Senyum ceria dan sorot mata sendu tak pernah lepas dari wajah kecil lelaki muda itu saat kami berbincang Jumat pagi di ruang HD sebuah rumah sakit di Kota Cirebon. Seperti teman-teman seusianya, semangat mudanya begitu menjiwai setiap kalimat pendek yang mengalir dari bibir pucatnya. Tanpa terasa, hampir 2 jam kami berbincang dalam suasana yang penuh kekraban. Memang harus kuakui Ia adalah seorang yang sangat bersahabat. Tak ada luka dan perih yang kutangkap dari sorot matanya sepanjang perbincangan pagi itu, hanya sedikit kabut yang menyelimuti saat Ia berbicara mengenai ayahnya yang sudah pergi lebih dahulu menemui Robbnya.
Itulah sosok Sony Suwardi Drajat. Pagi itu lelaki muda kelahiran Majalengka 23 April 1991 sedang menjalani cuci darah rutin yang telah dilakoninya sejak bulan Februari 2008. “Rumah saya di Rajagaluh teh, satu jam lebih dari sini, kebetulan hari ini sedang bebas menjelang pra UAN, jadi saya bisa HD pagi, biasanya siang hari sepulang sekolah” , ujarnya saat kutanyakan tentang jadwal HDnya. Setelah itu mengalirlah cerita keceriaan tentang aktivitas sekolahnya di kelas 3 SMUN 1 Majalengka
“Dulu sebelum HD hobi saya balapan motor he he, kalau aktivitas di sekolah ikutan Pecinta Alam, biasa teh, naik-naik gunung. Setelah HD sih paling nonton balapan aja, tapi sebenarnya masih ada mimpi yang ingin saya kejar…naik motor cross ke Gunung Bromo..mudah-mudahan suatu saat tercapai ya teh. Sekarang sih saya masih sibuk sekolah. Pergi pagi terus pengayaan sampai jam 5, jam setengah 9 malam harus mulai les untuk persiapan UN, tapi mungkin karena sibuk itulah saya jadi ngga pernah kepikiran masalah cuci darah. Alhamdulillah ya teh” Aku tersenyum sambil mengaminkan doanya, ah rasanya aku begitu tersulut dengan semangatnya yang begitu menggebu.
“Cita-cita saya ingin jadi psikolog teh, alhamdulillah kemarin juga saya baru ikut test masuk Psikolog UI, doakan ya teh, saya ingin mempelajari psikologi biar bisa belajar tentang diri sendiri karena saya yakin obat dari segala penyakit pada dasarnya ada di dalam diri kita sendiri, tinggal bagaimana kita bisa memahaminya ” ujarnya lugas dan aku terdiam. Ingin rasanya kuacungkan dua jempol tanganku sebagai ungkapan rasa salutku atas pemikiran anak muda berusia 17 tahun ini. Aku semakin yang bersemangat belajar darinya…
“Yang membuat saya bertahan? Keyakinan bahwa hidup itu indah, Allah menciptakan kita dengan sempurna. Kalau ada yang bermasalah fisiknya seperti saya, ya itu karena kesalahan dan keteledoran sendiri. Bagi saya sekarang adalah gimana caranya sakit saya ini bisa jadi contoh buat orang lain agar yang bisa menjaga kesehatannya dengan baik.”
Kualihkan pandanganku ke pintu masuk, ah matahari semakin terik menyinari Kota Cirebon yang panas, aku harus segera beranjak. Andai saja aku punya waktu lebih luang, mungkin akan lebih banyak hal-hal lain yang bisa kupelajari darinya. Kendati demikian rasanya kalimat terakhirnya di ujung pertemuan kami membuatku semakin mengaguminya.
“Harapan saya semoga sakit ini bisa membuat keyakinan saya sama Allah lebih terjaga teh. Dan satu lagi yang selalu membuat saya bersyukur, bagi saya cuci darah itu nikmat, karena cuci darah membuat saya merasa begitu banyak dicintai, saya mendapatkan cinta dan perhatian yang mungkin tak dirasakan oleh teman-teman saya yang sehat, jadi tak ada alasan bagi saya untuk terus bersedih”
Aku kembali terdiam, Robb hikmah sebesar itu sudah Engkau berikan pada lelaki muda yang usianya hampir separuh usiaku? Maha Suci Allah yang telah menjadikan adik kecilku itu menjadi begitu kuat. Kulangkahkan kakiku menapaki jalanan yang semakin berdebu. Peluhku mengucur deras tapi hatiku begitu sejuk. Siang yang terik itu akan menemukan semangat baru dalam hidupku. Semangat penuh kesyukuran dari seorang Sony Suwardi Drajat.
Maka saat aku lupa bagaimana caranya bersyukur, Allah membisikan sebuah kalimat pendek di telingaku “belajarlah dari lelaki muda itu…….”
Wallahu a’lam bishowab
Semoga memberi hikmah
Kuningan, April 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar