Pagi ini, seorang teman berbagi cerita tentang kehamilan pertamanya yang menginjak usia 2 bulan dan mulai mengalami ngidam....tiba-tiba pikiran saya melayang pada kisah-kisah beberapa teman dan saudara yang yang mengalami ngidam dari mulai yang ringan-ringan sampai yang tak masuk akal.
Ada yang mual muntah kalau berdekatan sama suaminya, ada yang ingin makan mangga curian, ada yang pengen makan surabi tengah hari saat bulan ramadhan bahkan ada salah satu saudara saya yang ngidam makan sama aspal panas.
Makan sama aspal panas? Bagaimana caranya? Kalau dipikir logika rasanya tak mungkin makan sama aspal panas. Tapi mitos bahwa permintaan orang ngidam harus dipenuhi telah membuat keluarga berusaha memikirkan cara paling masuk akal untuk memenuhi permintaan itu. Akhirnya dengan berbagai usaha didapatlah jalan sebagai berikut :
1. Mintalah sepiring aspal panas pada mandor proyek yang sedang menangani perbaikan jalan raya di depan kompleks rumah meskipun harus memohon
2. Simpanlah piring berisi aspal yang masih mengpul asapnya itu diatas meja makan, tutuplah dengan tudung saji
3. Pastikan asap aspal panas masih mengepul melalui lubang-lubang tudung saji
4. Biarkan sang ibu hamil mengepal nasi, memegangnya di atas tudung saji dan pastikan terkena asap aspal panas, setelah yakin nasi itu sudah beraroma aspal maka biarkan ibu hamil itu memakannya
5. Maka tunailah sudah kewajiban keluarga terhadap ibu hamil yang sedang ngidam itu he he he..^_^
Ya, konon keinginan ngidam ibu hamil harus dipenuhi karena akan berpengaruh terhadap perkembangan sang buah hati. Tapi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ngidam atau tidaknya ibu hamil dan seberapa parah tingkat ngidamnya sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis si ibu hamil. Semakin baik kondisi psikologisnya semakin kecil peluang untuk ngidam yang aneh-aneh.
Untuk para psikolog, dokter, para ibu, ayah, calon ibu, dan calon ayah...ada yang mau berpendapat atau berbagi pengalaman? Semoga menjadi masukan berarti bagi yang masih bingung dan belum berpengalaman seperti saya he he
Wallahu a'lam bi showab
Jumat, 24 April 2009
Senin, 20 April 2009
Kakasih Gulmer
SPL HIMASTA UNPAD, Jatinangor 1998
“Kabut masih menyelimuti langit jatinangor pagi itu, aku sudah berlari bersama teman-temanku “pecinta satistika” melewati “tanjakan baeud” sambil membawa bekal roti Rp. 500 yang dibeli di “toko yanto” atau “sabar subur”. Tanjakan baeud...jalan mendaki di gerbang Universitas Padjadjaran Jatinangor memang selalu membuat orang yang melewatinya “baeud” alias “bete. Diantara kami yang berlari tak ada satupun yang tersenyum saat itu...yang terbayang di benak kami hanya suara bentakkan panitia yang siap memerahkan telinga kami beberapa saat lagi...
Bukan hanya panitia yang harus kami hadapi saat itu...tapi juga para “senior mahagalak” yang bentakannya bukan hanya memerahkan tapi memekakkan telinga. Namun ada kalanya hati para senior itu tiba-tiba menjadi lembut dan full smile...seperti yang terjadi pagi itu...
“Siapa diantara kalian yang orang sunda asli? Cepat berkumpul...memisahkan diri !!!!!!”
Aku dan beberapa orang lain yang merasa diri asli sunda segera memisahkan diri....
“Kieu nya, akang bade naros...saha kakasih teh?”
Ditanya siapa kakasih tentu membuat kami semua tersipu. Tak ada yang menjawab. Dalam pikiran kami saat itu kakasih berarti kekasih atau pacar. Karena tak ada satupun yang menjawab maka kami dipanggil satu persatu...
ada yang masih tersipu......
ada yang menjawab dengan menyebut nama pacarnya......
ada yang diam dan bete.....
sampai ada yang menjawab “teu...gaduh”
mendengar ada yang menjawab teu gaduh alias tidak punya kontan seluruh senior tertawa...kami heran
“ masa ngga punya kakasih, ngga mungkin...., tahu ngga kakasih artinya apa?”
Kami makin tersipu
“dalam bahasa sunda kakasih itu artinya nama...masa kamu ngga punya nama.....”
Dan kami semua tersenyum menyadari itu he he he
Lain lagi cerita sahabatku ...masih di kegiatan yang sama di hari yang lain...Saat itu pengumpulan tugas barang-barang , para senior menyebutkan barang-barang yang harus dibawa....dan para peserta harus mengumpulkannya ke depan.
“Kacang hijau.........”
Kami mengangkat plastik berisi kacang hijau...setelah yakin semua peserta membawa...baru kacang hijau dikumpulkan ke depan....
“Gula Merah...”
Ternyata gula merah milik sahabatku hilang dari dalam tasnya...ia begitu gelisah mencari gula merahnya. Karena tak juga ketemu sahabatku menjadi “kandidat terhukum” karena melakukan kesalahan. Entah karena takut dengan hukuman atau karena merasa yakin gula merahnya masih ada, sahabatku itu..terus mencari gula merahnya.......maka disaat kami sudah santai dia masih berjuang mencari gula merahnya. Dan perjuangannya tidak sia-sia...disaat suasana ruangan sedang hening karena senior sedang mendiskusikan hukuman untuk yang melakukan kesalahan, sahabatku berteriak dengan semangat 45 sambil mengangkat gula merahnya tinggi-tinggi
“kang...gula merahnya ketemu.....”
Maka sang senior pun dengan santai berkata....
“ Mulai sekarang kamu saya panggil si Gulmer” he he he....
Itulah sekelumit kisahku dalam Study Pengenalan Lapangan(SPL) yang harus kulalui seminggu sekali untuk bisa lulus menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Statistika (HIMASTA) UNPAD....Saat menjalaninya SPL selalu menjadi bagian yang tak menyenangkan bagiku, tapi mau tak mau tetap harus kulewati sebagai konsekuensi dari keinginanku untuk bisa diterima di lingkungan baruku.
Dan SPL yang tak menyenangkan ternyata tak selamanya tak menyenangkan ada kalanya saat tak menyenangkan bisa menjadi begitu indah ketika kita bisa menikmatinya. Seperti ketika kami menikmati kisah tentang “kakasih gulmer”
Saat-saat tak menyenangkan.....tentu tak ada orang yang menginginkannya...tapi saat-saat tak menyenangkan selalu mampu membangkitkan semangat dan optimisme baru. Bukankan kelulusan baru akan diraih jika kita telah melewati ujian yang notabene tidak menyenangkan?
Jadi...saat kita mengalami saat-saat tak menyenangkan....nikmatilah.....
“Nikmati kesedihan seperti kamu menikmati kebahagiaan”
“Nikmati kesendirian seperti kamu menikmati kebersamaan”
“Nikmati kecewaanmu seperti kamu menikmati kepuasan”
“Nikmati kesulitan seperti kamu menikmati kemudahan” dan
“Nikmatilah ketidaknyaman seperti kamu menikmati kenyaman”
Semoga dengan demikian....
Kita termasuk pada golongan orang-orang yang bersyukur....
Wallahu a’lam bishowab...
“Kabut masih menyelimuti langit jatinangor pagi itu, aku sudah berlari bersama teman-temanku “pecinta satistika” melewati “tanjakan baeud” sambil membawa bekal roti Rp. 500 yang dibeli di “toko yanto” atau “sabar subur”. Tanjakan baeud...jalan mendaki di gerbang Universitas Padjadjaran Jatinangor memang selalu membuat orang yang melewatinya “baeud” alias “bete. Diantara kami yang berlari tak ada satupun yang tersenyum saat itu...yang terbayang di benak kami hanya suara bentakkan panitia yang siap memerahkan telinga kami beberapa saat lagi...
Bukan hanya panitia yang harus kami hadapi saat itu...tapi juga para “senior mahagalak” yang bentakannya bukan hanya memerahkan tapi memekakkan telinga. Namun ada kalanya hati para senior itu tiba-tiba menjadi lembut dan full smile...seperti yang terjadi pagi itu...
“Siapa diantara kalian yang orang sunda asli? Cepat berkumpul...memisahkan diri !!!!!!”
Aku dan beberapa orang lain yang merasa diri asli sunda segera memisahkan diri....
“Kieu nya, akang bade naros...saha kakasih teh?”
Ditanya siapa kakasih tentu membuat kami semua tersipu. Tak ada yang menjawab. Dalam pikiran kami saat itu kakasih berarti kekasih atau pacar. Karena tak ada satupun yang menjawab maka kami dipanggil satu persatu...
ada yang masih tersipu......
ada yang menjawab dengan menyebut nama pacarnya......
ada yang diam dan bete.....
sampai ada yang menjawab “teu...gaduh”
mendengar ada yang menjawab teu gaduh alias tidak punya kontan seluruh senior tertawa...kami heran
“ masa ngga punya kakasih, ngga mungkin...., tahu ngga kakasih artinya apa?”
Kami makin tersipu
“dalam bahasa sunda kakasih itu artinya nama...masa kamu ngga punya nama.....”
Dan kami semua tersenyum menyadari itu he he he
Lain lagi cerita sahabatku ...masih di kegiatan yang sama di hari yang lain...Saat itu pengumpulan tugas barang-barang , para senior menyebutkan barang-barang yang harus dibawa....dan para peserta harus mengumpulkannya ke depan.
“Kacang hijau.........”
Kami mengangkat plastik berisi kacang hijau...setelah yakin semua peserta membawa...baru kacang hijau dikumpulkan ke depan....
“Gula Merah...”
Ternyata gula merah milik sahabatku hilang dari dalam tasnya...ia begitu gelisah mencari gula merahnya. Karena tak juga ketemu sahabatku menjadi “kandidat terhukum” karena melakukan kesalahan. Entah karena takut dengan hukuman atau karena merasa yakin gula merahnya masih ada, sahabatku itu..terus mencari gula merahnya.......maka disaat kami sudah santai dia masih berjuang mencari gula merahnya. Dan perjuangannya tidak sia-sia...disaat suasana ruangan sedang hening karena senior sedang mendiskusikan hukuman untuk yang melakukan kesalahan, sahabatku berteriak dengan semangat 45 sambil mengangkat gula merahnya tinggi-tinggi
“kang...gula merahnya ketemu.....”
Maka sang senior pun dengan santai berkata....
“ Mulai sekarang kamu saya panggil si Gulmer” he he he....
Itulah sekelumit kisahku dalam Study Pengenalan Lapangan(SPL) yang harus kulalui seminggu sekali untuk bisa lulus menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Statistika (HIMASTA) UNPAD....Saat menjalaninya SPL selalu menjadi bagian yang tak menyenangkan bagiku, tapi mau tak mau tetap harus kulewati sebagai konsekuensi dari keinginanku untuk bisa diterima di lingkungan baruku.
Dan SPL yang tak menyenangkan ternyata tak selamanya tak menyenangkan ada kalanya saat tak menyenangkan bisa menjadi begitu indah ketika kita bisa menikmatinya. Seperti ketika kami menikmati kisah tentang “kakasih gulmer”
Saat-saat tak menyenangkan.....tentu tak ada orang yang menginginkannya...tapi saat-saat tak menyenangkan selalu mampu membangkitkan semangat dan optimisme baru. Bukankan kelulusan baru akan diraih jika kita telah melewati ujian yang notabene tidak menyenangkan?
Jadi...saat kita mengalami saat-saat tak menyenangkan....nikmatilah.....
“Nikmati kesedihan seperti kamu menikmati kebahagiaan”
“Nikmati kesendirian seperti kamu menikmati kebersamaan”
“Nikmati kecewaanmu seperti kamu menikmati kepuasan”
“Nikmati kesulitan seperti kamu menikmati kemudahan” dan
“Nikmatilah ketidaknyaman seperti kamu menikmati kenyaman”
Semoga dengan demikian....
Kita termasuk pada golongan orang-orang yang bersyukur....
Wallahu a’lam bishowab...
Minggu, 19 April 2009
Belajar tentang Kejujuran
Kuningan, Agustus 1995
Menjadi siswa SMA negeri 2 Kuningan menjadi impianku sejak kecil. Rasanya tak percaya bisa memasuki sekolah yang konon ‘hanya diperuntukkan’ untuk anak-anak serius. Berbagai image positif dari masyarakat Kuningan memang begitu melekat pada siswa sekolah ini, saking positifnya sampai ada yang mengatakan “kalau melihat anak SMA pagi-pagi jalannya cepet, nunduk, bawa buku tebal, bajunya rapih dan sopan, mimik wajahnya serius, dapat dipastikan itu siswa SMA2” atau “ Masuk SMA 2 jaminan masuk PTN”. Berbagai kebanggaan menghampar luas di di hadapanku minggu pagi itu, hari pertama aku menginjakan kakiku di sekolah ini untuk acara orientasi pramuka siswa baru. Dengan baju pramuka lengkap dengan tongkat dan berbagai atributnya yang kukenakan, aku berjalan tenang sambil menebar senyum pada setiap orang yang kutemui sambil memasuki kelas 1-5. Di lapangan upacara para senior kami, yang biasa disebut bantara, sedang melaksanakan upacara penaikan bendera, tak ada satupun dari kami yang ikut merasakan khidmatnya upacara tersebut
“Ngiuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuung” suara sirine dari Toa mengagetkanku dan teman-teman baruku. Belum habis kekagetan kami dengan suara sirine....” de..ayo cepat-cepat kumpul di lapang perkelas” Bug....bug...bug suara pukulan di pintu kelasku bersahutan dengan suara sepatu dan tongkat kami yang saling beradu . Aku berlari sekuat tenaga, jantungku berdebar kencang, kuusahakan fikiranku tetap fokus meski rasanya sudah tak menentu. Kumasuki barisan kelas 1-5 di ujung lapangan dekat ring basket. Nafasku sudah kian teratur ketika kakak bantara berkumpul di depan barisan kelasku. Seorang bantara maju ke depan, tepat di depan barisan kelasku. “Ok...untuk kelas 1-5, siapa diantara kalian yang saat pengibaran bendera tadi tidak pada posisi hormat?” suaranya tak terlalu kencang, tapi cukup untuk membuat jantungku kembali berdegup. Aku sadar tak satupun dari kami pada posisi hormat saat pengibaran bendera tadi, masing-masing sibuk dengan urusannya....” Sekali lagi....kelas 1-5 ,siapa yang merasa tidak menghormat bendera?” Suaranya semakin lantang, jantungku bertdetak makin kencang, rasanya lututku semakin lemas, aku takut....tak satupun dari kami berani mengaku dan angkat tangan, sampai kemudian tanpa kuduga....seorang anak lelaki,teman sekelasku, yang kemudian kuketahui bernama Iping Aripin tiba-tiba mengacungkan tangannya sambil berkata “saya kang”, dan aku tertegun....tertegun atas keberaniannya, tertegun atas kejujurannya.....dari 40 orang diantara kami...hanya ipinglah yang berani untuk jujur,maka dapat dipastikan setelah itu....39 orang yang lain termasuk aku harus menjalani hukuman akibat ketidakjujuran atau lebih tepatnya ketidakberanian untuk jujur.
Belajar tentang kejujuran dari seorang Iping Aripin, satu prinsip yang selalu kuingat , semua sifat jelek mungkin ada pada diri seorang muslim kecuali ketidakjujuran karena ketidakjujuran akan selalu melahirkan ketidakjujuran yang lain....
Semoga menjadi renungan....
Menjadi siswa SMA negeri 2 Kuningan menjadi impianku sejak kecil. Rasanya tak percaya bisa memasuki sekolah yang konon ‘hanya diperuntukkan’ untuk anak-anak serius. Berbagai image positif dari masyarakat Kuningan memang begitu melekat pada siswa sekolah ini, saking positifnya sampai ada yang mengatakan “kalau melihat anak SMA pagi-pagi jalannya cepet, nunduk, bawa buku tebal, bajunya rapih dan sopan, mimik wajahnya serius, dapat dipastikan itu siswa SMA2” atau “ Masuk SMA 2 jaminan masuk PTN”. Berbagai kebanggaan menghampar luas di di hadapanku minggu pagi itu, hari pertama aku menginjakan kakiku di sekolah ini untuk acara orientasi pramuka siswa baru. Dengan baju pramuka lengkap dengan tongkat dan berbagai atributnya yang kukenakan, aku berjalan tenang sambil menebar senyum pada setiap orang yang kutemui sambil memasuki kelas 1-5. Di lapangan upacara para senior kami, yang biasa disebut bantara, sedang melaksanakan upacara penaikan bendera, tak ada satupun dari kami yang ikut merasakan khidmatnya upacara tersebut
“Ngiuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuung” suara sirine dari Toa mengagetkanku dan teman-teman baruku. Belum habis kekagetan kami dengan suara sirine....” de..ayo cepat-cepat kumpul di lapang perkelas” Bug....bug...bug suara pukulan di pintu kelasku bersahutan dengan suara sepatu dan tongkat kami yang saling beradu . Aku berlari sekuat tenaga, jantungku berdebar kencang, kuusahakan fikiranku tetap fokus meski rasanya sudah tak menentu. Kumasuki barisan kelas 1-5 di ujung lapangan dekat ring basket. Nafasku sudah kian teratur ketika kakak bantara berkumpul di depan barisan kelasku. Seorang bantara maju ke depan, tepat di depan barisan kelasku. “Ok...untuk kelas 1-5, siapa diantara kalian yang saat pengibaran bendera tadi tidak pada posisi hormat?” suaranya tak terlalu kencang, tapi cukup untuk membuat jantungku kembali berdegup. Aku sadar tak satupun dari kami pada posisi hormat saat pengibaran bendera tadi, masing-masing sibuk dengan urusannya....” Sekali lagi....kelas 1-5 ,siapa yang merasa tidak menghormat bendera?” Suaranya semakin lantang, jantungku bertdetak makin kencang, rasanya lututku semakin lemas, aku takut....tak satupun dari kami berani mengaku dan angkat tangan, sampai kemudian tanpa kuduga....seorang anak lelaki,teman sekelasku, yang kemudian kuketahui bernama Iping Aripin tiba-tiba mengacungkan tangannya sambil berkata “saya kang”, dan aku tertegun....tertegun atas keberaniannya, tertegun atas kejujurannya.....dari 40 orang diantara kami...hanya ipinglah yang berani untuk jujur,maka dapat dipastikan setelah itu....39 orang yang lain termasuk aku harus menjalani hukuman akibat ketidakjujuran atau lebih tepatnya ketidakberanian untuk jujur.
Belajar tentang kejujuran dari seorang Iping Aripin, satu prinsip yang selalu kuingat , semua sifat jelek mungkin ada pada diri seorang muslim kecuali ketidakjujuran karena ketidakjujuran akan selalu melahirkan ketidakjujuran yang lain....
Semoga menjadi renungan....
Langganan:
Postingan (Atom)