Minggu, 19 April 2009

Belajar tentang Kejujuran

Kuningan, Agustus 1995

Menjadi siswa SMA negeri 2 Kuningan menjadi impianku sejak kecil. Rasanya tak percaya bisa memasuki sekolah yang konon ‘hanya diperuntukkan’ untuk anak-anak serius. Berbagai image positif dari masyarakat Kuningan memang begitu melekat pada siswa sekolah ini, saking positifnya sampai ada yang mengatakan “kalau melihat anak SMA pagi-pagi jalannya cepet, nunduk, bawa buku tebal, bajunya rapih dan sopan, mimik wajahnya serius, dapat dipastikan itu siswa SMA2” atau “ Masuk SMA 2 jaminan masuk PTN”. Berbagai kebanggaan menghampar luas di di hadapanku minggu pagi itu, hari pertama aku menginjakan kakiku di sekolah ini untuk acara orientasi pramuka siswa baru. Dengan baju pramuka lengkap dengan tongkat dan berbagai atributnya yang kukenakan, aku berjalan tenang sambil menebar senyum pada setiap orang yang kutemui sambil memasuki kelas 1-5. Di lapangan upacara para senior kami, yang biasa disebut bantara, sedang melaksanakan upacara penaikan bendera, tak ada satupun dari kami yang ikut merasakan khidmatnya upacara tersebut

“Ngiuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuung” suara sirine dari Toa mengagetkanku dan teman-teman baruku. Belum habis kekagetan kami dengan suara sirine....” de..ayo cepat-cepat kumpul di lapang perkelas” Bug....bug...bug suara pukulan di pintu kelasku bersahutan dengan suara sepatu dan tongkat kami yang saling beradu . Aku berlari sekuat tenaga, jantungku berdebar kencang, kuusahakan fikiranku tetap fokus meski rasanya sudah tak menentu. Kumasuki barisan kelas 1-5 di ujung lapangan dekat ring basket. Nafasku sudah kian teratur ketika kakak bantara berkumpul di depan barisan kelasku. Seorang bantara maju ke depan, tepat di depan barisan kelasku. “Ok...untuk kelas 1-5, siapa diantara kalian yang saat pengibaran bendera tadi tidak pada posisi hormat?” suaranya tak terlalu kencang, tapi cukup untuk membuat jantungku kembali berdegup. Aku sadar tak satupun dari kami pada posisi hormat saat pengibaran bendera tadi, masing-masing sibuk dengan urusannya....” Sekali lagi....kelas 1-5 ,siapa yang merasa tidak menghormat bendera?” Suaranya semakin lantang, jantungku bertdetak makin kencang, rasanya lututku semakin lemas, aku takut....tak satupun dari kami berani mengaku dan angkat tangan, sampai kemudian tanpa kuduga....seorang anak lelaki,teman sekelasku, yang kemudian kuketahui bernama Iping Aripin tiba-tiba mengacungkan tangannya sambil berkata “saya kang”, dan aku tertegun....tertegun atas keberaniannya, tertegun atas kejujurannya.....dari 40 orang diantara kami...hanya ipinglah yang berani untuk jujur,maka dapat dipastikan setelah itu....39 orang yang lain termasuk aku harus menjalani hukuman akibat ketidakjujuran atau lebih tepatnya ketidakberanian untuk jujur.

Belajar tentang kejujuran dari seorang Iping Aripin, satu prinsip yang selalu kuingat , semua sifat jelek mungkin ada pada diri seorang muslim kecuali ketidakjujuran karena ketidakjujuran akan selalu melahirkan ketidakjujuran yang lain....

Semoga menjadi renungan....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar