
Minggu pagi, matahari masih malu-malu menampakkan diri di langit Kuningan yang biru. Aku dan seorang sahabat duduk manis di bangku panjang di pekarangan sebuah rumah sederhana dekat Pasar Darurat. Di atas meja yang tepat berada di depan dada kami, telah terhidang sepiring makanan beraroma memikat. Potongan ketupat kenyal bercampur dengan dengan potongan tahu panas yang masih mengepul. Siraman bumbu kacang yang dimasak dengan santan dan aneka rempah semakin membuat produksi air liurku membucah. Di atasnya tampak taburan bawang goreng kualitas super yang membuat penampilannya semakin memikat. Ada pilihan kerupuk putih atau emping melinjo untuk menghasilkan sensasi kriuk saat kami menikmatinya.
Pada suapan pertama kami merasakan rasa gurih dari campuran bumbu kacang dan bawang goreng yang membuat melayang. Perpaduan ketupat kenyal dan tahu yang garing di luar tapi lembut di dalam membuat gigitan pertama kami terasa begitu menggoda. Pun suapan berikutnya.
Jika anda orang Kuningan atau pernah ke Kuningan atau berada di sekitar daerah Kuningan pasti sudah tak lagi asing dengan makanan ini. Ya, hucap namanya. Yang sedang kami nikmati hari itu terkenal dengan nama hucap darurat.
Sementara kami menikmati suapan demi suapan hucap darurat, di depan meja kami, ibu penjual hucap yang berusia lewat setengah abad nampak sedang sibuk melayani pembeli lain. Tubuh gemuknya tak menghalangi kecekatannya dalam meracik hucap pesanan. Ia memotong kupat, mengiris tahu, menyiram bumbu dan bawang goreng dengan begitu lihai. Pengalaman puluhan tahun melayani pembeli membuat pelayanannya terlihat optimal. Sementara di belakangnya, sang suami sibuk menggoreng tahu. Tak kalah cekatan dari istrinya.
Ada yang membuat kami terpesona dari suami istri itu. Bukan cara mereka bekerja tapi pembagian tugas diantara mereka. Sang istri mendapat tugas meracik hucap dan melayani pembeli. Bukankah itu adalah tugas yang sifatnya mengabdi dan melayani? Resiko terbesar si istri hanya kemungkinani teriris pisau atau kepanasan memegang tahu. Sementara sang suami bertugas menggoreng tahu. Ia mengambil resiko besar untuk itu. Kemungkinan terciprat minyak panas hampir setiap saat.
Bapak berusia 60 tahunan itu juga melingkupi wajan tempatnya menggoreng dengan seng tinggi di bagian samping dan depan wajan. Menjaga agar minyak tak menyiprati tubuh istrinya yang sedang melayani pembeli. Sepertinya si bapak hendak berkata pada dunia, biarkan aku yang berkorban asal istriku aman. Indah bukan? Sang suami melindungi dengan sempurna, istri meracik dan melayani dengan sempurna. Begitulah cara mereka membuktikan cintanya. Dan begitulah seharusnya cinta.
Pagi itu aku dan sahabatku sepakat ada cinta di hucap darurat. Cinta sepasang suami istri yang tak lagi muda. Maka tak perlu heran jika hucap darurat menjadi hucap favorit bagi sebagian besar masyarakat Kuningan. Bahkan terkadang kita harus mengantri untuk bisa menikmatinya. Karena hucap darurat dibuat dengan cinta. Dan cinta berasal dari hati. Bukankah sesuatu yang berasal dari hati akan sampai kepada hati ?
Wallahu alam bi showab
** Hatur nuhun untuk teh Maimon Herawati atas diskusi dan foto-fotonya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar