Gadis kecil itu namanya Lutfia Naziefatusyalisya, aku biasa memanggilnya Upril atau Latipem. Usianya sekarang 5 tahun. Gadis kecilku itu pernah memberi nama ayam kesayangannya dengan namaku, alasannya “Biar kalau aku kangen tante, aku tinggal liatin aja ayam itu” he he. Ia cukup ekspresif menyampaikan apa yang dirasakannya. Ada kalanya aku tertegun oleh kalimat-kalimat tak terduga yang diucapkannya. Termasuk ketika ia menelponku sekedar ingin bilang “ Tante, aku tuh kangen banget sama tante, tante suka kangen ga sih sama aku?” :-)
Namun diantara semua celotehnya yang menggemaskan, ada satu kalimat yang selalu mengingatkanku padanya. Kalimat yang cukup sering disampaikannya berulang-ulang yaitu “aku senang deh, serasa makan pake hesyaap”. Ya, serasa makan pake kecap, begitulah Latipemku memaknai kebahagiaanya. Seenak apapun makanan yang dia makan, semahal dan sebagus apapun boneka yang dia dapat tak akan ada yang mampu menjatuhkan pesona makan dengan kecap di matanya. Setiap kali dia makan dengan kecap dipiringnya, saat itulah dia akan menganggap betapa enaknya makanan itu, tak peduli apapun lauknya.
Maka Senin pagi kemarin, terinspirasi dari gadis kecilku itu, kutantang diriku untuk menikmati makanan yang tak pernah bisa kunikmati sepanjang hidupku. Ketoprak. Bau bawang putih mentahnya yang menyengat selalu mampu menghalangiku untuk menikmati makanan itu karena dulu waktu kecil, aku pernah memakannya dan muntah. Tapi hari itu, aku bertekad untuk menaklukannya, menikmati sepiring ketoprak untuk pertama kalinya seumur hidupku. Dengan filosopi gadis kecilku kucoba taklukan makanan itu. Pertama, kukatakan pada diriku ketoprak itu enak. Kemudian kuperhatikan isi ketoprak itu, lontong, tahu goreng, tauge, mentimun, bihun, bumbu kacang semuanya aku suka, hanya satu yang tidak kusuka dari makanan itu, bau bawang putih mentahnya. Ok, aku bisa belajar mengubah pola pikirku, lupakan bawang putih itu, nikmati bahan-bahan lain yang aku suka, terutama bumbu kacangnya. Aku belajar menikmati kehadiran bumbu kacang itu, seperti Latipemku menikmati kehadiran kecap dalam makanannya.
Dan sukseslah aku hari itu, kuhabiskan sepiring penuh ketoprak berbau bawah putih mentah yang menyengat itu. Sungguh, aku tak pernah bisa melakukan itu sebelumnya. Meski bukan tanpa resiko, setelahnya aku mulai mencium kembali bau bawang putih itu. Hmmm…sepertinya ke depannya aku punya ide bagus, memesan ketoprak tanpa bawang putih…boleh kan? He he
Ya begitulah, ketika kita ingin menikmati kehidupan, berfikirlah positif tentang hidup. Pikirkan hal-hal yang membuat kita bahagia, seperti Latipemku selalu menikmati kecap dalam makanannya, hanya kecap, sesuatu yang kadang tak pernah kita sadari kehadirannya sebagai penyedap makanan kita, tapi bagi gadis kecilku, makan dengan kecap adalah segalanya. Dan lupakan hal-hal yang membuat kita terluka, nikmati ketoprak dan lupakan aroma bawang putih itu. Lupakan satu bagian hidup yang tidak kita sukai dan syukurilah sekian bagian hidup lain yang kita sukai. Jangan hancurkan hidup hanya karena merasa Allah tak mengabulkan satu doa kita padahal Allah telah berikan berjuta kenikmatan yang lain yang kadang lupa kita syukuri.
Ya, dari gadis kecilku itulah aku belajar satu bagian kecil dari kehidupan. Nikmati hidup dengan bersyukur, sekecil apapun nikmat yang Allah beri, bahkan kenikmatan setetes kecap pada makanan kita. Karena hidup itu akan bermakna jika kita mampu mensyukurinya. Mari jadikan hidup kita indah agar kita senantiasa bisa berujar seperti Latipem saat ditanya tentang perasaannya “aku senang deh, serasa makan pake kecap”. Hmmmm. Mampukah kita?
Wallahu a’lam bi showab…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar