Pagi ini, seorang teman berbagi cerita tentang kehamilan pertamanya yang menginjak usia 2 bulan dan mulai mengalami ngidam....tiba-tiba pikiran saya melayang pada kisah-kisah beberapa teman dan saudara yang yang mengalami ngidam dari mulai yang ringan-ringan sampai yang tak masuk akal.
Ada yang mual muntah kalau berdekatan sama suaminya, ada yang ingin makan mangga curian, ada yang pengen makan surabi tengah hari saat bulan ramadhan bahkan ada salah satu saudara saya yang ngidam makan sama aspal panas.
Makan sama aspal panas? Bagaimana caranya? Kalau dipikir logika rasanya tak mungkin makan sama aspal panas. Tapi mitos bahwa permintaan orang ngidam harus dipenuhi telah membuat keluarga berusaha memikirkan cara paling masuk akal untuk memenuhi permintaan itu. Akhirnya dengan berbagai usaha didapatlah jalan sebagai berikut :
1. Mintalah sepiring aspal panas pada mandor proyek yang sedang menangani perbaikan jalan raya di depan kompleks rumah meskipun harus memohon
2. Simpanlah piring berisi aspal yang masih mengpul asapnya itu diatas meja makan, tutuplah dengan tudung saji
3. Pastikan asap aspal panas masih mengepul melalui lubang-lubang tudung saji
4. Biarkan sang ibu hamil mengepal nasi, memegangnya di atas tudung saji dan pastikan terkena asap aspal panas, setelah yakin nasi itu sudah beraroma aspal maka biarkan ibu hamil itu memakannya
5. Maka tunailah sudah kewajiban keluarga terhadap ibu hamil yang sedang ngidam itu he he he..^_^
Ya, konon keinginan ngidam ibu hamil harus dipenuhi karena akan berpengaruh terhadap perkembangan sang buah hati. Tapi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ngidam atau tidaknya ibu hamil dan seberapa parah tingkat ngidamnya sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis si ibu hamil. Semakin baik kondisi psikologisnya semakin kecil peluang untuk ngidam yang aneh-aneh.
Untuk para psikolog, dokter, para ibu, ayah, calon ibu, dan calon ayah...ada yang mau berpendapat atau berbagi pengalaman? Semoga menjadi masukan berarti bagi yang masih bingung dan belum berpengalaman seperti saya he he
Wallahu a'lam bi showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar