Kamis, 17 Desember 2009

Allah Baik Banget sama Aku

Aku terdiam menatap serombongan murid taman kanak-kanak yang bermain bersama di lapangan bola. Tanpa dikomando para lelaki dan gadis kecil itu berkumpul melingkar di tengah lapangan. Ada yang duduk diam, ada yang berdiri sambil menengadah, ada yang sujud tersungkur, ada yang memohon ,ada yang meraung dan yang acuh tak acuh seperti tak peduli pada lingkungan sekitar. Beberapa saat kemudian dari atas tampak turun balon-balon indah berwarna-warni beterbangan menuju arah anak-anak itu. Suasana menjadi riuh rendah, Semua berebut. ada yang berlari mengejar dan memeperoleh balon indah itu. Ada yang meloncat menggapai balon itu. Ada yang tanpa bergerak mampu meraih balon itu. Bahkan ada yang acuh tak acuh dihampiri begitu saja oleh balon itu. Semua nampak bahagia mendapatkan balonnya masing-masing.

Tapi, hey ada anak yang belum kebagian balon. Masih ada 3 balon yang melayang-layang tak jua mendekat. Dan tentu saja ada 3 anak yang terdiam tak kebagian. Anak pertama tetap ceria dan tak peduli pada balonnya yang belum tergapai itu. Ia nampak bergabung dengan teman-temannya yang sudah memiliki balon masing-masing. Anak kedua awalnya terlihatk bersedih, namun kemudian ia tersenyum sambil mengeluarkan mainan lain dari dalam tasnya dan mulai asyik bermain bersama teman-temannya. Sementara anak ketiga terus menangis….menatap balonnya yang yang masih melayang. Ah tak tega rasanya melihat gadis kecil itu menangis memohon sambil kadang meloncat berusaha menggapai balon yang tak jua mendekatinya.

Kudekati gadis kecil yang terus menangis itu, kutanya perlahan
“Kenapa nak? Kok menangis terus?”
“Aku mau balon itu, Allah tak adil padaku, semua teman-temanku diberinya balon, tapi aku tidak”
“Tapi ada teman-temanmu yang belum dapat mereka tetap ceria” ujarku
“Aku tak peduli, pokoknya aku mau balon itu” ujar gadis kecil itu merengek menunjuk balon warna kuning yang masih melayang
Aku tersenyum sambil mengucap rambutnya yang dikuncir dua
“Kenapa harus yang kuning ? Tuh liat kan ada balon yang lebih mudah untuk dijangkau”
“Tidak, aku mau yang kuning” gadis kecil itu masih terus menangis

Hingga kemudian mendekatlah teman-temannya yang lain, ada yang mengajak bermain petak umpet, ada yang mengajak bermain kejar-kejaran, ada yang mengajak maen congklak, bekel sampai ada yang mengajak corat-coret tembok pinggir lapang. Namun gadis itu kemudian memilih untuk mengikuti temannya yang yang mengajaknya bersimpuh di di tengah lapang, kembali menengadah, sujud tersungkur dan berbicara sambil menatap langit, sesaat ia nampak membuka tasnya dan tersenyum.

Beberapa saat kemudian gadis kecil itu kembali ke arahku, sebuah senyuman terus menyungging di bibir mungilnya. Air mukanya sudah berubah lebih cerah. Aku senang melihatnya . Ia duduk di depanku. Mengeluarkan mainan dari dalam tasnya . Hey, ternyata ia punya banyak mainan lain yang tak dimiliki teman-temannya. Tiba-tiba gadis itu berbicara padaku tanpa kutanya…

“Aku tadi mengadu pada Allah. Kubilang kenapa IA tak adil padaku.Aku belum juga kebagian balon itu sampai sekarang. Kenapa Allah memberikannya pada orang lain dan tidak padaku? tak ada jawaban apapun dari Allah, kecuali kurasakan tasku terasa berat dan semakin berat. Lalu saat kubuka kulihat begitu banyak mainan di sana. Mainan-mainan ini sebenarnya sudah kubawa dari rumah, tapi aku tak pernah menyadari betapa berartinya mainan ini untukku. Aku tak pernah mau merawatnya. Padahal ini adalah mainan-mainan bagus yang tak dimiliki teman-temanku”
“ Mulai sekarang aku akan rawat baik-baik mainan-mainanku ini, aku hanya ingin berterima kasih pada Allah yang telah memberiku banyak mainan, tapi aku juga masih menginginkan balon itu. Biar Allah yang mengatur kapan akan mendekatkan balon itu padaku. Bukankah Allah selalu tahu yang terbaik untukku? karena Allah sayang padaku dan semua mahluk-Nya.”
Aku hanya bisa tersenyum melihat gadis kecil yang tak lagi menangis itu. Aku berbalik meninggalkan gadis kecil itu perlahan
“Tunggu, boleh aku menyampaikan sesuatu?” Gadis kecil itu menahanku
Aku mengangguk
“Apa yang ingin kau sampaikan nak?”
Gadis itu terdiam menatapku, wajah mungilnya dihiasi senyuman terindah yang pernah kulihat. Matanya menerawang dan berbinar , sebuah kalimat pendek mengalir dari bibir merahnya
“Allah baik banget sama aku….”
Hmmmmmm, syukurlah akhirnya kau menyadari itu, nak……

Rabu, 09 Desember 2009

Belajar Mencinta dari Aki Uja

Lelaki itu, namanya Uja. Aku biasa memanggilnya aki Uja. Usianya hampir 70 tahun. Pekerjaannya penjaga gedung bale desa di kampungku.Pembawaan cerianya selalu membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum. Ia seorang pekerja keras ,tak pernah kulihat ia duduk termangu, selalu ada yang dikerjakan setiap kali bertandang ke rumahku, bahkan sekedar membersihkan rumput di halaman rumahku. Jika ada rizki, lelaki tua itu selalu berujar "Alhamdulillah, ada uang buat Ma" ....Ah rasanya tak ada yang memungkiri betapa besar cintanya pada Ma Anti, sang istri, dan itulah yang membuatnya istimewa...

"Aki mah sagalana oge jang Ma nya?" begitu komentar orang-orang di kampungku tentang pasangan ini. Tak terpisahkan bahkan sampai usia senja mereka. Kehidupan mereka bahkan jauh lebih romantis dari kehidupan anak-anaknya. Meski hidup sederhana Aki Uja selalu tampak ceria karena merasa punya Ma Anti. Bahkan setelah mata Ma Anti tak lagi bisa melihat karena sakit diabetes, aki tetap mencintainya dengan tulus. Ia selalu memastikan Ma Anti dalam keadaan baik setiap kali mau bertugas menjaga bale desa. Setiap pulang ia mampir ke warung mimihku untuk sekedar membeli makanan buat Ma Anti. Segalanya buat Ma Anti. Ah rasanya tak bisa kulupa bagaimana saat pemilihan umum yang lalu, mereka berjalan berdua melewati warungku. Ma Anti berjalan dengan tongkatnya, aki Uja menuntunnya sambil menunjukkan arah jalan...

Dan yang paling membuatku tertegun adalah dua buah gundukan tanah merah baru di kompleks kuburan di kampungku yang kulihat Idul Fitri yang lalu. Saat kutanyakan pada keluargaku ternyata kuburan itu disiapkan Aki Uja untuk dia dan istrinya jika suatu saat meninggal. Aki Uja bilang "ini buat kuburan aki, nah sebelahnya buat kuburan Ma, biar selalu bersama" oh so sweet he he

Dan beberapa hari yang lalu kudengar dari mimihku, Ma Anti meninggal dunia. Dan yang langsung terpikir di benak aku dan keluargaku saat itu adalah perasaan kehilangannya aki Uja, maka kami menemui dan menghiburnya. Si Aki menemui kami dengan senyum tipisnya, entah apa yang berkecamuk di dadanya....namun terlepas dari itu semua tahukah Aki Uja bahwa kami belajar banyak dari caranya mencinta?....

Wallahu a'lam bi showab...

Minggu, 22 November 2009

Menjadi Debu

Pagi masih teramat sepi
Ketika kau putuskan beranjak menemui Sang Penguasa Hidupmu
Berdiri engkau di hadapan-Nya dengan tegap
Dan mulai merasakan beban yang menyesakkan dadamu menghampiri
satu demi satu berkumpul dan bermain-main dalam hati dan pikirmu

Kemudian berdirimu sudah tak lagi tegap
kau menunduk dan terus menunduk
hingga tersungkur dan semakin tersungkur
Beban itu terasa semakin menekan dan menyesakkan
Hingga membuat lidahmu kelu
Hingga membuat enegimu beku

Dan kaupun merasa dirimu kecil dan teramat kecil
Kerdil dan teramat kerdil
tak lebih dari setitik debu di padang pasir
Saat itulah kau katakan pada Robbmu
“Allah aku sudah tak sanggup”

Maka saat kau berada titik terendah dalam hidupmu
Saat kau lepaskan semua atribut keangkuhanmu di depan Robbmu
Saat itulah diangkat-Nya semua beban hidupmu
Dihapuskan-Nya seluruh luka hatimu
Hingga kau merasa begitu ringan
Dan mampu menegakkan wajahmu untuk hidup ke depan

Maka saat itulah kau menyadari
Hanya pada-Nya akan kau labuhkan mimpimu
Karena kini kau semakin meyakini
Hanya Allah lah sebaik-baiknya tempat Berbagi….

Kamis, 19 November 2009

Belajar Hidup dari Jas Hujan

Malam itu begitu dingin dan sepi, saya baru saja selesai menghadiri pelantikan anggota baru FLP Kuningan ranting Husnul Khotimah. Alhamdulillah satu amanah terselesaikan. Di tengah guyuran hujan yang tak jua reda, saya memutuskan pulang dengan membonceng motor sahabat saya. Meski sejumput ragu sempat muncul di benak saya menyadari udara begitu menusuk tulang malam itu. Tidak beresikokah jika saya memaksa pulang memakai motor tanpa jaket dengan kondisi badan yang sedang tidak fit? Sejenak saya terdiam terkurung ragu hingga sebuah keyakinan mendorong saya untuk pergi, keyakinan bahwa ada hikmah yang akan saya dapat, kenapa Allah menghadapkan saya pada situasi ini ? Situasi yang sudah begitu lama tidak saya temui…..

Maka mulailah saya bersiap-siap, Alhamdulillah sahabat saya membawa jas hujan besar dengan dua lubang, bisa dipakai bersamaan oleh pengendara dan penumpang motor. Karena belum terbiasa, saya merasa agak kesulitan memakai jas hujan itu, terutama saat mengenakan bagian kepala , saya merasa agak sempit. Padahal di sana ada lubang untuk menampakan wajah saya keluar. Karena hari sudah terlalu malam, saya memutuskan untuk mengurungkan jas hujan itu ke seluruh tubuh dan kepala saya. Motor mulai jalan. Saya memegang erat baju sahabat saya, sang pengendara motor. Gelap dan pekat, saya tidak bisa melihat apapun. Saya benar-benar mempercayakan diri saya pada sang pengendara. Tidak tahu sedang melewati jalan mana, sudah sampai mana, sedang berjalan lurus atau belok, di samping saya ada kendaraan apa, bahkan saat motor tiba-tiba berhenti, saya cuma bisa bertanya-tanya dalam hati. Tidak bisa protes, tidak bisa membantu bahkan tidak bisa mengingatkan jika si pengendara menyalip sembarangan.

Merasa tidak nyaman dengan kondisi itu, saya mulai berupaya mencari celah. Perlahan saya cari lubang untuk menampakan wajah saya. Awalnya hanya mata saya yang bisa terlihat di lubang itu. Ah lega akhirnya saya bisa melihat cahaya. Jalanan tidak segelap yang tadi saya rasakan. Ada sinar-sinar lampu yang menerangi. Dingin mulai menerpa namun tak menyurutkan langkah saya untuk menampakkan seluruh wajah saya keluar. Dan akhirnya dengan usaha yang keras saya mampu juga memakai jas hujan itu dengan sempurna. Terasa lebih nyaman dan saya bisa melihat sekeliling saya dengan lebih leluasa. Meski kemudian saya mulai merasakan efek angin malam yang menerpa dan rintikan air hujan yang membasahi wajah saya tapi saya tetap yakin saya lebih nyaman dengan situasi itu. Tak lagi gelap, bebas melihat, saya tahu sudah sampai dimana perjalanan saya, berapa lama lagi sampai tujuan dan tahu kapan motor akan menyalip, kapan akan belok dan kapan akan berhenti

Ya , akhirnya saya tahu kenapa Allah menghadapkan saya pada situasi itu. Allah sedang mengajari saya untuk belajar hidup pada jas hujan itu. Jika kita mengandaikan jas hujan itu sebagai zona nyaman hidup kita. Ada dua pilihan dalam hidup seperti dua pilihan dalam dari jas hujan itu. Jika kita memilih mengurungkan jas hujan di kepala kita maka kita memasuki zona nyaman. Kita bisa berlindung dari dinginnya terpaan angin dan rintikkan hujan di baliknya. Tapi kita terus berada dalam gelap, terus berada dalam ketidaktahuan akan sekeliling , mempercayakan hidup kita sepenuhnya pada orang lain dan tak pernah akan tahu betapa indahnya sinar lampu yang menyinari perjalanan hidup kita. Tapi jika kita memilih menampakan wajah kita di lubang kecil itu berarti kita memilih zona tak nyaman hidup kita. Kita harus siap menghadapi beratnya ujian dan cobaan yang datang menerpa, angin dingin dan rintikan hujan itu akan membasahi wajah kita terus menerus, tapi jika kita mampu menikmati perjalanan kita seberat apapun maka kita akan bisa melihat begitu banyak keindahan sepanjang perjalanan hidup kita. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah memberi begitu banyak hikmah dalam kehidupan…..
Wallahu a’lam bi showab

Minggu, 15 November 2009

Karena Luka adalah Keindahan yang Tertunda

Waktu itu
ketika kutemui diriku terluka,
kupandangi luka itu , dalam dan semakin dalam
Aku hanyut dan semakin hanyut
Kukasihani diriku, kupeluk jiwaku
Bahkan kubiarkan diriku membuka luka-luka lama yang sudah mengering
Diriku terharu aku ikut terharu, diriku tersedu aku ikut tersedu, bahkan diriku meraung akupun ikut meraung
Kukatakan pada diriku betapa sialnya aku
Kukatakan pada diriku untuk diam dan menutup diri
Agar tak lagi kutemui luka serupa di kemudian hari

Hingga datang seorang kawan ,
Ia katakan pada diriku
Lihatlah luka itu dari sisi lain dan akan kau temui keindahan hidup sesudahnya
Aku diam dan hanya mengangguk
Teringat aku pada janji Robbku
“Sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sungguh sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Maka setelah itu
Ketika kudapati diriku menemui luka yang baru
Aku mengajak diriku tersenyum
Kutawari diriku obat luka yang ampuh
Kukatakan pada diriku betapa beruntungnya aku
Kusampaikan pada jiwaku betapa hebatnya aku
Jika aku mampu mengobati diriku sendiri

Dan kini aku tersenyum dan senantiasa tersenyum untuk sebuah luka
Hingga kutemui luka itu menutup sempurna
Dan sebuah keindahan tak terduga hadir sesudahnya
Karena aku yakin
Karena aku percaya
Luka adalah keindahan yang tertunda…..

Jumat, 30 Oktober 2009

Tersenyumlah dan Bekerjalah

Pernahkah engkau terbangun di pagi hari dan merasa begitu takut menghadapi dunia? Pernahkah engkau terjaga dan bertanya pada dirimu sendiri "mampukah aku melewati hari ini dengan baik?" Aku pernah. Dan kukatakan pada diriku saat itu : tersenyumlah dan bekerjalah. Ya, tersenyumlah maka dunia akan tersenyum padamu. Dan bekerjalah maka Allah,Rosul dan orang2 mukmin akan melihat hasil pekerjaanmu. Jika engkau merasa tak cukup mampu untuk terus melakukannya di sepanjang usiamu, paling tidak tersenyum dan bekerjalah untuk hari ini saja. Dan apabila esok engkau terbangun dengan pertanyaan yg sama, maka jawablah dengan jawaban yg sama...

Rabu, 21 Oktober 2009

Saat Aku sedang Lupa akan Kematian

Saat aku sedang lupa akan kematian
dunia terasa begitu indah
Begitu takut aku meninggalkannya
Tidak...aku belum ingin semuanya berlalu
Terlalu takut aku melepaskannya

Saat aku sedang lupa akan kematian
Semakin jatuh aku akan urusan dunia yang fana
Semakin jelek pensikapanku atas ketentuan-Nya
Hingga sulit air mata ini mengalir untuk-Nya
Hingga begitu kelabakan aku mencari penampung selain-Nya

Saat aku sedang lupa akan kematian
Adakah yang mampu mengingatkanku
Selain DIA?
Tolong hamba Yaa Robbi
Ampuni hamba Yaa Ghofur....

Jumat, 04 September 2009

Hari ini 30 tahun yang lalu, Sebuah Renungan tentang Sekolah Kehidupan

Hari ini, 30 tahun yang lalu
Sebuah sapaan lembut menyapaku...
Selamat datang Auliya...
Selamat bergabung di sekolah kehidupan...

Sekolah yang akan mengajari kamu matematika yang rumit
Sekolah yang akan mengajari kamu ilmu exact yang begitu serius
Sekolah yang akan mendidik kamu ilmu sosial yang harus kamu pahami dengan hati dan akal
dan sekolah yang akan mengajari kamu ilmu bahasa yang penuh rasa

Tapi ingat sayang...
Sekolah ini juga mengajarkan hal yang mungkin tidak diajarkan di sekolah lain...
Tentang bagaimana kamu mengenal dan mencintai dengan utuh SANG GURU
SANG GURU yang akan mengajari kamu tentang kehidupan
SANG GURU yang Mahatahu yang terbaik bagi perjalanan kehidupanmu

Jangan marah..
Jika sesekali SANG GURU memutuskan engkau tak naik kelas
bukan karena IA tak sayang padamu
tapi karena IA ingin engkau jauh lebih pintar dari sebelumnya

Jangan kesal...
Jika kau kadang merasa lelah belajar dan terus belajar
Karena SANG GURU terus-terusan memberimu soal ujian
bahkan mengikutkanmu di berbagai perlombaan yang kadang kau merasa tak mampu mengikutinya
itu karena SANG GURU Mahatahu sejauh mana batas kemampuanmu

Nikmatilah saat SANG GURU memberimu waktu berlibur
Tapi jangan terlena Auliya...
Siapkan terus bekal untuk kelulusanmu dari sekolah kehidupan
Karena hanya SANG GURU yang tahu kapan hari wisudamu akan digelar
Mungkin sehari...dua hari...setahun..dua tahun yang akan datang atau bahkan beberapa saat lagi

Jangan berdiam menunggu waktu wisudamu..
Belajarlah dan terus belajar
Lakukan yang terbaik untuk bekal hari-hari sesudah hari kelulusanmu digelar


Dan hari ini
Sebuah sapaan lembut kembali menyapaku...
Assalamu 'alaikum Auliya...
Apa yang sudah kamu pelajari selama 30 tahun di sekolah kehidupan?
Bekal apa yang sudah kamu punya untuk menemui SANG GURU?
Siapkah?
Mampukah kamu menegakkan wajahmu di depan SANG GURU?

*Astagfirullah al adzim...tiba-tiba lututku lemas...dadaku sesak...aku menunduk seraya berujar "aku belum punya apa-apa yang bisa aku banggakan di depan SANG GURU, semoga aku masih punya waktu"*

Wallahu a'lam bishowab...

Selasa, 04 Agustus 2009

Ketika Aku sedang tidak Bersyukur

Ketika aku sedang tidak bersyukur...
entah kenapa, suasana menjadi sangat tidak nyaman
entah kenapa, orang2 di sekitarku menjadi sangat tidak menyenangkan
entah kenapa, dunia menjadi sangat tak bersahabat denganku

Saat aku sedang tidak bersyukur...
Tiba2 kakiku terantuk batu, kepalaku tertimpa buku, jariku terjepit pintu
Saat aku sedang tidak bersyukur...
Tiba-tiba si A tak menyapaku, si B tak menemaniku, bahkan si C tak mendukungku
Kemudian Robbku mengingatkanku "jika kamu bersyukur maka akan Kutambah nikmat-Ku, tapi jika kamu kufur (tidak bersyukur) sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"

Setelah itu, saat aku sedang tidak bersyukur,
aku mulai berfikir
Mungkin aku terantuk biar aku lebih kuat, mungkin aku terpojok biar aku lebih teguh
Ketika si A tak menyapaku, akan kusapa ia lebih dulu. Ketika si B tak menemaniku mungkin aku sedang dilatih untuk mandiri. Bahkan ketika si C tidak mendukungku mungkin Robbku sedang mengajariku untuk bergantung hanya pada-Nya....

Maka saat aku sedang tidak bersyukur aku mencoba untuk menciptakan kebahagiaanku sendiri...

wallahu a'lam bi showab

Kamis, 18 Juni 2009

Lelaki Muda Itu

Senyum ceria dan sorot mata sendu tak pernah lepas dari wajah kecil lelaki muda itu saat kami berbincang Jumat pagi di ruang HD sebuah rumah sakit di Kota Cirebon. Seperti teman-teman seusianya, semangat mudanya begitu menjiwai setiap kalimat pendek yang mengalir dari bibir pucatnya. Tanpa terasa, hampir 2 jam kami berbincang dalam suasana yang penuh kekraban. Memang harus kuakui Ia adalah seorang yang sangat bersahabat. Tak ada luka dan perih yang kutangkap dari sorot matanya sepanjang perbincangan pagi itu, hanya sedikit kabut yang menyelimuti saat Ia berbicara mengenai ayahnya yang sudah pergi lebih dahulu menemui Robbnya.

Itulah sosok Sony Suwardi Drajat. Pagi itu lelaki muda kelahiran Majalengka 23 April 1991 sedang menjalani cuci darah rutin yang telah dilakoninya sejak bulan Februari 2008. “Rumah saya di Rajagaluh teh, satu jam lebih dari sini, kebetulan hari ini sedang bebas menjelang pra UAN, jadi saya bisa HD pagi, biasanya siang hari sepulang sekolah” , ujarnya saat kutanyakan tentang jadwal HDnya. Setelah itu mengalirlah cerita keceriaan tentang aktivitas sekolahnya di kelas 3 SMUN 1 Majalengka

“Dulu sebelum HD hobi saya balapan motor he he, kalau aktivitas di sekolah ikutan Pecinta Alam, biasa teh, naik-naik gunung. Setelah HD sih paling nonton balapan aja, tapi sebenarnya masih ada mimpi yang ingin saya kejar…naik motor cross ke Gunung Bromo..mudah-mudahan suatu saat tercapai ya teh. Sekarang sih saya masih sibuk sekolah. Pergi pagi terus pengayaan sampai jam 5, jam setengah 9 malam harus mulai les untuk persiapan UN, tapi mungkin karena sibuk itulah saya jadi ngga pernah kepikiran masalah cuci darah. Alhamdulillah ya teh” Aku tersenyum sambil mengaminkan doanya, ah rasanya aku begitu tersulut dengan semangatnya yang begitu menggebu.

“Cita-cita saya ingin jadi psikolog teh, alhamdulillah kemarin juga saya baru ikut test masuk Psikolog UI, doakan ya teh, saya ingin mempelajari psikologi biar bisa belajar tentang diri sendiri karena saya yakin obat dari segala penyakit pada dasarnya ada di dalam diri kita sendiri, tinggal bagaimana kita bisa memahaminya ” ujarnya lugas dan aku terdiam. Ingin rasanya kuacungkan dua jempol tanganku sebagai ungkapan rasa salutku atas pemikiran anak muda berusia 17 tahun ini. Aku semakin yang bersemangat belajar darinya…

“Yang membuat saya bertahan? Keyakinan bahwa hidup itu indah, Allah menciptakan kita dengan sempurna. Kalau ada yang bermasalah fisiknya seperti saya, ya itu karena kesalahan dan keteledoran sendiri. Bagi saya sekarang adalah gimana caranya sakit saya ini bisa jadi contoh buat orang lain agar yang bisa menjaga kesehatannya dengan baik.”

Kualihkan pandanganku ke pintu masuk, ah matahari semakin terik menyinari Kota Cirebon yang panas, aku harus segera beranjak. Andai saja aku punya waktu lebih luang, mungkin akan lebih banyak hal-hal lain yang bisa kupelajari darinya. Kendati demikian rasanya kalimat terakhirnya di ujung pertemuan kami membuatku semakin mengaguminya.

“Harapan saya semoga sakit ini bisa membuat keyakinan saya sama Allah lebih terjaga teh. Dan satu lagi yang selalu membuat saya bersyukur, bagi saya cuci darah itu nikmat, karena cuci darah membuat saya merasa begitu banyak dicintai, saya mendapatkan cinta dan perhatian yang mungkin tak dirasakan oleh teman-teman saya yang sehat, jadi tak ada alasan bagi saya untuk terus bersedih”

Aku kembali terdiam, Robb hikmah sebesar itu sudah Engkau berikan pada lelaki muda yang usianya hampir separuh usiaku? Maha Suci Allah yang telah menjadikan adik kecilku itu menjadi begitu kuat. Kulangkahkan kakiku menapaki jalanan yang semakin berdebu. Peluhku mengucur deras tapi hatiku begitu sejuk. Siang yang terik itu akan menemukan semangat baru dalam hidupku. Semangat penuh kesyukuran dari seorang Sony Suwardi Drajat.

Maka saat aku lupa bagaimana caranya bersyukur, Allah membisikan sebuah kalimat pendek di telingaku “belajarlah dari lelaki muda itu…….”

Wallahu a’lam bishowab

Semoga memberi hikmah
Kuningan, April 2009

Jumat, 24 April 2009

Makan Sama Aspal Panas

Pagi ini, seorang teman berbagi cerita tentang kehamilan pertamanya yang menginjak usia 2 bulan dan mulai mengalami ngidam....tiba-tiba pikiran saya melayang pada kisah-kisah beberapa teman dan saudara yang yang mengalami ngidam dari mulai yang ringan-ringan sampai yang tak masuk akal.
Ada yang mual muntah kalau berdekatan sama suaminya, ada yang ingin makan mangga curian, ada yang pengen makan surabi tengah hari saat bulan ramadhan bahkan ada salah satu saudara saya yang ngidam makan sama aspal panas.

Makan sama aspal panas? Bagaimana caranya? Kalau dipikir logika rasanya tak mungkin makan sama aspal panas. Tapi mitos bahwa permintaan orang ngidam harus dipenuhi telah membuat keluarga berusaha memikirkan cara paling masuk akal untuk memenuhi permintaan itu. Akhirnya dengan berbagai usaha didapatlah jalan sebagai berikut :

1. Mintalah sepiring aspal panas pada mandor proyek yang sedang menangani perbaikan jalan raya di depan kompleks rumah meskipun harus memohon
2. Simpanlah piring berisi aspal yang masih mengpul asapnya itu diatas meja makan, tutuplah dengan tudung saji
3. Pastikan asap aspal panas masih mengepul melalui lubang-lubang tudung saji
4. Biarkan sang ibu hamil mengepal nasi, memegangnya di atas tudung saji dan pastikan terkena asap aspal panas, setelah yakin nasi itu sudah beraroma aspal maka biarkan ibu hamil itu memakannya
5. Maka tunailah sudah kewajiban keluarga terhadap ibu hamil yang sedang ngidam itu he he he..^_^

Ya, konon keinginan ngidam ibu hamil harus dipenuhi karena akan berpengaruh terhadap perkembangan sang buah hati. Tapi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ngidam atau tidaknya ibu hamil dan seberapa parah tingkat ngidamnya sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis si ibu hamil. Semakin baik kondisi psikologisnya semakin kecil peluang untuk ngidam yang aneh-aneh.

Untuk para psikolog, dokter, para ibu, ayah, calon ibu, dan calon ayah...ada yang mau berpendapat atau berbagi pengalaman? Semoga menjadi masukan berarti bagi yang masih bingung dan belum berpengalaman seperti saya he he

Wallahu a'lam bi showab

Senin, 20 April 2009

Kakasih Gulmer

SPL HIMASTA UNPAD, Jatinangor 1998

“Kabut masih menyelimuti langit jatinangor pagi itu, aku sudah berlari bersama teman-temanku “pecinta satistika” melewati “tanjakan baeud” sambil membawa bekal roti Rp. 500 yang dibeli di “toko yanto” atau “sabar subur”. Tanjakan baeud...jalan mendaki di gerbang Universitas Padjadjaran Jatinangor memang selalu membuat orang yang melewatinya “baeud” alias “bete. Diantara kami yang berlari tak ada satupun yang tersenyum saat itu...yang terbayang di benak kami hanya suara bentakkan panitia yang siap memerahkan telinga kami beberapa saat lagi...

Bukan hanya panitia yang harus kami hadapi saat itu...tapi juga para “senior mahagalak” yang bentakannya bukan hanya memerahkan tapi memekakkan telinga. Namun ada kalanya hati para senior itu tiba-tiba menjadi lembut dan full smile...seperti yang terjadi pagi itu...

“Siapa diantara kalian yang orang sunda asli? Cepat berkumpul...memisahkan diri !!!!!!”

Aku dan beberapa orang lain yang merasa diri asli sunda segera memisahkan diri....

“Kieu nya, akang bade naros...saha kakasih teh?”

Ditanya siapa kakasih tentu membuat kami semua tersipu. Tak ada yang menjawab. Dalam pikiran kami saat itu kakasih berarti kekasih atau pacar. Karena tak ada satupun yang menjawab maka kami dipanggil satu persatu...

ada yang masih tersipu......

ada yang menjawab dengan menyebut nama pacarnya......

ada yang diam dan bete.....

sampai ada yang menjawab “teu...gaduh”

mendengar ada yang menjawab teu gaduh alias tidak punya kontan seluruh senior tertawa...kami heran

“ masa ngga punya kakasih, ngga mungkin...., tahu ngga kakasih artinya apa?”

Kami makin tersipu

“dalam bahasa sunda kakasih itu artinya nama...masa kamu ngga punya nama.....”

Dan kami semua tersenyum menyadari itu he he he

Lain lagi cerita sahabatku ...masih di kegiatan yang sama di hari yang lain...Saat itu pengumpulan tugas barang-barang , para senior menyebutkan barang-barang yang harus dibawa....dan para peserta harus mengumpulkannya ke depan.

“Kacang hijau.........”

Kami mengangkat plastik berisi kacang hijau...setelah yakin semua peserta membawa...baru kacang hijau dikumpulkan ke depan....

“Gula Merah...”

Ternyata gula merah milik sahabatku hilang dari dalam tasnya...ia begitu gelisah mencari gula merahnya. Karena tak juga ketemu sahabatku menjadi “kandidat terhukum” karena melakukan kesalahan. Entah karena takut dengan hukuman atau karena merasa yakin gula merahnya masih ada, sahabatku itu..terus mencari gula merahnya.......maka disaat kami sudah santai dia masih berjuang mencari gula merahnya. Dan perjuangannya tidak sia-sia...disaat suasana ruangan sedang hening karena senior sedang mendiskusikan hukuman untuk yang melakukan kesalahan, sahabatku berteriak dengan semangat 45 sambil mengangkat gula merahnya tinggi-tinggi

“kang...gula merahnya ketemu.....”

Maka sang senior pun dengan santai berkata....

“ Mulai sekarang kamu saya panggil si Gulmer” he he he....

Itulah sekelumit kisahku dalam Study Pengenalan Lapangan(SPL) yang harus kulalui seminggu sekali untuk bisa lulus menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Statistika (HIMASTA) UNPAD....Saat menjalaninya SPL selalu menjadi bagian yang tak menyenangkan bagiku, tapi mau tak mau tetap harus kulewati sebagai konsekuensi dari keinginanku untuk bisa diterima di lingkungan baruku.

Dan SPL yang tak menyenangkan ternyata tak selamanya tak menyenangkan ada kalanya saat tak menyenangkan bisa menjadi begitu indah ketika kita bisa menikmatinya. Seperti ketika kami menikmati kisah tentang “kakasih gulmer”

Saat-saat tak menyenangkan.....tentu tak ada orang yang menginginkannya...tapi saat-saat tak menyenangkan selalu mampu membangkitkan semangat dan optimisme baru. Bukankan kelulusan baru akan diraih jika kita telah melewati ujian yang notabene tidak menyenangkan?

Jadi...saat kita mengalami saat-saat tak menyenangkan....nikmatilah.....

“Nikmati kesedihan seperti kamu menikmati kebahagiaan”

“Nikmati kesendirian seperti kamu menikmati kebersamaan”

“Nikmati kecewaanmu seperti kamu menikmati kepuasan”

“Nikmati kesulitan seperti kamu menikmati kemudahan” dan

“Nikmatilah ketidaknyaman seperti kamu menikmati kenyaman”

Semoga dengan demikian....

Kita termasuk pada golongan orang-orang yang bersyukur....

Wallahu a’lam bishowab...

Minggu, 19 April 2009

Belajar tentang Kejujuran

Kuningan, Agustus 1995

Menjadi siswa SMA negeri 2 Kuningan menjadi impianku sejak kecil. Rasanya tak percaya bisa memasuki sekolah yang konon ‘hanya diperuntukkan’ untuk anak-anak serius. Berbagai image positif dari masyarakat Kuningan memang begitu melekat pada siswa sekolah ini, saking positifnya sampai ada yang mengatakan “kalau melihat anak SMA pagi-pagi jalannya cepet, nunduk, bawa buku tebal, bajunya rapih dan sopan, mimik wajahnya serius, dapat dipastikan itu siswa SMA2” atau “ Masuk SMA 2 jaminan masuk PTN”. Berbagai kebanggaan menghampar luas di di hadapanku minggu pagi itu, hari pertama aku menginjakan kakiku di sekolah ini untuk acara orientasi pramuka siswa baru. Dengan baju pramuka lengkap dengan tongkat dan berbagai atributnya yang kukenakan, aku berjalan tenang sambil menebar senyum pada setiap orang yang kutemui sambil memasuki kelas 1-5. Di lapangan upacara para senior kami, yang biasa disebut bantara, sedang melaksanakan upacara penaikan bendera, tak ada satupun dari kami yang ikut merasakan khidmatnya upacara tersebut

“Ngiuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuung” suara sirine dari Toa mengagetkanku dan teman-teman baruku. Belum habis kekagetan kami dengan suara sirine....” de..ayo cepat-cepat kumpul di lapang perkelas” Bug....bug...bug suara pukulan di pintu kelasku bersahutan dengan suara sepatu dan tongkat kami yang saling beradu . Aku berlari sekuat tenaga, jantungku berdebar kencang, kuusahakan fikiranku tetap fokus meski rasanya sudah tak menentu. Kumasuki barisan kelas 1-5 di ujung lapangan dekat ring basket. Nafasku sudah kian teratur ketika kakak bantara berkumpul di depan barisan kelasku. Seorang bantara maju ke depan, tepat di depan barisan kelasku. “Ok...untuk kelas 1-5, siapa diantara kalian yang saat pengibaran bendera tadi tidak pada posisi hormat?” suaranya tak terlalu kencang, tapi cukup untuk membuat jantungku kembali berdegup. Aku sadar tak satupun dari kami pada posisi hormat saat pengibaran bendera tadi, masing-masing sibuk dengan urusannya....” Sekali lagi....kelas 1-5 ,siapa yang merasa tidak menghormat bendera?” Suaranya semakin lantang, jantungku bertdetak makin kencang, rasanya lututku semakin lemas, aku takut....tak satupun dari kami berani mengaku dan angkat tangan, sampai kemudian tanpa kuduga....seorang anak lelaki,teman sekelasku, yang kemudian kuketahui bernama Iping Aripin tiba-tiba mengacungkan tangannya sambil berkata “saya kang”, dan aku tertegun....tertegun atas keberaniannya, tertegun atas kejujurannya.....dari 40 orang diantara kami...hanya ipinglah yang berani untuk jujur,maka dapat dipastikan setelah itu....39 orang yang lain termasuk aku harus menjalani hukuman akibat ketidakjujuran atau lebih tepatnya ketidakberanian untuk jujur.

Belajar tentang kejujuran dari seorang Iping Aripin, satu prinsip yang selalu kuingat , semua sifat jelek mungkin ada pada diri seorang muslim kecuali ketidakjujuran karena ketidakjujuran akan selalu melahirkan ketidakjujuran yang lain....

Semoga menjadi renungan....