Senin, 21 Februari 2011

MIA DAN MAINAN IMPIANNYA, sebuah kisah tentang ikhtiar dan tawakal

Gadis kecil itu namanya Damia Rafa Khalisa. Biasa dipanggil Mia . Usia nya menjelang 4 tahun bulan April tahun ini. Bersama denganya selama 2 hari berturut-turut dalam perjalanan Kuningan-Bandung-Kuningan membuatku belajar banyak tentang bagaimana caranya menikmati perjalanan. Ah, lihatlah bagaimana ia menyanyikan lagu yang disebutnya sebagai lagu “you know me so well” dengan sangat ceria, lihatlah bagaimana saat mobil melewati jalan mendaki , Mia dengan segera ganti berdendang “naik-naik ke puncak gunung”, lihatlah bagaimana ekspresinya berubah sendu saat mual menderanya di tengah perjalanan namun tak butuh waktu lama baginya untuk kembali menikmati perjalanan dengan ceria. Mia gadis kecil yang pintar dan ekspresif. Ia pintar menganalisa keadaan dan sudah mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata yang tepat.



Dari sekian banyak peristiwa yang terjadi selama kebersamaanku dengan Mia dua hari kemarin, yang paling berkesan bagiku adalah kisah Mia dan mainan yang begitu diinginkannya. Kisah yang membuatku belajar tentang banyak hal dalam hidup. Kisah yang terjadi di Minggu sore kemarin, menjelang perjalanan pulang kembali ke Kuningan, dalam lelah yang sangat kami semua berharap bisa segera sampai di rumah dengan selamat. Tapi tidak dengan Mia. Ia masih ada urusan dengan Bandung, memperjuangkan keinginannya mendapatkan mainan impiannya.



Mia terdiam dalam hening di mobil yang membawa kami melewati jalanan Dago yang padat merayap. Keinginan yang kuat memaksanya untuk turut peduli ke arah mana mobil yang akan membawa kami pulang itu mengarah. Meski mama dan papanya sudah berulangkali menjelaskan bahwa tak mungkin mobil berbalik arah melewati kembali kemacetan yang baru saja dilewatinya, namun ia tetap bertahan dengan keinginannya, mendapatkan mainan impiannya. Sambil terus memantau kemana mobil diarahkan, Mia duduk tegak, matanya menatap ke depan tanpa berkedip, jari-jari tangannya saling beradu di depan dada. Saat papanya mengungkapkan ketidakmungkinan mendapatkan mainan dalam kondisi macet seperti itu , mulut mungil Mia merengek manja . Akhirnya berkali-kali mobil mesti berputar untuk menghindari macet demi mendapatkan mainan impian Mia. Sementara Mia masih dengan posisi yang sama, tangan di depan dada, jari jemarinya beradu, ekspresi wajahnya berubah-ubah begitu cepat. Jika saya uperhatikan lebih seksama rasanya saya bisa membayangkan perasaan Mia saat itu kurang lebih sama seperti ketika saya menunggu hasil ujian sarjana saya 8 tahun yang lalu. Mia menatap wajah papanya persis seperti saya menatap wajah dosen pembimbing yang akan memberikan nilai , harap dan cemas bercampur baur jadi satu. Mungkinkah saat itu i Mia juga berdoa dalam hati agar Allah membukakan pintu hati papanya untuk membelikannya mainan baru seperti doa ku agar Allah membukakan pintu hati dosen pembimbingku agar memberi nilai bagus? Kurasa iya, Mia berdoa.



Setelah sekian lama berputar sampailah kami di depan *FC Jalan Merdeka Bandung yang masih padat merayap. Mia turun bersama mama papanya. Beberapa saat kemudian, mereka kembali, bukan dengan mainan impian Mia tapi membawa majalah dongeng yang dibeli di toko buku sebelah *FC. Ternyata persediaan mainan di sana sudah habis, maka digantilah mainan impian Mia dengan sebuah buku. Mia masuk mobil dengan wajah berbinar tak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa beberapa menit sebelumnya ia begitu menginginkan mainan impiannya. Dia sudah puas memperjuangkan keinginannya dengan optimal, baginya mendatangi *FC di jalan Merdeka adalah usaha optimal yang bisa dilakukannya.Cukup. Itu ikhtiarnya untuk mendapatkan keinginannya. Maka ketika iktiar optimalnya sudah dilakukan dan ia tak berhasil mendapatkan keinginanya, iapun dengan ikhlas mengambil keputusan untuk membeli buku dongeng. Sebuah pilihan yang cerdas bukan? Mia mendapat sesuatu yang lebih baik dari mainan impiannya. Mampukah kita seperti Mia? Ah, keikhlasan gadis dan lelaki kecil memang sangat sulit ditandingi oleh orang-orang dewasa seperti kita.



Mobil melaju meninggalkan Bandung saat matahari sudah hampir tenggelam. Mia sudah kembali ceria bersama buku dongeng pilihannya. Ia sudah ikhlas melepas keinginanya mendapatkan mainan impiannya. Ia sudah sampai pada taraf tawakal rupanya. Tak sedikitpun ia mengungkit tentang keinginannya.



Memasuki daerah Sumedang kota, mobil berhenti. Papa mia yang tak lain adalah sahabat baik saya turun untuk membeli sesuatu. Saya masih belum ngeh saat itu. Beberapa saat kemudian papa Mia datang dengan membawa sekotak ayam goreng *FC dan dan sebuah kejutan : mainan yang begitu diimpikan Mia. Papa Mia mendapatkannya di *FC sumedang. Mia yang sudah mengubur harapannya dalam-dalam kali ini tersenyum sangat lebar, ia tertawa, ia cium pipi papa nya, ia pegangi terus mainan impiannya sampai ia tertidur pulas. Alhamdulillah Allah mengabulkan doanya, di saat ia sudah tak lagi berharap.



Kisah Mia dan mainan impiannya mengajari saya tentang paling tidak 4 hal penting dalam hidup :

1. Sikap Roja dan Khouf yang harus kita miliki saat berdoa pada Allah. Roja adalah berharap dengan sungguh-sungguh. Khouf adalah cemas dan takut Allah akan marah dengan keinginan kita yang tak sesuai kehendak-Nya
2. Berikhtiar optimal dalam memperjuangkan keinginan namun tetap ikhlas akan hasilnya apapaun itu.
3. Yakin bahwa Allah tahu yang terbaik dan akan mengganti dengan yang lebih baik
4. Bahwa seringkali Allah mengabulkan doa kita justru setelah kita tak lagi berharap dan sudah ikhlas untuk melepaskan keinginan kita, jadi jangan pernah berhenti berdoa dan jangan berputus asa dari Rahmat Allah.

Ah Mia cantik, terima kasih untuk kebersamaan kita dua hari kemarin. Mia sudah mengajari Tante Lien banyak hal. Semoga kelak Mia menjadi anak kebangaan mama papa yang selalu dicintai dan mencintai Allah. Tante Lien sayang deh sama Mia….:-)


“Demikianlah kita harus selalu memiliki harapan. Karena harapan adalah sumber kekuatan ,sumber motivasi, pemberi makna atas semua amal dan penghibur dalam kesedihan. Maka apakah yang mampu membuat para pejuang bersedih dan melemah sementara Allah swt memberikan jaminan baginya"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar