
Lelaki kecil bertubuh tambun itu, rambutnya berponi pinggir, bajunya rapi dan wangi. Ia tampak asyik mengintip dari pagar rumahnya yang kokoh, matanya menatap tajam lelaki kecil kurus sebayanya yang sedang asyik bemain di pekarangan rumah bilik bambu sederhana. Hmmm rasanya tak ada yang istimewa dari lelaki kecil kurus itu, tapi mengapa ia menatapnya dengan penuh binar?
Tak lama kemudian, lelaki kecil berponi pinggir itu menghampiri rumah bilik yang tepat berada di depan rumah megahnya.
“Berikan mobil-mobilan itu untukku, aku menyukainya “ ujarnya setengah berteriak
“Ini milikku, aku tak akan memberiknnya padamu“ lelaki kecil kurus menjawab dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi. Tangannya memeluk erat mobil-mobilan kulit jeruk bali yang sedari tadi tak lepas dari tatap binar lelaki kecil berponi pinggir
“Tapi aku menginginkannya “ ia kembali berteriak
“Ini milikku, aku punya hak untuk mempertahankannya” lelaki kecil kurus bersikukuh
“Kalau begitu, aku pinjam”
“Boleh, tapi kembalkan sebelum magrib, pastikan tidak ada kerusakan sedkitpun”
Lelaki kecil berponi pinggir tersenyum puas menerima mobil-mobilan kulit jeruk bali yang begitu diinginkannya. Ia memainkannya dengan sukacita sepanjang sore itu. Hingga waktu magrib menjelang. Dan lelaki kecil kurus sudah menungu di luar pagar rumah mewahnya…
“Kembalikan mobil-mobilanku…”
“Tidak aku masih menginginkannya “ kali ini giliran lelaki kecil berponi pinggir yang memeluk erat mobil-mobilan kulit jeruk bali itu.
“Tapi itu milikku” lelaki kecil kurus mulai menangis
“ Aku akan membelinya darimu, atau aku gantkan dengan mobil-mobilan yang lebih mahal, aku punya uang banyak untuk menggantikannya yang lebih baik untukmu”
“Tidak, aku tak akan menjualnya, lagi pula tak akan ada yang bisa menggantkan mobil-mobilan itu semahal apapun” lelaki kecil kurus mulai histeris
“ Kenapa?”
“Karena mobil-mobilan kulit jeruk bali itu dibuatkan oleh almarhum ayahku dan aku akan menyimpannya sampai akhir usiaku“ suara lelaki kecil kurus semakin lama semakin menghilang…
Lelaki kecil berponi pinggir terdiam agak lama, pelahan ia menyerahkan mobil-mobilan kulit jeruk balinya pada lelaki kecil kurus yang sedang terisak di depannya
“Ambillah, ini milikmu, maaf, aku tak tahu kalau kamu jauh lebh membutuhkannya daripada aku, terima kasih sudah meminjamkannya untukku”
Setelah itu, lelaki kecil berponi pinggir membalikkan badannya, perlahan ia memasuki rumah megahnya, di depan pintu sekeranjang besar mobil-mobilan mahal melambai-lambai mengajaknya bermain…
"Jangan memaksa untuk memiliki apa yang kita cintai, tapi belajarlah mencintai apa yang kita miliki"
Wallahu a’alam bi showab…
Kuningan, 9 Juni 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar