Kamis, 24 November 2011

TAHU GEJROT DAN PERNIKAHAN


Ada satu baskom besar tahu ciledug di atas meja makanku malam itu. Tahu kecil kering bertekstur kasar. Aromanya tak cukup sedap. Bagi yang tak terbiasa, wajar saja jika menutup hidung saat menciumnya.


Di sebelahnya ada semangkuk cairan berwarna coklat tua. Cairan hasil perpaduan gula merah, kecap bawang merah dan cabe rawit yang ditumbuk. Juga beraroma menyengat. Tak ada yang istimewa dengan rasanya.


Tahu ataupun cairan berbumbu itu, dua-duanya bisa kita nikmati. Tapi jangan coba-coba menikmati salah satunya saja. Kalau nekat, kita hanya akan mendapati satu kemungkinan. Kapok. Bagaimana tidak? Jika yang kita nikmati hanyalah sepahan tahu berongga yang tawar dan berbau khas. Atau bumbu sepet manis pedas yang hanya membuat produksi air liur dan asam lambung melimpah tapi tak cukup mengenyangkan.


Jika kita ingin menikmati keistimewaannya, gabungkan keduanya dalam satu tempat. Potong tahu menjadi dua bagian. Simpan beberapa potong tahu dalam mangkuk. Siram dengan beberapa sendok cairan berbumbu hingga terendam. Dan rasakan sensasinya .


Sensasi itulah yang dicari oleh pecinta makanan khas Cirebon yang terkenal dengan nama tahu gejrot itu.


Bagi saya, perpaduan rasa pada tahu gejrot tak ubahnya seperti konsep pernikahan. Tahu gejrot menggabungkan dua jenis makanan yang “biasa” menjadi begitu “istimewa” dalam rasa. Menggabungkan dua jenis unsur yang “berbeda” menjadi “satu” dalam wadah yang sama. Menjadikan sepahan tahu berongga itu menjadi begitu menggoda . Dan menjadikan cairan coklat tua beraroma menyengat itu menjadi begitu memikat. Kualitas sensasi tahu gejrot ditentukan oleh kualitas tahu, kualitas bumbu dan cara meraciknya.


Bukankah begitu seharusnya sebuah pernikahan, teman ? Menyatukan dua orang yang biasa menjadi begitu istimewa. Menyatukan dua orang yang berbeda dalam wadah yang sama. Menjadikan perempuan seorang istri dengan berjuta pahala jika bisa menjaga dan menata . Dan menjadikan lelaki memiliki berjuta keutamaan jika mampu menjadi imam bagi kekasih hatinya. Kualitas pernikahan pun didukung oleh tiga hal utama yaitu perbaikan diri istri, perbaikan diri suami dan cara keduanya saling mengisi.


Maka jika tahu gejrot itu ibarat pernikahan, tahu gejrot seperti apakah yang kita inginkan?


Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." ( Q.S. Ar-Rum:21)


Wallahu alam bi showab.

Minggu, 13 November 2011

Ada Cinta di Hucap Darurat


Minggu pagi, matahari masih malu-malu menampakkan diri di langit Kuningan yang biru. Aku dan seorang sahabat duduk manis di bangku panjang di pekarangan sebuah rumah sederhana dekat Pasar Darurat. Di atas meja yang tepat berada di depan dada kami, telah terhidang sepiring makanan beraroma memikat. Potongan ketupat kenyal bercampur dengan dengan potongan tahu panas yang masih mengepul. Siraman bumbu kacang yang dimasak dengan santan dan aneka rempah semakin membuat produksi air liurku membucah. Di atasnya tampak taburan bawang goreng kualitas super yang membuat penampilannya semakin memikat. Ada pilihan kerupuk putih atau emping melinjo untuk menghasilkan sensasi kriuk saat kami menikmatinya.


Pada suapan pertama kami merasakan rasa gurih dari campuran bumbu kacang dan bawang goreng yang membuat melayang. Perpaduan ketupat kenyal dan tahu yang garing di luar tapi lembut di dalam membuat gigitan pertama kami terasa begitu menggoda. Pun suapan berikutnya.


Jika anda orang Kuningan atau pernah ke Kuningan atau berada di sekitar daerah Kuningan pasti sudah tak lagi asing dengan makanan ini. Ya, hucap namanya. Yang sedang kami nikmati hari itu terkenal dengan nama hucap darurat.


Sementara kami menikmati suapan demi suapan hucap darurat, di depan meja kami, ibu penjual hucap yang berusia lewat setengah abad nampak sedang sibuk melayani pembeli lain. Tubuh gemuknya tak menghalangi kecekatannya dalam meracik hucap pesanan. Ia memotong kupat, mengiris tahu, menyiram bumbu dan bawang goreng dengan begitu lihai. Pengalaman puluhan tahun melayani pembeli membuat pelayanannya terlihat optimal. Sementara di belakangnya, sang suami sibuk menggoreng tahu. Tak kalah cekatan dari istrinya.


Ada yang membuat kami terpesona dari suami istri itu. Bukan cara mereka bekerja tapi pembagian tugas diantara mereka. Sang istri mendapat tugas meracik hucap dan melayani pembeli. Bukankah itu adalah tugas yang sifatnya mengabdi dan melayani? Resiko terbesar si istri hanya kemungkinani teriris pisau atau kepanasan memegang tahu. Sementara sang suami bertugas menggoreng tahu. Ia mengambil resiko besar untuk itu. Kemungkinan terciprat minyak panas hampir setiap saat.


Bapak berusia 60 tahunan itu juga melingkupi wajan tempatnya menggoreng dengan seng tinggi di bagian samping dan depan wajan. Menjaga agar minyak tak menyiprati tubuh istrinya yang sedang melayani pembeli. Sepertinya si bapak hendak berkata pada dunia, biarkan aku yang berkorban asal istriku aman. Indah bukan? Sang suami melindungi dengan sempurna, istri meracik dan melayani dengan sempurna. Begitulah cara mereka membuktikan cintanya. Dan begitulah seharusnya cinta.


Pagi itu aku dan sahabatku sepakat ada cinta di hucap darurat. Cinta sepasang suami istri yang tak lagi muda. Maka tak perlu heran jika hucap darurat menjadi hucap favorit bagi sebagian besar masyarakat Kuningan. Bahkan terkadang kita harus mengantri untuk bisa menikmatinya. Karena hucap darurat dibuat dengan cinta. Dan cinta berasal dari hati. Bukankah sesuatu yang berasal dari hati akan sampai kepada hati ?


Wallahu alam bi showab


** Hatur nuhun untuk teh Maimon Herawati atas diskusi dan foto-fotonya :)

Jumat, 04 November 2011

Mimih, Ketangguhanmu Mengajariku untuk Bertahan


Pagi itu, 11 Maret 2005, seorang perempuan berusia lebih dari setengah abad duduk bersimpuh di mesjid sebuah rumah sakit swasta di kota Bandung. Matanya sembab. Mukena putihnya basah. Air mukanya keruh. Dunianya sedang hilang. Gadis bungsunya terbaring lemah di ranjang ruang hemodialisa rumah sakit itu. Menjalani cuci darah ketiganya.


“Allah kenapa cuci darah harus seumur hidup? Kenapa harus gadis bungsuku? Kenapa bukan aku saja?” Perempuan berkulit putih itu meraung semakin kencang, melepas sesak yang menekan dalam dadanya. Seharian ia habiskan waktunya bersama Pemilik Jiwanya. Tak cukup sanggup ia memasuki ruangan tempat gadis 25 tahunnya berjuang mempertahankan hidup. Ia rapuh. Tak lagi sanggup menanggung beban itu, sendiri.


Itulah kali pertama kudengar kisah kerapuhannya, setelah 25 tahun aku mengenalnya sebagai perempuan tangguh tanpa cela. Aku tak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri karena saat itu aku sedang terbaring tak berdaya. Di tubuhku sedang tertusuk dua jarum super besar berselang bening yang dialiri cairan merah dari tubuhku. Ya, akulah gadis bungsu 25 tahunnya. Dan perempuan itu adalah Mimih, ibuku.


Mimih, perempuan yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk nafas pertamaku di dunia. Perempuan yang doa-doanya senantiasa mengiringi hidupku. Perempuan yang telah membuatku merasa jadi orang paling layak untuk dicintai. Entah bagaimana harus kuungkapkan rasaku padanya.


Sejak kepergian bapak menghadap Robbnya di tahun 2000, Mimih berjuang mencukupi kebutuhan sehari-hari dari hasil usaha warung kecil yang dirintisnya sejak tahun 1960. Di desa kecil kami di Kabupaten Kuningan Jawa Barat Mimih berjuang. Ia bahkan tak mau melepas usahanya kendati keempat anaknya saat itu semuanya sudah mandiri. Ketiga kakakku sudah menikah, dan aku sudah bekerja dan membiayai diri sendiri. Saat kami memintanya untuk berhenti berjualan, Mimih menolak dengan alasan tak ingin membebani anak-anaknya. Dengan usaha warung ini pulalah Mimih mengumpulkan keping demi keping rupiah untuk mewujudkan mimpinya pergi haji. Hingga akhirnya di akhir tahun 2004 Mimih menjadi tamu Allah di Baitullah. Sebuah rizki yang tak terduga dan pencapaian yang begitu besar untuk Mimih yang memulai segalanya dari nol. Alhamdulillah.


Selama 13 tahun mimih mendirikan warungnya di atas tanah orang lain, hingga di tahun 1973 Allah memberi kami rizki tak terduga. Sepetak tanah di samping bale desa. Mimih memindahkan warungnya ke sana. Atas izin Allah pulalah, warung kecil kami kini berkembang menjadi warung paling besar di desa kami.


Tentu bukan dengan diam mimih mendapat semua itu. Ia mengelola warung dengan sepenuh jiwanya. Ia memastikan warungnya sudah buka sebelum matahari terbit dan baru tutup setelah matahari terbenam. Ia baru akan tidur setelah jam 10 malam untuk kemudian bangun jam 3 pagi dan pergi ke pasar selepas subuh. Ia memperlakukan warungnya seperti bayi mungil yang tak bisa ditinggal terlalu lama. Bahkan di masa-masa kecilku Mimih dan Bapak mebuat ruangan diatas warung untuk tempat tinggal. Ah mana mungkin kulupa saat aku tertidur diantara tumpukan karung beras atau barang-barang kelontongan yang Mimih jual. Atau saat Mimih harus beranjak dari makan siangnya karena ada yang membeli minyak tanah. Mimih menjalaninya tanpa keluh. Demi mewujudkan kebaikan untuk anak-anaknya, ia tak lagi peduli dengan kelelahan raganya. Ia ajari kami cinta yang sederhana. Sesederhana Mimih yang lulusan SR dan tak cukup lancar berbahasa Indonesia.


Dan vonis cuci darahku seolah menghancurkan itu semua. Mimih menemaniku keluar masuk dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Ia selalu ada di dekatku, kecuali saat jadwal cuci darahku. Aku mengerti, tak mudah baginya menatap jarum-jarum itu tertanam di tubuhku.


Perlahan uang tabungan mimih habis untuk membiayai cuci darahku yang mencapai 1,5 juta seminggu. Aku yang masih menjalani pengobatan di Bandung terpaksa harus melepas mimih pulang untuk sekedar mencari tambahan biaya cuci darahku. Cahaya terang bagi keluargaku mulai terlihat ketika kakakku mengabari bahwa aku sudah bisa menggunakan program bantuan pemerintah bernama Gakin sekitar bulan Mei 2005. Tapi dengan syarat aku harus cuci darah di rumah sakit terdekat dari kotaku, Kuningan Jawa Barat. Maka dengan segala kemudahan yang Allah berikan, akhirnya aku bisa cuci darah di Rumah Sakit Gunung Djati Cirebon dengan menggunakan program Gakin yang kemudian berubah nama menjadi Askeskin dan sekarang Jamkesmas. Dengan program itu aku bisa menjalani cuci darah dengan biaya ditanggung pemerintah. Kami hanya perlu menambah untuk membeli obat, biaya periksa lab dan keperluan lain selama cuci darah berlangsung. Tak ada kata yang layak terucap selain ucapan syukur atas semua nikmat dan kemudahan yang Allah berikan.


Namun di perjalanan hidupku kemudian, kondisi psikologisku mulai labil. Aku yang dulu terbiasa mandiri dan bekerja penuh tiba-tiba harus berada di rumah 24 jam tanpa melakukan apapun. Hanya menunggu kematian. Hampir setahun kutangisi hidupku tanpa henti. Aku menyalahkan diriku, menyalahkan nasibku dan menyalahkan Robbku. Ya, aku menyalahkan Robbku. Aku tak pernah mau berdoa setelah sholat. Kupikir saat itu, buat apa berdoa, Bukankah Allah tak pernah mendengar doaku?


Mimih mengingatkan kekeliruanku. Aku marah padanya. Hingga suatu malam dalam tidurku yang tak lelap kudengar tangisan mimih. Ia mengadu pada Robbnya memohon kesembuhanku. Aku menangis dalam tidurku menyadari betapa angkuhnya aku selama ini.


Setelah itu duniaku menjadi lebih indah bersama doa dan harapan. Mimih memotivasiku setiap saat. Ia bahkan mencoba semua terapi yang bisa kulakukan berapapun biayanya. “Jangan pikirkan uang, Allah memberi rizki lewat warung ini”. Diusianya yang sudah lebih dari 60 Mimih masih berjuang menjaga warungnya. Ia begitu mandiri, tak pernah mau bergantung pada anak-anaknya.


Menyadari kemandirian mimih tiba-tiba aku merasa malu. Sejak sakit, aku menjadi sangat bergantung kepada orang-orang di sekitarku dan mesin cuci darah itu. Maka perlahan, sedikit demi sedikit aku mulai mencari penghasilan sendiri. Dari mulai menjadi konsultan statistik sebagai bidang ilmu yang kukuasai sampai bekerja freelance di biro psikologi. Dan kemudian Allah membukakan jalanku untuk menulis. Buku pertama yang kutulis adalah buku memoarku tentang cuci darah. Tujuan awalku menulis hanyalah untuk berbagi dengan orang-orang yang senasib denganku. Tanpa diduga buku itu membuka jalan bagiku untuk terus menulis dan berkeliling ke beberapa kota, sendirian. Sesuatu yang tak pernah terpikirkan saat vonis cuci darah menghampiriku di tahun 2005. Begitulah, skenario Allah memang selalu indah.


Dan hari ini, tanpa terasa sudah hampir 7 tahun Mimih menemaniku cuci darah. Ia menghapus air mataku. Menggosok punggungku saat nafasku sesak. Memijit kakiku meski aku tak memintanya. Berat badan Mimih berkurang seiring berkurangnya berat badanku. Dan mata mimih cekung seiring cekungnya mataku. Hanya satu yang tak pernah hilang darinya : semangat.


Ya, semangat Mimih untuk terus mengupayakan kesembuhanku tak pernah berhenti. Bahkan sampai hari ini, ia memotivasiku untuk terus bangkit. Ia mengajariku untuk sabar dan pantang menyerah. Bukan dengan ucapan Mimih mengajariku tapi dengan sikapnya. Mimih mengajariku untuk terus semangat mengejar cita-cita. Bahwa menjadi pribadi mandiri itu jauh lebih baik. Tidak dengan perkataan tapi dengan perbuatannya. Dan aku berusaha meneladaninya.


Aku bangkit perlahan-lahan dari titik nadhir kehidupanku. Merangkak sedikit demi sedikit, menyusun kembali puing-puing hidupku yang sudah berserakan. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa hidup bukanlah untuk menunggu kematian, tapi hidup adalah untuk melakukan yang terbaik untuk kehidupan sesudah mati. Dari Mimih aku belajar kesabaran, kemandirian dan. ketangguhan. Ah, perempuan 66 tahun itu selalu membuatku bangga.


Jika ada yang bertanya bagaimana caraku bertahan menjalani hampir 7 tahun cuci darahku, tanyalah pada Mimih. Karena dialah guruku. Ketangguhannya telah mengajariku untuk bertahan.


Allah, aku mencintai mimihku, sangat.

Minggu, 04 September 2011

Perempuan 32

Menjadi 32 dua adalah keajaiban
Bagi seorang perempuan 25 yang cuma kenal satu kata dalam hidupnya : mati
Menjadi 32 dua adalah mimpi, saat itu
Seperti angan yang segera harus terabai

Ia mendapati kematian lalu lalang di hadapannya
Sungguh batas hidup dan mati itu teramat tipis dirasakannya
Allah mengajarinya untuk tak lagi menunggu datangnya mati
Hingga ia tak lagi diam
Dalam rapuh yang mendera Ia tertatih mengumpulkan bekal
Untuk kehidupan sesudah kematiannya

Hari ini, Allah menjadikan mimpi itu tunai untuknya
Hari ini begitu banyak cinta hadir untuknya
Tiba-tiba ia merasa cuma punya dua ingin dalam hidupnya
Sisa usia yang berkah, seperti doa sahabat dan kerabatnya
Dan kematian yang indah , seperti kematian para kekasih Robbnya

Hari ini 4 September 2011
Setelah 32 tahun ia menghirup jutaan gallon oksigen gratis dari Robbnya
Setelah tangis dan tawa hilir mudik dalam hidupnya
Setelah sabar dan syukur selalu terbukti jadi obat ampuh luka hatinya
Perempuan 32 itu semakin menyadari betapa Allah begitu baik padanya

Dan tahukah teman, hari ini aku juga berujar kalimat yang sama
“Allah baik banget sama aku”
Karena perempuan 32 itu dititipkan Allah pada ragaku
Ya, perempuan 32 itu adalah diriku
Segala Puji Hanya Milik Allah, Sang kuasa Penggenggam Jiwaku.


*) Sebuah persembahan kecil untuk kerabat dan sahabat yang tak henti memberi doa dan cinta, Jazakumullah khairan katsir

Kamis, 21 Juli 2011

Siang dan Malam

Teman, pernahkah engkau terbangun di malam hari dan mendengar detak jarum jam yang begitu kencang?

Mengapa detak jam terdengar kegitu jelas di malam hari padahal kita tak memperbesar volumenya?

Karena saat siang kita terbuai dalam pikuknya kehidupan dunia.

Karena saat siang kita terlena dalam ramainya alam raya



Mungkin itulah salah satu alasan mengapa Allah menciptakan malam

Untuk mengenalkan suatu masa bernama sunyi dan gelap pada kita

Masa yang membuat detak jarum jam terdengar begitu nyata di telinga kita

Masa yang membuat kita belajar untuk melihat bagian terdalam diri kita

Masa yang membuat kita merasa begitu dekat dengan Sang Pemilik Jiwa Raga kita



Dari pergantian siang dan malam lah kita belajar

Untuk menghargai suatu masa sebelum kita kehilangannya

Agar kita tak mengeluh lelah saat pagi merekah

Agar kita tak merengek sibuk saat petang menjelang

Bukankah pergantian masa adalah keniscayaan yang nyata?



Dari pergantian siang dan malam lah kita belajar

Untuk menikmati kehidupan di masa manapun kita ditempatkan

Jangan menangis karena berharap malam segera berganti

Jangan mengeluh ketika siang mesti berurai peluh

Bukankah setiap masa memiliki peruntukannya sendiri-sendiri ?





Dari pergantian siang dan malam lah kita belajar

Untuk mensyukuri siang dan bersabar di waktu malam

Mensyukuri muda dan bersabar di masa tua

Mensyukuri sehat dan bersabar di saat sakit

Mensyukuri kaya dan bersabar di saat miskin

Mesyukuri luang dan bersabar di saat sempit

Mensyukuri nyaman dan bersabar di saat tak nyaman

Dan mensyukuri lebih dan bersabar di saat kurang



Bukankah hidup itu hanyalah sebuah persinggahan untuk mencari bekal , teman?



“Sungguh luar biasa urusan seorang mukmin. Semua urusan baik baginya.

Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya.

Jika ia mendapat musibah , ia bersabar dan itu baik pula baginya

(Diriwayatkan Muslim)

Sabtu, 11 Juni 2011

Menjadi Pembelajar Tangguh

Lihatlah lelaki kecil itu . Ia tertegun menatap sepedanya. Sepeda roda empat miliknya kini telah berubah menjadi roda dua. Dua roda samping baru saja dicopot oleh ayahnya. Kini tak ada lagi dua roda pelindung yang sebelumnya membantu menyeimbangkan tubuh lelaki kecil 4 tahun itu saat mengendarai sepedanya Kini ia harus belajar menyeimbangkan tubuhnya sendiri diatas dua roda tanpa bantuan apapun dan tanpa bantuan siapapun. Awalnya sang kakak memegangi bagian belakang sepedanya, lama kelamaan dia dilepas dibiarkan berjuang sendiri, dibiarkan belajar sendiri…



Lihatlah lelaki kecil itu berjuang dan terus berjuang. Tanpa kenal lelah , dua hari hampir tanpa henti ia terus berusaha melatih keseimbangan tubuhnya di atas sepeda roda duanya. Entah sudah berapa puluh kali dia terjatuh, bahkan beberapa kali tubuhnya terseret sepedanya sendiri. Namun tak sekalipun kudengan suara tangisan dari arahnya. Tak ada setetes pun air mata yang mengalir. Cuma suara “aduh” disertai senyum dan usapan di bagian tubuhnya yang “mungkin” terasa sakit. Setelah itu ia kembali berjuang diatas sepedanya. Awalnya di lapangan depan rumah, beranjak ke jalan dan lihatlah sekarang dia sudah biasa mengendarai sepedanya dengan lancar di jalanan walaupun masih sesekali terseok-seok. Cukup dua hari saja baginya untuk belajar sesuatu yang baru, dengan perjuangan yang lebih keras dari orang lain tentunya…Semua luka akibat terjatuh, seolah terbayar lunas oleh keberhasilannya belajar



Begitulah terkadang kehidupan menuntut kita menjadi pembelajar tangguh. Pembelajar yang tak pernah takut jatuh. Pembelajar yang tak mudah menyerah , tak mudah rapuh dan tak mudah berputus asa atas rahmat Sang Pemilik Kehidupan. Karena itulah kenapa dalam kehidupan terkadang kita seolah dibuat kecewa saat sedang berharap banyak, dibuat tak berdaya saat begitu banyak kesempatan yang datang, dan dibuat terkapar setelah sebelumnya mampu berlari kencang. Begitulah cara Allah mengajari kita untuk menjadi tangguh.



Menjadi pembelajar tangguh seperti lelaki kecil itu. Yang tak pernah takut terluka, yang selalu berusaha bangkit setelah terjatuh. Yang tak pernah takut belajar seuatu yang baru. Ia seolah tahu bahwa hidup adalah sebuah proses pembelajaran dan bahwa dunia ini adalah sekolah kehidupan. Maka jika kita termasuk orang-orang yang takut menghadapi hidup, belajarlah menjadi pembelajar tangguh dari lelaki kecil 4 tahun itu. Bukankah semestinya kita jauh lebih berani dan jauh lebih tangguh dari lelaki kecil itu?



Wallahu alam bi showab…

Kamis, 26 Mei 2011

Semut Dalam Toples Gula

Semut hitam itu bahagia luar biasa, di hadapannya berdiri kokoh sebuah toples plastic tinggi transparan yang harus ditaklukannya dengan segera. Tanpa berpikir panjang, semut hitam itupun segera memanjat dinding toples. Tak butuh perjuangan berat, dinding toples yang tak licin memudahkannya untuk mencapai puncak. Dan yang terpenting, tutup toples tergeletak tak berdaya ddi samping toples….ah sebuah pertanda baik bagi si semut hitam, tak ada yang menghalangnya untuk menggapai keinginannya, berpesta pora di dalam toples cantik itu.



Ya, semut hitam itu bahagia luar biasa. Sesampainya di puncak, segera ia menjatuhkan diridengan bahagia di atas bongkahan batu Kristal bening beraroma manis itu. Bongkahan itu adalah hal paling diinginkan si semut hitam dalam hidupnya, unsure terpenting dalam bongkahan itu adalah unsure terpenting dalam hidupnya, Semut hitam mencarinya setiap saat, itulah inginnya, itulah kebutuhannya, itulah mimpinya dan itulah harapnya. Bongkahan kristal bening beraroma manis itu adalah gula.



Gula oh gula dan semut hitam pun berpesta di dalamnya. Ia merasa telah menemukan sumber kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Dan oouuw…ternyata bukan hanya dia yang berpesta, sudah ada beberapa ekor semut lain yang juga tengah berpesta, bahkan ada beberapa diantaranya tampak mabuk kepayang. Semut hitam itupun berusaha menyusup ke bagian yang lebih dalam , rasanya kebahagiannya akan bertambah sangat jika ia bias tidur berselimutkan gula. Namun baru beberapa saat ia masuk, tampak olehnya beberapa teman-temannya terkulai lemas di dalam tumpukkan bongkahan gula, bahkan beberapa sudah mati tertimbun bongkahan gula. Maka dengan segera ia mengambil keputusan mundur, Ia harus keluar segera dari tumpukan sumber kebahagiaaan terbesar dalam hidupnya. Namun keputusannya terlambat karena tanpa ia sadari ternyata tutup toples telah bertengger kembali di tmpatnya. Toples gula tertutup rapat dan semut hitam masih berada di dalamnya. Ia berjuang untuk hidup dalam tumpukan gula yang diinginkannya, Ia menemui kematiannya di dalam tumpukkan mimpinya.



Ada gula ada semut. Seperti itu pulalah hidup kita. Kita mengejar hal-hal yang paling kita inginkan dalam hidup…harta, tahta dan wanita. Ya, uang, kekuasaan dan cinta, tiga hal itulah yang dipersepsikan sebagai sumber kebahagiaan terbesar hidup kita. Konsep korelasi yang dibangun pun adalah konsep korelasi positif , yaitu semakin banyak ketiga unsur itu dalam hidup kita maka akan semakin bahagialah kita. Benarkah demikian? Rasanya dari kisah semut hitam dalam toples gula ini kita bisa belajar bahwa konsep korelasi positif diatas perlu dipertimbangkan. Tak selamanya semakin “banyak” akan semakin bahagia, ada kalanya semakin “banyak” malah membunuh kebahagiaan itu sendiri.



Ya, dari kisah semut dalam toples gula rasanya kita perlu belajar untuk menggeser konsep “banyak” menjadi berkah dalam doa dan harap kita. Mari mohon rizki yang berkah bukan rizki banyak, mari minta umur yang berkah bukan umur yang panjang dan mari kita berharap kehidupan yang berkah dan bukan kehidupan yang serba berlebihan. Bukankah kita tidak ingin seperti semut hitam yang mati dalam toples gula?

Senin, 21 Februari 2011

MIA DAN MAINAN IMPIANNYA, sebuah kisah tentang ikhtiar dan tawakal

Gadis kecil itu namanya Damia Rafa Khalisa. Biasa dipanggil Mia . Usia nya menjelang 4 tahun bulan April tahun ini. Bersama denganya selama 2 hari berturut-turut dalam perjalanan Kuningan-Bandung-Kuningan membuatku belajar banyak tentang bagaimana caranya menikmati perjalanan. Ah, lihatlah bagaimana ia menyanyikan lagu yang disebutnya sebagai lagu “you know me so well” dengan sangat ceria, lihatlah bagaimana saat mobil melewati jalan mendaki , Mia dengan segera ganti berdendang “naik-naik ke puncak gunung”, lihatlah bagaimana ekspresinya berubah sendu saat mual menderanya di tengah perjalanan namun tak butuh waktu lama baginya untuk kembali menikmati perjalanan dengan ceria. Mia gadis kecil yang pintar dan ekspresif. Ia pintar menganalisa keadaan dan sudah mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata yang tepat.



Dari sekian banyak peristiwa yang terjadi selama kebersamaanku dengan Mia dua hari kemarin, yang paling berkesan bagiku adalah kisah Mia dan mainan yang begitu diinginkannya. Kisah yang membuatku belajar tentang banyak hal dalam hidup. Kisah yang terjadi di Minggu sore kemarin, menjelang perjalanan pulang kembali ke Kuningan, dalam lelah yang sangat kami semua berharap bisa segera sampai di rumah dengan selamat. Tapi tidak dengan Mia. Ia masih ada urusan dengan Bandung, memperjuangkan keinginannya mendapatkan mainan impiannya.



Mia terdiam dalam hening di mobil yang membawa kami melewati jalanan Dago yang padat merayap. Keinginan yang kuat memaksanya untuk turut peduli ke arah mana mobil yang akan membawa kami pulang itu mengarah. Meski mama dan papanya sudah berulangkali menjelaskan bahwa tak mungkin mobil berbalik arah melewati kembali kemacetan yang baru saja dilewatinya, namun ia tetap bertahan dengan keinginannya, mendapatkan mainan impiannya. Sambil terus memantau kemana mobil diarahkan, Mia duduk tegak, matanya menatap ke depan tanpa berkedip, jari-jari tangannya saling beradu di depan dada. Saat papanya mengungkapkan ketidakmungkinan mendapatkan mainan dalam kondisi macet seperti itu , mulut mungil Mia merengek manja . Akhirnya berkali-kali mobil mesti berputar untuk menghindari macet demi mendapatkan mainan impian Mia. Sementara Mia masih dengan posisi yang sama, tangan di depan dada, jari jemarinya beradu, ekspresi wajahnya berubah-ubah begitu cepat. Jika saya uperhatikan lebih seksama rasanya saya bisa membayangkan perasaan Mia saat itu kurang lebih sama seperti ketika saya menunggu hasil ujian sarjana saya 8 tahun yang lalu. Mia menatap wajah papanya persis seperti saya menatap wajah dosen pembimbing yang akan memberikan nilai , harap dan cemas bercampur baur jadi satu. Mungkinkah saat itu i Mia juga berdoa dalam hati agar Allah membukakan pintu hati papanya untuk membelikannya mainan baru seperti doa ku agar Allah membukakan pintu hati dosen pembimbingku agar memberi nilai bagus? Kurasa iya, Mia berdoa.



Setelah sekian lama berputar sampailah kami di depan *FC Jalan Merdeka Bandung yang masih padat merayap. Mia turun bersama mama papanya. Beberapa saat kemudian, mereka kembali, bukan dengan mainan impian Mia tapi membawa majalah dongeng yang dibeli di toko buku sebelah *FC. Ternyata persediaan mainan di sana sudah habis, maka digantilah mainan impian Mia dengan sebuah buku. Mia masuk mobil dengan wajah berbinar tak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa beberapa menit sebelumnya ia begitu menginginkan mainan impiannya. Dia sudah puas memperjuangkan keinginannya dengan optimal, baginya mendatangi *FC di jalan Merdeka adalah usaha optimal yang bisa dilakukannya.Cukup. Itu ikhtiarnya untuk mendapatkan keinginannya. Maka ketika iktiar optimalnya sudah dilakukan dan ia tak berhasil mendapatkan keinginanya, iapun dengan ikhlas mengambil keputusan untuk membeli buku dongeng. Sebuah pilihan yang cerdas bukan? Mia mendapat sesuatu yang lebih baik dari mainan impiannya. Mampukah kita seperti Mia? Ah, keikhlasan gadis dan lelaki kecil memang sangat sulit ditandingi oleh orang-orang dewasa seperti kita.



Mobil melaju meninggalkan Bandung saat matahari sudah hampir tenggelam. Mia sudah kembali ceria bersama buku dongeng pilihannya. Ia sudah ikhlas melepas keinginanya mendapatkan mainan impiannya. Ia sudah sampai pada taraf tawakal rupanya. Tak sedikitpun ia mengungkit tentang keinginannya.



Memasuki daerah Sumedang kota, mobil berhenti. Papa mia yang tak lain adalah sahabat baik saya turun untuk membeli sesuatu. Saya masih belum ngeh saat itu. Beberapa saat kemudian papa Mia datang dengan membawa sekotak ayam goreng *FC dan dan sebuah kejutan : mainan yang begitu diimpikan Mia. Papa Mia mendapatkannya di *FC sumedang. Mia yang sudah mengubur harapannya dalam-dalam kali ini tersenyum sangat lebar, ia tertawa, ia cium pipi papa nya, ia pegangi terus mainan impiannya sampai ia tertidur pulas. Alhamdulillah Allah mengabulkan doanya, di saat ia sudah tak lagi berharap.



Kisah Mia dan mainan impiannya mengajari saya tentang paling tidak 4 hal penting dalam hidup :

1. Sikap Roja dan Khouf yang harus kita miliki saat berdoa pada Allah. Roja adalah berharap dengan sungguh-sungguh. Khouf adalah cemas dan takut Allah akan marah dengan keinginan kita yang tak sesuai kehendak-Nya
2. Berikhtiar optimal dalam memperjuangkan keinginan namun tetap ikhlas akan hasilnya apapaun itu.
3. Yakin bahwa Allah tahu yang terbaik dan akan mengganti dengan yang lebih baik
4. Bahwa seringkali Allah mengabulkan doa kita justru setelah kita tak lagi berharap dan sudah ikhlas untuk melepaskan keinginan kita, jadi jangan pernah berhenti berdoa dan jangan berputus asa dari Rahmat Allah.

Ah Mia cantik, terima kasih untuk kebersamaan kita dua hari kemarin. Mia sudah mengajari Tante Lien banyak hal. Semoga kelak Mia menjadi anak kebangaan mama papa yang selalu dicintai dan mencintai Allah. Tante Lien sayang deh sama Mia….:-)


“Demikianlah kita harus selalu memiliki harapan. Karena harapan adalah sumber kekuatan ,sumber motivasi, pemberi makna atas semua amal dan penghibur dalam kesedihan. Maka apakah yang mampu membuat para pejuang bersedih dan melemah sementara Allah swt memberikan jaminan baginya"