
Gadis kecil itu menggigil, suhu tubuhnya tinggi. Beberapa saat kemudian sang ibu memberinya obat analgesik antipiretik . Tak berapa lama demamnya reda. Namun esok paginya, suhu tubuh gadis kecil itu makin meninggi. Sang ibu masih berpikir bisa mengobati demam anaknya dengan obat analgesik antipiretik. Namun sang ayah berfikir lebih bijak dan memutuskan membawa gadis kecilnya ke dokter. Dari pemeriksaan dokter diketahui ada infeksi di tubuh gadis kecil itu dan harus diobati dengan antibiotik. “Butuh kesabaran untuk mengobati infeksi dengan antibiotik bu, karena antibiotik mengobati sampai tuntas. Tidak seperti obat analgesik antipiretik yang hanya mengurangi rasa sakit dan menurunkan demam sementara , memang efeknya cepat terasa, tapi tak akan menyembuhkan infeksinya.” Ujar sang dokter.
Begitulah, sebagian dari kita cenderung lebih memilih untuk mengobati luka kehidupan dengan obat analgesik antipiretik. Obat yang “seolah” mengobati luka dan membuat kita bahagia dalam waktu cepat. Tapi beberapa saat kemudian saat efek obatnya habis maka kita akan kembali merasakan perihnya luka itu, yang ternyata tak kunjung membaik. Saat kita merasakan luka karena kehilangan seseorang misalnya, kita merasa bahwa bertemu dengan orang yang kita rindukan adalah satu-satunya obat yang bisa mengobati luka hati kita. Atau saat kita terluka karena tidak terpenuhinya keinginan kita, maka kita menduga bahwa terpenuhinya keinginan itu adalah satu-satunya penyembuh sakitnya hati kita. Sadarkah kita bahwa bertemu orang yang kita rindukan, tepenuhinya keinginan kita, terpuaskannya nafsu kita, tercapainya harapan kita hanyalah akan menjadi sebuah obat penurun resah hati kita untuk sementara jika kita tak pernah berusaha mengobati luka kehidupan kita dengan antibiotik hati.
Apa itu antibiotik hati? Itulah obat sesungguhnya untuk luka kehidupan kita. Obat yang akan memastikan bahwa luka kita akan sembuh meskipun perlahan. Perlu kesabaran ekstra untuk menggunakan antibiotik hati. Tak sembarang orang kuat meminumnya sampai habis. Padahal pengobatan dengan antibiotik hati harus tuntas. Maka tak jarang orang yang memutuskan menggunakan antibiotik hati pada akhirnya berguguran dan lebih memilih obat penurun resah sesaat.
Dengan antibiotik hati pula terkadang Allah mengobati luka-luka kita. Lihatlah bagaimana saat kita menangis memohonkan keinginan kita dan kita bertanya kenapa Allah tak jua mengabulkan doa-doa kita? Maka Allah selalu punya jawabannya. Mungkin saat itu luka kita sudah terlalu menganga, mungkin jika hanya diobati dengan obat penurun resah, luka kita akan semakin menganga. Hingga Allah akhirnya memberi kita resep antibiotik hati yang mungkin harus kita minum bukan hanya untuk sehari atau seminggu atau sebulan. Mungkin kita harus menunggu luka itu mengering hingga tahunan.
Sekali lagi butuh kesabaran ekstra untuk mengobati luka kehidupan dengan antibiotik hati. Tapi tetaplah yakin bahwa suatu saat kita akan tersenyum bahagia mendapati luka kehidupan kita sembuh sedkit demi sedikit. Tersenyum karena kebahagiaan sesungguhnya, bukan kebahagiaan sesaat akibat obat penurun resah sesaat. Karena Allah tak pernah salah memilih dengan apa IA mengobati luka kita. Semoga kita termasuk orang yang bersyukur saat Allah swt meresepkan obat antibiotik hati untuk luka kehidupan kita. Hingga kesyukuran itu akan menguatkan dan memberi kita kesabaran untuk menuntaskan butir demi butir antibiotik hati hingga kita dapati luka kehidupan kita menutup sempurna. Semoga….
Wallahu alam bi showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar