Senin, 17 Mei 2010

Mensyukuri Ketiadaan

Perempuan muda itu tertegun menatap rintikan air yang membasahi pekarangan rumahnya. Langit masih teramat pekat. Ada 3 hal yang harus dipilihnya dengan cepat pagi itu, pergi ke pasar, melanjutkan memasak dengan bahan seadanya atau berdiam diri meratapi keadaan yang tidak sesuai keinginan. Terbayang olehnya, semalam menjelang tidur, dalam lelah yang sangat, ia masih sempat memeriksa persediaan bahan masakan di lemari esnya. Ada daging sapi yang sudah direbus, telur, tempe, wortel, dan kol. Dengan cepat iapun merencanakan untuk memasak 3 menu untuk sarapan keluarganya, sup daging sapi, telur dadar dan tempe goreng tepung.

Dan pagi tadi selepas sholat subuh, ia bergegas menuju dapur menyiapkan semua keperluan memasaknya. Tanpa harus kepasar, ia bisa memasak menu yang sudah direncanakannya. Sudah terbayang pagi ini keluarganya akan sarapan dengan sup segar, telur dadar gurih dan tempe goreng tepung yang renyah. Pertama ia menyiapkan bahan untuk telur dadar. Telur, irisan bawang merah, dan irisan tipis bawang daun. Tanpa pikir panjang ia mengiris tipis semua daun bawang yang ada.

Selesai bikin dadar telur, ia mulai menyiapkan bahan sup. Daging sapi, wortel,kol dan setelah itu ia tertegun beberapa saat. Kemudian matanya mulai menjelajahi pinggiran dapur. Ada sesuatu yang dicarinya. “perasaan kemarin masih ada kentang..” ujarnya pelan. Lelah mencari, ia memutuskan melanjutkan memasak supnya tanpa kentang. Meskipun, baginya kentang adalah pelengkap penampilan supnya. Baginya sup yang sempurna adalah sup yang segar dan tidak berlemak, dengan perpaduan warna yang indah. Putihnya kol, merahnya wortel dan tomat, kuningnya kentang dan hijaunya daun bawang. Sebentar….rasanya ada dua bahan yang tadi disebut tak ada di depannya. Tomat dan bawang daun. Tak ada sebiji tomatpun disana dan irisan bawang daun semuanya sudah dipakai untuk dadar telur. Ia kembali terdiam. Bibir bawahnya maju beberapa centi. “Hhhhhh tak sempurna deh sup ku pagi ini”.

Untuk mengobati kekecewaannya, ia beralih berkonsentrasi ke bahan tempe goreng tepung. Ada tepung yang sudah dibumbui dengan bawang putih dan ketumbar. Ada juga tempe yang masih terbungkus plastik. Dengan semangat ia meracik tepung dan mulai mempersiapkan tempe yang nampak akan diirisnya tipis-tipis. Namun baru saja sebagian kecil plastiknya terbuka, ia mulai mencium bau tak enak dari tempe yang telah disimpannya di lemari es itu. Tempe itu sudah tak layak di makan. Maka untuk yang ketiga kalinya ia terdiam. Kali ini bukan hanya bibir bawahnya yang maju beberapa centi tapi juga bibir atas. Aroma kekecewaan kembali terbaca.

Perlahan ia menuju pintu depan rumah, berpikir untuk pergi ke pasar. Namun hujan rintik menghalanginya beranjak. Hmmm ada tiga pilihan yang harus segera diputuskannya. Segera pergi ke pasar, melanjutkan masak walaupun tak sesempurna yang direncanakannya atau mending berdiam diri saja meratapi keadaan yang tidak sesuai keinginan?

Beberapa saat kemudian, dengan senyum tipis, ia kembali ke dapur. Dengan sigap ia menyiapkan masakannya. Tak beberapa lama, ia nampak tersenyum puas menyaksikan anggota keluarganya sarapan begitu lahap. Di meja makan sudah tersedia sup daging sapi dengan paduan warna yang lumayan cantik. Merah, putih, kuning meski tak ada hijaunya daun bawang. Sebentar…kuning? Dari mana warna kuning itu berasal, bukankanh tadi tak ada kentang di dapurnya? Kenapa mendadak sekarang ada potongan kotak berwarna kuning muda di sup itu? Darimana kah kentang itu di dapatnya? Dan satu lagi ada gorengan kulihat di meja. Apa yang digorengnya? bukankah tempe beraroma tak sedap itu sudah dibuangnya?

Perempuan itu tersenyum semakin lebar, ia bahagia dengan pilihannya pagi itu. Melanjutkan memasak meski tak sesempurna yang dibayangkannya. Dan ketiadaan sesuatu yang seharusnya ada ternyata menjadikannya berfikir kreatif. Ketiadaan kentang dan tomat membuatnya berpikir untuk memanfaatkan sebiji apel yang masih tersisa di lemari esnya. Bukankah potongan apel bisa menggantikan kuningnya warna kentang dan segarnya rasa tomat? Ketiadaan tempe mentah untuk bahan tempe goreng tepung membuatnya melirik oreg tempe basah sisa nasi uduknya tadi malam. Maka jadilah tempe goreng tepung yang sama renyahnya.

Begitulah dalam kehidupan. Terkadang kita mengharapkan suatu rencana berjalan sempurna, sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Saat ada suatu kendala, rintangan, masalah atau kejadian tidak terduga, sejenak kita akan terdiam. Dan setelah itu kita akan dihadapkan pada 3 pilihan. Mengganti rencana dengan rencana baru, melanjutkan rencana yang ada meski tak harus sempurna atau berhenti berharap dan meratapi masalah yang ada. Dan lihatlah apa yang terjadi dengan perempuan tadi, saat ia memutuskan memilih melanjutkan masaknya meskipun dengan bahan seadanya yang dia punya. Jadilah 3 menu seperti yang direncanakannya , meskipun memang tak sesempurna dalam bayangannya.

Ya, ketiadaan sesuatu yang seharusnya ada memang melatih kita untuk selalu berfikir kritis dan kreatif. Karena jika semua yang kita inginkan selalu tersedia di depan mata dengan segera, lantas kapan kita akan belajar beranjak? Jika kita memiliki semua yang seharusnya kita kita miliki, Lantas apa lagi yang kita cari dalam hidup?
Jadi bersyukurlah atas ketiadaan, bersyukurlah atas apa yang tidak kita miliki dan bersyukurlah atas kekurangan dalam hidup kita. Karena hidup tak pernah menuntut kita untuk selalu sempurna....

Wallahu a'lam bi showab

1 komentar:

  1. I liked this post.... Betul dengan ketiadaan kita dituntut menjadi lebih kreatif......

    BalasHapus