Ketika kematian terasa begitu dekat, begitu aku gambarkan pengalaman cuci darahku hari ini. Meski sudah lebih dari 400 kali menjalani cuci darah tak berati aku sudah resisten dengan kondisi drop yang kadang unpredictable. Meski sejak dimulai jam 12 siang tadi sudah ada rambu-rambu untukku agar berhati-hati, tensi awalku 110 / 70 dengan hb 8,2 , penarikan cairan di atas 3,5 kg, sebuah kondisi tak ideal bagi pasien yang akan memulai cuci darah. Resiko dehidrasi, dropnya tekanan darah, dropnya gula darah dan jantung berdebar sangat mungkin terjadi. Tapi tidak terlalu kuhiraukan, insya Allah kuat, begitu keyakinanku
Kulewati dua jam pertamaku dengan baik, sangat baik malah, aku masih menghabiskan sepiring nasi campur, ngemil kue, masih sempet baca dan buka facebook. Masih sempet ngobrol seru dengan temen yang kebetulan datang menengok. Masih sempet ngerumpi dengan temen cuci darah yang tidur di ranjang sebelah. Malah sedang minta tolong dibelikan ubi dan singkong rebus, untuk ngemil. Namun sekitar jam 3 sore sesaat setelah membalas comment di facebook, tiba-tiba sesuatu terjadi...
Kakiku kram, aku tahu itu tanda-tanda dehidrasi, kupanggil perawat, kuminta menurunkan tarikan cairan dan kecepatan putaran darah. Itu salah satu cara untuk menurunkan resiko drop akibat dehoidrasi. Namun tidak sampai lima menit tiba-tiba pandanganku kabur, aku tahu pasti ini tanda tensi darahku drop
"bu minta di tensi, limbung" ujarku pada perawat yang masih berdiri di sampingku
Seorang perawat lain sigap memasangkan alat tensi di tanganku,
" tidak teraba " ujarnya, aku berusaha tenang. Tidak teraba artinya tensiku sangat rendah sampai tak terbaca oleh alat tensi. Mataku memaksa menutup, tapi kukuatkan diriku untuk terus membuka mataku, kupaksakan diriku untuk tetap dalam kondisi sadar dan terjaga...
"bu tolong carikan permen di tas saya, atau apapaun yang manis-manis, saya udah ga kuat " ujarku setengah menjerit,tensiku masih belum terbaca, kupaksakan memasukan biskuit yang disuapi oleh ibu perawat, meski tak ada tenaga untuk itu.
Proses cuci darahku langsung dihentikan .Jiwaku serasa melayang, aku sudah pasrah meski terus berusaha bertahan. Aku harus kuat, meski aku tersadar batas hidup dan mati teramat tipis saat itu. Kukatakan pada diriku, ayo naikan tensi darahnya. Meski di sisi lain aku juga berusaha terus berdzikir, berpikir barangkali itu saat terakhir hidupku. Aku hanya bisa berharap semoga menjadi akhir yang baik...
Masih dalam rangka terus berusaha, kupaksakan minum segelas teh manis hangat meski mataku sudah tak mampu membuka. Begitu banyak yang mengerubungi ranjangku, mereka juga tampak panik. Kata mereka bibirku sudah putih dan kelopak mataku sudah menghitam. Alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan hidup, perawat menyuntikan glukosa ke tubuhku sambil tak henti terus kukunyah makanan-makanan manis, dari mulai kue, ubi, biskuit, sampai gula merah, yang cukup membantu kenaikan kadar gula darahku. tensiku mulai terbaca 50 untuk tekanan sistole, rendah dan sangat rendah. Tekanan darah ideal adalah 120. aku masih merasa melayang tapi mataku sudah mulai membuka. Selang oksigen mulai dipasangkan ke hidungku, pandanganku mulai sedikit terang. Perlahan-lahan ekanan darahku mulai merambat naik ke angka 110.
Alhamdulillah aku hidup dan bertahan. Aku bisa pulang ke rumah meski harus banyak istirahat. tentu itu semua atas Kuasa Allah. Aku merasa seperti baru saja melewati jembatan pembatas kehidupan dan kematian. Terima kasih untuk para perawat yang begitu sigap, juga teman-teman cuci darahku atas support yang luar biasa.
Sore ini ketika kulangkahkan kakiku memasuki rumahku, kukatakan pada diriku, Allah kembali memberiku kesempatan hidup, semoga aku bisa memanfaatkannya dengan baik. Subhanallah, hari ini Allah mengingatkanku tentang batas hidup dan mati yang ternyata teramat tipis....
Semoga memberi hikmah....
Wallahu alam bi showab....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar