Pagi itu aku berjalan-jalan mengelilingi lapangan depan rumahku, dan berpapasan dengan tukang bubur kacang hijau. Sudah lebih dari 4 tahun aku melihat gerobak bubur itu mondar mandir di depan rumahku. Kubiarkan mang tukang bubur dan gerobak itu berlalu begitu saja dari pandanganku, aku memang tak pernah sekalipun berniat membelinya, karena aku tak boleh mengkonsumsi terlalu banyak bubur kacang akibat sakit ginjalku yang sudah kronis. Kandungan kalium dan fosfor nya yang tinggi tidak terlalu baik untuk kondisi tubuhku. Setelah tukang bubur dan gerobaknya itu berlalu, tiba-tiba aku begitu menginginkan bubur kacang itu.
Maka hari itu, yang ada di kepalaku cuma bubur kacang. Aku ingin bubur kacang itu. Sangat menginginkannya tepatnya. Aku tak peduli lagi pada kondisi tubuhku yang sedang tak nyaman. Kupaksakan diriku mencari bubur kacang, yang kuinginkan. Hingga akhirnya aku mendapatkannya. Dengan perasaan senang luar biasa kunikmati bubur kacang hasil perjuanganku, meski itu bukan bubur kacang si mang yang berjualan di depan rumahku. Aku begitu antusias pada suapan pertama, namun makin lama rasanya semakin tak enak, rupanya badanku tak menerima karena memang sedang tak cukup sehat, dan muntahlah aku.
Setelah itu aku tak lagi berpikir tentang bubur kacang, meski aku masih cukup penasaran dengan bubur kacang si Mang yang lewat di depan rumahku. Sudah lebih dari seminggu si mang tak berjualan, sejak aku berpapasan dengannya pagi itu. Sampai akhirnya ketika aku sudah benar-benar lupa dengan keinginanku untuk makan bubur kacang si Mang, lewatlah si Mang di depan rumahku pada waktu yang sangat tepat. Dia datang menjelang waktu terapi ku ke rumah sakit, itu artinya aku bisa menikmati bubur kacang itu dengan tenang, Karena menjelang terapi aku masih diperbolehkan makan makanan dengan kalium tinggi. Maka segera kupanggil Mang tukang bubur dan untuk pertama kalinya aku menikmati buburnya sejak 4 tahun terakhir. Kunikmati suapan demi suapan bubur kacang itu . Aku menikmatinya sampai habis tanpa mual, tanpa muntah dan tanpa sesak.
Begitulah, terkadang dalam kehidupan, sebuah keinginan membelenggu kita. Hingga kita merasa tak bahagia ketika keinginan itu belum kita penuhi. Kita lakukan berbagai cara untuk memenuhinya kendati harus memaksakan diri. Kita kecewa , terluka dan merasa tak dicinta ketika keinginan itu tak dipenuhi oleh Robb kita.
Tahukah kita bahwa Allah menunda keinginan kita karena suatu alasan yang hanya bisa kita pahami di kemudian hari. Allah tak akan memberi di saat yang tidak tepat. Allah tahu kapan kita membutuhkannya. Karena Allah adalah Sang Sutradara Kehidupan yang tak pernah salah memilihkan peran. Sang Sutradara yang tahu dengan pasti kapan sebuah lakon harus diperankan.
Sadarkah kita bahwa Allah hanya akan memberi di waktu yang tepat, di saat kita sudah benar-benar membutuhkannya. Dan sekali lagi Allah selalu punya alasan untuk itu, alasan yang tak pernah bisa terbantahkan di kemudian. Alasan yang pada akhirnya selalu membuat kita tertunduk malu, betapa kerdil kita di hadapan-Nya. Karena Allah Maha Tahu dan Allah Maha Kuasa untuk menjadikan segala sesuatu indah, nyaman dan aman pada waktunya…..
Wallahu a’lam bi showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar