan ditinggal merantau, semoga tetap semangat dan terus bersabar:-) *
Jumat, 29 Januari 2010
Batas Hidup dan Mati itu Teramat Tipis
Ketika kematian terasa begitu dekat, begitu aku gambarkan pengalaman cuci darahku hari ini. Meski sudah lebih dari 400 kali menjalani cuci darah tak berati aku sudah resisten dengan kondisi drop yang kadang unpredictable. Meski sejak dimulai jam 12 siang tadi sudah ada rambu-rambu untukku agar berhati-hati, tensi awalku 110 / 70 dengan hb 8,2 , penarikan cairan di atas 3,5 kg, sebuah kondisi tak ideal bagi pasien yang akan memulai cuci darah. Resiko dehidrasi, dropnya tekanan darah, dropnya gula darah dan jantung berdebar sangat mungkin terjadi. Tapi tidak terlalu kuhiraukan, insya Allah kuat, begitu keyakinanku
Kulewati dua jam pertamaku dengan baik, sangat baik malah, aku masih menghabiskan sepiring nasi campur, ngemil kue, masih sempet baca dan buka facebook. Masih sempet ngobrol seru dengan temen yang kebetulan datang menengok. Masih sempet ngerumpi dengan temen cuci darah yang tidur di ranjang sebelah. Malah sedang minta tolong dibelikan ubi dan singkong rebus, untuk ngemil. Namun sekitar jam 3 sore sesaat setelah membalas comment di facebook, tiba-tiba sesuatu terjadi...
Kakiku kram, aku tahu itu tanda-tanda dehidrasi, kupanggil perawat, kuminta menurunkan tarikan cairan dan kecepatan putaran darah. Itu salah satu cara untuk menurunkan resiko drop akibat dehoidrasi. Namun tidak sampai lima menit tiba-tiba pandanganku kabur, aku tahu pasti ini tanda tensi darahku drop
"bu minta di tensi, limbung" ujarku pada perawat yang masih berdiri di sampingku
Seorang perawat lain sigap memasangkan alat tensi di tanganku,
" tidak teraba " ujarnya, aku berusaha tenang. Tidak teraba artinya tensiku sangat rendah sampai tak terbaca oleh alat tensi. Mataku memaksa menutup, tapi kukuatkan diriku untuk terus membuka mataku, kupaksakan diriku untuk tetap dalam kondisi sadar dan terjaga...
"bu tolong carikan permen di tas saya, atau apapaun yang manis-manis, saya udah ga kuat " ujarku setengah menjerit,tensiku masih belum terbaca, kupaksakan memasukan biskuit yang disuapi oleh ibu perawat, meski tak ada tenaga untuk itu.
Proses cuci darahku langsung dihentikan .Jiwaku serasa melayang, aku sudah pasrah meski terus berusaha bertahan. Aku harus kuat, meski aku tersadar batas hidup dan mati teramat tipis saat itu. Kukatakan pada diriku, ayo naikan tensi darahnya. Meski di sisi lain aku juga berusaha terus berdzikir, berpikir barangkali itu saat terakhir hidupku. Aku hanya bisa berharap semoga menjadi akhir yang baik...
Masih dalam rangka terus berusaha, kupaksakan minum segelas teh manis hangat meski mataku sudah tak mampu membuka. Begitu banyak yang mengerubungi ranjangku, mereka juga tampak panik. Kata mereka bibirku sudah putih dan kelopak mataku sudah menghitam. Alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan hidup, perawat menyuntikan glukosa ke tubuhku sambil tak henti terus kukunyah makanan-makanan manis, dari mulai kue, ubi, biskuit, sampai gula merah, yang cukup membantu kenaikan kadar gula darahku. tensiku mulai terbaca 50 untuk tekanan sistole, rendah dan sangat rendah. Tekanan darah ideal adalah 120. aku masih merasa melayang tapi mataku sudah mulai membuka. Selang oksigen mulai dipasangkan ke hidungku, pandanganku mulai sedikit terang. Perlahan-lahan ekanan darahku mulai merambat naik ke angka 110.
Alhamdulillah aku hidup dan bertahan. Aku bisa pulang ke rumah meski harus banyak istirahat. tentu itu semua atas Kuasa Allah. Aku merasa seperti baru saja melewati jembatan pembatas kehidupan dan kematian. Terima kasih untuk para perawat yang begitu sigap, juga teman-teman cuci darahku atas support yang luar biasa.
Sore ini ketika kulangkahkan kakiku memasuki rumahku, kukatakan pada diriku, Allah kembali memberiku kesempatan hidup, semoga aku bisa memanfaatkannya dengan baik. Subhanallah, hari ini Allah mengingatkanku tentang batas hidup dan mati yang ternyata teramat tipis....
Semoga memberi hikmah....
Wallahu alam bi showab....
Kulewati dua jam pertamaku dengan baik, sangat baik malah, aku masih menghabiskan sepiring nasi campur, ngemil kue, masih sempet baca dan buka facebook. Masih sempet ngobrol seru dengan temen yang kebetulan datang menengok. Masih sempet ngerumpi dengan temen cuci darah yang tidur di ranjang sebelah. Malah sedang minta tolong dibelikan ubi dan singkong rebus, untuk ngemil. Namun sekitar jam 3 sore sesaat setelah membalas comment di facebook, tiba-tiba sesuatu terjadi...
Kakiku kram, aku tahu itu tanda-tanda dehidrasi, kupanggil perawat, kuminta menurunkan tarikan cairan dan kecepatan putaran darah. Itu salah satu cara untuk menurunkan resiko drop akibat dehoidrasi. Namun tidak sampai lima menit tiba-tiba pandanganku kabur, aku tahu pasti ini tanda tensi darahku drop
"bu minta di tensi, limbung" ujarku pada perawat yang masih berdiri di sampingku
Seorang perawat lain sigap memasangkan alat tensi di tanganku,
" tidak teraba " ujarnya, aku berusaha tenang. Tidak teraba artinya tensiku sangat rendah sampai tak terbaca oleh alat tensi. Mataku memaksa menutup, tapi kukuatkan diriku untuk terus membuka mataku, kupaksakan diriku untuk tetap dalam kondisi sadar dan terjaga...
"bu tolong carikan permen di tas saya, atau apapaun yang manis-manis, saya udah ga kuat " ujarku setengah menjerit,tensiku masih belum terbaca, kupaksakan memasukan biskuit yang disuapi oleh ibu perawat, meski tak ada tenaga untuk itu.
Proses cuci darahku langsung dihentikan .Jiwaku serasa melayang, aku sudah pasrah meski terus berusaha bertahan. Aku harus kuat, meski aku tersadar batas hidup dan mati teramat tipis saat itu. Kukatakan pada diriku, ayo naikan tensi darahnya. Meski di sisi lain aku juga berusaha terus berdzikir, berpikir barangkali itu saat terakhir hidupku. Aku hanya bisa berharap semoga menjadi akhir yang baik...
Masih dalam rangka terus berusaha, kupaksakan minum segelas teh manis hangat meski mataku sudah tak mampu membuka. Begitu banyak yang mengerubungi ranjangku, mereka juga tampak panik. Kata mereka bibirku sudah putih dan kelopak mataku sudah menghitam. Alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan hidup, perawat menyuntikan glukosa ke tubuhku sambil tak henti terus kukunyah makanan-makanan manis, dari mulai kue, ubi, biskuit, sampai gula merah, yang cukup membantu kenaikan kadar gula darahku. tensiku mulai terbaca 50 untuk tekanan sistole, rendah dan sangat rendah. Tekanan darah ideal adalah 120. aku masih merasa melayang tapi mataku sudah mulai membuka. Selang oksigen mulai dipasangkan ke hidungku, pandanganku mulai sedikit terang. Perlahan-lahan ekanan darahku mulai merambat naik ke angka 110.
Alhamdulillah aku hidup dan bertahan. Aku bisa pulang ke rumah meski harus banyak istirahat. tentu itu semua atas Kuasa Allah. Aku merasa seperti baru saja melewati jembatan pembatas kehidupan dan kematian. Terima kasih untuk para perawat yang begitu sigap, juga teman-teman cuci darahku atas support yang luar biasa.
Sore ini ketika kulangkahkan kakiku memasuki rumahku, kukatakan pada diriku, Allah kembali memberiku kesempatan hidup, semoga aku bisa memanfaatkannya dengan baik. Subhanallah, hari ini Allah mengingatkanku tentang batas hidup dan mati yang ternyata teramat tipis....
Semoga memberi hikmah....
Wallahu alam bi showab....
Sabtu, 23 Januari 2010
Ibadah Haji sambil Cuci Darah? Bukan Masalah...
“Mi tolong bantu Abu berdoa, Abu harus bisa menunaikan rukun Islam yang ke-5 sebelum Abu meninggal“ begitu kalimat pendek yang disampaikan Pak Pudjo Waluyo kepada istrinya setelah dinyatakan menderita penyakit gagal ginjal dan harus cuci darah di Bulan Desember 2005. Lelaki berusia 49 tahun yang akrab dipanggil Abu ini begitu berkeinginan kuat untuk menunaikan ibadah haji meski kondisinya tidak memungkinkan. Selain kondisi kesehatannya yang tidak baik, kondisi perekonomian yang tidak mendukung, juga berat meninggalkan anaknya masih kecil-kecil “Anak saya 7 orang yang terbesar masih SMA yang terkecil sekarang umur 3 tahun” begitu ujar Pak Pudjo di sela-sela cuci darahnyanya di RSKG Habibie Bandung Kamis sore itu. Berbekal tekad yang kuat dan keyakinan akan Kuasa Allah, Pak Pudjo dan istrinya memutuskan untuk mencari informasi mengenai ongkos naik haji ke sebuah bank BUMN pada tahun 2006 meskipun tak tahu darimana rizki itu akan datang. Dan siapa menyangka di Bulan Desember 2007, Allah benar-benar mengundang mereka berdua ke Baitullah dengan rizki dari arah yang tak disangka-sangka. “Alhamdulillah , ini betul-betul hadiah dari Allah buat kami, begitu banyak kemudahan yang Allah berikan “ berulang-ulang Pak Pudjo mengungkapkan rasa syukurnya.
Selepas Pak Pudjo menyelesaikan HDnya hari kamis sore itu, Bu Pudjo atau yang lebih akrab dipanggil Umi bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi pengalamannya menemani sang suami di Tanah Suci
“Jadwal cuci darah Abu di sini kan Senin Kamis, kami waktu itu berangkat dari Bandung hari Rabu sampai di Jakarta kami langsung mempersiapkan kembali untuk cuci darah di Jakarta sebelum naik pesawat menuju Madinah. Sampai di Madinah sekitar hari Jumat pagi, hal yang pertama saya lakukan adalah menhubungi dokter kloter dan ketua rombongan untuk mencari rumah sakit tempat suami saya bisa cuci darah. Akhirnya diperoleh informasi cuci darah dilaksanakan di kidney center RS King Fahd Madinah. Jadwal Abu di sana tetap Senin Kamis, alhamdulillah dimudahkan meski sempat ada kendala di awal karena kami hanya membawa Paspor, buku kesehatan dan travelling dialysis sementara hasil laboratorium bebas dari virus HIV dan hepatitis belum Abu miliki. Maka Abu diharuskan menjalani test hepatitis dan HIV, dan setelah dinyatakan sehat Abu baru boleh menjalani cuci darah di sana. Kami tidak dipungut biaya sepeserpun. Semua pelayanan kesehatan di sana memang gratis, termasuk ambulance yang mengantar dari rumah sakit menuju tempat menginap, meskipun tidak mudah mendapatkan ambulance itu karena selalu harus rebutan dengan orang lain. Selama 8 hari di Madinah Abu melaksanakan 3 kali cuci darah. Kondisi udara yang begitu dingin membuat persendian Abu menjadi kaku dan menyulitkannya berjalan maka akhirnya kami memutuskan membeli kursi roda untuk Abu”
“Dari Madinah selanjutnya menuju Mekkah, seperti biasa hal yang pertama saya pikirkan adalah dimana mencari tempat Abu bisa cuci darah, dan diperolehlah informasi bahwa tempatnya di kidney center RS An Nur Mekkah. Hasil lab di Madinah ternyata tidak bisa dipakai di Mekkah, maka Abu harus periksa Lab lagi di sana meski cuci darah tetap berjalan selama pemeriksaan Lab berlangsung. Di Mekkah Abu menjalani cuci darah 3 kali Seminggu yang biasanya dilakukan malam hari sehingga tidak mengganggu kegiatan di siiang harinya. Kami biasa berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat dan bahasa tubuh dengan para perawat. Tapi di Mekkah Alhamdulillah ada perawat asal Indonesia di sana jadi kami bisa lebih mudah berkomunikasi . Jarak dari rumah sakit ke hotel tempat menginap yang lebih dari 40 km bisa ditempuh dengan menggunakan taksi selama kurang lebih 15 menit. Cukup cepat memang karena jalannya lebar dan mobilnya ngebut-ngebut.
Menjelang Wukuf di Arafah kami mulai dihadapkan pada dua pilihan, Abu mengikuti safari wukuf (wukuf untuk orang sakit dengan menggunakan ambulance) atau ikut wukuf umum dengan syarat semua resiko yang terjadi pada Abu ditanggung sendiri. Yang sulit jika mengikuti safari wukuf saya dan Abu harus terpisah. Akhirnya kami memutuskan Abu mengikuti wukuf biasa setelah saya menandatangi berbagai surat kesepakatan dengan ketua rombongan, yang isinya jika ada apa-apa denga Abu saya tidak akan menuntut. Dan setelah itu mulailah perjuangan kami berdua melewati hari-hari penting dalam perjalanan haji kami. Kalau saja bukan karena pertolongan Allah badan saya mungkin sudah hancur, tak karuan rasanya. Saya harus terus siaga mendorong kursi roda Abu. Tak biasa dilupakan saat Sa’i saya harus berlari sambil terus mendorong kursi roda di jalan yang sangat sempit dengan diburu-buru oleh petugas. Kelelahan yang tak terbayang saya bisa menjalaninya. Saya memilih mendorong sendiri karena biaya menyewa petugas yang membantu mendorong terlalu mahal untuk kami. Tapi pertolongan dan kemudahan Allah kami dapatkan setiap waktu hingga akhirnya dengan segala perjuangan kami bisa menjalani seluruh rangkaian kegiatan ibadah haji. Dan Abu mengikuti semua tahapan tanpa diwakilkan meskipun ada beberapa tahapan haji yang boleh diwakilkan. Cuci darah Abu terakhir dilaksanakan di Mekkah sebelum kami ke Jeddah dan pulang ke Indonesia setelah 40 hari berada di arab Saudi”
Begitu detail dan tegas Umi menceritakan perjalanan haji bersama suaminya tercinta. Sebuah perjuangan yang tidak mudah tapi membawa banyak hikmah. Di penghujung pertemuan kami sore itu Pak Pudjo atau Abu mencoba memetik hikmah-hikmah besar dari perjalanan hajinya :
“ Hikmah perjalanan haji ini buat saya adalah bahwa Allah Maha Kuasa Atas segala sesuatu, tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak , sakit bukanlah suatu kendala jika kita yakin bahwa Allah menjaga kita. Dan Haji adalah sebuah evaluasi diri , jangan takut menjalaninya, karena Allah akan memberi kemudahan asal kita tidak pernah mempersulit orang lain. Dan tips saya untuk pasien-pasien HD yang akan beribadah haji, kuncinya cuma dua paham agama dan paham kondisi tubuh kita. Agar kita tahu apa yang harus kita lakukan selama disana dan itu sesuai dengan kondisi kesehatan kita. Dan sebaiknya ada pendamping yang memahami betul kondisi kita, insya Allah akan banyak kemudahan di sana jika kita yakin dengan pertolongan Allah. Selalu berfikir positif, bukankah Allah menurut persangkaan hamba-Nya?”
Demikian Pak Pudjo atau Abu menutup pembicaraan kami sore itu. Sebuah pembicaraan singkat yang penuh makna. Semoga pengalaman Pak Pudjo dan istrinya itu bisa memotivasi pasien-pasien cuci darah yang lain untuk tetap menggelorakan niat dan ikhtiarnya untuk beribadah haji. Karena ibadah haji bukanlah penghalang untuk cuci darah dan cuci darah bukan pula penghalang untuk beribadah haji. Ibadah haji sambil cuci darah? Tentu bukan masalah bagi kita karena kita tahu bahwa cuci darah tak menghalangi kita untuk melakukan yang terbaik bagi perjalanan kehidupan kita.
Wallahu a’lam bishowab
Selepas Pak Pudjo menyelesaikan HDnya hari kamis sore itu, Bu Pudjo atau yang lebih akrab dipanggil Umi bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi pengalamannya menemani sang suami di Tanah Suci
“Jadwal cuci darah Abu di sini kan Senin Kamis, kami waktu itu berangkat dari Bandung hari Rabu sampai di Jakarta kami langsung mempersiapkan kembali untuk cuci darah di Jakarta sebelum naik pesawat menuju Madinah. Sampai di Madinah sekitar hari Jumat pagi, hal yang pertama saya lakukan adalah menhubungi dokter kloter dan ketua rombongan untuk mencari rumah sakit tempat suami saya bisa cuci darah. Akhirnya diperoleh informasi cuci darah dilaksanakan di kidney center RS King Fahd Madinah. Jadwal Abu di sana tetap Senin Kamis, alhamdulillah dimudahkan meski sempat ada kendala di awal karena kami hanya membawa Paspor, buku kesehatan dan travelling dialysis sementara hasil laboratorium bebas dari virus HIV dan hepatitis belum Abu miliki. Maka Abu diharuskan menjalani test hepatitis dan HIV, dan setelah dinyatakan sehat Abu baru boleh menjalani cuci darah di sana. Kami tidak dipungut biaya sepeserpun. Semua pelayanan kesehatan di sana memang gratis, termasuk ambulance yang mengantar dari rumah sakit menuju tempat menginap, meskipun tidak mudah mendapatkan ambulance itu karena selalu harus rebutan dengan orang lain. Selama 8 hari di Madinah Abu melaksanakan 3 kali cuci darah. Kondisi udara yang begitu dingin membuat persendian Abu menjadi kaku dan menyulitkannya berjalan maka akhirnya kami memutuskan membeli kursi roda untuk Abu”
“Dari Madinah selanjutnya menuju Mekkah, seperti biasa hal yang pertama saya pikirkan adalah dimana mencari tempat Abu bisa cuci darah, dan diperolehlah informasi bahwa tempatnya di kidney center RS An Nur Mekkah. Hasil lab di Madinah ternyata tidak bisa dipakai di Mekkah, maka Abu harus periksa Lab lagi di sana meski cuci darah tetap berjalan selama pemeriksaan Lab berlangsung. Di Mekkah Abu menjalani cuci darah 3 kali Seminggu yang biasanya dilakukan malam hari sehingga tidak mengganggu kegiatan di siiang harinya. Kami biasa berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat dan bahasa tubuh dengan para perawat. Tapi di Mekkah Alhamdulillah ada perawat asal Indonesia di sana jadi kami bisa lebih mudah berkomunikasi . Jarak dari rumah sakit ke hotel tempat menginap yang lebih dari 40 km bisa ditempuh dengan menggunakan taksi selama kurang lebih 15 menit. Cukup cepat memang karena jalannya lebar dan mobilnya ngebut-ngebut.
Menjelang Wukuf di Arafah kami mulai dihadapkan pada dua pilihan, Abu mengikuti safari wukuf (wukuf untuk orang sakit dengan menggunakan ambulance) atau ikut wukuf umum dengan syarat semua resiko yang terjadi pada Abu ditanggung sendiri. Yang sulit jika mengikuti safari wukuf saya dan Abu harus terpisah. Akhirnya kami memutuskan Abu mengikuti wukuf biasa setelah saya menandatangi berbagai surat kesepakatan dengan ketua rombongan, yang isinya jika ada apa-apa denga Abu saya tidak akan menuntut. Dan setelah itu mulailah perjuangan kami berdua melewati hari-hari penting dalam perjalanan haji kami. Kalau saja bukan karena pertolongan Allah badan saya mungkin sudah hancur, tak karuan rasanya. Saya harus terus siaga mendorong kursi roda Abu. Tak biasa dilupakan saat Sa’i saya harus berlari sambil terus mendorong kursi roda di jalan yang sangat sempit dengan diburu-buru oleh petugas. Kelelahan yang tak terbayang saya bisa menjalaninya. Saya memilih mendorong sendiri karena biaya menyewa petugas yang membantu mendorong terlalu mahal untuk kami. Tapi pertolongan dan kemudahan Allah kami dapatkan setiap waktu hingga akhirnya dengan segala perjuangan kami bisa menjalani seluruh rangkaian kegiatan ibadah haji. Dan Abu mengikuti semua tahapan tanpa diwakilkan meskipun ada beberapa tahapan haji yang boleh diwakilkan. Cuci darah Abu terakhir dilaksanakan di Mekkah sebelum kami ke Jeddah dan pulang ke Indonesia setelah 40 hari berada di arab Saudi”
Begitu detail dan tegas Umi menceritakan perjalanan haji bersama suaminya tercinta. Sebuah perjuangan yang tidak mudah tapi membawa banyak hikmah. Di penghujung pertemuan kami sore itu Pak Pudjo atau Abu mencoba memetik hikmah-hikmah besar dari perjalanan hajinya :
“ Hikmah perjalanan haji ini buat saya adalah bahwa Allah Maha Kuasa Atas segala sesuatu, tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak , sakit bukanlah suatu kendala jika kita yakin bahwa Allah menjaga kita. Dan Haji adalah sebuah evaluasi diri , jangan takut menjalaninya, karena Allah akan memberi kemudahan asal kita tidak pernah mempersulit orang lain. Dan tips saya untuk pasien-pasien HD yang akan beribadah haji, kuncinya cuma dua paham agama dan paham kondisi tubuh kita. Agar kita tahu apa yang harus kita lakukan selama disana dan itu sesuai dengan kondisi kesehatan kita. Dan sebaiknya ada pendamping yang memahami betul kondisi kita, insya Allah akan banyak kemudahan di sana jika kita yakin dengan pertolongan Allah. Selalu berfikir positif, bukankah Allah menurut persangkaan hamba-Nya?”
Demikian Pak Pudjo atau Abu menutup pembicaraan kami sore itu. Sebuah pembicaraan singkat yang penuh makna. Semoga pengalaman Pak Pudjo dan istrinya itu bisa memotivasi pasien-pasien cuci darah yang lain untuk tetap menggelorakan niat dan ikhtiarnya untuk beribadah haji. Karena ibadah haji bukanlah penghalang untuk cuci darah dan cuci darah bukan pula penghalang untuk beribadah haji. Ibadah haji sambil cuci darah? Tentu bukan masalah bagi kita karena kita tahu bahwa cuci darah tak menghalangi kita untuk melakukan yang terbaik bagi perjalanan kehidupan kita.
Wallahu a’lam bishowab
Rabu, 20 Januari 2010
Serasa Makan Pake Kecap
Gadis kecil itu namanya Lutfia Naziefatusyalisya, aku biasa memanggilnya Upril atau Latipem. Usianya sekarang 5 tahun. Gadis kecilku itu pernah memberi nama ayam kesayangannya dengan namaku, alasannya “Biar kalau aku kangen tante, aku tinggal liatin aja ayam itu” he he. Ia cukup ekspresif menyampaikan apa yang dirasakannya. Ada kalanya aku tertegun oleh kalimat-kalimat tak terduga yang diucapkannya. Termasuk ketika ia menelponku sekedar ingin bilang “ Tante, aku tuh kangen banget sama tante, tante suka kangen ga sih sama aku?” :-)
Namun diantara semua celotehnya yang menggemaskan, ada satu kalimat yang selalu mengingatkanku padanya. Kalimat yang cukup sering disampaikannya berulang-ulang yaitu “aku senang deh, serasa makan pake hesyaap”. Ya, serasa makan pake kecap, begitulah Latipemku memaknai kebahagiaanya. Seenak apapun makanan yang dia makan, semahal dan sebagus apapun boneka yang dia dapat tak akan ada yang mampu menjatuhkan pesona makan dengan kecap di matanya. Setiap kali dia makan dengan kecap dipiringnya, saat itulah dia akan menganggap betapa enaknya makanan itu, tak peduli apapun lauknya.
Maka Senin pagi kemarin, terinspirasi dari gadis kecilku itu, kutantang diriku untuk menikmati makanan yang tak pernah bisa kunikmati sepanjang hidupku. Ketoprak. Bau bawang putih mentahnya yang menyengat selalu mampu menghalangiku untuk menikmati makanan itu karena dulu waktu kecil, aku pernah memakannya dan muntah. Tapi hari itu, aku bertekad untuk menaklukannya, menikmati sepiring ketoprak untuk pertama kalinya seumur hidupku. Dengan filosopi gadis kecilku kucoba taklukan makanan itu. Pertama, kukatakan pada diriku ketoprak itu enak. Kemudian kuperhatikan isi ketoprak itu, lontong, tahu goreng, tauge, mentimun, bihun, bumbu kacang semuanya aku suka, hanya satu yang tidak kusuka dari makanan itu, bau bawang putih mentahnya. Ok, aku bisa belajar mengubah pola pikirku, lupakan bawang putih itu, nikmati bahan-bahan lain yang aku suka, terutama bumbu kacangnya. Aku belajar menikmati kehadiran bumbu kacang itu, seperti Latipemku menikmati kehadiran kecap dalam makanannya.
Dan sukseslah aku hari itu, kuhabiskan sepiring penuh ketoprak berbau bawah putih mentah yang menyengat itu. Sungguh, aku tak pernah bisa melakukan itu sebelumnya. Meski bukan tanpa resiko, setelahnya aku mulai mencium kembali bau bawang putih itu. Hmmm…sepertinya ke depannya aku punya ide bagus, memesan ketoprak tanpa bawang putih…boleh kan? He he
Ya begitulah, ketika kita ingin menikmati kehidupan, berfikirlah positif tentang hidup. Pikirkan hal-hal yang membuat kita bahagia, seperti Latipemku selalu menikmati kecap dalam makanannya, hanya kecap, sesuatu yang kadang tak pernah kita sadari kehadirannya sebagai penyedap makanan kita, tapi bagi gadis kecilku, makan dengan kecap adalah segalanya. Dan lupakan hal-hal yang membuat kita terluka, nikmati ketoprak dan lupakan aroma bawang putih itu. Lupakan satu bagian hidup yang tidak kita sukai dan syukurilah sekian bagian hidup lain yang kita sukai. Jangan hancurkan hidup hanya karena merasa Allah tak mengabulkan satu doa kita padahal Allah telah berikan berjuta kenikmatan yang lain yang kadang lupa kita syukuri.
Ya, dari gadis kecilku itulah aku belajar satu bagian kecil dari kehidupan. Nikmati hidup dengan bersyukur, sekecil apapun nikmat yang Allah beri, bahkan kenikmatan setetes kecap pada makanan kita. Karena hidup itu akan bermakna jika kita mampu mensyukurinya. Mari jadikan hidup kita indah agar kita senantiasa bisa berujar seperti Latipem saat ditanya tentang perasaannya “aku senang deh, serasa makan pake kecap”. Hmmmm. Mampukah kita?
Wallahu a’lam bi showab…
Namun diantara semua celotehnya yang menggemaskan, ada satu kalimat yang selalu mengingatkanku padanya. Kalimat yang cukup sering disampaikannya berulang-ulang yaitu “aku senang deh, serasa makan pake hesyaap”. Ya, serasa makan pake kecap, begitulah Latipemku memaknai kebahagiaanya. Seenak apapun makanan yang dia makan, semahal dan sebagus apapun boneka yang dia dapat tak akan ada yang mampu menjatuhkan pesona makan dengan kecap di matanya. Setiap kali dia makan dengan kecap dipiringnya, saat itulah dia akan menganggap betapa enaknya makanan itu, tak peduli apapun lauknya.
Maka Senin pagi kemarin, terinspirasi dari gadis kecilku itu, kutantang diriku untuk menikmati makanan yang tak pernah bisa kunikmati sepanjang hidupku. Ketoprak. Bau bawang putih mentahnya yang menyengat selalu mampu menghalangiku untuk menikmati makanan itu karena dulu waktu kecil, aku pernah memakannya dan muntah. Tapi hari itu, aku bertekad untuk menaklukannya, menikmati sepiring ketoprak untuk pertama kalinya seumur hidupku. Dengan filosopi gadis kecilku kucoba taklukan makanan itu. Pertama, kukatakan pada diriku ketoprak itu enak. Kemudian kuperhatikan isi ketoprak itu, lontong, tahu goreng, tauge, mentimun, bihun, bumbu kacang semuanya aku suka, hanya satu yang tidak kusuka dari makanan itu, bau bawang putih mentahnya. Ok, aku bisa belajar mengubah pola pikirku, lupakan bawang putih itu, nikmati bahan-bahan lain yang aku suka, terutama bumbu kacangnya. Aku belajar menikmati kehadiran bumbu kacang itu, seperti Latipemku menikmati kehadiran kecap dalam makanannya.
Dan sukseslah aku hari itu, kuhabiskan sepiring penuh ketoprak berbau bawah putih mentah yang menyengat itu. Sungguh, aku tak pernah bisa melakukan itu sebelumnya. Meski bukan tanpa resiko, setelahnya aku mulai mencium kembali bau bawang putih itu. Hmmm…sepertinya ke depannya aku punya ide bagus, memesan ketoprak tanpa bawang putih…boleh kan? He he
Ya begitulah, ketika kita ingin menikmati kehidupan, berfikirlah positif tentang hidup. Pikirkan hal-hal yang membuat kita bahagia, seperti Latipemku selalu menikmati kecap dalam makanannya, hanya kecap, sesuatu yang kadang tak pernah kita sadari kehadirannya sebagai penyedap makanan kita, tapi bagi gadis kecilku, makan dengan kecap adalah segalanya. Dan lupakan hal-hal yang membuat kita terluka, nikmati ketoprak dan lupakan aroma bawang putih itu. Lupakan satu bagian hidup yang tidak kita sukai dan syukurilah sekian bagian hidup lain yang kita sukai. Jangan hancurkan hidup hanya karena merasa Allah tak mengabulkan satu doa kita padahal Allah telah berikan berjuta kenikmatan yang lain yang kadang lupa kita syukuri.
Ya, dari gadis kecilku itulah aku belajar satu bagian kecil dari kehidupan. Nikmati hidup dengan bersyukur, sekecil apapun nikmat yang Allah beri, bahkan kenikmatan setetes kecap pada makanan kita. Karena hidup itu akan bermakna jika kita mampu mensyukurinya. Mari jadikan hidup kita indah agar kita senantiasa bisa berujar seperti Latipem saat ditanya tentang perasaannya “aku senang deh, serasa makan pake kecap”. Hmmmm. Mampukah kita?
Wallahu a’lam bi showab…
Jumat, 15 Januari 2010
Sendiri itu Indah
Kesendirian adalah sesuatu antara aku dan Robbku
Kesendirian adalah ketika aku berlepas dari cinta selain cinta-Nya
Kesendirian adalah kehampaan
Kesendirian adalah kesepian
Tapi terkadang kesendirian adalah ketenangan
Aku mencari kesendirian
Ketika aku ingin menyepi dengan Robbku
Aku mengharap kesendirian
Ketika aku menyapa diriku sendiri
Aku membenci kesendirian
Ketika aku ingin berbagi suka dan duka
Dan aku menangisi kesendirian
Ketika aku merindukan kebersamaan dulu
Maka aku mendekap Robbku
Ketika kesendirian menghampiriku
Suatu hari aku bertemu dengan seorang teman lama, dia sudah menikah dan memiliki dua anak. Kami janjian ketemu di tempat kerjanya karena kebetulan aku ada urusan kesana. Kami berbicara panjang lebar, melepas kerinduan kami masing-masing. Di mataku dia sudah begitu sempurna sebagai wanita, punya suami yang mencintai, punya anak-anak yang menyejukkan hati, punya pekerjaan yang baik, punya rumah dan punya kendaraan. Sementara aku? Kabar baik apa yang bisa kusampaikan padanya tentangku? Belum ada bagian baru dari hidupku yang bisa aku kenalkan padanya.
Sesaat tenggorokanku tersekat, aku terkungkung dalam diam membayangkan betapa bahagianya jadi dia. Betapa indah hidupnya. Jika aku berada di posisinya aku pasti akan menjadi orang paling berbahagia di dunia. Aku tak perlu lagi mencari sumber kebahagiaan yang lain. Aku tertegun dan terus tertegun
Namun kemudian, semua bayanganku buyar, ketika tanpa kuduga tiba-tiba dia berujar
“Enak banget ya jadi kamu, bebas, bisa kemana-mana sendiri, kalau pengen ngumpul sama teman-teman tak perlu minta izin sama suami. Tak perlu mikirin permasalahan anak-anak yang bertumpuk. Sementara aku, mau pergi sebentar aja untuk menikmati hidupku sendiri kadang sulit, karena aku sudah terikat, kadang akau merindukan kesendirianku…”
Aku melongo mendengar kata-katanya, tak ada yang bisa kukatakan selain mengusap pundaknya sambil tersenyum. Tahukah dia kalau aku menginginkan semua yang dimilikinya? Tahukah dia kalau aku kadang terluka dengan kesendirianku.
Dan itulah manusia dengan segala keinginanya. Terkadang Allah memberi kita ujian hidup lewat keinginan-keinginan kita. Kita begitu ingin merasakan keindahan yang orang lain rasakan tanpa pernah mau menanggung permasalahannya. Kita selalu ingin mendapat kemudahan tapi tak pernah mau melewati proses sulit untuk mendapat kemudahan itu. Padahal Allah selalu menurunkan keindahan satu paket dengan ujiannya seperti Allah selalu menurunkan masalah satu paket dengan solusinya. Maka saat kita bertemu seseorang dan kita merasa tak berarti melihat kelebihan yang Allah berikan padanya, tahukah kita bahwa bisa jadi pada saat yang sama orang itu juga sedang merasa tak berarti melihat kelebihan pada diri kita yang kadang lupa kita syukuri?
Dan setelah pertemuan pagi itu, aku pulang menaiki bis kota, masih sendiri. Pertemuan singkat itu bermakna besar bagiku. Pertemuan yang membuatku tersadar untuk mulai mensyukuri kesendirianku, kesendirian yang kadang membuatku terluka.
Sendiri memberiku kebebasan memilih dan berkehendak. sendiri memberiku banyak inspirasi. Sendiri memberiku kesempatan untuk lebih kreatif, sendiri memberiku kesempatan lebih untuk bisa membahagiakan orang-orang yang kucintai. Sendiri memberiku lebih banyak waktu luang untuk berpikir tentang arah dan tujuan hidupku.Dan yang terpenting, sendiri memberiku banyak kesempatan untuk lebih mencintai Robbku.
Maka di perjalanan, saat seorang teman mengirimiku sms singkat
“Pulangnya sendiri ya? Hati-hati…….gimana kalau ada apa-apa dijalan?”
Kujawab dengan sangat yakin
“Kan ada Allah yang menjagaku…”
Aku tersenyum, masih sendiri, hanya ada aku dan Robbku di sana. Kukatakan pada diriku, betapa indahnya hidupku. Karena kesendirianku selalu memberi banyak ruang untuk aku bisa mendekap Robbku erat dan lebih erat. Bukankah sendiri itu indah jika kita bisa mensyukurinya?
Maka aku mendekap Robbku, ketika kesendirian menghampiriku
Wallahu a'lam bi showab...
Kesendirian adalah ketika aku berlepas dari cinta selain cinta-Nya
Kesendirian adalah kehampaan
Kesendirian adalah kesepian
Tapi terkadang kesendirian adalah ketenangan
Aku mencari kesendirian
Ketika aku ingin menyepi dengan Robbku
Aku mengharap kesendirian
Ketika aku menyapa diriku sendiri
Aku membenci kesendirian
Ketika aku ingin berbagi suka dan duka
Dan aku menangisi kesendirian
Ketika aku merindukan kebersamaan dulu
Maka aku mendekap Robbku
Ketika kesendirian menghampiriku
Suatu hari aku bertemu dengan seorang teman lama, dia sudah menikah dan memiliki dua anak. Kami janjian ketemu di tempat kerjanya karena kebetulan aku ada urusan kesana. Kami berbicara panjang lebar, melepas kerinduan kami masing-masing. Di mataku dia sudah begitu sempurna sebagai wanita, punya suami yang mencintai, punya anak-anak yang menyejukkan hati, punya pekerjaan yang baik, punya rumah dan punya kendaraan. Sementara aku? Kabar baik apa yang bisa kusampaikan padanya tentangku? Belum ada bagian baru dari hidupku yang bisa aku kenalkan padanya.
Sesaat tenggorokanku tersekat, aku terkungkung dalam diam membayangkan betapa bahagianya jadi dia. Betapa indah hidupnya. Jika aku berada di posisinya aku pasti akan menjadi orang paling berbahagia di dunia. Aku tak perlu lagi mencari sumber kebahagiaan yang lain. Aku tertegun dan terus tertegun
Namun kemudian, semua bayanganku buyar, ketika tanpa kuduga tiba-tiba dia berujar
“Enak banget ya jadi kamu, bebas, bisa kemana-mana sendiri, kalau pengen ngumpul sama teman-teman tak perlu minta izin sama suami. Tak perlu mikirin permasalahan anak-anak yang bertumpuk. Sementara aku, mau pergi sebentar aja untuk menikmati hidupku sendiri kadang sulit, karena aku sudah terikat, kadang akau merindukan kesendirianku…”
Aku melongo mendengar kata-katanya, tak ada yang bisa kukatakan selain mengusap pundaknya sambil tersenyum. Tahukah dia kalau aku menginginkan semua yang dimilikinya? Tahukah dia kalau aku kadang terluka dengan kesendirianku.
Dan itulah manusia dengan segala keinginanya. Terkadang Allah memberi kita ujian hidup lewat keinginan-keinginan kita. Kita begitu ingin merasakan keindahan yang orang lain rasakan tanpa pernah mau menanggung permasalahannya. Kita selalu ingin mendapat kemudahan tapi tak pernah mau melewati proses sulit untuk mendapat kemudahan itu. Padahal Allah selalu menurunkan keindahan satu paket dengan ujiannya seperti Allah selalu menurunkan masalah satu paket dengan solusinya. Maka saat kita bertemu seseorang dan kita merasa tak berarti melihat kelebihan yang Allah berikan padanya, tahukah kita bahwa bisa jadi pada saat yang sama orang itu juga sedang merasa tak berarti melihat kelebihan pada diri kita yang kadang lupa kita syukuri?
Dan setelah pertemuan pagi itu, aku pulang menaiki bis kota, masih sendiri. Pertemuan singkat itu bermakna besar bagiku. Pertemuan yang membuatku tersadar untuk mulai mensyukuri kesendirianku, kesendirian yang kadang membuatku terluka.
Sendiri memberiku kebebasan memilih dan berkehendak. sendiri memberiku banyak inspirasi. Sendiri memberiku kesempatan untuk lebih kreatif, sendiri memberiku kesempatan lebih untuk bisa membahagiakan orang-orang yang kucintai. Sendiri memberiku lebih banyak waktu luang untuk berpikir tentang arah dan tujuan hidupku.Dan yang terpenting, sendiri memberiku banyak kesempatan untuk lebih mencintai Robbku.
Maka di perjalanan, saat seorang teman mengirimiku sms singkat
“Pulangnya sendiri ya? Hati-hati…….gimana kalau ada apa-apa dijalan?”
Kujawab dengan sangat yakin
“Kan ada Allah yang menjagaku…”
Aku tersenyum, masih sendiri, hanya ada aku dan Robbku di sana. Kukatakan pada diriku, betapa indahnya hidupku. Karena kesendirianku selalu memberi banyak ruang untuk aku bisa mendekap Robbku erat dan lebih erat. Bukankah sendiri itu indah jika kita bisa mensyukurinya?
Maka aku mendekap Robbku, ketika kesendirian menghampiriku
Wallahu a'lam bi showab...
Sabtu, 09 Januari 2010
Bubur Kacang Hijau itu...
Pagi itu aku berjalan-jalan mengelilingi lapangan depan rumahku, dan berpapasan dengan tukang bubur kacang hijau. Sudah lebih dari 4 tahun aku melihat gerobak bubur itu mondar mandir di depan rumahku. Kubiarkan mang tukang bubur dan gerobak itu berlalu begitu saja dari pandanganku, aku memang tak pernah sekalipun berniat membelinya, karena aku tak boleh mengkonsumsi terlalu banyak bubur kacang akibat sakit ginjalku yang sudah kronis. Kandungan kalium dan fosfor nya yang tinggi tidak terlalu baik untuk kondisi tubuhku. Setelah tukang bubur dan gerobaknya itu berlalu, tiba-tiba aku begitu menginginkan bubur kacang itu.
Maka hari itu, yang ada di kepalaku cuma bubur kacang. Aku ingin bubur kacang itu. Sangat menginginkannya tepatnya. Aku tak peduli lagi pada kondisi tubuhku yang sedang tak nyaman. Kupaksakan diriku mencari bubur kacang, yang kuinginkan. Hingga akhirnya aku mendapatkannya. Dengan perasaan senang luar biasa kunikmati bubur kacang hasil perjuanganku, meski itu bukan bubur kacang si mang yang berjualan di depan rumahku. Aku begitu antusias pada suapan pertama, namun makin lama rasanya semakin tak enak, rupanya badanku tak menerima karena memang sedang tak cukup sehat, dan muntahlah aku.
Setelah itu aku tak lagi berpikir tentang bubur kacang, meski aku masih cukup penasaran dengan bubur kacang si Mang yang lewat di depan rumahku. Sudah lebih dari seminggu si mang tak berjualan, sejak aku berpapasan dengannya pagi itu. Sampai akhirnya ketika aku sudah benar-benar lupa dengan keinginanku untuk makan bubur kacang si Mang, lewatlah si Mang di depan rumahku pada waktu yang sangat tepat. Dia datang menjelang waktu terapi ku ke rumah sakit, itu artinya aku bisa menikmati bubur kacang itu dengan tenang, Karena menjelang terapi aku masih diperbolehkan makan makanan dengan kalium tinggi. Maka segera kupanggil Mang tukang bubur dan untuk pertama kalinya aku menikmati buburnya sejak 4 tahun terakhir. Kunikmati suapan demi suapan bubur kacang itu . Aku menikmatinya sampai habis tanpa mual, tanpa muntah dan tanpa sesak.
Begitulah, terkadang dalam kehidupan, sebuah keinginan membelenggu kita. Hingga kita merasa tak bahagia ketika keinginan itu belum kita penuhi. Kita lakukan berbagai cara untuk memenuhinya kendati harus memaksakan diri. Kita kecewa , terluka dan merasa tak dicinta ketika keinginan itu tak dipenuhi oleh Robb kita.
Tahukah kita bahwa Allah menunda keinginan kita karena suatu alasan yang hanya bisa kita pahami di kemudian hari. Allah tak akan memberi di saat yang tidak tepat. Allah tahu kapan kita membutuhkannya. Karena Allah adalah Sang Sutradara Kehidupan yang tak pernah salah memilihkan peran. Sang Sutradara yang tahu dengan pasti kapan sebuah lakon harus diperankan.
Sadarkah kita bahwa Allah hanya akan memberi di waktu yang tepat, di saat kita sudah benar-benar membutuhkannya. Dan sekali lagi Allah selalu punya alasan untuk itu, alasan yang tak pernah bisa terbantahkan di kemudian. Alasan yang pada akhirnya selalu membuat kita tertunduk malu, betapa kerdil kita di hadapan-Nya. Karena Allah Maha Tahu dan Allah Maha Kuasa untuk menjadikan segala sesuatu indah, nyaman dan aman pada waktunya…..
Wallahu a’lam bi showab
Maka hari itu, yang ada di kepalaku cuma bubur kacang. Aku ingin bubur kacang itu. Sangat menginginkannya tepatnya. Aku tak peduli lagi pada kondisi tubuhku yang sedang tak nyaman. Kupaksakan diriku mencari bubur kacang, yang kuinginkan. Hingga akhirnya aku mendapatkannya. Dengan perasaan senang luar biasa kunikmati bubur kacang hasil perjuanganku, meski itu bukan bubur kacang si mang yang berjualan di depan rumahku. Aku begitu antusias pada suapan pertama, namun makin lama rasanya semakin tak enak, rupanya badanku tak menerima karena memang sedang tak cukup sehat, dan muntahlah aku.
Setelah itu aku tak lagi berpikir tentang bubur kacang, meski aku masih cukup penasaran dengan bubur kacang si Mang yang lewat di depan rumahku. Sudah lebih dari seminggu si mang tak berjualan, sejak aku berpapasan dengannya pagi itu. Sampai akhirnya ketika aku sudah benar-benar lupa dengan keinginanku untuk makan bubur kacang si Mang, lewatlah si Mang di depan rumahku pada waktu yang sangat tepat. Dia datang menjelang waktu terapi ku ke rumah sakit, itu artinya aku bisa menikmati bubur kacang itu dengan tenang, Karena menjelang terapi aku masih diperbolehkan makan makanan dengan kalium tinggi. Maka segera kupanggil Mang tukang bubur dan untuk pertama kalinya aku menikmati buburnya sejak 4 tahun terakhir. Kunikmati suapan demi suapan bubur kacang itu . Aku menikmatinya sampai habis tanpa mual, tanpa muntah dan tanpa sesak.
Begitulah, terkadang dalam kehidupan, sebuah keinginan membelenggu kita. Hingga kita merasa tak bahagia ketika keinginan itu belum kita penuhi. Kita lakukan berbagai cara untuk memenuhinya kendati harus memaksakan diri. Kita kecewa , terluka dan merasa tak dicinta ketika keinginan itu tak dipenuhi oleh Robb kita.
Tahukah kita bahwa Allah menunda keinginan kita karena suatu alasan yang hanya bisa kita pahami di kemudian hari. Allah tak akan memberi di saat yang tidak tepat. Allah tahu kapan kita membutuhkannya. Karena Allah adalah Sang Sutradara Kehidupan yang tak pernah salah memilihkan peran. Sang Sutradara yang tahu dengan pasti kapan sebuah lakon harus diperankan.
Sadarkah kita bahwa Allah hanya akan memberi di waktu yang tepat, di saat kita sudah benar-benar membutuhkannya. Dan sekali lagi Allah selalu punya alasan untuk itu, alasan yang tak pernah bisa terbantahkan di kemudian. Alasan yang pada akhirnya selalu membuat kita tertunduk malu, betapa kerdil kita di hadapan-Nya. Karena Allah Maha Tahu dan Allah Maha Kuasa untuk menjadikan segala sesuatu indah, nyaman dan aman pada waktunya…..
Wallahu a’lam bi showab
Langganan:
Postingan (Atom)