Malam itu begitu dingin dan sepi, saya baru saja selesai menghadiri pelantikan anggota baru FLP Kuningan ranting Husnul Khotimah. Alhamdulillah satu amanah terselesaikan. Di tengah guyuran hujan yang tak jua reda, saya memutuskan pulang dengan membonceng motor sahabat saya. Meski sejumput ragu sempat muncul di benak saya menyadari udara begitu menusuk tulang malam itu. Tidak beresikokah jika saya memaksa pulang memakai motor tanpa jaket dengan kondisi badan yang sedang tidak fit? Sejenak saya terdiam terkurung ragu hingga sebuah keyakinan mendorong saya untuk pergi, keyakinan bahwa ada hikmah yang akan saya dapat, kenapa Allah menghadapkan saya pada situasi ini ? Situasi yang sudah begitu lama tidak saya temui…..
Maka mulailah saya bersiap-siap, Alhamdulillah sahabat saya membawa jas hujan besar dengan dua lubang, bisa dipakai bersamaan oleh pengendara dan penumpang motor. Karena belum terbiasa, saya merasa agak kesulitan memakai jas hujan itu, terutama saat mengenakan bagian kepala , saya merasa agak sempit. Padahal di sana ada lubang untuk menampakan wajah saya keluar. Karena hari sudah terlalu malam, saya memutuskan untuk mengurungkan jas hujan itu ke seluruh tubuh dan kepala saya. Motor mulai jalan. Saya memegang erat baju sahabat saya, sang pengendara motor. Gelap dan pekat, saya tidak bisa melihat apapun. Saya benar-benar mempercayakan diri saya pada sang pengendara. Tidak tahu sedang melewati jalan mana, sudah sampai mana, sedang berjalan lurus atau belok, di samping saya ada kendaraan apa, bahkan saat motor tiba-tiba berhenti, saya cuma bisa bertanya-tanya dalam hati. Tidak bisa protes, tidak bisa membantu bahkan tidak bisa mengingatkan jika si pengendara menyalip sembarangan.
Merasa tidak nyaman dengan kondisi itu, saya mulai berupaya mencari celah. Perlahan saya cari lubang untuk menampakan wajah saya. Awalnya hanya mata saya yang bisa terlihat di lubang itu. Ah lega akhirnya saya bisa melihat cahaya. Jalanan tidak segelap yang tadi saya rasakan. Ada sinar-sinar lampu yang menerangi. Dingin mulai menerpa namun tak menyurutkan langkah saya untuk menampakkan seluruh wajah saya keluar. Dan akhirnya dengan usaha yang keras saya mampu juga memakai jas hujan itu dengan sempurna. Terasa lebih nyaman dan saya bisa melihat sekeliling saya dengan lebih leluasa. Meski kemudian saya mulai merasakan efek angin malam yang menerpa dan rintikan air hujan yang membasahi wajah saya tapi saya tetap yakin saya lebih nyaman dengan situasi itu. Tak lagi gelap, bebas melihat, saya tahu sudah sampai dimana perjalanan saya, berapa lama lagi sampai tujuan dan tahu kapan motor akan menyalip, kapan akan belok dan kapan akan berhenti
Ya , akhirnya saya tahu kenapa Allah menghadapkan saya pada situasi itu. Allah sedang mengajari saya untuk belajar hidup pada jas hujan itu. Jika kita mengandaikan jas hujan itu sebagai zona nyaman hidup kita. Ada dua pilihan dalam hidup seperti dua pilihan dalam dari jas hujan itu. Jika kita memilih mengurungkan jas hujan di kepala kita maka kita memasuki zona nyaman. Kita bisa berlindung dari dinginnya terpaan angin dan rintikkan hujan di baliknya. Tapi kita terus berada dalam gelap, terus berada dalam ketidaktahuan akan sekeliling , mempercayakan hidup kita sepenuhnya pada orang lain dan tak pernah akan tahu betapa indahnya sinar lampu yang menyinari perjalanan hidup kita. Tapi jika kita memilih menampakan wajah kita di lubang kecil itu berarti kita memilih zona tak nyaman hidup kita. Kita harus siap menghadapi beratnya ujian dan cobaan yang datang menerpa, angin dingin dan rintikan hujan itu akan membasahi wajah kita terus menerus, tapi jika kita mampu menikmati perjalanan kita seberat apapun maka kita akan bisa melihat begitu banyak keindahan sepanjang perjalanan hidup kita. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah memberi begitu banyak hikmah dalam kehidupan…..
Wallahu a’lam bi showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar