Kamis, 08 April 2010

Korelasi Cinta

Dalam ilmu statistika , korelasi dapat diartikan sebagai hubungan (asosiasi). Analisis korelasi bertujuan untuk mengetahui pola dan keeratan hubungan antara dua variabel atau lebih.
Ada banyak hal dalam kehidupan yang dapat dihitung keeratannya dengan korelasi. Namun ada satu hal yang sedang menggelitik saya sekarang. Cinta, dapatkah cinta diukur korelasinya? Formulasi korelasi yang mana yang bisa dipakai untuk mengukur kadar cinta dan keeratan hubungan antar dua orang atau lebih. Korelasi Pearson, Spearman, Kendall, Cramer, Gamma, Sommers atau mungkin parsial? Dengan skala pengukuran apa cinta bisa didefinisikan? Nominal, ordinal, interval atau rasio kah? Hal apakah yang paling penting untuk dipelajari dari sebuah korelasi cinta.

Barangkali sebagian akan menjawab bahwa cinta bisa didefinisikan dengan bentuk skala sikap , seperti halnya motivasi, kecemburuan, persepsi atau kesukaan. Sehingga kadar cinta akan bisa ditingkatkan sekuat apa kita berusaha meningkatkannya. Semakin tinggi usaha kita maka akan semakin kuat kadar cinta kita. Tetapi ternyata kenyataannya tidak semudah itu. Karena korelasi berbicara tentang dua variabel. Dan korelasi cinta berbicara tentang dua individu. Oleh karena itu menurut saya selain besarnya korelasi cinta yang menjadi bagian penting untuk dipelajari, perlu juga dipelajari arah korelasinya.

Berdasarkan arah hubungannya korelasi terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
1. Korelasi positif atau Direct correlation yaitu apabila perubahan pada satu variabel akan diikuti oleh perubahan pada variabel yang lainnya dengan arah yang sama
2. Korelasi Negatif atau Inverse correlation , yaitu apabila perubahan pada satu variabel akan diikuti oleh perubahan pada variabel yang lainnya dengan arah yang berlawanan

Dalam korelasi cinta, sebuah hubungan akan berjalan harmonis dan selaras saat kedua pasangan mampu mempertahankan korelasi cinta positif antar keduanya. Artinya arahnya juga harus sejalan, bukan hanya besarnya kadar cinta. Karena tak akan berjalan baik sebuah hubungan dengan kadar cinta yang tinggi tapi arahnya tidak sejalan. Dengan apa menyelaraskan arah itu? Tentu saja dengan komitmen. Dalam hal ini, yang sesuai dengan sunah Rosul, yaitu pernikahan.

Lantas mengapa meskipun sudah ada komitmen tak jarang sebuah korelasi cinta pada akhirnya harus menjadi negatif. Kenapa cinta yang tadinya begitu indah tiba-tiba menyesakkan dan mengecewakan. Itu karena, sekali lagi, korelasi cinta melibatkan dua hati. Dan hanya Allah yang memiliki Kuasa Penuh atas hati-hati itu. Dan tak dapat kita pungkiri bahwa ada kalanya hati berjalan di luar kendali kita.

Namun perlu diingat, ada satu korelasi cinta yang bisa terus dipertahankan bernilai positif. Satu-satunya cinta yang tak akan pernah menyakitkan dan mengecewakan. Cinta antara hamba dengan Robb-nya. Cinta antara kita dengan Robb kita. Cinta jenis ini akan selalu bernilai positif selama kita mau mengusahakannya. Kenapa? karena cinta Allah kepada hamba-Nya selalu meningkat dan tak pernah berkurang. Kalaupun terkadang kita merasa berkurang, itu karena kita yang menjauh. Jika kita bisa mengusahakan cinta kita kepada-Nya semakin besar , maka akan selalu positiflah korelasi cinta itu. Dan itulah tujuan hidup kita.

Jadi bagaimanakah mempertahankan korelasi cinta kita tetap positif? Bermohonlah selalu pada Robb yang Maha Membolak-balikan Hati. Memintalah pada Allah, Sang Kuasa Pemilik Cinta.

Wallahu alam bi showab