Kamis, 26 Mei 2011

Semut Dalam Toples Gula

Semut hitam itu bahagia luar biasa, di hadapannya berdiri kokoh sebuah toples plastic tinggi transparan yang harus ditaklukannya dengan segera. Tanpa berpikir panjang, semut hitam itupun segera memanjat dinding toples. Tak butuh perjuangan berat, dinding toples yang tak licin memudahkannya untuk mencapai puncak. Dan yang terpenting, tutup toples tergeletak tak berdaya ddi samping toples….ah sebuah pertanda baik bagi si semut hitam, tak ada yang menghalangnya untuk menggapai keinginannya, berpesta pora di dalam toples cantik itu.



Ya, semut hitam itu bahagia luar biasa. Sesampainya di puncak, segera ia menjatuhkan diridengan bahagia di atas bongkahan batu Kristal bening beraroma manis itu. Bongkahan itu adalah hal paling diinginkan si semut hitam dalam hidupnya, unsure terpenting dalam bongkahan itu adalah unsure terpenting dalam hidupnya, Semut hitam mencarinya setiap saat, itulah inginnya, itulah kebutuhannya, itulah mimpinya dan itulah harapnya. Bongkahan kristal bening beraroma manis itu adalah gula.



Gula oh gula dan semut hitam pun berpesta di dalamnya. Ia merasa telah menemukan sumber kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Dan oouuw…ternyata bukan hanya dia yang berpesta, sudah ada beberapa ekor semut lain yang juga tengah berpesta, bahkan ada beberapa diantaranya tampak mabuk kepayang. Semut hitam itupun berusaha menyusup ke bagian yang lebih dalam , rasanya kebahagiannya akan bertambah sangat jika ia bias tidur berselimutkan gula. Namun baru beberapa saat ia masuk, tampak olehnya beberapa teman-temannya terkulai lemas di dalam tumpukkan bongkahan gula, bahkan beberapa sudah mati tertimbun bongkahan gula. Maka dengan segera ia mengambil keputusan mundur, Ia harus keluar segera dari tumpukan sumber kebahagiaaan terbesar dalam hidupnya. Namun keputusannya terlambat karena tanpa ia sadari ternyata tutup toples telah bertengger kembali di tmpatnya. Toples gula tertutup rapat dan semut hitam masih berada di dalamnya. Ia berjuang untuk hidup dalam tumpukan gula yang diinginkannya, Ia menemui kematiannya di dalam tumpukkan mimpinya.



Ada gula ada semut. Seperti itu pulalah hidup kita. Kita mengejar hal-hal yang paling kita inginkan dalam hidup…harta, tahta dan wanita. Ya, uang, kekuasaan dan cinta, tiga hal itulah yang dipersepsikan sebagai sumber kebahagiaan terbesar hidup kita. Konsep korelasi yang dibangun pun adalah konsep korelasi positif , yaitu semakin banyak ketiga unsur itu dalam hidup kita maka akan semakin bahagialah kita. Benarkah demikian? Rasanya dari kisah semut hitam dalam toples gula ini kita bisa belajar bahwa konsep korelasi positif diatas perlu dipertimbangkan. Tak selamanya semakin “banyak” akan semakin bahagia, ada kalanya semakin “banyak” malah membunuh kebahagiaan itu sendiri.



Ya, dari kisah semut dalam toples gula rasanya kita perlu belajar untuk menggeser konsep “banyak” menjadi berkah dalam doa dan harap kita. Mari mohon rizki yang berkah bukan rizki banyak, mari minta umur yang berkah bukan umur yang panjang dan mari kita berharap kehidupan yang berkah dan bukan kehidupan yang serba berlebihan. Bukankah kita tidak ingin seperti semut hitam yang mati dalam toples gula?