Ketika kematian terasa begitu dekat, begitu aku gambarkan pengalaman cuci darahku hari ini. Meski sudah lebih dari 400 kali menjalani cuci darah tak berati aku sudah resisten dengan kondisi drop yang kadang unpredictable. Meski sejak dimulai jam 12 siang tadi sudah ada rambu-rambu untukku agar berhati-hati, tensi awalku 110 / 70 dengan hb 8,2 , penarikan cairan di atas 3,5 kg, sebuah kondisi tak ideal bagi pasien yang akan memulai cuci darah. Resiko dehidrasi, dropnya tekanan darah, dropnya gula darah dan jantung berdebar sangat mungkin terjadi. Tapi tidak terlalu kuhiraukan, insya Allah kuat, begitu keyakinanku
Kulewati dua jam pertamaku dengan baik, sangat baik malah, aku masih menghabiskan sepiring nasi campur, ngemil kue, masih sempet baca dan buka facebook. Masih sempet ngobrol seru dengan temen yang kebetulan datang menengok. Masih sempet ngerumpi dengan temen cuci darah yang tidur di ranjang sebelah. Malah sedang minta tolong dibelikan ubi dan singkong rebus, untuk ngemil. Namun sekitar jam 3 sore sesaat setelah membalas comment di facebook, tiba-tiba sesuatu terjadi...
Kakiku kram, aku tahu itu tanda-tanda dehidrasi, kupanggil perawat, kuminta menurunkan tarikan cairan dan kecepatan putaran darah. Itu salah satu cara untuk menurunkan resiko drop akibat dehoidrasi. Namun tidak sampai lima menit tiba-tiba pandanganku kabur, aku tahu pasti ini tanda tensi darahku drop
"bu minta di tensi, limbung" ujarku pada perawat yang masih berdiri di sampingku
Seorang perawat lain sigap memasangkan alat tensi di tanganku,
" tidak teraba " ujarnya, aku berusaha tenang. Tidak teraba artinya tensiku sangat rendah sampai tak terbaca oleh alat tensi. Mataku memaksa menutup, tapi kukuatkan diriku untuk terus membuka mataku, kupaksakan diriku untuk tetap dalam kondisi sadar dan terjaga...
"bu tolong carikan permen di tas saya, atau apapaun yang manis-manis, saya udah ga kuat " ujarku setengah menjerit,tensiku masih belum terbaca, kupaksakan memasukan biskuit yang disuapi oleh ibu perawat, meski tak ada tenaga untuk itu.
Proses cuci darahku langsung dihentikan .Jiwaku serasa melayang, aku sudah pasrah meski terus berusaha bertahan. Aku harus kuat, meski aku tersadar batas hidup dan mati teramat tipis saat itu. Kukatakan pada diriku, ayo naikan tensi darahnya. Meski di sisi lain aku juga berusaha terus berdzikir, berpikir barangkali itu saat terakhir hidupku. Aku hanya bisa berharap semoga menjadi akhir yang baik...
Masih dalam rangka terus berusaha, kupaksakan minum segelas teh manis hangat meski mataku sudah tak mampu membuka. Begitu banyak yang mengerubungi ranjangku, mereka juga tampak panik. Kata mereka bibirku sudah putih dan kelopak mataku sudah menghitam. Alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan hidup, perawat menyuntikan glukosa ke tubuhku sambil tak henti terus kukunyah makanan-makanan manis, dari mulai kue, ubi, biskuit, sampai gula merah, yang cukup membantu kenaikan kadar gula darahku. tensiku mulai terbaca 50 untuk tekanan sistole, rendah dan sangat rendah. Tekanan darah ideal adalah 120. aku masih merasa melayang tapi mataku sudah mulai membuka. Selang oksigen mulai dipasangkan ke hidungku, pandanganku mulai sedikit terang. Perlahan-lahan ekanan darahku mulai merambat naik ke angka 110.
Alhamdulillah aku hidup dan bertahan. Aku bisa pulang ke rumah meski harus banyak istirahat. tentu itu semua atas Kuasa Allah. Aku merasa seperti baru saja melewati jembatan pembatas kehidupan dan kematian. Terima kasih untuk para perawat yang begitu sigap, juga teman-teman cuci darahku atas support yang luar biasa.
Sore ini ketika kulangkahkan kakiku memasuki rumahku, kukatakan pada diriku, Allah kembali memberiku kesempatan hidup, semoga aku bisa memanfaatkannya dengan baik. Subhanallah, hari ini Allah mengingatkanku tentang batas hidup dan mati yang ternyata teramat tipis....
Semoga memberi hikmah....
Wallahu alam bi showab....
Jumat, 29 Januari 2010
Sabtu, 23 Januari 2010
Ibadah Haji sambil Cuci Darah? Bukan Masalah...
“Mi tolong bantu Abu berdoa, Abu harus bisa menunaikan rukun Islam yang ke-5 sebelum Abu meninggal“ begitu kalimat pendek yang disampaikan Pak Pudjo Waluyo kepada istrinya setelah dinyatakan menderita penyakit gagal ginjal dan harus cuci darah di Bulan Desember 2005. Lelaki berusia 49 tahun yang akrab dipanggil Abu ini begitu berkeinginan kuat untuk menunaikan ibadah haji meski kondisinya tidak memungkinkan. Selain kondisi kesehatannya yang tidak baik, kondisi perekonomian yang tidak mendukung, juga berat meninggalkan anaknya masih kecil-kecil “Anak saya 7 orang yang terbesar masih SMA yang terkecil sekarang umur 3 tahun” begitu ujar Pak Pudjo di sela-sela cuci darahnyanya di RSKG Habibie Bandung Kamis sore itu. Berbekal tekad yang kuat dan keyakinan akan Kuasa Allah, Pak Pudjo dan istrinya memutuskan untuk mencari informasi mengenai ongkos naik haji ke sebuah bank BUMN pada tahun 2006 meskipun tak tahu darimana rizki itu akan datang. Dan siapa menyangka di Bulan Desember 2007, Allah benar-benar mengundang mereka berdua ke Baitullah dengan rizki dari arah yang tak disangka-sangka. “Alhamdulillah , ini betul-betul hadiah dari Allah buat kami, begitu banyak kemudahan yang Allah berikan “ berulang-ulang Pak Pudjo mengungkapkan rasa syukurnya.
Selepas Pak Pudjo menyelesaikan HDnya hari kamis sore itu, Bu Pudjo atau yang lebih akrab dipanggil Umi bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi pengalamannya menemani sang suami di Tanah Suci
“Jadwal cuci darah Abu di sini kan Senin Kamis, kami waktu itu berangkat dari Bandung hari Rabu sampai di Jakarta kami langsung mempersiapkan kembali untuk cuci darah di Jakarta sebelum naik pesawat menuju Madinah. Sampai di Madinah sekitar hari Jumat pagi, hal yang pertama saya lakukan adalah menhubungi dokter kloter dan ketua rombongan untuk mencari rumah sakit tempat suami saya bisa cuci darah. Akhirnya diperoleh informasi cuci darah dilaksanakan di kidney center RS King Fahd Madinah. Jadwal Abu di sana tetap Senin Kamis, alhamdulillah dimudahkan meski sempat ada kendala di awal karena kami hanya membawa Paspor, buku kesehatan dan travelling dialysis sementara hasil laboratorium bebas dari virus HIV dan hepatitis belum Abu miliki. Maka Abu diharuskan menjalani test hepatitis dan HIV, dan setelah dinyatakan sehat Abu baru boleh menjalani cuci darah di sana. Kami tidak dipungut biaya sepeserpun. Semua pelayanan kesehatan di sana memang gratis, termasuk ambulance yang mengantar dari rumah sakit menuju tempat menginap, meskipun tidak mudah mendapatkan ambulance itu karena selalu harus rebutan dengan orang lain. Selama 8 hari di Madinah Abu melaksanakan 3 kali cuci darah. Kondisi udara yang begitu dingin membuat persendian Abu menjadi kaku dan menyulitkannya berjalan maka akhirnya kami memutuskan membeli kursi roda untuk Abu”
“Dari Madinah selanjutnya menuju Mekkah, seperti biasa hal yang pertama saya pikirkan adalah dimana mencari tempat Abu bisa cuci darah, dan diperolehlah informasi bahwa tempatnya di kidney center RS An Nur Mekkah. Hasil lab di Madinah ternyata tidak bisa dipakai di Mekkah, maka Abu harus periksa Lab lagi di sana meski cuci darah tetap berjalan selama pemeriksaan Lab berlangsung. Di Mekkah Abu menjalani cuci darah 3 kali Seminggu yang biasanya dilakukan malam hari sehingga tidak mengganggu kegiatan di siiang harinya. Kami biasa berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat dan bahasa tubuh dengan para perawat. Tapi di Mekkah Alhamdulillah ada perawat asal Indonesia di sana jadi kami bisa lebih mudah berkomunikasi . Jarak dari rumah sakit ke hotel tempat menginap yang lebih dari 40 km bisa ditempuh dengan menggunakan taksi selama kurang lebih 15 menit. Cukup cepat memang karena jalannya lebar dan mobilnya ngebut-ngebut.
Menjelang Wukuf di Arafah kami mulai dihadapkan pada dua pilihan, Abu mengikuti safari wukuf (wukuf untuk orang sakit dengan menggunakan ambulance) atau ikut wukuf umum dengan syarat semua resiko yang terjadi pada Abu ditanggung sendiri. Yang sulit jika mengikuti safari wukuf saya dan Abu harus terpisah. Akhirnya kami memutuskan Abu mengikuti wukuf biasa setelah saya menandatangi berbagai surat kesepakatan dengan ketua rombongan, yang isinya jika ada apa-apa denga Abu saya tidak akan menuntut. Dan setelah itu mulailah perjuangan kami berdua melewati hari-hari penting dalam perjalanan haji kami. Kalau saja bukan karena pertolongan Allah badan saya mungkin sudah hancur, tak karuan rasanya. Saya harus terus siaga mendorong kursi roda Abu. Tak biasa dilupakan saat Sa’i saya harus berlari sambil terus mendorong kursi roda di jalan yang sangat sempit dengan diburu-buru oleh petugas. Kelelahan yang tak terbayang saya bisa menjalaninya. Saya memilih mendorong sendiri karena biaya menyewa petugas yang membantu mendorong terlalu mahal untuk kami. Tapi pertolongan dan kemudahan Allah kami dapatkan setiap waktu hingga akhirnya dengan segala perjuangan kami bisa menjalani seluruh rangkaian kegiatan ibadah haji. Dan Abu mengikuti semua tahapan tanpa diwakilkan meskipun ada beberapa tahapan haji yang boleh diwakilkan. Cuci darah Abu terakhir dilaksanakan di Mekkah sebelum kami ke Jeddah dan pulang ke Indonesia setelah 40 hari berada di arab Saudi”
Begitu detail dan tegas Umi menceritakan perjalanan haji bersama suaminya tercinta. Sebuah perjuangan yang tidak mudah tapi membawa banyak hikmah. Di penghujung pertemuan kami sore itu Pak Pudjo atau Abu mencoba memetik hikmah-hikmah besar dari perjalanan hajinya :
“ Hikmah perjalanan haji ini buat saya adalah bahwa Allah Maha Kuasa Atas segala sesuatu, tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak , sakit bukanlah suatu kendala jika kita yakin bahwa Allah menjaga kita. Dan Haji adalah sebuah evaluasi diri , jangan takut menjalaninya, karena Allah akan memberi kemudahan asal kita tidak pernah mempersulit orang lain. Dan tips saya untuk pasien-pasien HD yang akan beribadah haji, kuncinya cuma dua paham agama dan paham kondisi tubuh kita. Agar kita tahu apa yang harus kita lakukan selama disana dan itu sesuai dengan kondisi kesehatan kita. Dan sebaiknya ada pendamping yang memahami betul kondisi kita, insya Allah akan banyak kemudahan di sana jika kita yakin dengan pertolongan Allah. Selalu berfikir positif, bukankah Allah menurut persangkaan hamba-Nya?”
Demikian Pak Pudjo atau Abu menutup pembicaraan kami sore itu. Sebuah pembicaraan singkat yang penuh makna. Semoga pengalaman Pak Pudjo dan istrinya itu bisa memotivasi pasien-pasien cuci darah yang lain untuk tetap menggelorakan niat dan ikhtiarnya untuk beribadah haji. Karena ibadah haji bukanlah penghalang untuk cuci darah dan cuci darah bukan pula penghalang untuk beribadah haji. Ibadah haji sambil cuci darah? Tentu bukan masalah bagi kita karena kita tahu bahwa cuci darah tak menghalangi kita untuk melakukan yang terbaik bagi perjalanan kehidupan kita.
Wallahu a’lam bishowab
Selepas Pak Pudjo menyelesaikan HDnya hari kamis sore itu, Bu Pudjo atau yang lebih akrab dipanggil Umi bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi pengalamannya menemani sang suami di Tanah Suci
“Jadwal cuci darah Abu di sini kan Senin Kamis, kami waktu itu berangkat dari Bandung hari Rabu sampai di Jakarta kami langsung mempersiapkan kembali untuk cuci darah di Jakarta sebelum naik pesawat menuju Madinah. Sampai di Madinah sekitar hari Jumat pagi, hal yang pertama saya lakukan adalah menhubungi dokter kloter dan ketua rombongan untuk mencari rumah sakit tempat suami saya bisa cuci darah. Akhirnya diperoleh informasi cuci darah dilaksanakan di kidney center RS King Fahd Madinah. Jadwal Abu di sana tetap Senin Kamis, alhamdulillah dimudahkan meski sempat ada kendala di awal karena kami hanya membawa Paspor, buku kesehatan dan travelling dialysis sementara hasil laboratorium bebas dari virus HIV dan hepatitis belum Abu miliki. Maka Abu diharuskan menjalani test hepatitis dan HIV, dan setelah dinyatakan sehat Abu baru boleh menjalani cuci darah di sana. Kami tidak dipungut biaya sepeserpun. Semua pelayanan kesehatan di sana memang gratis, termasuk ambulance yang mengantar dari rumah sakit menuju tempat menginap, meskipun tidak mudah mendapatkan ambulance itu karena selalu harus rebutan dengan orang lain. Selama 8 hari di Madinah Abu melaksanakan 3 kali cuci darah. Kondisi udara yang begitu dingin membuat persendian Abu menjadi kaku dan menyulitkannya berjalan maka akhirnya kami memutuskan membeli kursi roda untuk Abu”
“Dari Madinah selanjutnya menuju Mekkah, seperti biasa hal yang pertama saya pikirkan adalah dimana mencari tempat Abu bisa cuci darah, dan diperolehlah informasi bahwa tempatnya di kidney center RS An Nur Mekkah. Hasil lab di Madinah ternyata tidak bisa dipakai di Mekkah, maka Abu harus periksa Lab lagi di sana meski cuci darah tetap berjalan selama pemeriksaan Lab berlangsung. Di Mekkah Abu menjalani cuci darah 3 kali Seminggu yang biasanya dilakukan malam hari sehingga tidak mengganggu kegiatan di siiang harinya. Kami biasa berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat dan bahasa tubuh dengan para perawat. Tapi di Mekkah Alhamdulillah ada perawat asal Indonesia di sana jadi kami bisa lebih mudah berkomunikasi . Jarak dari rumah sakit ke hotel tempat menginap yang lebih dari 40 km bisa ditempuh dengan menggunakan taksi selama kurang lebih 15 menit. Cukup cepat memang karena jalannya lebar dan mobilnya ngebut-ngebut.
Menjelang Wukuf di Arafah kami mulai dihadapkan pada dua pilihan, Abu mengikuti safari wukuf (wukuf untuk orang sakit dengan menggunakan ambulance) atau ikut wukuf umum dengan syarat semua resiko yang terjadi pada Abu ditanggung sendiri. Yang sulit jika mengikuti safari wukuf saya dan Abu harus terpisah. Akhirnya kami memutuskan Abu mengikuti wukuf biasa setelah saya menandatangi berbagai surat kesepakatan dengan ketua rombongan, yang isinya jika ada apa-apa denga Abu saya tidak akan menuntut. Dan setelah itu mulailah perjuangan kami berdua melewati hari-hari penting dalam perjalanan haji kami. Kalau saja bukan karena pertolongan Allah badan saya mungkin sudah hancur, tak karuan rasanya. Saya harus terus siaga mendorong kursi roda Abu. Tak biasa dilupakan saat Sa’i saya harus berlari sambil terus mendorong kursi roda di jalan yang sangat sempit dengan diburu-buru oleh petugas. Kelelahan yang tak terbayang saya bisa menjalaninya. Saya memilih mendorong sendiri karena biaya menyewa petugas yang membantu mendorong terlalu mahal untuk kami. Tapi pertolongan dan kemudahan Allah kami dapatkan setiap waktu hingga akhirnya dengan segala perjuangan kami bisa menjalani seluruh rangkaian kegiatan ibadah haji. Dan Abu mengikuti semua tahapan tanpa diwakilkan meskipun ada beberapa tahapan haji yang boleh diwakilkan. Cuci darah Abu terakhir dilaksanakan di Mekkah sebelum kami ke Jeddah dan pulang ke Indonesia setelah 40 hari berada di arab Saudi”
Begitu detail dan tegas Umi menceritakan perjalanan haji bersama suaminya tercinta. Sebuah perjuangan yang tidak mudah tapi membawa banyak hikmah. Di penghujung pertemuan kami sore itu Pak Pudjo atau Abu mencoba memetik hikmah-hikmah besar dari perjalanan hajinya :
“ Hikmah perjalanan haji ini buat saya adalah bahwa Allah Maha Kuasa Atas segala sesuatu, tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak , sakit bukanlah suatu kendala jika kita yakin bahwa Allah menjaga kita. Dan Haji adalah sebuah evaluasi diri , jangan takut menjalaninya, karena Allah akan memberi kemudahan asal kita tidak pernah mempersulit orang lain. Dan tips saya untuk pasien-pasien HD yang akan beribadah haji, kuncinya cuma dua paham agama dan paham kondisi tubuh kita. Agar kita tahu apa yang harus kita lakukan selama disana dan itu sesuai dengan kondisi kesehatan kita. Dan sebaiknya ada pendamping yang memahami betul kondisi kita, insya Allah akan banyak kemudahan di sana jika kita yakin dengan pertolongan Allah. Selalu berfikir positif, bukankah Allah menurut persangkaan hamba-Nya?”
Demikian Pak Pudjo atau Abu menutup pembicaraan kami sore itu. Sebuah pembicaraan singkat yang penuh makna. Semoga pengalaman Pak Pudjo dan istrinya itu bisa memotivasi pasien-pasien cuci darah yang lain untuk tetap menggelorakan niat dan ikhtiarnya untuk beribadah haji. Karena ibadah haji bukanlah penghalang untuk cuci darah dan cuci darah bukan pula penghalang untuk beribadah haji. Ibadah haji sambil cuci darah? Tentu bukan masalah bagi kita karena kita tahu bahwa cuci darah tak menghalangi kita untuk melakukan yang terbaik bagi perjalanan kehidupan kita.
Wallahu a’lam bishowab
Rabu, 20 Januari 2010
Serasa Makan Pake Kecap
Gadis kecil itu namanya Lutfia Naziefatusyalisya, aku biasa memanggilnya Upril atau Latipem. Usianya sekarang 5 tahun. Gadis kecilku itu pernah memberi nama ayam kesayangannya dengan namaku, alasannya “Biar kalau aku kangen tante, aku tinggal liatin aja ayam itu” he he. Ia cukup ekspresif menyampaikan apa yang dirasakannya. Ada kalanya aku tertegun oleh kalimat-kalimat tak terduga yang diucapkannya. Termasuk ketika ia menelponku sekedar ingin bilang “ Tante, aku tuh kangen banget sama tante, tante suka kangen ga sih sama aku?” :-)
Namun diantara semua celotehnya yang menggemaskan, ada satu kalimat yang selalu mengingatkanku padanya. Kalimat yang cukup sering disampaikannya berulang-ulang yaitu “aku senang deh, serasa makan pake hesyaap”. Ya, serasa makan pake kecap, begitulah Latipemku memaknai kebahagiaanya. Seenak apapun makanan yang dia makan, semahal dan sebagus apapun boneka yang dia dapat tak akan ada yang mampu menjatuhkan pesona makan dengan kecap di matanya. Setiap kali dia makan dengan kecap dipiringnya, saat itulah dia akan menganggap betapa enaknya makanan itu, tak peduli apapun lauknya.
Maka Senin pagi kemarin, terinspirasi dari gadis kecilku itu, kutantang diriku untuk menikmati makanan yang tak pernah bisa kunikmati sepanjang hidupku. Ketoprak. Bau bawang putih mentahnya yang menyengat selalu mampu menghalangiku untuk menikmati makanan itu karena dulu waktu kecil, aku pernah memakannya dan muntah. Tapi hari itu, aku bertekad untuk menaklukannya, menikmati sepiring ketoprak untuk pertama kalinya seumur hidupku. Dengan filosopi gadis kecilku kucoba taklukan makanan itu. Pertama, kukatakan pada diriku ketoprak itu enak. Kemudian kuperhatikan isi ketoprak itu, lontong, tahu goreng, tauge, mentimun, bihun, bumbu kacang semuanya aku suka, hanya satu yang tidak kusuka dari makanan itu, bau bawang putih mentahnya. Ok, aku bisa belajar mengubah pola pikirku, lupakan bawang putih itu, nikmati bahan-bahan lain yang aku suka, terutama bumbu kacangnya. Aku belajar menikmati kehadiran bumbu kacang itu, seperti Latipemku menikmati kehadiran kecap dalam makanannya.
Dan sukseslah aku hari itu, kuhabiskan sepiring penuh ketoprak berbau bawah putih mentah yang menyengat itu. Sungguh, aku tak pernah bisa melakukan itu sebelumnya. Meski bukan tanpa resiko, setelahnya aku mulai mencium kembali bau bawang putih itu. Hmmm…sepertinya ke depannya aku punya ide bagus, memesan ketoprak tanpa bawang putih…boleh kan? He he
Ya begitulah, ketika kita ingin menikmati kehidupan, berfikirlah positif tentang hidup. Pikirkan hal-hal yang membuat kita bahagia, seperti Latipemku selalu menikmati kecap dalam makanannya, hanya kecap, sesuatu yang kadang tak pernah kita sadari kehadirannya sebagai penyedap makanan kita, tapi bagi gadis kecilku, makan dengan kecap adalah segalanya. Dan lupakan hal-hal yang membuat kita terluka, nikmati ketoprak dan lupakan aroma bawang putih itu. Lupakan satu bagian hidup yang tidak kita sukai dan syukurilah sekian bagian hidup lain yang kita sukai. Jangan hancurkan hidup hanya karena merasa Allah tak mengabulkan satu doa kita padahal Allah telah berikan berjuta kenikmatan yang lain yang kadang lupa kita syukuri.
Ya, dari gadis kecilku itulah aku belajar satu bagian kecil dari kehidupan. Nikmati hidup dengan bersyukur, sekecil apapun nikmat yang Allah beri, bahkan kenikmatan setetes kecap pada makanan kita. Karena hidup itu akan bermakna jika kita mampu mensyukurinya. Mari jadikan hidup kita indah agar kita senantiasa bisa berujar seperti Latipem saat ditanya tentang perasaannya “aku senang deh, serasa makan pake kecap”. Hmmmm. Mampukah kita?
Wallahu a’lam bi showab…
Namun diantara semua celotehnya yang menggemaskan, ada satu kalimat yang selalu mengingatkanku padanya. Kalimat yang cukup sering disampaikannya berulang-ulang yaitu “aku senang deh, serasa makan pake hesyaap”. Ya, serasa makan pake kecap, begitulah Latipemku memaknai kebahagiaanya. Seenak apapun makanan yang dia makan, semahal dan sebagus apapun boneka yang dia dapat tak akan ada yang mampu menjatuhkan pesona makan dengan kecap di matanya. Setiap kali dia makan dengan kecap dipiringnya, saat itulah dia akan menganggap betapa enaknya makanan itu, tak peduli apapun lauknya.
Maka Senin pagi kemarin, terinspirasi dari gadis kecilku itu, kutantang diriku untuk menikmati makanan yang tak pernah bisa kunikmati sepanjang hidupku. Ketoprak. Bau bawang putih mentahnya yang menyengat selalu mampu menghalangiku untuk menikmati makanan itu karena dulu waktu kecil, aku pernah memakannya dan muntah. Tapi hari itu, aku bertekad untuk menaklukannya, menikmati sepiring ketoprak untuk pertama kalinya seumur hidupku. Dengan filosopi gadis kecilku kucoba taklukan makanan itu. Pertama, kukatakan pada diriku ketoprak itu enak. Kemudian kuperhatikan isi ketoprak itu, lontong, tahu goreng, tauge, mentimun, bihun, bumbu kacang semuanya aku suka, hanya satu yang tidak kusuka dari makanan itu, bau bawang putih mentahnya. Ok, aku bisa belajar mengubah pola pikirku, lupakan bawang putih itu, nikmati bahan-bahan lain yang aku suka, terutama bumbu kacangnya. Aku belajar menikmati kehadiran bumbu kacang itu, seperti Latipemku menikmati kehadiran kecap dalam makanannya.
Dan sukseslah aku hari itu, kuhabiskan sepiring penuh ketoprak berbau bawah putih mentah yang menyengat itu. Sungguh, aku tak pernah bisa melakukan itu sebelumnya. Meski bukan tanpa resiko, setelahnya aku mulai mencium kembali bau bawang putih itu. Hmmm…sepertinya ke depannya aku punya ide bagus, memesan ketoprak tanpa bawang putih…boleh kan? He he
Ya begitulah, ketika kita ingin menikmati kehidupan, berfikirlah positif tentang hidup. Pikirkan hal-hal yang membuat kita bahagia, seperti Latipemku selalu menikmati kecap dalam makanannya, hanya kecap, sesuatu yang kadang tak pernah kita sadari kehadirannya sebagai penyedap makanan kita, tapi bagi gadis kecilku, makan dengan kecap adalah segalanya. Dan lupakan hal-hal yang membuat kita terluka, nikmati ketoprak dan lupakan aroma bawang putih itu. Lupakan satu bagian hidup yang tidak kita sukai dan syukurilah sekian bagian hidup lain yang kita sukai. Jangan hancurkan hidup hanya karena merasa Allah tak mengabulkan satu doa kita padahal Allah telah berikan berjuta kenikmatan yang lain yang kadang lupa kita syukuri.
Ya, dari gadis kecilku itulah aku belajar satu bagian kecil dari kehidupan. Nikmati hidup dengan bersyukur, sekecil apapun nikmat yang Allah beri, bahkan kenikmatan setetes kecap pada makanan kita. Karena hidup itu akan bermakna jika kita mampu mensyukurinya. Mari jadikan hidup kita indah agar kita senantiasa bisa berujar seperti Latipem saat ditanya tentang perasaannya “aku senang deh, serasa makan pake kecap”. Hmmmm. Mampukah kita?
Wallahu a’lam bi showab…
Jumat, 15 Januari 2010
Sendiri itu Indah
Kesendirian adalah sesuatu antara aku dan Robbku
Kesendirian adalah ketika aku berlepas dari cinta selain cinta-Nya
Kesendirian adalah kehampaan
Kesendirian adalah kesepian
Tapi terkadang kesendirian adalah ketenangan
Aku mencari kesendirian
Ketika aku ingin menyepi dengan Robbku
Aku mengharap kesendirian
Ketika aku menyapa diriku sendiri
Aku membenci kesendirian
Ketika aku ingin berbagi suka dan duka
Dan aku menangisi kesendirian
Ketika aku merindukan kebersamaan dulu
Maka aku mendekap Robbku
Ketika kesendirian menghampiriku
Suatu hari aku bertemu dengan seorang teman lama, dia sudah menikah dan memiliki dua anak. Kami janjian ketemu di tempat kerjanya karena kebetulan aku ada urusan kesana. Kami berbicara panjang lebar, melepas kerinduan kami masing-masing. Di mataku dia sudah begitu sempurna sebagai wanita, punya suami yang mencintai, punya anak-anak yang menyejukkan hati, punya pekerjaan yang baik, punya rumah dan punya kendaraan. Sementara aku? Kabar baik apa yang bisa kusampaikan padanya tentangku? Belum ada bagian baru dari hidupku yang bisa aku kenalkan padanya.
Sesaat tenggorokanku tersekat, aku terkungkung dalam diam membayangkan betapa bahagianya jadi dia. Betapa indah hidupnya. Jika aku berada di posisinya aku pasti akan menjadi orang paling berbahagia di dunia. Aku tak perlu lagi mencari sumber kebahagiaan yang lain. Aku tertegun dan terus tertegun
Namun kemudian, semua bayanganku buyar, ketika tanpa kuduga tiba-tiba dia berujar
“Enak banget ya jadi kamu, bebas, bisa kemana-mana sendiri, kalau pengen ngumpul sama teman-teman tak perlu minta izin sama suami. Tak perlu mikirin permasalahan anak-anak yang bertumpuk. Sementara aku, mau pergi sebentar aja untuk menikmati hidupku sendiri kadang sulit, karena aku sudah terikat, kadang akau merindukan kesendirianku…”
Aku melongo mendengar kata-katanya, tak ada yang bisa kukatakan selain mengusap pundaknya sambil tersenyum. Tahukah dia kalau aku menginginkan semua yang dimilikinya? Tahukah dia kalau aku kadang terluka dengan kesendirianku.
Dan itulah manusia dengan segala keinginanya. Terkadang Allah memberi kita ujian hidup lewat keinginan-keinginan kita. Kita begitu ingin merasakan keindahan yang orang lain rasakan tanpa pernah mau menanggung permasalahannya. Kita selalu ingin mendapat kemudahan tapi tak pernah mau melewati proses sulit untuk mendapat kemudahan itu. Padahal Allah selalu menurunkan keindahan satu paket dengan ujiannya seperti Allah selalu menurunkan masalah satu paket dengan solusinya. Maka saat kita bertemu seseorang dan kita merasa tak berarti melihat kelebihan yang Allah berikan padanya, tahukah kita bahwa bisa jadi pada saat yang sama orang itu juga sedang merasa tak berarti melihat kelebihan pada diri kita yang kadang lupa kita syukuri?
Dan setelah pertemuan pagi itu, aku pulang menaiki bis kota, masih sendiri. Pertemuan singkat itu bermakna besar bagiku. Pertemuan yang membuatku tersadar untuk mulai mensyukuri kesendirianku, kesendirian yang kadang membuatku terluka.
Sendiri memberiku kebebasan memilih dan berkehendak. sendiri memberiku banyak inspirasi. Sendiri memberiku kesempatan untuk lebih kreatif, sendiri memberiku kesempatan lebih untuk bisa membahagiakan orang-orang yang kucintai. Sendiri memberiku lebih banyak waktu luang untuk berpikir tentang arah dan tujuan hidupku.Dan yang terpenting, sendiri memberiku banyak kesempatan untuk lebih mencintai Robbku.
Maka di perjalanan, saat seorang teman mengirimiku sms singkat
“Pulangnya sendiri ya? Hati-hati…….gimana kalau ada apa-apa dijalan?”
Kujawab dengan sangat yakin
“Kan ada Allah yang menjagaku…”
Aku tersenyum, masih sendiri, hanya ada aku dan Robbku di sana. Kukatakan pada diriku, betapa indahnya hidupku. Karena kesendirianku selalu memberi banyak ruang untuk aku bisa mendekap Robbku erat dan lebih erat. Bukankah sendiri itu indah jika kita bisa mensyukurinya?
Maka aku mendekap Robbku, ketika kesendirian menghampiriku
Wallahu a'lam bi showab...
Kesendirian adalah ketika aku berlepas dari cinta selain cinta-Nya
Kesendirian adalah kehampaan
Kesendirian adalah kesepian
Tapi terkadang kesendirian adalah ketenangan
Aku mencari kesendirian
Ketika aku ingin menyepi dengan Robbku
Aku mengharap kesendirian
Ketika aku menyapa diriku sendiri
Aku membenci kesendirian
Ketika aku ingin berbagi suka dan duka
Dan aku menangisi kesendirian
Ketika aku merindukan kebersamaan dulu
Maka aku mendekap Robbku
Ketika kesendirian menghampiriku
Suatu hari aku bertemu dengan seorang teman lama, dia sudah menikah dan memiliki dua anak. Kami janjian ketemu di tempat kerjanya karena kebetulan aku ada urusan kesana. Kami berbicara panjang lebar, melepas kerinduan kami masing-masing. Di mataku dia sudah begitu sempurna sebagai wanita, punya suami yang mencintai, punya anak-anak yang menyejukkan hati, punya pekerjaan yang baik, punya rumah dan punya kendaraan. Sementara aku? Kabar baik apa yang bisa kusampaikan padanya tentangku? Belum ada bagian baru dari hidupku yang bisa aku kenalkan padanya.
Sesaat tenggorokanku tersekat, aku terkungkung dalam diam membayangkan betapa bahagianya jadi dia. Betapa indah hidupnya. Jika aku berada di posisinya aku pasti akan menjadi orang paling berbahagia di dunia. Aku tak perlu lagi mencari sumber kebahagiaan yang lain. Aku tertegun dan terus tertegun
Namun kemudian, semua bayanganku buyar, ketika tanpa kuduga tiba-tiba dia berujar
“Enak banget ya jadi kamu, bebas, bisa kemana-mana sendiri, kalau pengen ngumpul sama teman-teman tak perlu minta izin sama suami. Tak perlu mikirin permasalahan anak-anak yang bertumpuk. Sementara aku, mau pergi sebentar aja untuk menikmati hidupku sendiri kadang sulit, karena aku sudah terikat, kadang akau merindukan kesendirianku…”
Aku melongo mendengar kata-katanya, tak ada yang bisa kukatakan selain mengusap pundaknya sambil tersenyum. Tahukah dia kalau aku menginginkan semua yang dimilikinya? Tahukah dia kalau aku kadang terluka dengan kesendirianku.
Dan itulah manusia dengan segala keinginanya. Terkadang Allah memberi kita ujian hidup lewat keinginan-keinginan kita. Kita begitu ingin merasakan keindahan yang orang lain rasakan tanpa pernah mau menanggung permasalahannya. Kita selalu ingin mendapat kemudahan tapi tak pernah mau melewati proses sulit untuk mendapat kemudahan itu. Padahal Allah selalu menurunkan keindahan satu paket dengan ujiannya seperti Allah selalu menurunkan masalah satu paket dengan solusinya. Maka saat kita bertemu seseorang dan kita merasa tak berarti melihat kelebihan yang Allah berikan padanya, tahukah kita bahwa bisa jadi pada saat yang sama orang itu juga sedang merasa tak berarti melihat kelebihan pada diri kita yang kadang lupa kita syukuri?
Dan setelah pertemuan pagi itu, aku pulang menaiki bis kota, masih sendiri. Pertemuan singkat itu bermakna besar bagiku. Pertemuan yang membuatku tersadar untuk mulai mensyukuri kesendirianku, kesendirian yang kadang membuatku terluka.
Sendiri memberiku kebebasan memilih dan berkehendak. sendiri memberiku banyak inspirasi. Sendiri memberiku kesempatan untuk lebih kreatif, sendiri memberiku kesempatan lebih untuk bisa membahagiakan orang-orang yang kucintai. Sendiri memberiku lebih banyak waktu luang untuk berpikir tentang arah dan tujuan hidupku.Dan yang terpenting, sendiri memberiku banyak kesempatan untuk lebih mencintai Robbku.
Maka di perjalanan, saat seorang teman mengirimiku sms singkat
“Pulangnya sendiri ya? Hati-hati…….gimana kalau ada apa-apa dijalan?”
Kujawab dengan sangat yakin
“Kan ada Allah yang menjagaku…”
Aku tersenyum, masih sendiri, hanya ada aku dan Robbku di sana. Kukatakan pada diriku, betapa indahnya hidupku. Karena kesendirianku selalu memberi banyak ruang untuk aku bisa mendekap Robbku erat dan lebih erat. Bukankah sendiri itu indah jika kita bisa mensyukurinya?
Maka aku mendekap Robbku, ketika kesendirian menghampiriku
Wallahu a'lam bi showab...
Sabtu, 09 Januari 2010
Bubur Kacang Hijau itu...
Pagi itu aku berjalan-jalan mengelilingi lapangan depan rumahku, dan berpapasan dengan tukang bubur kacang hijau. Sudah lebih dari 4 tahun aku melihat gerobak bubur itu mondar mandir di depan rumahku. Kubiarkan mang tukang bubur dan gerobak itu berlalu begitu saja dari pandanganku, aku memang tak pernah sekalipun berniat membelinya, karena aku tak boleh mengkonsumsi terlalu banyak bubur kacang akibat sakit ginjalku yang sudah kronis. Kandungan kalium dan fosfor nya yang tinggi tidak terlalu baik untuk kondisi tubuhku. Setelah tukang bubur dan gerobaknya itu berlalu, tiba-tiba aku begitu menginginkan bubur kacang itu.
Maka hari itu, yang ada di kepalaku cuma bubur kacang. Aku ingin bubur kacang itu. Sangat menginginkannya tepatnya. Aku tak peduli lagi pada kondisi tubuhku yang sedang tak nyaman. Kupaksakan diriku mencari bubur kacang, yang kuinginkan. Hingga akhirnya aku mendapatkannya. Dengan perasaan senang luar biasa kunikmati bubur kacang hasil perjuanganku, meski itu bukan bubur kacang si mang yang berjualan di depan rumahku. Aku begitu antusias pada suapan pertama, namun makin lama rasanya semakin tak enak, rupanya badanku tak menerima karena memang sedang tak cukup sehat, dan muntahlah aku.
Setelah itu aku tak lagi berpikir tentang bubur kacang, meski aku masih cukup penasaran dengan bubur kacang si Mang yang lewat di depan rumahku. Sudah lebih dari seminggu si mang tak berjualan, sejak aku berpapasan dengannya pagi itu. Sampai akhirnya ketika aku sudah benar-benar lupa dengan keinginanku untuk makan bubur kacang si Mang, lewatlah si Mang di depan rumahku pada waktu yang sangat tepat. Dia datang menjelang waktu terapi ku ke rumah sakit, itu artinya aku bisa menikmati bubur kacang itu dengan tenang, Karena menjelang terapi aku masih diperbolehkan makan makanan dengan kalium tinggi. Maka segera kupanggil Mang tukang bubur dan untuk pertama kalinya aku menikmati buburnya sejak 4 tahun terakhir. Kunikmati suapan demi suapan bubur kacang itu . Aku menikmatinya sampai habis tanpa mual, tanpa muntah dan tanpa sesak.
Begitulah, terkadang dalam kehidupan, sebuah keinginan membelenggu kita. Hingga kita merasa tak bahagia ketika keinginan itu belum kita penuhi. Kita lakukan berbagai cara untuk memenuhinya kendati harus memaksakan diri. Kita kecewa , terluka dan merasa tak dicinta ketika keinginan itu tak dipenuhi oleh Robb kita.
Tahukah kita bahwa Allah menunda keinginan kita karena suatu alasan yang hanya bisa kita pahami di kemudian hari. Allah tak akan memberi di saat yang tidak tepat. Allah tahu kapan kita membutuhkannya. Karena Allah adalah Sang Sutradara Kehidupan yang tak pernah salah memilihkan peran. Sang Sutradara yang tahu dengan pasti kapan sebuah lakon harus diperankan.
Sadarkah kita bahwa Allah hanya akan memberi di waktu yang tepat, di saat kita sudah benar-benar membutuhkannya. Dan sekali lagi Allah selalu punya alasan untuk itu, alasan yang tak pernah bisa terbantahkan di kemudian. Alasan yang pada akhirnya selalu membuat kita tertunduk malu, betapa kerdil kita di hadapan-Nya. Karena Allah Maha Tahu dan Allah Maha Kuasa untuk menjadikan segala sesuatu indah, nyaman dan aman pada waktunya…..
Wallahu a’lam bi showab
Maka hari itu, yang ada di kepalaku cuma bubur kacang. Aku ingin bubur kacang itu. Sangat menginginkannya tepatnya. Aku tak peduli lagi pada kondisi tubuhku yang sedang tak nyaman. Kupaksakan diriku mencari bubur kacang, yang kuinginkan. Hingga akhirnya aku mendapatkannya. Dengan perasaan senang luar biasa kunikmati bubur kacang hasil perjuanganku, meski itu bukan bubur kacang si mang yang berjualan di depan rumahku. Aku begitu antusias pada suapan pertama, namun makin lama rasanya semakin tak enak, rupanya badanku tak menerima karena memang sedang tak cukup sehat, dan muntahlah aku.
Setelah itu aku tak lagi berpikir tentang bubur kacang, meski aku masih cukup penasaran dengan bubur kacang si Mang yang lewat di depan rumahku. Sudah lebih dari seminggu si mang tak berjualan, sejak aku berpapasan dengannya pagi itu. Sampai akhirnya ketika aku sudah benar-benar lupa dengan keinginanku untuk makan bubur kacang si Mang, lewatlah si Mang di depan rumahku pada waktu yang sangat tepat. Dia datang menjelang waktu terapi ku ke rumah sakit, itu artinya aku bisa menikmati bubur kacang itu dengan tenang, Karena menjelang terapi aku masih diperbolehkan makan makanan dengan kalium tinggi. Maka segera kupanggil Mang tukang bubur dan untuk pertama kalinya aku menikmati buburnya sejak 4 tahun terakhir. Kunikmati suapan demi suapan bubur kacang itu . Aku menikmatinya sampai habis tanpa mual, tanpa muntah dan tanpa sesak.
Begitulah, terkadang dalam kehidupan, sebuah keinginan membelenggu kita. Hingga kita merasa tak bahagia ketika keinginan itu belum kita penuhi. Kita lakukan berbagai cara untuk memenuhinya kendati harus memaksakan diri. Kita kecewa , terluka dan merasa tak dicinta ketika keinginan itu tak dipenuhi oleh Robb kita.
Tahukah kita bahwa Allah menunda keinginan kita karena suatu alasan yang hanya bisa kita pahami di kemudian hari. Allah tak akan memberi di saat yang tidak tepat. Allah tahu kapan kita membutuhkannya. Karena Allah adalah Sang Sutradara Kehidupan yang tak pernah salah memilihkan peran. Sang Sutradara yang tahu dengan pasti kapan sebuah lakon harus diperankan.
Sadarkah kita bahwa Allah hanya akan memberi di waktu yang tepat, di saat kita sudah benar-benar membutuhkannya. Dan sekali lagi Allah selalu punya alasan untuk itu, alasan yang tak pernah bisa terbantahkan di kemudian. Alasan yang pada akhirnya selalu membuat kita tertunduk malu, betapa kerdil kita di hadapan-Nya. Karena Allah Maha Tahu dan Allah Maha Kuasa untuk menjadikan segala sesuatu indah, nyaman dan aman pada waktunya…..
Wallahu a’lam bi showab
Langganan:
Postingan (Atom)