Andai saja kau dan aku masih berdua
Takkan lagi rasa rindu menggoda
Awan biru merentangkan harap cinta
Satu asa kau dan aku berdua
Andai aku dapat
Melayangkan rindu yang tak bertobat
Pasti sudah engkau akan kudekap
Hanya kau yang buatku genap
Andai aku dapat
menyentuh hatimu untuk bersumpah
Tunggu aku jangan putus asa
Karena kau kucinta
Suatu pagi tiba-tiba aku begitu ingin bersenandung lagu diatas, judulnya Kau dan Aku, sebuah soundrtrack sinetron di akhir tahun 90-an semasa aku berseragam biru-abu. Sedang asyiknya bersenandung, tiba-tiba terpikir untuk mencoret semua kata andai dalam lirik lagu diatas. Lebih tepatnya : dengan berandai aku ingin menghapus andai-andai itu. Dalam pikiranku saat itu, andai saja kata andai terhapus dari lirik lagu itu maka sepertinya mendung yang menggelayut di wajah sang penyanyi akan berubah menjadi senyum ceria beraroma bahagia.
Bukan sesuatu yang sulit mencoret kata andai dalam lirik lagu itu, tapi memastikan wajah si penyanyi langsung ceria tentu bukan sesuatu yang mudah. Sekarang jika kita anggap diri kita adalah penyanyi. Lantas kita diminta untuk menyanyikan lagu beraroma sunyi sepi ini menjadi ceria. Mampukah kita? Seorang pencipta lagu mungkin dengan mudah tinggal mencoret kata andai dan selesailah urusan . Tapi sebagai penyanyi semudah itukah mengubah bahasa tubuh kita? Semudah itukah mengembangkan mulut kita yang sebelumnya maju beberapa senti? Semudah itukah menghapus air mata kita? Dan semudah itukah menceriakan aroma wajah kita yang terlanjur muram?
Jika lagu itu adalah kehidupan, benarkah kehidupan memberi kita fasilitas begitu mudah untuk menghapus setiap andai dan menggantinya dengan kata tentu atau pasti misalnya? Benarkah kenyataan memberi kita kelonggaran untuk mengubah tetesan air mata menjadi senyum mengembang hanya dengan menjentikkan jari tangan?
Sulit rasanyai jika kenyataan tak mendukung untuk itu, misal jika kita sebagai penyanyi sedang dalam keadaan sepi , haruskah kita menanti sampai kondisi berubah ceria untuk bisa menyanyikan lirik lagu diatas (tanpa andai) menjadi ceria? Lantas bagaimana jika kondisi tak kunjung berubah? Haruskah kita menolak tawaran menyanyi itu? Kalau kita bijak seharusnya tidak. Bukankah kita tinggal berusaha mengubah suasana hati kita menjadi ceria, karena dari hati yang cerialah akan terpancar keceriaan yang sesungguhnya. Tapi dengan apa mengubah suasana hati secepat itu?
Tunggu, jika kita perhatikan kata “kau” dalam lirik lagu diatas bermakna pasangan atau orang-orang yang kita cintai. Ketiadaan “kau” dalam kisah tersebut menjadikan lirik lagu menjadi sunyi dan sendu. Apabila kata andai dihapus itu artinya sosok “kau” harus selalu hadir bersama sosok “aku”. Maka jika kita adalah penyanyi lagu ini dan ingin suasana hati kita selalu ceria setiap kali menyanyikan lagu ini, satu-satunya cara adalah memastikan bahwa sosok “kau” dalam kisah lagu ini selalu dekat dengan sosok “aku”. Bagaimana caranya? Mari kita coba dengan menghilangkan kata “andai” dan menuliskan kata kau dengan huruf kapital : KAU
Tentu saja saja KAU dan aku selalu berdua
Meski rindu tetap saja menggoda
Awan biru merentangkan harap cinta
Satu asa KAU dan aku berdua
Tentu aku dapat
Melayangkan rindu yang tak bertobat
Sudah pasti ENGKAU akan kudekap
Hanya KAU yang buatku genap
Tentu aku dapat
menyentuh hati-MU untuk bersumpah
Tunggu aku akan menemui-MU
Karena KAU kucinta
Jika kau adalah pasangan atau orang-orang yang kita cintai maka yakinkan diri kita bahwa KAU adalah Allah, Robb kita semua. Hanya dengan mengubah kau menjadi KAU lah hati kita akan ceria selamanya. Jika sumber keceriaan adalah keinginan untuk berdua, maka bukankah aku dan KAU selalu berdua selamanya? Jika sumber keceriaan adalah kedekatan maka bukankah KAU lebih dekat dari urat leherku? Jika sumber keceriaan adalah menjadi genap , bukankah KAU akan selamanya menggenapkan aku? Dan jika sumber keceriaan adalah terbebas dari kehilangan, maka bukankah KAU yang tak akan pernah hilang dari hidupku, meskipun kadang aku berpaling ?
Ya, aku yakin KAU yang membuatku genap. karena KAU adalah Robbku, Sang Kuasa Pemilik Jiwa.
Wallahu alam bi showab
Senin, 22 November 2010
Kamis, 18 November 2010
Kekuatan Cinta Suami Istri
Lelaki 1 : Pusing sayah mah ku pamajikan teh….saeutik-saeutik duit, saeutik-saeutik duit, kurang kumaha atuh usaha teh?
Lelaki 2 : Heeh sarua, makana sakali-kali urang mah sok kapikiran hayang ngadoa kieu : gustiiiii mun bisa mah ulah anak nu maot ti heula the…kajeun pamajikani mah ngarah bisa neangan deui ha ha ha “
Aku terdiam mendengar pembicaraan itu, suapanku terhenti. Sesendok kupat tahu yang sudah masuk mulutku hampir saja tak tertelan. Perlahan kutoleh kedua bapak itu…oh bukan dua ternyata ada sekitar 6 orang bapak-bapak di dalam warung nasi di terminal bis antar kota , dan aku satu-satunya perempuan di sana. Salah seorang dari mereka melihat ke arahku, aku pura-pura asyik melanjutkan makanku, meski ada yang tersekat di tenggorokanku. Cuma satu kalimat pendek kubisikkan dalam hatiku “Allah ijinkan aku belajar dari mereka”. Pembicaraan merekapun berlanjut :
Lelaki 3 : Makana mun keur dibonceng teh sakali-kali gibegkeun geura ngarah ngabubrag tah pamajikan teh. Pan kecelakaan lain eta mah ngaranna ?
Lelaki 4 : Ah kumaha mun aya nu nulungan?
Lelaki 3 : Nya gibegkeunna sisi jurang atuh, pan moal salamet tah, tapi kade budak mah ulah sampe miluan ragrag ha ha ha
Lelaki 4 : Komo urang mah asa miara gajah bengkak euy…rek dipirak heula sugan nya…ke mun geus langsing dikawin deui…bener teu? Ha ha ha
Dua lelaki lain cuma ikut tertawa
Tenggorokanku semakin tersekat dan entah kenapa perutku tiba-tiba merasa penuh. Perasaan campur aduk antara enek, miris dan bingung membuatku tak lagi cukup nyaman berada di dalam warung sempit itu. Segera kulangkahkan kakiku meninggalkan para bapak itu, entahlah…rasanya aku sudah tak lagi mampu mendengar pembicaraan mereka.
Di luar, sambil menunggu bis yang tak kunjung datang , pikiranku berputar…mencoba mencari memori tersembunyi di otakku, pernahkah aku menemui pembicaraan serupa itu dikalangan ibu-ibu? Pernahkah kudengar ibu-ibu bersenda gurau tentang kematian suaminya? Rasanya tidak pernah. Yang terpikir olehku saat itu justru adalah tentang ibu-ibu arisan yang begitu senang membangga-banggakan suaminya di depan orang lain, yang terlintas di otakku adalah seorang istri yang bertahan untuk tak lagi menikah setelah suaminya tiada. Yang terbayang olehku justru bagaimana seorang perempuan mengoptimalkan kekuatan cinta hanya dengan satu modal : mengenang indahnya kebersamaan. Lantas bapak-bapak tadi, seperti itukah bukti cinta mereka pada istrinya? Seperti itukah wujud kasih seorang lelaki pada perempuan yang dulu diperjuangkannya?
Dan menjelang naik bis, pertanyaanku mengerucut menjadi satu : adakah hubungan antara gender dan kekutan cinta?
Di perjalanan, Allah mulai member jawabannya. Dari atas bis, tanpa sengaja pandanganku mengarah pada pada beberapa bapak yang sedang menjajakan jasa “tukang pacul” di sekitar jalan Ujungberung, atau seorang bapak yang begitu semangat menjadi pencuci motor pinggir jalanan Cileunyi, para pedagang tahu yang tetap gigih menawarkan dagangannya di dalam bis meski para penumpang baru saja turun di tempat peristirahatan atau seorang bapak yang badannya basah bersimbah keringat dan ditutupi putihnya batu kapur di daerah Jatiwangi Majalengka. Untuk apa mereka melakukan semua itu? Tentu demi cinta bagi istri dan anak-anaknya
Kemudian sejenak Allah menggiring pikiranku pada kisah para Nabi. Bagaimana sabarnya nabi Nuh terhadap istrinya yang tak manut, bagaimana sabarnya Nabi Ibrahim saat harus terpisah 12 tahun dengan istrinya, hingga bagaimana kesabaran Rosulullah saw yang selalu patut dijadikan teladan.
Maka diujung perjalanan sore itu, dalam penat yang sangat, aku mengambil kesimpulan atas pertanyaanku sebelumnya : tak ada hubungan antara gender dan kekuatan cinta. Kekuatan cinta suami tidak selalu lebih besar dari kekuatan cinta istri, dan kekuatan cinta istri juga tidak selalu lebih besar dari kekuatan cinta istri. Lantas bagaimana mempertahankan kekuatan cinta suami istri ? Jangan tanya aku, aku belum berpengalaman he he. Tapi kalau boleh sekedar berteori, menurutku kekuatan cinta suami istri dipengaruhi oleh 3 kemampuan individu, yaitu :
1. Kemampuan mencintai apa yang dimiliki
2. Kemampuan menjalani peran dengan baik
3. Kemampuan memahami dan mengerti perasaan pasangan
Dan ketiganya tentu pada akhirnya tetap bersumber pada 2 hal , yaitu : sabar dan syukur. Hmmmm, jika suatu saat aku menjalaninya, mampukah aku? Semoga, semoga dan semoga.
Setelah menemukan jawabannya, barulah aku bisa sedikit terlelap, meski keringat membanjiri tubuhku karena AC bis yang tak berfungsi baik. Dalam lelap yang tak lepas sayup-sayup kudengar sebuah lagu mengalun di dalam bis yang pengap :
“Susis ow wow wow susis…suami sieun istri….susis ow wow wow susis …suami takut istri...”
Sejenak aku tersenyum saat menyadari ada pertanyaan baru muncul di benakku : kira-kira bapak-bapak yang tadi di warung nasi itu di rumahnya termasuk susis enggak ya ? he he he
Lelaki 2 : Heeh sarua, makana sakali-kali urang mah sok kapikiran hayang ngadoa kieu : gustiiiii mun bisa mah ulah anak nu maot ti heula the…kajeun pamajikani mah ngarah bisa neangan deui ha ha ha “
Aku terdiam mendengar pembicaraan itu, suapanku terhenti. Sesendok kupat tahu yang sudah masuk mulutku hampir saja tak tertelan. Perlahan kutoleh kedua bapak itu…oh bukan dua ternyata ada sekitar 6 orang bapak-bapak di dalam warung nasi di terminal bis antar kota , dan aku satu-satunya perempuan di sana. Salah seorang dari mereka melihat ke arahku, aku pura-pura asyik melanjutkan makanku, meski ada yang tersekat di tenggorokanku. Cuma satu kalimat pendek kubisikkan dalam hatiku “Allah ijinkan aku belajar dari mereka”. Pembicaraan merekapun berlanjut :
Lelaki 3 : Makana mun keur dibonceng teh sakali-kali gibegkeun geura ngarah ngabubrag tah pamajikan teh. Pan kecelakaan lain eta mah ngaranna ?
Lelaki 4 : Ah kumaha mun aya nu nulungan?
Lelaki 3 : Nya gibegkeunna sisi jurang atuh, pan moal salamet tah, tapi kade budak mah ulah sampe miluan ragrag ha ha ha
Lelaki 4 : Komo urang mah asa miara gajah bengkak euy…rek dipirak heula sugan nya…ke mun geus langsing dikawin deui…bener teu? Ha ha ha
Dua lelaki lain cuma ikut tertawa
Tenggorokanku semakin tersekat dan entah kenapa perutku tiba-tiba merasa penuh. Perasaan campur aduk antara enek, miris dan bingung membuatku tak lagi cukup nyaman berada di dalam warung sempit itu. Segera kulangkahkan kakiku meninggalkan para bapak itu, entahlah…rasanya aku sudah tak lagi mampu mendengar pembicaraan mereka.
Di luar, sambil menunggu bis yang tak kunjung datang , pikiranku berputar…mencoba mencari memori tersembunyi di otakku, pernahkah aku menemui pembicaraan serupa itu dikalangan ibu-ibu? Pernahkah kudengar ibu-ibu bersenda gurau tentang kematian suaminya? Rasanya tidak pernah. Yang terpikir olehku saat itu justru adalah tentang ibu-ibu arisan yang begitu senang membangga-banggakan suaminya di depan orang lain, yang terlintas di otakku adalah seorang istri yang bertahan untuk tak lagi menikah setelah suaminya tiada. Yang terbayang olehku justru bagaimana seorang perempuan mengoptimalkan kekuatan cinta hanya dengan satu modal : mengenang indahnya kebersamaan. Lantas bapak-bapak tadi, seperti itukah bukti cinta mereka pada istrinya? Seperti itukah wujud kasih seorang lelaki pada perempuan yang dulu diperjuangkannya?
Dan menjelang naik bis, pertanyaanku mengerucut menjadi satu : adakah hubungan antara gender dan kekutan cinta?
Di perjalanan, Allah mulai member jawabannya. Dari atas bis, tanpa sengaja pandanganku mengarah pada pada beberapa bapak yang sedang menjajakan jasa “tukang pacul” di sekitar jalan Ujungberung, atau seorang bapak yang begitu semangat menjadi pencuci motor pinggir jalanan Cileunyi, para pedagang tahu yang tetap gigih menawarkan dagangannya di dalam bis meski para penumpang baru saja turun di tempat peristirahatan atau seorang bapak yang badannya basah bersimbah keringat dan ditutupi putihnya batu kapur di daerah Jatiwangi Majalengka. Untuk apa mereka melakukan semua itu? Tentu demi cinta bagi istri dan anak-anaknya
Kemudian sejenak Allah menggiring pikiranku pada kisah para Nabi. Bagaimana sabarnya nabi Nuh terhadap istrinya yang tak manut, bagaimana sabarnya Nabi Ibrahim saat harus terpisah 12 tahun dengan istrinya, hingga bagaimana kesabaran Rosulullah saw yang selalu patut dijadikan teladan.
Maka diujung perjalanan sore itu, dalam penat yang sangat, aku mengambil kesimpulan atas pertanyaanku sebelumnya : tak ada hubungan antara gender dan kekuatan cinta. Kekuatan cinta suami tidak selalu lebih besar dari kekuatan cinta istri, dan kekuatan cinta istri juga tidak selalu lebih besar dari kekuatan cinta istri. Lantas bagaimana mempertahankan kekuatan cinta suami istri ? Jangan tanya aku, aku belum berpengalaman he he. Tapi kalau boleh sekedar berteori, menurutku kekuatan cinta suami istri dipengaruhi oleh 3 kemampuan individu, yaitu :
1. Kemampuan mencintai apa yang dimiliki
2. Kemampuan menjalani peran dengan baik
3. Kemampuan memahami dan mengerti perasaan pasangan
Dan ketiganya tentu pada akhirnya tetap bersumber pada 2 hal , yaitu : sabar dan syukur. Hmmmm, jika suatu saat aku menjalaninya, mampukah aku? Semoga, semoga dan semoga.
Setelah menemukan jawabannya, barulah aku bisa sedikit terlelap, meski keringat membanjiri tubuhku karena AC bis yang tak berfungsi baik. Dalam lelap yang tak lepas sayup-sayup kudengar sebuah lagu mengalun di dalam bis yang pengap :
“Susis ow wow wow susis…suami sieun istri….susis ow wow wow susis …suami takut istri...”
Sejenak aku tersenyum saat menyadari ada pertanyaan baru muncul di benakku : kira-kira bapak-bapak yang tadi di warung nasi itu di rumahnya termasuk susis enggak ya ? he he he
Langganan:
Postingan (Atom)